TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
66 #DUEL MAUT


__ADS_3

Lanjut ya Kak …. 😊


 


Boleh dong kalo rada lebay jalannya Bu Een yang gamis dan hijab panjangnya berkibar-kibar tertiup  angin  sore itu dibikin slow motion? Hehe…. 😂😂😂 Sambil kasih musik kasidahan atau rebanaan ya kakak, biar makin dramatis… 🤭🤭


Okay, kembali serius😄


“Minggir kalian semua! Apa-apaan ini?” Teriak Bu Harni pada warga.


Sofi yang merasa dewi penyelamatnya datang langsung menghampiri Bu Een dengan air mata menggenang dikedua pelupuk matanya.


“Bu, mereka ngusir aku, hiks … hiks .. hiks …” Ucap Sofi dengan isaknya yang manjalita.


Bu Een mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan Sofi untuk jangan berkata apa-apa lagi. Sofi lantas berdiri di belakang Bu Een seolah minta perlindungan.


Mata tajam penuh kilatan amarah Bu Een kali ini memandang pada wajah sang besan. Bu Harni yang mengetahui besannya datang untuk membela si pelakor pun tak gentar, ia balas melihat tajam pada mata Bu Een . jadilah mereka berdua liat-liatan. Ciyee … 🤭🤭🤭🤭


“Mas, lakuin sesuatu …” Desis Via pada Mirza yang berada di dekatnya. Tangan kanannya meremas lengan Mirza membayangkan kengerian yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.


Mirza berdiri tak bergerak sama sekali, bahkan untuk bernafas pun rasanya sulit baginya.


“Wah, gawat! Bisa pecah perang nuklir ini.” Timpal Tia tak kalah ngerinya demi melihat dua wanita setengah baya lebih itu berhadapan seolah sudah siap akan bertarung mengadu ilmu kesaktian.


“Bunda, itu kan Eyang Ndang?” Suara kecil Ica memecah ketegangan Via, Tia dan Mirza di teras.


“Sssstt!” Tia menempelkan telunjuk kanannya pada bibir mungil Ica. “Nggak usah dipanggil ya, sayang.”


“Kenapa emangnya, Bun?” Tanya Ica penasaran yang memang sudah sangat akrab dengan Bu Een.


Tia mikir sebentar, kalimat apa yang akan ia berikan pada Ica.


“Ah, kita ke dalem aja yuk!” Ajak Tia membawa Ica masuk karena tak ingin Ica menyaksikan kejadian yang sebentar lagi pasti bakal meledak.


Mengetahui Tia masuk ke dalam, ingin rasanya Via juga ikutan, tapi demi melihat ibu mertuanya berjalan mendekati ibunya dengan wajah galak, Via jadi urung karena takut terjadi apa-apa dengan dua wanita tua itu.


“Heh, Harni Suharni Sesuharni-harninya yang paling harni di dunia ini!” Tegur Bu Een penuh emosi pada besannya. “Jelasin sama saya apa maksud semua ini, hah?”


Bu Harni tak mau kalah gertak, ia berkacak pinggang memandang sengit besannya yang sudah sangat keterlaluan itu.


“Hay, Een Endang Bambang Gulindang yang suka begadang dan nabuh gendang, dengerin ya! Perempuan tak tau malu yang kau puja-puja dan kau lindungi bagai  hewan primata langka itu adalah penyebab retaknya rumah tangga Via dan Mirza! Jadi wajar dong kalo saya bantu anak dan menantu saya buat ngusir perempuan primata langka itu?”


Sofi tak terima dirinya kali ini dikatain kayak primata langka, dia maju mau nyerobot Bu Harni. Tapi Bu Een mencegahnya.


“Tak usah kau ladenin dia, Sof! Dia itu perempuan tua gila harta dan matrealistis!” Cibir Bu Een.


“Apa kau bilang? Kau sebut aku gila harta dan matrelistis?” Bu Harni melotot tak terima.


“Iya! Memang nyatanya begitu kan? Kalau kamu nggak matre, kamu nggak akan maksain anak perempuanmu itu nikah sama anak lelakiku yang kaya raya! Pedahal kamu tau aku nggak setuju dan nggak suka sama anakmu itu!” Bu Een kali ini melemparkan tatapannya pada Via.


Via sudah panas dingin melihat dan mendengar itu semua. remasan tangannya pada lengan Mirza makin kencang.


