
''Mas udahan dong, emangnya mas mau sampai kapan bermuka asem gitu, males baget liatnya aku.'' ucap Niken membuat Rayen menatapnya dengan tajam.
''Kenapa? udah mulai bosan liat wajah mas, gitu? atau kamu mau liat yang lebih segar-segar kayak pemuda-pemuda itu, iya? mas tau mas ini sudah tua dan mereka masih muda tapi kan--''
''Mas udah dong! kok jadi childish gitu sih.'' ucap Niken menyela ucapan Rayen.
''Ya mas kan hanya berkata yang sebenarnya.'' ucap Rayen yang masih terlihat kesal.
Niken tersenyum dalam hati, sungguh ternyata kekasihnya ini lucu juga jika sedang ngambek pikirnya.
''Tapi mereka bukan tipe ku mas, aku tuh sukanya sama yang sudah tua kayak mas Rayen ini, lebih pengalaman, dan tau bagai mana cara membahagikan aku.'' ucap Niken sambil mengerlingkan sebelah matanya.
''Dasar gadis mesum.'' ucap Rayen sambil tersenyum.
''Nah gitu dong senyum kan cakep, mas dengerin aku ya! walau pun diluaran sana banyak laki-laki yang lebih sempurna atau pun lebih segalanya dari mas, aku gk perduli, karna dimataku hanya mas lah segalanya buat ku.'' ucap Niken yakin.
''Makasih ya sayang, mas sangat bahagia mendengarnya.
''Iya mas, aku juga mengharapkan hal yang sama pada mas Rayen.'' ucap Nikn sambil menggenggam tangan laki-laki yang sangat ia cintai itu.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya.
''Dasar gadis matre.'' gumam orang tersebut.
KEMBALI KERUMAH SAKIT..
Saat ini terlihat Leo sedang menyuapi Windy dengan semangkuk bubur dari rumah sakit.
''Kak udah,aku udah kenyang.'' tolaknya pelan.
''Tapi kamu kan baru saja beberapa suap makannya, dua kali lagi ya?setidaknya agar bayi kita juga tidak kelaparan sayang, memangnya kamu mau jika bayi kita didalam sana kelaparan?'' ucap Leo yang sedikit menakuti Windy agar gadis itu mau makan lebih banyak lagi.
Mendengar perkataan Leo akhirnya Windy mau menurut apa yang diucapkan oleh kekasihnya itu.
''Mas kita mau kemana sekarang?'' tanya Niken setelah mereka sudah berada didalam mobil.
''Mau antar kamu pulang lah apa lagi,'' jawab Rayen santai
Iihh, kok pulang sih emangnya gk bisa apa pacaran dulu kek, apa kek, ini malah langsung pulang, gk asik banget sih.
__ADS_1
Batin Niken bette.
Rayen memperhatikan wajah Niken yang terlihat memberengut
''Kamu kenapa mukanya ditekuk gitu hem?' tanya Rayen yang kini sudah melajukan mobilnya membelah jalanan raya.
''Mas aku belum mau pulang, aku masih mau sama mas Rayen.'' rengek nya manja.
"Memangnya kamu gk capek? mas aja ingin langsung pulang ini." jelasnya.
"Aku ikut mas ya? aku belum mau pulang soalnya.'' pinta Niken
''Yasudah terserah kamu saja.'' jawab Rayen yang terus melajukan kendaraannya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di parkiran apartemen, setelah memarkirkan kendaraan dengan benar mereka langsung menuju lantai dimana tempat tinggal Rayen berada.
''Sayang kamu duduklah dulu, mas mau mandi sebentar rasanya badan mas sudah sangat lengket.'' ucap Rayen.
''Mas aku juga mau mandi dong,''
''Kamu mau mandi? yasudah mandi aja dikamar mandi yang satunya.'' jelas Rayen
Mendengar ucapan Niken membuat Rayen gugup, bagai mana mungkin mereka bisa mandi bersama, Rayen tidak mungkin sanggup jika melihat gadis nya dalam keadaan tak berbusana didepan matanya.
''Mas, kok bengong sih? mau ya? nanti aku bantuin menggosok punggung mas Rayen..'' sambung gadis itu lagi
Entah kenapa tiba-tiba Rayen mmbayangkan begitu saja aktivitas mereka sedang mandi bersama, dimana mereka saling menyabuni dan menggosok bagian tubuh pasangannya masing-masing, pasti sangat nikmat pikirnya.
