
Sofi lebih dari kaget mendengar berita yang baru saja disampaikan papanya, namun untuk menolak pun dia tak bisa. Tenggorokannya tercekat, dadanya tiba-tiba sesak.
“Kamu tentunya sudah siap, kan?” Tuan Husein memastikan dengan nada penuh tekanan.
Sofi menyandarkan punggungnya, dia berusaha tenang. Nyonya Husein menatap putrinya lembut. Dia tau Sofi belum sepenuhnya siap, tapi dirinya juga tak mungkin menolak keinginan keluarga Ramzi yang sudah menunggu cukup lama.
Azad bertukar pandang dengan ayahnya melihat Sofi yang masih diam. Dia ingin memberikan pendapat namun isyarat mata Tuan Husein memintanya untuk jangan membuka mulut.
“Apa setelah melamar, Ramzi akan langsung menikahiku?” Tanya Sofi setelah bebeapa lama.
Tuan Husein malah tertawa mendengar pertanyaan Sofi. “Tentu saja. Dia akan menggelar pesta megah yang dihadiri banyak tamu.” Ungkap Tuan Husein diakhir tawanya.
“Ramzi bahkan sudah menyiapkan rumah mewah untuk tempat tinggal baru kalian nanti,” timpal Nonya Husein.
Sedikitpun Sofi tak merasa bangga atau pun bahagia dengan semua itu. Dia hanya sedang berpikir mungkinkah dia bisa menghindar?
“Azad, bagaimana persiapan untuk besok?” Nyonya Husein beralih pada Azad.
“Sudah beres semua, Ma. Aku sudah menyewa juru masak handal untuk menyiapkan hidangan paling enak dan tentu saja penata rias profesiaonal agar kakakku terlihat makin cantik di hari bahagianya besok.” Terang Azad panjang lebar.
Azad, adik laki-laki Sofi satu-satunya itu sangat cekatan dan terampil dalam mengurus banyak hal. Pemuda 23 tahun itu tak sempat menamatkan kuliahnya karena kebangkrutan usaha Tuan Husein, tapi sedkitpun dia tak pernah berkecil hati. Azad tekun membantu usaha ayahnya untuk bangkit lagi meskipun hanya membuahkan hasil yang hampir tak terlihat.
“Kalau begitu kau boleh istirahat sekarang, karena papa tidak mau membuat keluarga Ramzi kecewa besok.” Perintah Tuan Husein pada Sofi.
Nyonya Husein membelai rambut panjang Sofi dan menatapnya penuh arti. “Mama harap kamu dapat hidup bahagia dengan Ramzi, sayang. Dia laki-laki yang tepat. Keluarga kita berhutang banyak padanya, dan setelah perkawinanmu nanti semuanya akan selesai.”
Spontan Sofi menoleh dan memandang manik mata mamanya antara terkejut dan tak percaya.
“Kenapa kau melihat mamamu seperti itu?” pertanyaan Tuan Husein bernada tajam seolah tau isi hati Sofi yang mengatakan bahwa dirinya ternyata dijadikan alat pembayar hutang.
Sofi menggeleng samar dan kembali menunduk. Dia tak punya keberanian untuk berkata sedikitpun. Diam dirasa langkah yang tepat untuk sementara ini, karena jika dia berontak maka bukan tidak mungkin papanya akan menghukumnya, sebab ini adalah janji Sofi sendiri sebelum kepergiannya pada beberapa bulan yang lalu.
“Papa tidak izinkan kamu pergi!” Seru Papanya kala itu.
“Ini yang terakhir, Pa. aku janji.” Sofi berusaha meyakinkan Papanya.
“Papa sudah tak punya muka lagi mengatakan alasan itu untuk yang kesekian kalinya pada Ramzi. Dia sangat mencintaimu, dan Papa tidak yakin dia kan memaklumimu kali ini.” Tuan Husein sedikt ragu karena sudah berulang kali membuat Ramzi harus menunggu Sofi.
“Papa pasti tidak ingin kehilangan calon menantu seperti Ramzi kan? Lakukan itu untuk aku, Pa. Buat dia yakin.” Sofi menggunakan segala caranya agar bisa berpesiar lagi.
