TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
81 #PULANG


__ADS_3

Lepas maghrib Azad dan Sofi sampai di rumah keluarga Alatas. Mereka masuk menemui Ramzi dengan diantar dua orang kepercayaan Ramzi yang sudah menunggu di depan.


Ramzi Nampak sedang menikmati secangkir kopi di teras balkon lantai dua yang menjorok ke area taman dan kolam renang.


“Jadi kamu datang juga akhirnya.” Ucap Ramzi sambil melihat pada Sofi dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Sofi tak menyahut, dia masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Ramzi siang itu di ruang kerja kantor Ramzi yang membuatnya kabur karena mendapat perlakuan tak menyenangkan dari tunangannya itu.


Ramzi memberi isyarat dengan matanya pada dua orang kepercayannya untuk meninggalkannya.


Ramzi bangkit mengitari Sofi dan Azad yang hanya berdiri.


“Apa yang kamu harapkan dengan membawa kakakmu ke hadapanku?” Kali ini Ramzi bicara pada Azad.


Baru saja Azad akan membuka mulutnya namun Ramzi kembali bicara.


“Kamu ingin barter rumah dan perusahaanmu dengan kakakmu?” Tanya Ramzi dengan mata tajam pada Azad.


“Aku hanya ingin pernikahan kalian berjalan sesuai seperti yang sudah direncanankan.” Sahut Azad lirih.


“Terlambat.” Sinis Ramzi.


Azad sedikit kaget, namun berusaha menutupinya. Ia tahu sudah bertahun-tahun Ramzi mendambakan kakaknya sebagai calon istrinya, bahkan sejak Sofi masih duduk di bangku sekolah pertama, Ramzi yang kala itu sudah lulus kuliah sudah berniat ingin melamar Sofi.


“Tapi kalau kalian memaksa, baiklah. Aku akan tetap menikahinya.” Ramzi melukis senyum yang sulit diartikan.


Azad menatap pada manik indah kakaknya yang seolah beku, Sofi tak mengucapkan sepatah kata pun, dan itu memang jauh lebih baik daripada melawan karena keadan sudah tak berpihak lagi pada keluarga mereka.


Ramzi mengangkat cangkir kopinya. “Kau mau minum kopi?” Tawarnya pada Azad.


Azad menggeleng, Ramzi kemudian menyesap kopinya yang nampak begitu nikmat. Ramzi kembali pada kursinya yang empuk lantas mengambil gawainya dan menghubungi seseorang.


“Halo, Jane. Tolong persiapkan segalanya, lusa aku akan menikah.”


Singkat, padat dan jelas kalimat yang diucapkan Ramzi pada seseorang yang bernama Jane itu, lalu ia pun segera mengakhiri sambungannya entah orang yang di seberang sudah menjawab atau belum.


“Apa katamu?” Sofi tak dapat menahan diri lagi.


Ramzi hanya melirik Sofi sekilas, lantas kembali pada cangkir kopinya.


“Aku bicara padamu. Apa kita akan menikah lusa?” Nada suara Sofi sedikit di tekan.


“Apa kamu ingin kita menikah besok pagi?” Sahut Ramzi dengan pertanyaan pula.


Sofi kelu, Azad tak menanggapi reaksi kakaknya. Baginya yang terpenting kakaknya itu cepat menikah agar keluarga Alatas tak lagi menuntun pengembalian pinjaman dana yang sudah mereka gelontorkan untuk membantu memulihkan perusahaan keluarga Husein.


“Kalian boleh pulang sekarang.” Pungkas Ramzi lantas berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.


Sepanjang perjalanan pulang Sofi terus saja menyalahkan tindakan Azad yang langsung membawanya menemui Ramzi.

__ADS_1


“Sekarang kamu senang melihat kehancuran hidup kakakmu sendiri?” Sofi meluapkan emosinya yang sedari tadi ditahannya.


“Apa kakak senang melihat kehancuran keluarga kakak sendiri?” Balas Azad datar.


“Azad aku serius!” Sofi sedikit mengeraskan volume suaranya.


Azad menghela nafas berat, melirik Soofi sekilas.


“Ayolah, Kak. Kapan lagi Kakak bisa bahagiakan Papa dan Mama? Seluruh waktu dan hidup Kak sofi selama ini hanya dihabiskan untuk bersenang-senang.” Ujar Azad sambil berusaha tetap fokus menyetir.


“Nggak usah sok mengguruiku!”


Azad tak berselera melanjutkan pembicaraan meraka. Sofi terlihat sangat jangekel. Otaknya yang sudah lelah dipaksanya untuk berpikir bagaimana caranya bisa lari dari semua ini.


Beberapa lama kemudian mereka pun sampai di rumah. Tak ada pelayan yang membukakakn pintu, rumah terlihat sangat sepi. Nyonya Husein sendiri yang membuka pintu dan menyambut mereka, sementara Tuan Husein nampak duduk di kursi malasnya di ruang tengah.