Aahh, sial, mikir apa sih aku ini, kenapa harus termakan godaan gadis kecil ini, bagai mana jika aku tak bisa mengontrol diriku, bisa gawat kan.
Batinnya
''Mas iihh,, kok bengong terus, katanya mau mandi, ayo dong!" ajak Niken yang hendak memasuki kamar Rayen.
''Niken sayang tunggu!'' cegah nya
''Kenapa lagi sih mas? mas takut gk bisa ngontrol diri jika kita mandi bersama gitu??'' tebak Niken, ia bisa melihat kegelisahan pada diri Rayen saat ini.
''Kalau itu yang jadi masalahnya, mas Rayen tenang aja, aku gk akan mandi dalam keadaan bu*gil kok, biar mas gak tergoda olehku.'' ucap Niken meyakinkan.
__ADS_1
''Kamu aneh sayang, bagai mana mungkin mandi tanpa melepas pakaian, mana bisa bersih.'' ucap Rayen yang menurutnyaa tak masuk akal.
''Udah deh, mas tenang aja, yasudah yuk!" ajak nya sambil masuk terlebih dahulu kedalam kamar , diikuti Rayen dari belakang
''Sini mas, biar aku bantu bukain bajunya.'' ucap Niken yang kini sudah mulai membuka satu persatu kancing kemeja Rayen, jari-jari lentiknya terus saja melakukan aktivitasnya, hingga semua kain yang melekat ditubuh Rayen terlepas semua kecuali kain berbentuk segitiga berwarna hitam yang masih melekap ditubuhnya.
Setelah membantu Rayen membuka baju, kini giliran dirinya yang membuka pakaian yang melekat ditubuhnya, Rayen menelan salivanya susah payah, saat melihat satu persatu kancing seragam sekolah yang Niken gunakan terbuka hingga ia dapat melihat tubuh putih nan mulus milik kekasihnya itu
Ya Tuhan, cobaan apa ini, baru melihat tububnya saja si joni sudah bereaksi, apa lagi jika melihat yang lainnya.
Ucapnya dalam hati.
Rayen menelan ludahnya berkali-kali, saat melihat tubuh mulus milik kekasihnya itu.Begitupun dengan gadis remaja itu, mata nya sejak tadi terus tertuju pada selang*kangan Rayen, dimana tempat sangkar burungnya berada.
Aduuhh, rasanya mata ini ingin sekali melihat burung yang ada dibalik kain segitiga itu.
Gumam hatinya,
''Mas kita mandinya dibawah shower aja yuk, nanti aku bantu sabunin tubuh mas Rayen.'' ucapnya sambil menarik tangan Rayen menuju shower.
Kini kedua sudah berada dibawah guyuran air, tubuh keduanya mulai basar terkena siraman air dari atas shower.
''Mas sini biar aku sabuni,'' ucap Niken yang mulai mengambil spons mandi dan juga sabun cair yang berada dikamar mandi tersebut.
Niken menuangkan sabun cair tersebut, kemudian mulai menggosokan spons tersebut ketubuh Rayen, Niken mulai menggosokan sabun tersebut pada tubuh Rayen,,ia sangat menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan Niken pada tubuhnya,
''Gimana mas, enak kan?' tanya Niken sambil terus menggosok tubuh Rayen, namun kali ini tangannya mulai turun kearah tubuh bagian bawah Rayen.
''Sshhhh,, desis Rayen saat merasakan tangan Niken menyenggol burung miiknya.
''Sayang kamu jangan nakal ya, tangannya.'' ucapnya pelan, Niken hanya tersenyum mendengar peringatan dari Rayen.
''Mas, ini dibuka dong, kasian kan burungnya terperangkap gitu.'' ucap Niken penuh makna.
''Kalau nanti burung nya mas terbang gimana?'' balas Rayen menggoda.
''Gak akan mas, itu burung kan udah ada sangkar baru yang sangat nyaman, nanti kita masukin aja kesangkar barunya itu,, tapi kayaknya burungnya masih ragu deh, padahal jika dia masuk dihunian baru itu, aku yakin dia gk akan mau keluar lagi.'' ucap Niken sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Jujur saja, mendengar kata-kata Niken barusan membuat Rayen menjadi semangkin terang*sang, walaupun sebenarnya sejak tadi ia sudah mati-matian mencoba untuk menahannya, namun sepertinya akan sia-sia.
__ADS_1
NEXT