TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
293 #HARAPAN


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Bu Harni nginep di rumah Via sampe bikin Riri harus dateng buat jemput. Tapi dasar Bu Harni, dia malah terang-terangan bilang ke Riri kalo dia gak bakalan pulang.


Kelakuan Bu Harni jelas aja bikin Riri gemes, gimana bisa ibunya itu mutusin buat nginep selamanya di rumah Via sedangkan dia punya rumah sendiri?


“Pokoknya ibu nggak akan pulang, Ri. Ibu harus pastiin kalo kakak kamu gak bakalan jengukin mertuanya yang gila itu,” tegas Bu Harni pada Riri yang terus membujuknya pulang.


“Astaga, Bu. Jadi itu alesan ibu gak mau pulang?” memandang sang ibu heran.


“Ibu nggak rela, nggak ikhlas, kakak kamu baik-baikin mertuanya yang di rumah sakit jiwa itu!”


“Tapi kan emang Mbak Via udah baik dari dulu, Bu. Biarin aja lah, lagian udah kewajiban Mbak Via juga bakti sama ibu mertuanya.”


“Nggak, ibu nggak akan biarin itu terjadi. Via itu anak ibu, dan selama dia nikah sama Mirza, mertuanya itu gak pernah menghargainya, bahkan menganggapnya sebagai mantu pun nggak!” Bu Harni kekeh.


Riri kehabisan kata-kata buat nyadarin ibunya yang ngengkel banget. “Ibu mau bikin Mbak Via sama Mas Mirza pisah?” menatap kesal. “mereka baru aja baikan, Bu. Ibu jangan bikin rusuh ah, malu sama umur Bu. Udah tua kelakuan kayak anak kecil, demen banget bikin rusuh!”


“Riri!” Bu Harni menaikkan nada suaranya. “Jangan kurang ajar ya sama ibu.”


“Emang kenyataannya gitu kok!” Riri jengkel juga lama-lama. “Kalo gitu apa bedanya ibu sama Bu Een?”


“Bedanya banyak, ibu baik, dia jahat. Ibu waras, dia gila!”


Mendengus jengkel. “Oke, kalo ibu gak mau pulang, aku bakal bilang sama Mbak Via dan Mas Mirza kalo ibu emang sengaja tinggal disini biar bisa halangin Mbak Via buat gak jengukin Bu Een!” Riri bangkit mau keluar kamar tapi Bu Harni gegas mencegahnya.


“Ri, kamu mau bikin mereka ribut?”


“Justru ibu yang bakal bikin Mbak Via sama Mas Mirza ribut kalo tetep aja diem disini.”


Jumilah yang lagi beberes mendengar kasak kusuk di kamar Bu Harni, dia udah mau nguping karena kepo.


“Pulang sekarang atau aku aduin ibu ke Mbak Via dan Mas Mirza!” Riri memberikan ancaman.


Bu Harni rada ketar ketir juga dibuatnya, “ibu akan pulang, tapi besok.”


“Nggak pake nawar, Bu.”


“Ibu masih kangen sama Nala.”


“Alesan aja! Sore ini ibu pulang, atau –“


“Iya iya, ibu pulang sore ini juga.”


Jumilah mendengar keduanya berjalan ke arah pintu, gegas Jumilah kembali pada aktivitasnya.


“Jum, Via dimana?” pertanyaan Bu Harni bikin Jumilah kaget.


“E –eh, di depan Bu. Lagi mau nyiram tanaman sama Inces.”


Bu Harni pun menuju halaman depan, sementara Riri jalan dengan menenteng tas pakaian Bu Harni.


“Lho, Mbak Riri bawa-bawa tas?”pura-pura nggak tau.


“Iya, ibu mau pulang. Kelamaan nginep disini ntar malah keenakan,” ngeloyor nungguin Bu Harni di ruang tamu.


Bu Harni nyamperin Nala sama Via. “Vi,” panggil Bu Harni. “Ibu mau pulang nih.”


Menghentikan aktivitas menyiramnya, “pulang, Bu?”


“Iya, Riri udah jemput. Katanya dia gak ada temen, sepi di rumah nggak ada ibu,” dusta Bu Harni sambil mengusap kepala Nala yang sedang asik main dalam stollernya.


Tidak dapat dipungkiri ada kelegaan di hati Via mengetahui ibunya akan pulang. Itu artinya dia akan bisa mengunjungi sang ibu mertua.