“Kamu sendiri apa? Dasar sudah tua nggak punya ahlak! Pelakor malah dibela, disuruh tinggal pula di rumah Via. Dasar nggak waras kamu!”

__ADS_1


“Enak aja kamu bilang rumah Via, itu rumah Mirza!”


“Mirza kan suaminya Via, berarti ini juga rumah Via dong!”


“Nggak bisa, rumah besar dan megah ini adalah hasil jerih payah Mirza. Hasil keringatnya sendiri sedari dia masih belum nikah sama Via.” Bu Een kekeh.


Pak RT dan para warga yang melihat perang kekuatan adu mulut itu hanya menyaksikan dengan muka dan ekspresi ngeri-ngeri sedap sambil nengok ke kanan kalo Bu Harni yang lagi bicara dan negok ke kiri kalo Bu Een yang lagi ngomong. Persis kayak orang lagi nonton pertandingan final bulu tangkis Uber Cup antara Susy Susanti dan Ye Zhaoying di tahun 1994. (Jiahahaha…., lama amat yak... 🤣🤣🤣pada belum lahir ya taun segitu? 😅😅😅Wkwkwk)


Okay, kita kembali ke medan pertempuran.🤭🤭🤭


 “Kalian berdua memang sama-sama matre! Dasar anak sama ibunya sama saja! Nggak ada yang becus!”


Emosi Bu Harni naik sampe ke ubun-ubun dikatain semena-mena sama besannya, walau hati kecilnya membenarkan juga dia mendukung Via menikah dengan Mirza karena Mirza kaya raya dan punya segalanya, tapi kan gengsi kalo harus mengakui semuanya di depan umum.


“Berani kamu ngatain aku sama anakku kayak gitu, hah?” Bu Harni maju dan menarik kerudung Bu Een sampai Bu Een hampir kejengkang, beruntung ada Sofi dibelakangnya yang menahan tubuh Bu Een.


Mirza dan Via yang melihat adegan itu langsung berlari untuk melerai duel maut ibu mereka masing-masing dibantu para warga yang langsung tersadar kalau pertempuran itu sudah menjadi brutal.


“Bu, sudah Bu! Sudah!” Ucap Mirza dan Via bersamaan menenangkan Ibu mereka masing masing.


“Lapasin!” Bu Harni menepis tangan Via.


“Lepas, Za!” Bu Een pun berusaha melepaskan tangan Mirza yang mencekal aksinya.


“Ibu nggak terima kita dihina-hina seperti ini, Vi! Kita harus beri dua perempuan nggak waras ini pelajaran!” Ucap Bu Harni menatap nyalang Bu Een dan Sofi.


“Enak saja kamu bilang saya sama Sofi nggak waras! Dasar orang miskin, kere! Pingin hidup enak tapi nggak modal! Kalo anakmu ini nggak nikah sama anakku pasti dia nggak bakalan hidunya enak!” Cecar Bu Een bertubi-tubi tak menghiraukan Mirza dan para warga yang terus berusaha menahannya untuk tak menyerang balik Bu Harni.


“Heh, anakmu juga nggak bakan sesukses ini kalo nggak punya istri kayak anakku yang baik dan setia! Coba saja kalo istinya kayak pelakor itu, pasti hidupnya menderita. Dasar sama-sama nggak punya otak! Cih!” Balas Bu Harni sambil terus meronta dari sebagian para warga yang juga menahannya.


“Cukup, Bu! Cukup!” Teriak Mirza menghentikan pertikaian yang semakin memuncak dan melebar kemana-mana itu.


“Kamu berani membentak ibu, Za?” Balas Bu Een sambil melotot pada Mirza.


“Bu, udah cukup. Aku nggak berniat membentak ibu atau apa, aku cuman mau bilang sudah, cukup jangan diteruskan lagi.” Suara Mirza melunak.


“Kamu lebih membela istri sama ibu mertuamu itu daripada ibu kandungmu ini?” Bu Een masih meradang dengan sorot tak percaya.


“Bu, sungguh aku nggak bermaksud seperti itu. Tolong mengerti lah, ibu ini sudah bertindak diluar kewajaran. Sudah keterlaluan.” Sesal Mirza.


“Ini semua gara-gara mertua kamu itu! Kalo dia nggak pake panggil warga buat ngusir Sofi, pasti nggak kayak gini kejadiannya!” Tunjuk Bu Een sengit pada Bu Harni.


