
''Kamu???
''Kenapa kaget?? emangnya tampang ku nyeremin ya?'' ucap laki-laki tersebut.
''Iya, pake banget malah.'' jawabnya kesal, sedangkan laki-laki tersebut hanya tersenyum mendengar ucapan Niken.
''Kamu habis dari mana?'' tanya laki-laki itu sambil melangkah mendekati Niken.
''Aku dari ruangan om Rayen kak,'' jawabnya
''Kak??
''Iya, gpp kan jika aku panggil kakak, rasanya kurang sopan jika aku hanya panggil kamu dengan sebutan nama saja.'' ucap Niken.
''Iya, aku malah sedang kalau kamu panggil seperti itu.'' ucap lelaki tersebut yang ternyata adalah Imam
''Kak Imam mau kebawahkan? yuk aku juga mau pulang soalnya.'' ucap Niken
''Loh, emangnya kamu sudah bertemu dengan pak Rayen didalam?
''Sepertinya dia sedang berada diluar, yaudah yuk!" ajak Niken yang diangguki oleh Imam
Keduanya berjalan dengan beriringan, bahkan keduanya terlibat obrolan kecil.
''Kak Imam sudah lama bekerja disini?'' tanya Niken, saat ini mereka sudah berada di lobby kantor.
''Lumayan, sudah satu tahunan gitulah.''jawabnya, Niken mengangguk paham.
keduanya terlihat asik bercerita, bahkan sesekali Niken tergelak dibuatnya, entah apa yang dikatakan Imam hingga membuat Niken sampai tertawa lepas seperti itu, dan ternyata itu semua tidak luput dari perhatian Rayen, terlihat tangannya terkepal seperti sedang menahan sesuatu.
''Yaudah kak, kalau gitu aku pulang dulu ya?'' pamit Niken.
''Baiklah,kamu hati-hati ya?''
__ADS_1
''Iya kak, bye..'' ucapnya sambil melangkah meninggalkan Imam, yang saat itu juga langsung pergi dari tempat tersebut.
Niken melangkah santai menuju luar gedung, namun langkahnya terhenti saat didepannya ia melihat sosok laki-laki yang sejak tadi ia tunggu.Niken menghela nafas panjang, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya menuju dimana pria itu sekarang berdiri sambil melihatnya.
Rayen yang melihat Niken melangkah kearahnya hanya melihat tanpa berniat untuk beranjak dari tempatnya saat ini.
''Om aku mau pamit pulang dulu.'' ucap Niken setelah itu ia langsung kembali melanglahkan kakinya, namun baru satu langkah Rayen sudah menarik tangannya membuat Niken terhuyung kebelakang, mungkin karna Rayen terlalu kuat menarik tangannya,,untung Rayen sigap menangkap tubuh Niken, jika tidak sudah dipastikan jika bokong gadis itu akan mencium lantai.
''Om ngapain tarik aku? hampir jatuhkan akhirnya.'' ucap Niken kesal
''Ya kan mas pegang langsung, gk mungkin juga kan mas biarin kamu jatuh kelantai.'' ucap Rayen dengan nada yang juga sedikit ketus.
Loh kok jadi om Rayen yang marah, kan seharusnya aku
Batin Niken bertambah kesal
''Kamu kenapa pulang gk pamit? dan kenapa gk tunggu mas dulu? dan tadi, ngapain kamu dekat-dakat sama Imam?sampai ketawa-ketawa segala seperti itu.'' ucap Rayen
''Ya tapi mas gk suka liatnya, mas gk suka liat kamu dekat seperti itu sama dia.'' ucap Rayen protes.
Niken memutar bola matanya malas, menurutnya dirinya hanya mengobrol biasa dengan Imam, bukannya ngedate jadi gk ada alasan buat Rayen memprotesnya, sungguh tidak adail baginya jika Rayen bisa dekat kembali dengan Viona kenapa dia tidak bisa, meskipun hanya berteman dengan Imam pikirnya.
''Niken, sebaiknya kita keatas dulu, biar mas yang antar kamu pulang.
''Gk usah mas, aku pulang naik taksi aja, aku tau mas sibuk kan? jadi sebaiknya aku pulang sendiri aja.'' ucap Niken yang ingin kembali melangkah, namun lagi-lagi Rayen menarik tangannya membuat Niken geram.
''Kamu kenapa sih Niken? kenapa sikap kamu seperti ini sama mas? mas salah apa??'' ucap Rayen bingung.
