
Rabu pagi Mirza sudah bersiap, dia akan berangkat dengan kereta pertama menuju Jakarta. Sedih akan ditinggal kembali sang suami berlayar sudah pasti, namun Via harus merelakannya. Toh ini bukan kali pertama baginya.
“Sayang, jangan lupa semua pesen Mas, ya?” Ucap Mirza sambil membelai lembut pipi istrinya.
“Iya, Mas. Semuanya udah aku simpan rapi di file memori.” Via menunjuk kepalanya.
“Bila perlu dicatat, ditempel di dinding kamar biar kamu ingat terus.”
“Aish, udah kayak jadwal pelajaran anak SD aja Mas!”
“Itu semua demi kebaikanmu. Mas nggak mau denger kamu sakit. Kamu harus makan tepat waktu, istirahat cukup, nggak boleh terlalu capek dan banyak pikiran. Harus pergi shopping setidaknya seminggu sekali. Harus sering hang out dengan teman, harus …”
“Iya iya, aku inget kok, bawel!” Potong Via seraya menjembreng pipi suaminya.
Mirza meraih tubuh istrinya dalam dekapannya, Via menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh suaminya. Ahh, dada bidang ini tak kan lagi memberikan kenyamanan untuk beberapa bulan ke depan. Via mendongak, menatap wajah suaminya yang tampan, kedua mata Mirza terpejam seolah ia juga merasakan beratnya perpisahan.
“Mas. Aku sedih.” Cicit Via, kedua mata indahnya mulai mengembun. Perpisahan kali ini dirasakannya lebih berat dari sebelumnya. Beapa tidak, Via kini tinggal sendiri di rumah kontrakan, jauh dari keluarganya. Ditambah lagi beberapa peristiwa yang telah menimpanya, membuat Via betul-betul merasa ciut.
Mirza semakin mengeratkan dekapnnya, dan diciuminya pucuk kepala isrinya, ia tak menjawab dengan kata-kata. Via tau perasaan yang sama tengah dirasakan pula oleh suaminya.
“Mas janji, setelah ini kita nggak akan berpisah lagi. Ini yang terakhir.” Bisik Mirza.
Tes!
Butiran bening luruh di pipi lembut Via. Via segera menyeka dengan jemarinya sebelum Mirza melihatnya. Ruang tengah rumah kontrakan itu terasa beku, tak ada kata-kata, hanya helaan nafas lembut dari sepasang insan yang harus terpaksa berpisah oleh keadaan yang masih saling mendekap untuk memberi kekuatan satu sama lain. Seisi ruangan seolah menjadi saksi betapa beratnya perpisahan mereka, tak terkecuali seekor cicak ekor buntung yang mengintip dari balik sebuah figura yang terpasang di dinding ruang tengah itu.
TIN TIN!
Bunyi klakson mobil dari depan rumah sedikit mengejutkan keduanya. Mereka segera melerai pelukan.
“Itu taxi onlinenya udah dateng, Mas.” Ucap Via.
“Iya, sayang. Mas pamit ya. Jaga diri kamu baik-baik.”
Via mengangguk, diciumnya punggung tangan sang suami dengan takzim. Mirza membalas dengan mengecup kening Via lembut dan memeluknya sekali lagi.
“Jangan lupa nanti beli test pack ya, sayang.” Bisik Mirza.
“Ha?” Via mendorong sumainya pelan. “Ish, Mas! Ya nggak secepat itu juga.” Decak Via.
“Kita kan sudah melakukannya dua kali. Apa lagi semalam, kamu hot banget! Pasti langsung jadi.” Mirza tersenyum, manis sekali dengan lesung pipinya yang menawan mengalahkan manisnya gula aren.
Via memukul dada suaminya pelan, pipinya merona menahan malu.
“Mas rasa, semalam itu presisi adonannya sudah tepat. Pasti mengembang sempurna.” Mirza masih menggoda istrinya.
“Mas sudah ih, cepetan kasian itu pak sopirnya nungguin kelamaan.” Via menghindari saminya yang terus-terusan menggodanya. “Iya, nanti aku beli test pack kok.”
