
Seorang pelayan kedai lansung menyambut Yana begitu mereka sampai di dalam. Via ingat wajah si pelayan kedai itu. Ya, Ari namanya.
“Mbak Yana, ya?” Sapa Ari pada Yana yang berjalan paling depan. “Silakan ke sebelah sini, Mbak.” Ari mengajak Yana ke kursi paling kanan dekat dengan kolam ikan yang terpisahkan oleh didnding kaca besar di ruangan terbuka itu.
“Wah, rupanya gebetan Kak Yana sudah mempersiapkan semuanya ya?” Celetuk Riri setelah mereka duduk.
Ari lantas memberikan daftar menu yang langsung disambut suka cita oleh Riri. Via kontan melotot pada Riri, namuan Riri malah menjulurkan lidahnya meledek Via.
“Orang belum juga mulai acaranya, udah mau makan aja! Ketauan banget sih kelaperannya kamu, Ri!” Gerutu Via kesal.
“Kak Yana aku boleh pesan makanan sekarang kan?” Tanya Riri pada Yana persis kayak anak kecil.
“Boleh dong.” Jawab Yana sambil mengeluarkan gawainya dari dalam atasnya.
“Tuh, kata Kak Yana boleh kok. Week …” Sekali lagi Riri meledek kakaknya. “Nanti aku yang ngasih pesenannya deh, masih lama kayaknya.” Lanjut Riri pada Ari yang sedari tadi masih berdiri menunggu.
“Oh, oke. Silakan.” Ari memberikan kertas pesanan dan pulpen pada Riri yang sedang mencermati daftar menu satu-satu.
Ari pun pergi, Yana sibuk sedang mengetik pesan. Mungkin dia sedang menghubungi calan pacarnya itu, batin Via. Via membuang pandangan ke kolam ikan disebelah tempat mereka duduk. Babarapa ikan koi nampak berenang-renang membuat perhatian Via sedikit teralihkan dari dua orang di dekatnya yang sedang sibuk dengan masing-masing aktivitasnya.
“Hai, sudah lama ya?” Sapa satu suara menyadarkan mereka bertiga.
“Mas Danar?” Pekik Riri setengah berteriak dengan mata membulat dan senyum lebarnya.
Danar mengulurkan tangan menyapa mereka. Ekspresi Yana saat itu tentu saja tersenyum, sedangkan Via? Datar. Tapi disambutnya juga uluran tangan Danar.
“Halo.” Ucap Danar pada Via.
Via hanya mengulas senyum tipis.
Halo halo apaan? Dia pikir lagi nelpon apa, pake halo halo segala! Ih, sok akrab.
Via ngedumel dalam hati dengan sikap Danar barusan. Danar kini duduk diantara mereka.
“Kalian belum pesan makanan?” Tanya Danar.
Riri langsung mengasongkan daftar menu. “Pilihin Mas Danar aja deh mana yang paling enak.”
Danar dan Riri asyik memilih menu, sesekali Yana menimpali. Sementara Via diam asyik dengan hatinya sendiri.
Ternyata memang benar Danar orangnya. Ternyata mereka selama ini berhubungan. Ternyata Danar dan Yana sama-sama mempunya rasa yang sama. Terrnyata …, ternyata … ahh kenapa sih aku kok ternyata-ternyata mulu dari tadi? Emang apa urusannya denganku kalo mereka jadian? Kan malah bagus! Yana jadi punya pasangan jadi nggak galau berkepanjangan. Aduh, mikir apaan sih aku sama mereka? Ini sama sekali bukan urusanku! Aku Livia Hasan seorang perempuan yang sudah bersuami tadak boleh mempunyai perasaan apa-apa terhadap laki-laki lain, titik! Dosa! Haram, Livia! Haram!
Via menghempaskan napas panjang setelah berhasil mengatur perasaannya. Sekarang sudah lebih tenang dan wajar.
Riri memperhatikan tingkah kakaknya diam-diam. “Mbak, mau makan apa?” Tanya Riri kemudian.
“Apa aja boleh.” Sahut Via enteng.
“Gimana kalo nasi merah bakar cakalang cabe ijo?” Usul Danar pada Via. “Ini enak banget lho, recomnded!”
“Boleh.” Sahut Via acuh.
“Aku dong Mas, pilihin.” Timpal Riri dengn gaya manjanya.
“Kamu nasi merah bakar ayam rica-rica aja. Cocok buat kamu yang bawel.” Danar sedikit menggoda Riri.
__ADS_1
Riri malah ketawa. Dasar si Riri tipikal gadis manja, nggak sama MIrza nggak sama Danar yang belum lama kenal juga manjanya sama.
Kok dia malah nggak milihin makanan buat si Yana sih? Wah, nggak bener nih orang! Nggak perhatian banget sama calon pacar!
“Yan, kamu nggak makan?” Via mengetes perhatian Danar pada Yana.
“Nggak tau nih malah bingung mau makan apa, Vi," ujar Yana yang lantas beralih menekuni ponselnya lagi.
“Kamu emang nggak laper?” Tanya Via sambil melirik Danar yang kini lagi nerangin soal menu minuman ke Riri.
“Nanti aja deh.” Yana menggeleng acuh sambil matanya tak beralih dari layar ponsel.
“Ya udah, kalo kamu bingung nanti aja pesen minumnya. Semua main menu disini udah dapet segelas es teh kok.” Terang Danar pada Riri. “Free, kalo kurang boleh nambah lagi.”