Tapi itu bebrapa bulan yang lalu. Sofi yang sekarang tak mampu memaksakan kehendak hatinya lagi, Sofi terpaksa harus pura-pura menurut sambil memikirkan cara agar bisa menghindar dari pernikahan yang tak pernah diinginkannya itu.
“Apa kakak mau ikut bersamaku mengambil baju di butik untuk lamaran besok?” Azad menawarkan diri.
Dia sebenarnya tak tega melihat keadaan kakaknya, jadi dia berinisiatif untuk membwa Sofi jalan siapa tahu Sofi bisa lebih baik.
“Kamu saja, Zad. Aku mau istirahat.” Sofi bangkit untuk menuju kamarnya, Azad mengikuti di belakang.
“Kak.” Panggil azad sebelum Sofi masuk. “Kalau mau cerita, aku siap mendengarkan. Aku akan jadi temanmu.” Hibur Azad menguatkan Sofi.
“Makasih, ya. Kamu memang adik yang perhatian.” Sofi mengacak rambut ikal Azad lantas berlalu masuk kamar
________
Paris Salon,
Yana yang sudah booking antrian melalui telpon tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan perawatan di salon terbaik di kota itu. Sekitar tiga jam berselang, Riri baru mendapatkan gilirannya sementara Yana sendiri masih sedang perawatan di ruang massage and spa.
Menunggu memang pekerjaan yang membosankan, Via mengecek ponselnya untuk membuang jenuh.
Belum ada balasan dari Mas Mirza. Apa mungkin lagi ketemu clien penting lagi ya?
Berbagai prasangka sempat muncul di dibenaknya, tapi Via tepis karena tak ingin terlalu khawatir pada suaminya. Via kemudian berselancar di dunia maya, iseng melihat beberapa postingan teman-temannya di instagram dan face book tapi tak sedikitpun berminat untuk komentar.
“Mbak, giliran Mbak Via sekarang.” Riri tau-tau sudah berdiri di depan Via. “Cepetan sana!” Riri menarik Via lantas duduk di kursi empuk tempat Via menunggu tadi.
“Mbak mau krimbat juga atau …”
“Terserah Mbak aja deh, yang penting kakak saya ini dibuat makin cantik ya.” Potong Riri.
Via melotot sebal, Riri malah menyeringai.
_______
Di rumah Bu Een,
__ADS_1
Mirza menyalakan sebatang rokok setelah selesai makan. Segelas air dingin ditenggaknya, lantas dia termenung menekuri taplak meja makan yang bermotif bunga sepatu. Udin yang kebetulan lewat dari pintu samping menuju gudang sempat memergoki Mirza yang sedang melamun itu.
Mirza kemudian ingat akan ponselnya dan bangun untuk mencarinya di kamar. Cepat-cepat Udin pergi sebelum ketahuan.
“Astaga!” Mirza kaget sendiri melihat pesan dari Via. “Pasti Via khawatir banget.”
Mirza menghisap rokok putihnya hanya sekali lagi lalu cepat melemparkannya ke luar jendela kamar. Pilihannya untuk pulang ke rumah ibunya semalam ternyata tidak membuat pikirannya lebih baik. Dalam hati dia menyesali juga keputusannya itu. Tapi semalam dia juga belum berani untuk menemui Via dengan perasaan yang tak karuan.
Mirza mengusap rambutnya ke belakang dengan kedua teapak tangannya. Dia berusaha menenangkan diri, membuang segala macam perasaan yang dibawanya dari Jakarta. Dia masih punya cukup banyak waktu untuk memperbaiki semuanya, setidaknya sampai Sofi meahirkan nanti.
Mirza segera mandi untuk menyegarkan diri. Dia akan bersikap sewjar mungkin di depa Via seperti tidak pernah ada kejadian kemarin.
Sreet sreet …
Mirza meyemprotkan parfum setelah selesai mandi. Pikirannya sudah lumayan tenang kini.