“Vi,” lirih Bu Harni. “Inget pesen ibu ya.”


Mengernyit menatap sang bunda.


“Jangan mau direpotin Mirza buat ikut ngurusin ibunya yang –“


“Bu,” pangkas Via. “aku sangat tau apa yang harus aku lakukan. Ibu jangan membebani pikiran ibu dengan hal-hal yang diluar kendali ibu ya,” halus banget Via memberikan pengertian pada ibunya.


“Itu artinya kamu akan tetep jengukin mertuamu itu?” menampakkan raut tak suka.


Via hanya menyunggingkan senyum tipis, kembali ia lanjutkan kegiatannya. Bu Harni tentu saja kecewa, usahanya selama ini sia-sia. Ini semua gara-gara Riri! Sejurus kemudian Bu Harni ingat sesuatu yang berhubungan dengan Riri.


“Oya, Vi. Cewek yang waktu itu kesini sama Danar itu pacarnya ya?”


Menoleh, ibunya bertanya tiba-tiba. “Chelsi?”


Mengangguk, “iya, yang ambil sayuran itu lho.”


“Kenapa ibu tiba-tiba nanya gitu?” penasaran, sepertinya ibunya punya modus tertentu.


“Nggak papa. Emang cantik sih dia, tapi masih kalah cantik sama Riri.”


Meletakkan selangnya, “kok jadi banding-bandingin sama Riri? Ibu masih ngarep Danar sama Riri?” langsung bisa membaca maksud tersirat dalam kalimat ibunya.


“Iya lah, daripada Riri sama Toni?” mengaku terang-terangan juga akhirnya. “Jadi Danar sama si Chelsi itu nggak pacaran, kan?” kejar Bu Harni.


“Kenapa nggak ibu tanya sama Danarnya aja langsung?”


Malah tersenyum, “ibu tau, jawabanmu itu artinya nggak.” menerawang masih sambil senyum-senyum sendiri. “Alhamdulillah, Riri masih punya kesempatan.”


"Wah, ibu halu nih."


"Eeh, kok kamu ngatain ibu sih?" Bu Harni sedikit sebel.


"Ibu kan tau Riri cintanya sama Toni? bukan sama Danar?"


"Halah, cinta itu bisa dibelok-belokin. Pokoknya Ibu bakal satuin mereka lagi!"


"Nggak bisa. Riri jodohnya sama Toni, Danar jodohnya sana Chelsi." Via kali ini ngotot membela adiknya.


"Kok kamu jadi jodoh-jodohin mereka sih?"


"Ya emang pantesnya gitu, daripada ibu maksa-maksa mereka?"

__ADS_1


Bu Harni berdecak kesal. "Ck, lama-lama kamu kayak Riri, suka ngeyel! Udah ah, ibu pamit pulang sekarang." Menciumi Nala sebelum pergi pulang bersama Riri.


💕💕💕💕💕


Tampak khusuk di paviliunnya memeriksa laporan kerajaan bisnisnya yang masuk, Tuan Alatas mendengar suara yang mengusiknya dari lantai bawah. Mengedarkan pandangan, tak ada seorang pun yang bisa ditanya. Bahkan Gerald yang biasanya tak pernah jauh darinya pun, rupanya sedari tadi tak ada disana. Berjalan ke arah balkon setelah selesai dengan pekerjaannya, kedua netra Tuan Alatas membola seketika. Pemandangan di taman samping lantai bawah yang nampak dari tempatnya berdiri kini sungguh mengejutkannya. Gegas ia berjalan kembali menghampiri meja dan meraih telpon.


“Kemari kau, sekarang!” titahnya pada Gerald.


Tak sampai satu menit, Gerald sampai. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Besar?”


Menghunus tajam membuat Gerald menundukkan wajahnya.


“Apa kau ingin aku memecatmu?”


Menggeleng tegas tanpa berani menatap sang Tuan.


“Kalau begitu kenapa semua pelayan tampak mengelilingi si ****** dan anaknya itu? apa mereka semua tidak dengar perintahku?”