“Mas mau cium kamu sekali lagi boleh?”
Tanpa menunggu jawaban, Mirza langsung menghangatkan rabu pagi yang dingin itu dengan ciuman mesra di bibir Via. Tak terlalu lama, hanya beberapa detik namun keduanya sangat menikmatinya.
“Itu untuk beberapa bulan ke depan.” Ucap Mirza setelah melepaskan pagutannya dari bibir Via. “Jaga semuanya yang ada dalam diri kamu untuk Mas, sayang.” Lanjut Mirza dengan mata lembut penuh cinta.
“Iya, Mas. Jaga semua yang ada dalam diri Mas juga buat aku. Jangan khianati lagi kepercayaanku Mas.” Kalimat terakhir Via terasa bergetar.
“Never, I promise.” Sahut Mirza penuh kesungguhan dan sekali lagi memeluk tubuh istrinya untuk memberikan ketenangan.
TIN TIIINN ….!
__ADS_1
Bunyi kalkason kali ini betul-betul mengagetkan meraka berdua, sehingga mereka segera melepaskan pelukan dan sama-sama tersenyum. Pak sopir di luar pasti sudah mulai hilang kesabaran karena yang ditunggunya malah lagi enek-enakkan pelukan.
Mirza meraih kopernya dan bergegas ke depan diikuti Via. Pak sopir turun membukakan bagasi belakang dan memasukkan koper Mirza.
“I love you.” Satu kecupan terakhir didaratkan di kening Via sebelum Mirza benar-benar pergi.
“I love you more.” Balas Via dengan senyum terbaikknya.
Mobil yang ditumpangi Mirza mulai melaju, Via melepasnya dengan lambaian tangan disertai sebait doa-doa terbaik untuk suaminya tercinta.
Via baru beranjak dari depan ketika mobil itu menghilang di tikungan. Hatinya kini benar-benar merasa kehilangan. Sepi, itulah yang akan dirasakannya selama beberapa bulan ke depan.
“Hey, Jeng Isyana Sarasvati!” Satu suara menghentikan langkah Via yang hampir mencapai pintu masuk.
Via membalikkan badan dan melihat si bohay Bujel tengah berjalan menghampirinya.
Aduh, mau ngapain lagi sih nih orang pagi-pagi? Jangan-jangan mau nagih rendang? Via menggerutu dalam hati.
“Mas Chico Jericho itu mau kemana? Kok bawa-bawa koper segala?” Tanya Bujel dengan tampang keponya yang maksimal. Rupanya dia tadi memelihat keberangkatan Mirza.
“Mau pergi kerja.” Mau tak mau Via menjawab juga.
“Mau berlayar maksudnya?” Bujel memperlihatkan tampang kaget.
Entah mengapa si Bujel kok bisa-bisanya sok terkejut begitu. Via hanya menjawab dengan anggukan kepala, malas juga dia ngeladenin si Bujel.
“Eh, hati-hati lho Jeng. Kamu harus menyiapkan mental kalo ditinggal suami berlayar kayak gitu. Pokoknya lahir batin, jasmani rohani kamu harus betul-betul siap kalo suatu hari menghadapi kenyataan tenyata suami kamu punya selingkuhan di luar akibat terlalu lama menganggur.” Bujel mulai mengompori dengan tampang yang dibuatnya semeyakinkan mungkin.
Hmm, nggak tau aja. Aku udah pernah ngalamin kali! Batin Via gemas.
“Apalagi ya, suami kamu itu ganteng, keren, macho, atletis, romantis, dan euuumh…pasti perkasa banget.” Bujel sampe merem melek membayangkannya.
“Pasti banyak perempuan diluaran sana yang menginginkannya, Jeng. Apalagi orang pelayaran itu banyak duitnya. Perempuan mana coba yang nggak mau sama laki-laki seperti itu?” Lanjut Bujel dengan semangat kompor meleduk.
Via hanya bisa menghela nafas, mencoba menyabrakan dirinya. Untung saja sebuah sepeda motor berhenti di dekat mereka sehingga mengalihkan fokus rumpi si Bujel.