“Mari masuk, Nak. Apa kamu tak meridukan Mama?” Nyonya Husein memeluk dan menciumi Sofi.


Sofi datar saja, ia hanya mengikuti ibunya yang mengajaknya ke ruang tengah.


“Pa, lihat. Azad benar-benar bisa membawa Sofi pulang.” Ucap Nyonya Husein senang.


Tuan Husein hanya mengangkat wajahnya sebentar lantas kembali pada untaian biji tasbih di tangan kanannya.


“Lusa Kak Sofi akan menikah dengan Kak Ram.” Ucap Azad yang mampu mebuat Nyonya Husein terbelalak keheranan.


“Kamu pikir dengan pernikahan itu kita bisa bebas dari jerat kelicikan Alatas?” Ucap Tuan Husen tanpa melihat pada yang diajak bicara.


“Kenapa Papa bilang seperti itu?” Azad sedikit heran.


Tuan Husein menghentikan aktfitasnya.


“Papa terlambat menyadari, bahwa semua kebaikan yang mereka perbuat selama ini adalah karena memang punya maksud tertentu. Yaitu perusahaan kita.”


“Jadi pernikahanku bisa dibatalkan kalau begitu?” Sofi menyela antusias.


“Terserah. Asalkan kau bisa urus bayimu sendiri tanpa menggangu suami orang!”


JRENG!


Sofi kaget mendengar ayahnya berkata seperti itu. Azad juga sama terkejutnya, mati-matian dia merahasiakan soal kehamilan Sofi dari orang tuanya, ternyata mereka mengetahuinya juga.


“D-dari mana Papa tau?” Sofi sedikit terbata bertanya pada ayahnya.


“Alatas.”


Sofi dan Azad saling pandang dalam diam.


“Menikah pun tidak akan mengubah keadaan. Perlahan, Makhrus Alatas akan tetap meminta uangnya dikembalikan.” Ucap Tuan Husein getir. “Karena yang ada dalam pikirannya hanya keuntungan bisnis, bukan yang lain.”

__ADS_1


“Kenapa Papa jadi pesimis seperti itu? Setidaknya jika Kak Sofi tetap menikah, kita masih punya waktu untuk memulihkan perusahaan karena mereka tak minta cepat-cepat dananya dikembalikan.” Papar Azad mencoba meyakinkan Papanya.


“Kalau begitu mintalah mahar yang sebanding dengan nilai semua aset keluarga yang kita miliki.” Tuan Husein menatap tajam pada Sofi.


“Apa aku harus meminta rumah dan perusahaan keluargaku sendiri sebagai maharnya?” Sofi menggeleng tak percaya.


“Terserah bagaimana bahasanya, yang jelas buatlah pertukaranmu tak sia-sia.”


Sofi menggeleng kuat. “Nggak. Ini gila! Dari awal aku nggak mau dijodohkan, tapi kalian memaksaku. Dan sekarang menganggap aku sebagai barter. Aku bukan barang, aku punya hak dan perasaan yang tak bisa kalian paksakan.”


“Kak, dengarkan dulu!” Potong Azad pada Sofi yang nyerocos tak terkendali.


“Aku nggak mau dengar apa-apa lagi.” Sofi menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. “aku nggak mau nikah dengan Ramzi Alatas. Dia laki-laki yang dingin, kaku dan otoriter. Aku tak sanggup jika harus membayangkan hidup bersamanya.”


“Kamu harus tetap menikah dengannya.” Ucap Nyonya Huesin yang sedari tadi hanya diam. “Hanya dia yang bisa menerima kamu dalam keadaan hamil seperti ini.”


Sofi menatap ibunya lekat, manik Nyonya Husein menyiratkan ketegasan.


“Bagaimana Mama bisa tahu dia menerima bayi ini?”


“Buktinya sampai sekarang dia tak punya rencana apa-apa dengan kandunganmu. Jika dia mau, dia bisa saja memaksamu menghilangkan janinmu.”


DEG!


Sofi diam. Pandangannya luruh menekuri karpet beludru dibawah kakinya.


“Tapi bayi ini bukan anaknya.” Lirih Sofi hampir tak tedengar.


“Bayi itu butuh seorang ayah, dan Ramzi tak mempermasahkannya.” Nyonya Husein mengusap lembut bahu Sofi.


_______________


Sampe sini dulu ya, Kak 😊


Jeda dulu.😄😄


Bab selanjutnya belum kelar 😂😂


Makasih yang sudah selalu setia dukung Via dan Mirza ya akak reders dan akak author yang kece-kece dan baik hati 🙏🙏🙏😍😍😍😍🤗🤗🤗😘😘


Ngga vote nggak papa, tapi plis jangan nurunin rate ya😁😁


Nggak komen, nggak like juga nggak papa, tapi yang penting selalu baca tiap bab sampe selesai 😉😉


Hehehe .... authornya lagi woles aja 🤭🤭 Terserah akak aja say amah, yang penting sellalu support apapun bentuknya❤️


❤️❤️


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2