“M –maksud Tuan, nyonya Sofia dan –“


“Sejak kapan dia kembali jadi nyonya di sini?” pangkas Tuan Alatas geram. “Apa karena Ram membawanya kemari, lantas kau bisa menyebutnya sebagai nyonya?” mengepalkan kedua telapak tangannya menahan emosi. “Dan anak itu, anak si ****** itu –suruh dia jauhi semua mainan di taman, jangan berani dia menyentuhnya.”


“Maaf, Tuan. Tapi dia cucu Anda,” ucap Gerald memberanikan diri.


Nara datang membawakan minuman, aura menyeramkan segera ia rasakan. Dari sorot sang Taun Besar, Nara tau Gerald pasti sedang dalam masalah.


Nara meletakkan cangkir di atas meja, “teh Anda, Tuan,” ucapnya disertai bunyi cangkir dan tatakan porslen beradu, tangannya gemetar.


“Tunggu,” sergah Tuan Alatas ketika Nara ingin berbalik. “Kenapa para pelayan berkumpul di taman samping? Apa kalian tidak ada kerjaan?”


“Ka –kami, senang melihat Tuan muda Arfan bermain,” ucap Nara polos.


“Beritahu mereka untuk pergi kalau tidak ingin aku pecat sekarang juga!”


Tersentak, “baik, Tuan,” gegas memutar langkah dan berlalu.


Memicingkan mata pada Gerald yang masih di tempatnya, “kenapa kau masih disini?”


Perlahan mengangkat wajahnya, berjalan menghampiri sang Tuan. “Maafkan saya kalau terlalu lancang. Saya tau Tuan sangat baik. Jika tidak, mana mungkin hati Tuan tergerak untuk memungut saya dari jalanan 20 tahun yang lalu dan mengijinkan saya untuk tinggal di istana Tuan ini.”


“Kau sedang coba mempengaruhiku?”


“Tidak, Tuan. Saya hanya mengatakan kebenaran.”


“Tidak usah kau katakan pun, aku lebih mengenal siapa diriku dibandingkan orang lain.” Berbalik membelakangi Gerald seolah tak mau dengar lagi apa yang terucap dari sang pelayan pribadinya yang sangat setia itu.


“Saya juga ingat bagaimana Anda begitu tersentuh dengan kepolosan putri Mirza, itu membuktikan bahwa sebenarnya hati Anda sangat lembut dan penyayang,” lanjut Gerald. “Jika padanya saja yang bukan darah daging Anda sendiri, Anda begitu perhatian, lantas kenapa pada Tuan Muda Arfan Anda tidak coba untuk membuka hati? Dia darah daging Anda sendiri, Tuan. Calon penerus nama besar Alatas.”


“Apa kau sudah selesai bicara?” berbalik dengan wajah datar.


“Belum, Tuan.” Gerald lebih berani. “Anda tidak lihat kedua matanya. Tajam, persis kedua mata Anda. Wajahnya tegas, kharismanya sudah memancar. Itu semua diwarisinya dari Anda. Baru beberapa hari dia tinggal disini, ia sudah sanggup membuat para pelayan selalu ingin mengelilinginya.”


“Pandai sekali kau membual,” tersenyum sinis, “Aku rasa otakmu sudah diracuni Ramzi.”


“Tidak, Tuan –“


Gluk!


Gerald, hanya mampu terdiam. Percobaan pertama belum berhasil, ia tidak akan menyerah. Segara ia berlalu sebelum sang Tuan bertambah murka, tepat ia keluar area paviliun, Gerald berpapasan dengan Sofi. Keduanya tak saling menyapa, Sofi berjalan seorang diri menuju sang ayah mertua.


“Selamat sore, maaf kalau aku menggangu waktumu,” ucap Sofi pada Tuan Alatas yang telah mendudukan dirinya.


Hanya menatap dingin tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Sofi telah membulatkan tekad dan keberaniannya, tak peduli dengan apa yang akan ia dapatkan. “Aku –kesini, untuk –minta maaf,” lirihnya dengan membalas tatapan dingin sang ayah mertua. “Tolong maafkan aku,” lanjutnya.


Tuan Alatas tak bergeming di tempat duduknya, hal itu memuat Sofi mulai gugup. Namun sebisa mungkin ia kuasai dirinya.


“Aku tau banyak sekali kesalahanku di masa lalu, dan aku datang untuk mengakui semuanya.”


Bagaikan bicara dengan patung, Sofi tidak mendapatkan respon sama sekali.