Tluwing tluwing tluwing wing …
Pnsel Mirza bordering dan ternyata Om Jaka yang menelpon, Mirza sempat mengira Via yang menghubunginya.
“Halo!” Sapa Mirza agak kasar.
“Weits, ngegas amat lu!” Sahut Om Jaka yang tak mengira akan mendapat sambutan seperti itu. “Di mana lu, Za?”
“Di sumur.”
“Om serius!” Nada bicara Om Jaka memnag terdengar serius.
“Di rumah ibu.”
“Dari semalam kamu nggak pulang ke rumah?” Om Jaka sedikit heran.
“Nggak. Kenapa sih, kepo amat!” Mirza sebal.
“Dasar laki-laki bodoh! Ngapain lu pulang ke rumah emak lu?” Balas Om Jaka tak alah sebal. Dia kalo lagi sebel emang bicaranya suka ganti jadi lu gue dari yang semula aku kamu.
“Suka-suka aku lah.” Sahut Mirza kian jengkel.
“Eh, denger ya! Elu tuh cuman nambah masalah, tau. Kalo bini lu tau elu kagak langsung pulang ke rumah …”
“Eh, lu pikir gue bocah bayi? Gue juga tau mana yang boleh diomongin mana yang harus dirahasiain.” Om Jaka balik ngomel.
Mirza langsung diem, dalam hatinya membenarkan juga tak mungkin Om Jaka akan cerita pada ibunya tentang masalah Sofi.
“Udah lu sekarang pulang, lu baek-baekin dah tu bini lu. Jangan ampe bikin dia curiga ama elu kalo elu belum siap jujur sama dia. Paham kan lu gue ngomong?”
“Iya ini juga udah mau pulang kok.”
“Bagus! Anak pinter.” Puji Om Jaka setengah meledek dari seberang. “Inget, waktu lu cuman 6 bulan, lu pikirin baik-baik langkah elu setelah itu.”
“Za …!” terdengar suara Bu Een memanggil dari ruang kamar.
“Udah dulu, Om. Ada ibu.” Mirza langsung mematikan sambungan telepon Om Jaka.
“Za, kamu udah mandi?” Bu Een masuk kamar kerena memang pintu kamar Mirza agak terbuka.
“Udah, Bu. Aku mau pulang minta dianterin Udin.”
Bu Een memandangi Mirza yang kelihatan lebih tenang sekarang. Bu Een ingin kembali bertanya soal kecurigaanya, tapi melihat Mirza yang cuek dia urung bicara.
_____
SREET ..
NGEEK ..
Yana menghentikan mobilnya dan menarik rem tangan.
“Sampai deh!” Serunya dengan girang. “Eh, aku udah cantik kan?”
KEDAI KOPI NOSTALGIA
Via hampir saja melotot membaca tulisan yang tertera di papan besar tempat Yana memarkir mobilnya.
“Ngapain kita ke sini lagi?” Via balik bertanya mengacuhkan pertanyaan Yana tadi.
__ADS_1
“Mbak Via pernah ke sini?” Tanya Riri.
Via tak menyahut, dia nampak enggan. Sementara Yana asyik merapikan rambut dan make up di depan cermin mini yang dibawanya.
“Eh, Ri. Gimana? Oke kan?” Yana kali ini membenahi pakaiannya menghadap Riri di jok belakang.
“Iya, Kak. Dari tadi juga waktu di butik kan aku bilang Kak Yana cantik banget pake dress itu.” Puji Riri.
“Makasih.” Yana tersenyum centil. “Muka sama rambut aku, gimana Ri?” Yana bertanya lagi seolah kurang puas dengan pujian Riri.
“Cetar badai mempesona tiada duanya deh pokoknya!” Pujian Riri kian bertubi-tubi.
Yana menjawil dagu Riri. “Itu baru adik yang manis. Nanti aku bayarin ke salon dan beliin kamu baju lagi.”
“Yeii, beneran, Kak?” Riri bersorak girang.
“Iya.” Sahut Yana mantap.
