
Bu Harni baru selesai masak dan mengajak anak-anaknya makan. Menu hari ini sangat sederhana, sayur asem, cah kangkung, tempe goreng, tahu goreng, sambel dan tak ketinggalan kerupuk sebagai pelengkap.
“Ri, cepetan ajak Mbakmu makan!” Titah Bu Harni yang masih melihat Riri asyik video call dengan Mirza.
“Tuh Mas, masakan ibu udah mateng. Mas Mirza udah makan belum?” Tanya Riri perhatian. Jangan heran, dia emang manja banget sama kakak iparnya yang satu itu.
“Udah sarapan tadi pagi, Ri. Ibu masak apa hari ini?” Tanya Mirza.
“Belum tau. Belum ngelongok dapur juga soalnya, Mas.”
“Kamu ini, Ri. Kalo ada ibu masak tuh bantuin, bukannya malah mainan hp terus!” Ujar Miza menasehati.
“Lha kan tadi Mas Mirza yang telpon duluan?”
“Iya Mas kan nelponnya Mbak kamu, kenapa jadi muka kamu yang nongol?”
“Ya kan aku juga kangen sama Mas Mirza…”
“Hemm, modus!” Cibir Mirza. “Bilang aja biar dibeliin oleh-oleh kalo Mas pulang!”
“Hahaha…. Tau aja!” Riri ngakak.
“Ri …!” Panggil Bu Harni lagi dari ruang tengah sambil beberes meja makan.
“Iya, iya Bu….!” Sahut Riri agak nyaring. “Tuh Mas, denger nggak toa masjid udah teriak-teriak kasih pengumuman?”
“Hush! Kamu ini, Ri. Kualat tau, masa ibu dikatain kayak toa masjid!”
“Habis apa dong? Toa tukang perabot?”
“Ri! Ya ampun, lagi ngapain sih?” Kesal Bu Harni menghampiri Riri.
“Bentar, Bu. Ini Mas Mirza video call.” Sahut Riri. “Mas, ini ibu nih.” Riri memberikan ponsel Via pada Bu Harni.
Bu Harni menyambutnya.” Za, gimana kabarmu? Sehat?”
“Alhamdulilah, Bu.”
“Kamu lagi nggak kerja, Za?”
“Libur, Bu. Kan ini hari minggu.”
Mereka terus ngobrol saling menanyakan kabar dan lain-lain, Riri ke halaman depan untuk memanggil Via yang lagi asyik dengan tanaman sayurnya. Aneka biji sayuran yang disemainya sudah menujukkan pertumbuhan yang membuatnya cukup senang.
“Mbak, dipanggil ibu tuh suruh makan!” Riri menghampiri.
“Makan? Baru jam berapa ini?” Via malah menanyakan jam pada Riri.
“Jam 10, kenapa emangnya?”
“Belum waktunya makan siang kan?”
“Ya elah, Mbak. Orang mau makan aja ada waktunya segala. Kalo laper ya tinggal makan. Gitu aja kok repot!” Riri manyun.
“Masalahnya Mbak belum laper.”
“Alah, bilang aja diet! Orang dari pagi belum makan kan kita?”
“Kan udah sarapan pisang goreng. “
“Nah, itu istri kamu tuh!” Bu Harni muncul ke halaman membawa ponsel Via. “Vi, ini Mirza nih.”
Via menerimanya dengan senyum mengembang. “Mas video call ya?”
“Iya, sayang. Kan mumpung libur.”
Mereka kemudian berbincang lewat sambungan video call itu. Via memberitahukan tanaman-tanaman sayurannya yang sudah mulai tumbuh. Bu Harni memperhatikan itu dengan senyum, hatinya lega karena sepertinya menantu keayangannya itu dalam keadaan baik dan bisa dipastikan akan membawa pulang pudi-pundi rupiah yang banyak.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata kepo nampak memperhatikan adegan mereka dari luar pagar di dekat pohon srikaya tetangga rumah Via.
“Ibu itu siapa ya? Cewek yang itu sih adiknya Jeng Via yang songong itu, yang malem-malem berduaan sama cintaku Mas Danar di teras sana.” Gumam si pengintai yang tak lain adalah Bujel. “Oh, pasti itu ibunya Jeng Via. Soalnya mereka kayaknya akrab banget, mukanya juga rada-rada mirip. Cantik-cantik semua mereka bertiga emang. Eh, tapi masih kalah cantikan aku ding!” Bujel sibuk ngomong sendiri sambil terus memantau situasi. Dia baru beranjak ketika ketiga orang yang diamatinya itu masuk rumah.
“Hhhm, harus aku laporkan sama si Mak ampir nih. Kali aja aku dapet bonus, hihi…” Bujel terkikik sendiri sambil jalan menuju rumahnya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
“Kamu mau bawa aku kemana sih?” Hanson mulai kesal karena sedari berangkat tadi Arumi tak mau memberitahukan kemana tujuannya.
“Ada deh. Nanti juga kamu tahu.” Sahut Arumi sambil mengerling genit, lantas dia kembali mengemudi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti lagu Make you mine-nya Public.