“Hai, Vi!” Sapa Yanti yang turun dari boncengan motor Firman. Rupanay Firman mau berangkat dinas, ia hanya menganggukkan kepala menyapa Via lantas segera berlalu.
“Mau kemana, Yan?” Tanya Via setelah Yanti mendekat.
“Sengaja mau ke sini, sekalian nebeng Mas Firman mau berangkat kerja.” Sahut Yanti kemudian melihat pada Bujel. “Eh ini ngapain, ni orang pagi-pagi udah nyangkut disini?”
“Ye, sirik aja! Bukan urusan situ!” Ketus Bujel pada Yanti.
“Oya, Mirza udah pergi Vi?” Tanya Yanti tak menaggapi s Bujel.
“Udah, barusana aja.”
“Iya, makanaya aku kesini buat ngasih tau sama Jeng Via kalo dia musti hati-hati sama suami yang kerja jauh. Jaga-jaga aja kalo suatu hari nanti ternyata tak sesuai harapan. Soalnya udah ada contoh nyatanya lho. Masih idup orangnya sekarang. Saudaranya tetangga kakak ipar keponakannya sepupu aku. Dia kerja pelayaran juga Jeng. Kelihatannya sih orangnya baik dan sayang sama istri, eeh tapi nggak taunya pulang-pulang malah bawa perempuan lain. Coba, hati siapa yang tak sakit menerima kenyataan pahit itu? udah gitu, perempuannya lagi hamil lagi! Nah, berarti kan selama ini lakinya dia ngendon sama perempuan lain? Ngakunya berlayar di lautan padahal berlayar di kasurnya perempuan!”
“Udah selesai ngocehnya?” Sinis Yanti begitu Bujel mengakhiri paragraph narasinya dengan bibir mencong kanan mencong kiri dengan gaya khas lambe turah versi ofline.
“Eh, aku kan cuman ngasih tau aja. Kok kamu yang sewot sih?” Bujel kesal pada Yanti.
“Udah deh nggak usah ngurusin laki orang! Laki situ apa kabarnya emang? Udah berapa purnama nggak pulang? Yakin laki situ baik-baik aja?” Sindir Yanti tak kalah kesalnya.
“Kok jadi bawa-bawa suami aku sih?” Bujel nggak terima.
“Ya habisnya situ mulai duluan, pake manas-manasin Via soal suaminya. Kayak suami situ baik aja diluaran, belum tentu kan?”
__ADS_1
“Eh, asal tau aja ya! Suami aku orang paling setia tiada duanya. Lagian di kerjaannya lepas pantai kan nggak ada perempuan, nggak kayak di kapal pesiar pasti bayak perempuannya, udah gitu pasti cantik dan seki-seksi.” Bujel terus nyerocos.
“Sapa tau suami situ selingkuhnya nggak sama perempuan, tapi sama ikan pesut apa berang-berang laut! Orang gatel mah apa aja doyan, pasti diembat!” Semprot Yanti asal.
“Eh, jangan menghina suami saya ya?” Bujel geram bukan main suaminya dikata-katain.
“Kenapa? Nggak terima kan, suaminya dituduh macem-macem? Makanya jangan suka berburuk saka sama sumai orang kerena kita nggak tau kenyataannya!”
Bujel langsung mingkem sementara Yanti tersenyum puas.
“Udah pulang sana, ngapain masih ngejogrok disini? Cucian di rumah numpuk tuh!” Usir Yanti kesal lantas mengajak Via masuk. “Orang kayak dia nggak bleh didiemin Vi, ntar makin menjadi.” Bisik Yanti sambil menggandeng tangan Via meninggalkan Bujel yang nampak nggak karu-karuan tampangnya. Doi kesel banget, kalah debat lagi sama Yanti.