“Maksih ya, Kak. Baju ini bagus banget kok, daripada aku pake bajunya Mbak Via tadi keliatan kan kalo kegedean?” Oceh Riri yang memang tadi waktu berangkat pinjem bajunya Via kerena dia nggak bawa baju ganti dan Yana membelikan Riri baju di butik tadi karena udah bantuin dia milihin dress cantik warna pink yang sekarang Yana pakai.
“Eh, kamu kenapa, Vi? Kok manyun gitu?” Tegur Yana yang melihat sahabatnya itu tampak bete di sebelahnya.
“Kita ngapain ke sini?” Ulang Via setengah kesal.
Yana kelihatan mengulum senyum.
“Malah senyam senyum. Cepetan bilang! Pasti ada yang kamu sembunyiin kan?” Via setengan memaksa.
Bukannya jawab, Yana malah makin tersipu dan tampak nyebelin banget di depan mata Via yang nggak sabaran.
“Jadi gini, Vi.” Yana melihat Via dengan tatapan rada malu-malu gimana gitu. “Aku tuh mau ketemu seseorang, dia ngundang aku ke sini buat nyatain persaannya.”
“Kak Yana mau ditembak?” Cegat Riri antusias.
“Hiy, dengerin dulu!” Sergah Via kesal. “Terus?” Lanjut Via pada Yana.
“Ya dia katanya sih suka sama aku, tapi dia mau mengungkapkannya langsung. Selama ini kita cuman ngobrol lewat chatting aja. Dan aku ngajak kamu biar kamu jadi saksinya gitu, Vi.”
“Ya ampun, cuman mau jadian doang kamu heboh kayak gini, kayak mau dilamar aja!”
“Ih, dia itu so sweet tau!” Yana senyum bayangin wajah gebetannya. “Keliatannya sih cuek orangnya, tapi perhatian banget lho ternyata. Ini buktinya aku ke salon dan belanja uangnya ditransfer sama dia lho, Vi.”
“Hati-hati kamu, nanti patah hati lagi kayak sama Reno.”
“Ih, kamu jahat banget! Bukannya ngedukung.” Yana cemberut.
“Ya aku cuman ngingetin aja, jangan sampe keulang lagi. Kamu tau kan gimana rasanya patah hati?” Via menatap tajam sahabatnya itu.
Yana mengangguk. “Ya emang sih kita belum saling mengenal lebih jauh, Vi. Tapi dia ngaku kalo udah suka sama aku sejak pertama kali ketemu di sini. Makanya dia juga pingin nyatain cintanya disini, mengenang pertemuan pertama kita gitu deh.” Ungkap Yana pelan sambil terus tersenyum.
Via terdiam. Yana mau jadian sama seseorang yang baru pertama kali ketemu waktu di tempat ini? Orangnya cuek tapi sebenernya perhatian?
Tiba-iba perasaan Via jadi aneh. Apa mungkin Yana selama ini berhubungan dengan …
“Udah, ah. Yuk turun!” Ajak Yana menghentikan pikiran Via yang mulai menduga-duga akan seseorang. “Ri, bisa tolong bawain oleh-olehnya kan?” Pinta Yana pada Riri.
“Oke, siap Kak!” Sahut Riri sigap.
“Terus itu buat apaan?” Tanya Via heran.
“Dia besok mau berangkat ke bandung karena emang aslinya orang sana, makanya aku bawain oleh-oleh. Itung-itung tanda perkenalan sama calon mertua, padahal dih duitnya dari dia juga, hahaha ….”
Entah mengapa hati Via menjadi tak karuan kini, Yana santai aja tertawa riang sambil membuka pintu mobil dan melangkah mantap menuju kedai. Mereka masuk dari halaman samping, sehingga mendapatkan tempat out door di kedai itu. Ternyata ruang terbuka itu lebih luas dan nyaman dibandingkan ruangan depan yang terdapat mini stage-nya.
Tap … tap … tap …
Langkah Yana mantap memasuki kedai, sementara Via perasaannya makin tak karuan. Sejumput harapan aneh menyelinap masuk ke dalam relung hatinya.
Semoga saja bukan …
_____________
___ bersambung,
Terima kasih sudah setia membaca ceritaku 🙏☺️
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate dan votenya ya😘🌹