“Ini semua gara-gara kamu lah! Kalo kamu nggak maksa si pelakor itu tinggal disini, nggak mungkin juga aku manggil warga!” Bu Harni nggak mau kalah.


“Nggak, ini salah kamu!”


“Enak aja, kamu!”


“Kamu!”


“Kamu!”


“Diam ….!!!!” Triak Mirza sekenacang kencangnya sampe bikin semua yang ada di situ kaget.

__ADS_1


Tak sia-sia, Bu Een dan Bu Harni langsung mingkem mendengar teriakkan Mirza dan melihat wajah Mirza yang merah padam. Mirza yang hampir tak pernah marah itu, terlihat sanagt seram karena sudah hilang kesabarannya untuk menenangkan ibu kandung dan ibu mertuanya. Mirza mengatur nafasnya yang sedikit tersengal. Via melihat pada suaminya dengan tatapan sendu, sedangkan Sofi menunduk masih dibalik punggung Bu Een.


“Pak RT, tolong panggil polisi sekarang juga.” Pinta Mirza dengan suara berat.


“Hah? Kok manggil polisi, sih? Apa-apaan kamu, Za? Kamu mau ngapain?” Tanya Bu Een khawatir.


Mirza melihat pada Bu Een dan Bu Harni bergantian.


“Saya mau laporkan Ibu berdua sama polisi karena sudah membuat onar di rumah saya.”


“APA?” Tanya Bu Harni dan Bu Een penuh kaget hampir berbarengan.


Para warga pun tak kalah terkejutnya mendengar perkataan Mirza.


“Kenapa memangnya?” Sinis Mirza.


“Mas, apa ini nggak terlalu berlebihan.” Suara Via terdengar memohon, bagaimana pun juga ia tak mau Mirza benar-benar melaporkan ibunya.


“Nggak, sayang.” Ucap Mirza sok yakin.


“Mirza, kamu tega mau menjebloskan ibu kandungmu sendiri ke penjara?” Bu Een tak percaya.


“Ibu kan udah bantuin kamu buat usir pelakor, kenapa malah ibu yang mau dilaporkan ke polisi, Za?” Bu Harni pun tak kalah herannya.


“Maaf, aku nggak punya pilihan lain. Jika ibu berdua masih terus saja bertengkar seperti ini, maka terpaksa aku harus melaporkan pada polisi atas tuduhan membuat keributan dirumah ini dan mengganggu ketentraman di sini.”


Bu Harni memandang Via seolah meminta bantuan, dan Bu Een melihat pada Sofi yang tak bisa berbuat apa-apa. Para warga pun kini saling berbisik dan berkasak kusuk tentang tindakan Mirza.


“Mas, aku rasa kita bisa …”


“Jangan membela siapa pun, sayang.” Ucap Mirza pelan namun tegas pada Via. “Biar Ibu berdua merasakan bagaimana rasanya tidur dan hidup di penjara.” Mirza memandang ibu dan mertuanya bergantian. “Atau kalo masih kurang puas juga, ibu bisa lanjutkan pertengkaran ini di dalam sel penjara.” Lanjut Mirza dingin. “Dan kamu!” Mirza kali ini menunjuk ada Sofi yang dari tadi hanya Diam. “Kamu seharusnya tau apa yang harus kamu lakukan.”


Sofi mengangkat wajahnya dan melihat pada Mirza dengan pandangan takut-takut.


“A aku, aku …” Ucap Sofi terbata.


“Sebaiknya kamu cepat pulang ke habitatmu!”


Sofi diam tak menyahut. Kini suasana berubah hening, baik Bu Een maupun Bu Harni tak berani buka suara lagi.


“Ekhm.” Pak RT berdehem kecil memecah keheningan suasana. “Mas Mirza, saya manggil polisinya sekarang atau taun depan?” Tanya Pak RT pada Mirza agak ragu.


DOENG!


____________


 


Jeda lagi ya, Kak …. 😊😊😊


Maaf belum bisa up banyak.🙏🙏😁😁


Semoga ini cukup mewakili kegelisahan para pendukung Via dan Mirza😍😍😍

__ADS_1


Terima kasih yang sudah setia berkunjung. Like, komen, rate 5, vote selalu ya Kak.🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️


Luv u all🤗🤗😘😘


__ADS_2