Arumi terus bersenandung seolah syair lagu itu benar-benar ungkapan isi hatinya.
🎵Well, I will call you darlin’
And everything will be okay
‘cause I know that I’m yours and you are mine
Doesn’t matter, anyway🎶
🎵In the naight, we ‘ll take a walk
It’s nothing funny, just to talk🎶
🎵Put your hand in mine
You know that I want to be with you all the time
You know that I won’t stop until I make you mine
Until I make you mine ..🎶
Hanson nampak kesal sekali melihat kelakuan Arumi.
“Dasar cewek aneh!” Gumam Hanson seraya melempar pandangan ke luar jendela.
Arumi tak menggubris sama sekali kekesalan Hanson, ia terus melajukan mobilnya. Mobil Arumi kini memasuki wilayah Bandung Selatan. Nampaknya selama kurang lebih empat jam perjalanan membuat Hanson benar-benar tertidur. Matanya mengerjap sambil menggeliat pelan.
“Sampai mana kita?” Tanyanya melihat sekeliling.
Arumi tak menyahut. Mobilnya memasuki perkampungan dengan jalan sempit menanjak dan menurun khas jalanan pegunungan. Mata Arumi memperhatikan deretan bangunan rumah-rumah penduduk yang dilewatinya, tak lama dia berhenti di depan sebuah gang kecil dan segera turun. Hanson yang masih jengkel berdiam diri di mobil memperhatikan Arumi yang sedang menanyakan alamat pada seorang ibu yang kebetulan lewat.
Tok tok …
“Apa?” Tanya Hanson kesal.
“Cepetan turun, kita udah nyampe.” Perintah Arumi.
“Bilang dulu, kita ini mau kemana? Mau ngapain?”
Arumi melongokkan kepalanya ke dekat jendela. “Mau ngajakin kamu ngobatin pisang kamu!”
Hanson kontan melotot kaget sambil tangannya reflek mengempit sebuah benda layu yang berada di antara kedua pangkal pahanya.
“Was? warum hast du nicht zuerst gesagt?“ (apa? kenapa kamu nggak bilang dulu?) Pekik Hanson sambil melotot.
“Udah, nggak usah protes. Percuma! Aku nggak ngerti juga kamu ngomong apa. Lagian kita udah nyampe sini, cepetan turun!” Arumi setengan memaksa.
Hanson benar-benar marah, andai Arumi bukan seorang perempuan pasti dia sudah menghajarnya habis-habisan.
“Du verrückte Frau!“ (dasar perempuan sakit jiwa!) Maki Hanson sambil membuka pintu mobil dengan kasar.
Hanson memang tak punya pilihan lain, maka mau tak mau dia mengekor juga dibelakang Arumi menyusuri gang kecil melewati beberapa rumah penduduk yang berderet rapat. Sesekali beberapa warga lokal nampak menyapa dan melambaikan tangan karena kampung mereka kedatangan bule cakep. Hanson hanya membalasnya dengan senyum tipis.
Mereka berdua sampai di sebuah rumah yang paling bagus dan mentereng diantara rumah-rumah warga lainnya di gang sempit itu.
“Emak, ada?” Tanya Arumi pada seorang kakek tua yang menyambut kedatangannya di teras.
“Ada. Neng ini apa sudah buat janji sebelumnya?” Tanya kakek itu.
“Sudah, Pak. Kemarin saya sudah telepon, tolong sampaikan Arumi dan pasien VIP dari Jakarta sudah datang.”
“Oh, Neng Rumi?” Si kakek antusias. “Mari, langsung masuk saja Neng. Emak ada di ruang prakteknya.”
Hanson dan Arumi mengikuti si kakek menuju sebuah kamar yang tak terlalu besar yang disebut sebagai ruang praktek tadi. Aroma khas ramuan menyeruak begitu mereka memasuki ruangan itu.
“Selamat datang di gubug Emak. Perkenalkan, nama Emak adalah Mak Epot, saudara seperguruan dari Mak Esot yang sudah lebih dulu terkenal dengan ramuan ajaibnya, tapi emak juga tak kalah saktinya. Hehehe…” Si nenek tua berusia 70 tahunan itu memperkenalkan diri dengan pedenya.
__ADS_1
“Iya, saya udah tau Mak. Makanya saya bawa teman saya kesini mau berobat.” Ucap Arumi melirik Hanson.
Emak ikut melihat pada Hanson yang duduk dengan gusar. “Laki-laki bule biasanya ukurannya sudah wow. Si Eneng masih kurang puas ya rupanya?” Mak Epot terkekeh. “Kira-kira mau dipanjangin apa dibesarin?” Tanya Mak Epot kemudian.
Hanson yang tak mengerti maksud Mak Epot hanya diam dengan tampang datar.
“Ekhem, jadi begini Mak …” Arumi beringsut agak mendekat pada Mak Epot. “Pisangnya nggak bisa tegak.” Ucapnya agak berbisik.