Beruntung Via punya tetangga dan teman seperti Yanti. Sebenarnya bukan Via nggak mau bales Bujel, tapi dia sensitive kalo udah ada yang nyinggung soal perselingkuhan. Dia hanya coba mengusai dirinya agar tak terbawa emosi sebab luka lama itu masih terasa sangat nyeri apabila ada yang mengungkitnya meskipun orang tersebut tak mengetahui kondisi rumah tangganya yang sebenarnya. Dan memang tak ada yang tau tentang peristiwa kesalahan Mirza itu kecuali keluarga saja, bahkan dengan Yana sahabat baiknya pun Via tak menceritakannya. Aib suami adalah aibnya juga, jadi Via menyimpan rapat-rapat semua kejadian itu, cukup dengan menjadikannya pelajaran yang sangat berharga. Dan dia yakin, kepergian suaminya sekarang tak akan mengulangi kesalahannya lagi.
_________
Perpisahan juga dirasakan Sofi. Bedanya Sofi justru senang berpisah dengan Ramzi. Iyalah, soalnya dia bisa lepas dari serangan suaminya yang mirip serigala kelaparan itu.
"Nyonya, Anda sudah bangun?" Sapa pelayan wanita yang masuk kamar seraya meletakkan bunga Krisan putih di vas.
Sofi mengerjapkan matanya, kepalanya sedikit pusing dan badannya pegal. Apalagi, tak lain itu akibat ulah suaminya yang semalam juga telah melancarkan gempuran habis-habisan pada dirinya hingga Sofi terpaksa mengibarkan bendera putih tanda menyerah lalu tak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya.
"Saya bawakan sarapan Anda. Dan ada hadiah dari Tuan Ram." Pelayan itu meletakkan nampan di atas nakas. "Saya permisi, Nyonya."
Sofi masih malas beranjak dari tempat tidur, sang pelayan sudah keluar.
"Sial. Si Brewok itu kenapa doyan banget membuatku babak belur kayak gini sih!" Umpat Sofi sambil memegangi tengkuknya yang terasa pegal.
Perlahan dia bangkit juga dari tempat tidur dan mengambil baki sarapannya karena mulai merasa lapar. Sofi melirik kotak kecil berpita merah muda di atas nakas dan meraihnya.
Matanya berbinar ketika mendapati isi kotak itu kalung berlian mengkilat lengkap dengan liontin berinisial namanya.
Selamat pagi istriku. Semoga kau menyukai hadiahnya. Aku pergi ke Kalimantan untuk beberapa hari dengan Papa. Ada urusan yang harus ku selesaikan disana. Aku akan segera kembali jika sudah selesai karena aku tak tahan berjauhan denganmu. Persiapkan dirimu untuk menyambutku nanti.
Pastikan kondisimu prima karena aku sangat menyukai permainanmu.
Aku mencintaimu.
"Cih! Dia pikir bisa menyogokku dengan berlian ini?" Sofi menyingkirkan kotak itu karena kesal dengan kelakuan brutal suaminya kalau sudah urusan ranjang.
"Apa tadi dia bilang pergi dengan di tua bangka bau tanah itu?" Sofi terperanjat dan membaca sekali lagi pesan dari suaminya. "Benar. Si tua bangka juga pergi. Ini kesempatanku." Sofi tersenyum membayangkan rencana yang akan diambilnya.
Namun setelah sarapan, badannya tak kunjung membaik. Tengkuk dan bahunya terasa pegal, kepalanya juga masih pusing. Dengan segera dia memeriksa persediaan obatnya di laci.
"Sial, obatnya habis." Sofi kesal sendiri. Agaknya keadaan yang tak nyaman membuat sindromnya kembali muncul.
"Ini semua gara-gara si Brewok itu! Baru kali ini aku menderita karena kalah urusan ranjang. Ahh, ya ampun...." Sofi semakin kesal dan memegangi pelipisnya yang kembali berdenyut.
Sejurus kemudian diraihnya ponsel di sampingnya untuk menghubungi kepala pelayan meminta dipanggilkan dokter ke rumah karena kondisinya semakin memburuk.
______
Eaaaa..... ada yang lagi LDR juga kah kayak Via dan Mirza ....??😀😀😀
Jaga hati baik-baik ya Kak... semoga Tuhan melindungi pasangan kita 😇😇😇
segini dulu deh up nya ♥️♥️
Jangan lupa selalu dukung emak othor ini yaa...🙏🙏🤩🤩🤩
__ADS_1
terima kasih, luv u all🤗🤗😘😘