''Salah apa ?? mas gk salah kok, aku yang salah karna dengan bodohnya nungguin mas berjam-jam diatas, sementara mas sedang enak-enak bersama mantan kamu itu.'' ucap Niken yang akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
''Maksud kamu apa sayang? maksud kamu Viona? astaga Niken,, tadi itu mas cuma ngantarin Viona kerumah sakit, karna dia kecelakaan saat pemotretan tadi dilantai atas.'' jelas Rayen.
''Oya? tapi kok aku jadi mikir ya? emangnya disana tadi gk ada orang mas?, yang bisa ngantarin dia kerumah sakit? mesti banget gitu mas yang turun tangan langsung? maaf bukannya aku kejam, atau egois ya mas, tapi mas ini kan seorang wakil CEO apa harus tarun langsung untuk menolong karyawan yang tertimpa musibah? kenapa gk nyuruh yang lain aja? atau kenapa gk kak Leo aja yang menanganinya? kenapa musti mas sendiri? itu berarti dia istimewa dong, iya kan ?'' Niken mencerca Rayen dengan berbagai pertanyaan, membuat lelaki itu tak tau harus berkata apa.
__ADS_1
''Niken, mas hanya menolongnya karna rasa kemanusiaan.'' jawab Rayen seadanya.
''Atas rasa kemanusiaan atau karna masih ada rasa cinta mas?'' sarkas Niken
Rayen memperhatikan sekitar, takut jika ada yang mendengar ucapan Niken yang cukup keras, untung disana tak terlalu banyak orang hingga membuatnya sedikit merasa lega.
''Sayang sebaiknya kita bicara diruangan mas, ayo ikut mas mau jelasin semuanya.
''Gk! lagian mau jelasin apa lagi? aku udah lihat dengan jelas kok tadi, mas menggendong tante Viona keluar dari kantor, dan aku juga lihat mas begitu khawatir dengannya, sampai-sampai aku yang ada didepan mata kamu sama sekali gk kamu lihat, aku jadi yakin sekarang mas, jangan-jangan dugaanku benar, jika mas memang masih menyimpan perasaan sama tante Viona, benar begitu mas?? todong Niken
Jadi yang ku lihat tadi benar Niken,berarti tadi aku gk salah lihat.
Batin Rayen
''Niken kami salah faham, bukan begitu yang sebenarnya, mas hanya merasa itu adalah tanggung jawabnya mas,'' Rayen sedikit menjeda ucapan.
'' Jujur mas memang cemas dengan kondisinya saat itu, karna walau bagai mana pun dia adalah orang yang dulu pernah hadir dikehidupan mas sebelum kamu, tapi itu tak lantas buat kamu berpikir jika perasaan mas masih ada padanya, apa kamu meragukan perasaannya mas sama kamu?'' ucap Rayen dengan wajah sendu
Niken membuang wajah, karna ia merasa tak sanggup jika melihat Rayen seperti itu, Niken terlalu lemah, jika itu bersangkutan dengan Rayen dirinya tak akan bisa marah terlalu lama dengan om nya tersebut apa lagi jika Rayen menampilkan wajah seperti itu maka Niken tak akan tega.
''Sayang biar mas aja ya yang antar kamu pulang? mas mohon.'' ucap Rayen memelas
Niken tak menjawab, namun ia hanya mengangguk sebagai jawaban jika dirinya setuju dengan ucapan kekasihnya itu.
''Baiklah kalau gitu sebaiknya kamu tunggu disana biar mas ambil kunci mobil mas dulu diatas.'' ucap Rayen sambil menunjuk sofa yang ada di lobby, kemudian ia langsung berlalu dari hadapan Niken.
''Huufff, kenapa aku selalu seperti ini ya? sepertinya susah baget buat ku marah dengan mas Rayen, hatiku terlalu lemah jika berhadapan dengan nya, apa lagi jika sampai melihat wajah nya yang seperti tadi.
NEXT
Haaii guys, apa kabar semuanya? otor harap kalian selalu sehat ya,
Oya disini otor memang sengaja selalu buat Niken dan Rayen berselisih paham 😁 tapi kalian tenang aja, otor gk buat konflik yang berat kok, otor hanya bikin agar ceritanya gk terlalu monoton aja, makanya dibuat alurnya seperti ini, dan otor harap kalian gk bosen ya baca karya otor yang receh ini, dan jangan lupa buat selalu berikan like setelah selesai membaca😊
__ADS_1