Via semakin kesal dengan Danar.
Ini orang ya bukan main keterlaluannya. Bukannya perhatiin si Yana malah ngurusin Riri mulu. Lagian dia kok bisa hapal banget semua menu disini? Jangan-jangan sebenernya dia pelayang disini! Tapi tempo hari dia nyanyi juga di panggung! Hmmm, dobel job kali ya. Pelayan nyambi penyanyi! Dasar laki-laki nggak jelas!
“Eh, kalo ini Mas?” Tanya Riri sambil menunjuk satu menu minuman.
“Java Chip Frappuccino? Boleh juga kalo mau. Kopinya nggak terlalu strong, ada paduan rasa coklatanya juga, ditambah cream sama choco chip. Enak kok.” Terang Danar meyakinkan sekali.
“Dingin kan?"
“Iya, seger!”
“Oke, aku ini aja deh!” Seru Riri. “Mbak Via …”
“Halo, maaf ya aku lama.” Seorang laki-laki datang membuyarkan semua konsentrasi yang ada di meja itu. “Ada sedikit urusan mendadak tadi.” Imbuhnya denagn wajah tak enak hati.
“Pantesan chat-ku nggak dibales.” Yana merengut pada laki-laki itu.
Khusni? Jadi …
“Iya, maaf ya, sayang.” Khusni menarik kursi di sebeah Yana dan langsung memegang tangan Yana penuh permohonan.
Ternyata Khusni orangnya? Terus, Danar …
“Makasih ya, bro. udah nemenin cewek-cewek cantik ini.” Khusni menepuk bahu Danar.
Danar hanya tersenyum sambil mengangkat jempol kanannya. “Silakan dilanjut ya, aku tinggal dulu kalo gitu.” Ucap Danar sebelum pergi.
___
Di toko Bu Een,
“Din! Antar Mirza ke rumahnya.” Perintah Bu Een pada Udin yang sedang melayani pembeli.
“Oke, Bu. Sebentar habis ini.”
“Sekarang!” Tegas Bu Een.
“Sekarang juga, Bu?” Udin tak yakin. “Tapi kan saya masih …”
“Udah tinggalin aja, biar saya yang lanjutin.” Bu Een menarik Udin tak sabaran.
__ADS_1
“Iya, Bu. Iya!” Udin langsung pergi tapi Bu Een menarik bajunya dari belakang.
“Tunggu sebentar.”
“Ada apa, Bu?”
“Kamu jangan dulu pulang ya sampe sana. Nanti awasi Mirza sama Via, kira-kira mereka ngapain.” Bisik Bu Een pada Udin.
“Wah, ya nggak mau lah, Bu.” Tolak Udin. “Mas Mirza kan habis dari kota beberap hari pastinya kangen sama Mbak Via, masa saya harus ngawasin mereka yang mau kikuk-kikuk?”
“Dasar otak mesum!” Bu Een menjewer telinga Udin. Udin meringis kesakitan. “Maksud saya perhatiin mereka apa mereka berantem atau nggak?”
Udin mengusap kuping kirinya yang panas kena jeweran Bu Een. “Oh, Iya Bu, oke …” Sahutnya masih dengan sdikit meringis.
“Udah, cepetan pergi sana!” Usir Bu Een mendorong tubuh kurus si Udin.
Oh rupanya Mas Mirza lagi ada masalah sama Mbak Via? pantesan aja dari Jakarta pulangnya ke sini, terus tadi juga kelihatannya Mas Mirza lagi mikirin sesuatu yang berat.
Udin manggut-manggut sendiri sambil mengingat semua kelakuan Mirza.
“Heh, ngapain masih disitu kamu?” Semprot Bu Een yang melihat si Udin masih di depan toko.
Udin langsung ngacir masuk rumah mencari Mirza.
“Mas Mirza …! Mas …!” Panggil Udin lantang.
Mirza yang sedang di kamar mengetik pesan untuk Via jadi kaget.
“Apaan sih, Din? Siang bolong teriak-teriak, minta ditimpuk bakiak kamu ya! Berisik tau!” Kesal Mirza pada Udin yang sudah berdiri di depan kamarnya.
“Anu, saya disuruh Ibu buat nganter Mas Mirza katanya mau pulang.”
“Iya, sebentar.” Mirza masih fokus pada ponselnya, lantas menekan kata send. “Oke, Yuk!” Mirza keluar dengan tas ranselnya.
“Biar saya yang bawain aja, Mas.” Udin menawarkan diri.
“Nggak usah,” Tolak Mirza halus. “Eh, nanti kita mampir dulu ke warung ikan bakar ya.”
“Mau beli ikan bakar, Mas?”
“Nggak, mau beli kacang rebus! Ya iya lah, pertanyaanmu itu aneh!” Mirza menoyor kepala Udin sambil lalu.
Udin hanya manggut-manggut smabil mengikuti Mirza.
____
Ting!
Bunyi pesan masuk di ponsel Via. Tangan kanan Via langsung meraihnya di dalam tas yang memang isinya cuman dompet sama hp aja.
Halo istriku sayang, maaf ya baru ngasih kabar. Mas otw pulang nih, bentar lagi nyampe. Love you.
Bunyi pesan dari Mirza di pinsel Via.
_____bersambung,
__ADS_1
Terima kasih suda membaca. Jangan lupa like, komen, rate dan vote ya 🙏❤️🌹