“Baiklah, aku sudah selesai. Aku sudah menunaikan apa yang mejadi keharusanku, dan jika Anda tak mau memaafkanku, itu urusan Anda,” bersiap memutar langkahnya namun teringat sesuatu, “satu lagi, aku tidak akan meninggalkan Kak Ram. Dimana pun dia berada, aku dan Arfan akan selalu ada di dekatnya.”


Menatap punggung Sofi yang mulai menjauh, benaknya diselimuti ketidakpercayaan. Sang menantu telah sangat berani. Semua yang diucapkannya terdengar seperti menantang.


💕💕💕💕💕


Dua hari Mirza tak mengunjungi Bu Een karena harus menemani Hotman bolak balik kantor polisi dan pengadilan, padahal Via sangat antusias kepingin ikut mumpung Bu Harni sudah kembali ke rumahnya. Matahari menyengat semakin hangat, jam makan pagi sudah lewat sejak tadi namun Mirza masih bergelung dengan selimutnya.


Puk! Puk! Puk!


Pukulan kecil menampar-nampar pipinya. Perlahan ia pun membuka matanya.


“Emh, anak ayah –“ tersenyum mendapati sang putri kecil tengah berada di dekatnya. “Jam berapa ini, Sayang?” bertanya pada Via yang tengah merapikan meja rias.


“Hampir jam 9.”


“Astaghfirullah!” terlonjak hingga membuat Nala juga ikut kaget. “Eeh, maaf Sayang.” Duduk memangku sang puti kecil. “Kenapa nggak bangunin ayah dari tadi Sayang, hm?” bertanya pada Nala yang merekahkan senyum padahal belum mengerti si ayah ngomong apaan.


“Udah aku bangunin dari jam 6, tapi cuman melenguh kayak –“ Via nggak ngelanjutin kalimatnya.


“Kayak apa, Sayang?”


“Tau, ah! Mas ngeselin banget, makanya jangan begadang!” kesal Via duduk di samping suaminya.


“Iya, maaf Sayang. Soalnya telponan sama Bang Hotman sampe subuh. Jadinya habis sholat subuh Mas baru tidur.”


“Kayak nggak ada hari lain aja!”


“Pagi ini Bang Hotman harus balik ke Jakarta, semalam dia ngobrol kalo berkas perkara ibu udah selesai diurus dan bisa dicabut. Makanya Mas –“


“Itu berari ibu bebas dari tuntutan pidana, Mas?” Via semangat.


Mengangguk, “iya, Sayang.”

__ADS_1


“Alhamdulillah,” Via mengucap syukur.


"Aku seneng banget Mas dengernya."


"Iya Sayang, ini semua juga berkat doa kamu." Meremas jemari Via lembut.


Wiuw... Wiuw... Wiuw ... Wiuw...


Ponsel Mirza menjerit dari atas nakas. Om Jaka yang telpon. Gegas Mirza menggeser panel hijau pada layar ponselnya.


"Halo, Za." Sapa Om Jaka dari seberang. "Elu udah siap kan? Bentar lagi gue meluncur nih."


"Emh, belom. Baru bangun nih, Om."


"Ape?? Lu baru bngun jam segini?" Pekik Om Jaka bikin Mirza harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Duh! Biasa aja dong Om kagetnya, lebay banget sih!" Omel Mirza.


"Ya abisnya matahari udah tinggi dari tadi elu masih ileran gitu, kagak malu ama sama bini, lu? Astaga ... Mirza, Mirza... " Balas ngomelin sang keponakan. "Elu begadang apa gimana semalam? ampe siang gini baru bangun, hah?"


"Iya, begadang bikin anak!" Sahut Mirza kesel lalu bergegas ke kamar mandi.


Via meraih ponsel suaminya yang tergeletak di atas kasur, "Halo, Om."


"Eh, Vi. Mana laki lu tadi? gue belom kelar ngomong udah main ditinggal aja. kagak sopan banget tuh orang!"


"Mandi, Om."


"Oh, bagus dah. Ya udah ntar bilangin, 30 menit lagi langsung ketemu di rumah sakit aja gitu."


"Om Jaka mau jengukin ibu?"


Iye, udah janjian ame laki lu. emang dia kagak ngomong?"


"Nggak, Om. Belum sempet kali, kan baru bangun tadi?"