“Waaat? Benarkah apa yang kamu katakana itu, Maria Marsedez?” Mak Epot sampe melotot saking kagetnya. “Meuni karunya pisan, si kasep teh cau na layu?” (Kasihan banget, si ganteng ini pisangnya layu?) Mak Epot memandang Hanson tak percaya.
Mak Epot kemudian meminta Hanson berbaring di ranjang dan mengenakan sarung yang sudah disiapakan.
“Apa yang akan ibu itu lakukan?” Hanson tak langsung menurut, dia bertahan pada tempat duduknya.
“Kamu nggak usah takut, ini disebut pengobatan alternatif. Pasti jauh lebih manjur daripada tekhnologi kedokteran termutakhir manapun untuk menyembuhkan penyakitmu.” Arumi sedikit memberi penekanan agar Hanson percaya.
“No. it may hurt me.” Hanson menggeleng.
“Coba dulu!”
“She’is not a doctor! It will be dangerous, I don’t wanna take a risk!” (Dia bukan dokter. ini berbahaya. Aku nggak mau ngambil resiko.) Hanson kekeh.
“Hey, denger ya bule katro! Mak Epot itu terapis terkenal di Indonesia. Semua warga dari Sabang sampai Mearuke , dari Miangas sampai Pulau Rote sudah tau akan kehebatannya dalam mengatasi keluhan segala macam dunia perpisangan! Jadi kamu nggak usah takut. Cepetan sana!” Arumimendorong tubuh Hanson gemas.
“Bagaimana aku bisa yakin?”
“Kamu mau jadi perkasa lagi kan? Kamu mau membalas sakit hatimu sama Sofi kan? Kamu mau punya keturunan kan?” Cecar Arumi.
Hanson mengangguk.
“Lakukan sekarang. Setelah kamu sembuh, kamu bisa memulai misi pembalasanmu, dan kamu juga pasti bisa punya keturunan.”
“Tapi aku juga sedang terapi dengan dokter.” Hanson masih membantah.
“Kita lupain dulu. Aku garansi sebulan deh. Kalo sebulan nggak ada hasil, kamu boleh balik lagi ke dokter.”
Hanson diam.
“Naha atuh cicing wae? Geura kadieu…!” (Kenapa masih diem aja? Cepetan kesini!) Panggil Mak Epot menepuk-nepuk kasur kecil dan bantal yang sudah dipersiapkan.
Akhirnya Hanson pasrah. Dia berbaring dan mulai menerima pijatan demi pijatan disekitar area bawah pusarnya dan di kedua telapak kakinya. Pemijatan tak berlangsung lama, hanya sekitar 15 menit. Setelah itu Mak Epot memberikan segelas air putih yang sudah diberi doa-doa yang dia klaim sangat mujarab pada Hanson untuk langsung dimunum sampai habis.
“Anak pinter ….” Mak Epot tersenyum melihat Hanson telah menghabiskan minumannya. Selanjutnya dia memberikan botol kecil berisi cairan berwarna coklat kehitaman pada Hanson.
Hanson menerimanya dengan dahi berkerut.
“Itu rauman tradisional turun-temurun yang sangat berkhasiat. Kamu oleskan pada pisang kamu dari ujung sampai pangkal setiap pagi sehabis mandi dan malam sebelum tidur sampai 7 hari berturut-turut jangan ada yang kelewat. Setelah habis, minggu depan kamu kesini lagi. Akan Emak lihat perkembangannya.” Ungakap Mak Epot panjang lebar.
Hanson masih meneliti cairan coklat kehitaman itu. hatinya sudah pasti ragu, karena dalam otaknya masih menyangkal hal-hal diluar medis. Berbeda dengan Arumi, dia malah bersemangat dan nampak manggut-manggut pertanda sangat paham dengan penjelasan Mak Epot.
Setelah semuanya selesai, mereka pun pamitan dan tak lupa pula Arumi menyelipkan amplop tebal ketika bersalaman dengan Mak Epot. Mak Epot pun tersenyum lebar kala melihat isinya yang sangat banyak. Tak sia-sia dia mengosongkan semua jadwalnya hari ini demi menerima satu pasien VIP.
“Kamu ingat kan apa yang Mak Epot bilang tadi?” Tanya Arumi ketika sudah dalam mobil perjalan pulang.
Hanson mengagguk.
“Mulailah nanti malam.”
Hanson diam, pandangannya lurus ke depan.
“Atau kalo kamu mau, aku bisa kok bantuin ngolesin.” Lanjut Arumi sambil melirik Hanson yang cuek.
“Cih!”
❤️❤️❤️❤️❤️
Eaaa…. Partnya Arumi sama Hanson rada-rada gimana.... gitu ya Kak…😂😂😂
Tapi semoga nggak mengurangi kesetiaan akak readers dan akak othor semua untuk terus dukung othor ya.🤩🤩🤩
Terima kasih semuanya🙏🙏🙏 lanjut ke bab selanjutnya yuk…😍😍
Eit, like dan komen dulu ya Kak 😊😊
__ADS_1
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