"Dasar laki lu sengklek, tinggal satu atap satu kasur tapi kagak ngobrol," gerutu Om Jaka. "Ya udah lu ikut aja sekalian, pan emak eku udah balik, jadi kagak ada yang ngawasin elu lagi kan?"


Mengernyitkan dahi, "Om Jaka kok tau soal itu?"


"Adek elu si Riri, kemaren ketemu sama Denaya. Dia cerita kelakuan emak elu."


Via jadi ngerasa gak enak, "ya gitu deh Om, namanya juga ibu."


"Udeh lu kagak usah sedih, gitu-gitu juga dia tetep emak elu."


"Emh, Om. tapi jangan ceritain sama Mas Mirza ya, aku khawatir dia tersinggung." pinta Via mohon pengertian Om Jaka.


"Tenang aja, aman!"


"Sayang! Tolong anduk Mas, dong!" Teriakan Mirza dari dalam kamar mandi sampe kedengeran Om Jaka.


"Eh, napa tuh tuh laki lu gegaokan begitu? Kecemplung ember apa gimana dia?"


"Hem, lupa bawa anduk kayaknya Om."


"Ya udah, lu urusin dah. Kita ketemu di rumah sakit ntar ya!"


-


-


-


Penjelasan dari dokter Wahyu sungguh membuat Mirza dan Via bahagia. Mereka keluar ruangan dokter dengan senyum mengembang bikin Om Jaka yang menunggu jadi penasaran.


"Apa kata dokter?" Tanya Om Jaka.


"Ibu sudah menunjukkan perkembamgan, Om. Dia udah bisa diajak komunikadi dua arah dan mengingat nama-nama orang," papar Mirza senang.


"Wah, cepet juga ya kemajuannya."


"Iya, Om. Padahal baru dua hari aku gak jengukin ibu, tapi ternyata perkembangannya cukup pesat."


"Itu artinya dokter Wahyu memang nanganin mbakyu dengan sangat baik."


"Iya bener, Om."


"Ayok, Mas. Aku pengen cepet-cepet ketemu ibu," Via menggandeng lengan suaminya tak sabaran.


"Iya, Sayang."


Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju taman yang asri tempat biasa para pasien menghabiskan waktu sebelum jam makan siang dan istirahat. Dari kejauhan mereka melihat Bu Een duduk bersama suster Ani.


Suster Ani yang melihat kedatangan mereka segera berdiri menyambut dan tersenyum ramah.


"Ibu, coba lihat siapa yang datang?" ucap suster Ani pada Bu Een yang duduk membelakangi mereka.


Perlahan Bu Een membalikkan badannya. Tatapannya seketika berbinar, berdiri ia untuk menghampiri. Mirza dan Via tersenyum manis bersiap menyambut. Namun langkah Bu Een ternyata tertuju pada Om Jaka.


Om Jaka berdiri di tempatnya, sang mbakyu tersenyum dan menangkup kedua pipinya. Surprise tentu saja, seumur-umur Om Jaka belum pernah disambut begitu oleh sang mbakyu. Keterkejutan Om Jaka tak berhenti sampai disitu, Bu Een kemudian memeluknya erat, erat sekali sampe Om Jaka susah napas rasanya.


Mirza dan Via saling pandang, heran tentu. Namun perasaan bahagia segera menjalari hati keduanya, mungkin ini hidayah Allah SWT bahwa sang bunda menunjukkan rasa sayang dan kerinduannya pada adik semata wayang yang kerap jadi partner bertengkarnya itu.


Terisak Bu Een dalam pelukan Om Jaka sampe Om Jaka bingung kudu gimana. Sempat ja membatin, apakah mbakyunya telah bertaubat dan menyadari segala kekhilafannya selama ini? untungnya Bu Een segera menghela pelukannya, ia usap sendiri air mata dipipi keriputnya. Pandangannya tak putus dari wajah Om Jaka.


"Terima kasih ya, Pak Haji Barkah sudah mau menjenguk saya," ucap Bu Een.


DOENG!!


Rasanya Om Jaka mau pingsan saat itu juga.


💕💕💕💕💕


Nah looo..... kudu seneng apa gimana nih sama Bu Een 😁😁

__ADS_1


Makasih ya sayangku semuanya, jempol dan komen kalian sungguh bikin othor semangat 🥰🥰🥰🥰


I Love you full 😘😘😘🤗🤗🤗


__ADS_2