CINTAI AKU OM !!!

CINTAI AKU OM !!!
Mas Kenapa Bicara Seperti Itu?


__ADS_3

Saat ini Frans sedang dalam perjalanan menuju kediamannya, kini perasaannya sudah sedikit lega, karna kemungkinan besar sebentar lagi orang yang mencelakakan Rayen dan juga Leo akan tertangkap, polisi juga sempat menjelaskan tadi jika disaat penjahat tersebut mengotak-atik mobil Rayen saat diapartemen milik Leo, sempat terekam cctv disana, walapun orang tersebut memakai topi dan masker serta jaket yang sangat tertutup namun perlahan polisi bisa mengenali orang tersebut, karna berbekal dari beberapa cctv dibagian sudut apartemen tempat tinggal Leo.


Saat ini Rayen sedang duduk diatas ranjang tidur sambil menyandarkan kepalanya disandaran tempat tidur. Niken yang baru masuk kamar melihat suaminya sedang mencoba untuk mengambil air minum diatas nakas tempat tidur.


'' Mas kamu mau minum ya? Sini biar aku aja yang ambilin buat mas Rayen.'' ucap Niken sambil mengambil kan air putih dan membantunya untuk minum.


'' Sudah mas?'' setelah melihat Rayen mengangguk Niken kembali meletakkan gelas tersebut diatas nakas. Rayen kembali menyandarkan kepalanya, sambil menutup mata.


'' Mas Rayen kenapa? Apa ada masalah yang mengganggu pikirannya mas?'' Niken menggenggam tangan suaminya, membuat Rayen langsung membuka matanya.


'' Maaf kan mas Niken, karna selalu merepotkan kamu, mas merasa jika mas suami yang tak berguna, bahkan hanya untuk minum saja mas harus merepotkan kamu juga.'' ucapnya sendu


'' Mas, kenapa mas berkata seperti itu? Aku gk pernah sama sekali merasa direpotkan sama mas Rayen, jadi aku harap mas jangan pernah berkata seperti itu lagi ya?aku ini adalah istrinya mas Rayen dan sudah menjadi kewajibanku untuk merawat suamiku yaitu mas Rayen.'' Laki-laki itu tersenyum tipis ia sungguh terharu dengan ucapan istrinya, Rayen juga merasa sangat bersyukur mempunyai istri yang sangat mencintainya, disaat ia tak bisa apa-apa Niken selalu ada untuknya menghibur dan juga merawatnya.


Rayen merentangkan satu tangannya, karna tangan yang satu masih belum bisa terlalu digerakan, ia ingin memeluk sang istri, Niken yang paham langsung masuk kedalam pelukan hangat suaminya tersebut.


'' Terimakasih karna kamu selalu ada disisi mas sayang, mas sangat bersyukur memiliki istri seperti kamu,'' Rayen mengecup kening sang istri kemudian tangannya mengusap lembut perut Niken yang belum terlalu masih terlihat rata, karna memang usia kandungannya baru berusia empat minggu.


'' Sayang kamu yang sehat didalam perut mama ya? Jangan nyusahin mama, maaf papa belum bisa menuruti semua yang mama kamu inginkan.'' Rayen kembali meratapi nasipnya, ia merasa tak berguna karna tidak bisa memenuhi kebutuhan Niken yang sedang hamil muda, karna yang ia tau jika wanita yang sedang hamil muda selalu ingin bermacam-macam makanan, atau mungkin ingin jalan-jalan dan ia belum bisa melakukan semua itu.

__ADS_1


'' Mas, kamu tenang saja, anak kita sangat pengertian kok, dia gk pernah membuat mama nya mengalami hal-hal yang aneh, jadi mas tenang saja jangan memikirkan itu, yang terpenting sekarang mas harus oktimis dokter kan bilang sedikit demi sedikit, jangan tergesa-gesa aku yakin tidak lama lagi mas akan bisa beraktivitas seperti sebelumnya.'' Niken menyemangati suaminya.


'' Makasih sayang, mas sangat bangga punya istri seperti kamu.'' Rayen kembali memeluk tubuh Niken.


Sebenarnya Niken berbohong pada suaminya, kondisi nya saat ini sedang tidak baik-baik saja, tadi siang ia dan Lidya sempat memeriksakan kandungannya kedokter spesalis kandungan, karna belakangan ini Niken sering merasa pusing, bahkan pernah ia tiba-tiba pingsan, untung saat itu ada Lidya dengan cepat sang ibu menangkap tubuh Niken, karna kalau tidak mungkin putrinya itu akan tersungkur dilantai. Saat itu dokter mengatakan jika kondisi janinnya sangat lemah, mungkin karna pikiran ibunya selalu tidak stabil, dan dokter juga selalu mengingatkan agar jangan melakukan kegiatan yang membuat kelelahan. Namun ia tak mungkin memberitahukan semua itu pada suaminya.


Tok-tok-tok


Terdengar suara pintu kamar diketuk.


'' Sebentar ya mas aku buka pintu dulu,'' setelah itu Niken langsung beringsut dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar yang diketuk


'' Iya bik? ada apa?


'' Non makan malam sudah siap.'' jelas sang Art tersebut.


'' Apa mama dan papa sudah ada dimeja makan bik?


'' Belum non, mungkin sebentar lagi turun.''

__ADS_1


'' Baik sebentar lagi kami kesana.'' setelah mengatakan itu Niken kembali kekamarnya untuk membantu suaminya duduk dikursi roda, karna mereka akan makan malam.


'' Ayo mas, biar aku bantu.'' ucapnya sambil mendekatkan kursi roda kearah tempat tidur. Setelah keluar dari rumah sakit Niken dan suaminya memang tinggal dikediaman orangtuanya dan itu atas permintaan Lidya agar Niken tidak kerepotan mengurus suaminya, sebenarnya Lidya menyarankan untuk mempekerjakan suster untuk merawat Rayen, agar Niken tidak terlalu lelah, namun putri nya itu sangat keras kepala, ia tak ingin jika wanita lain yang mengurus suaminya, walaupun itu adalah seorang suster.


Niken mendorong kursi roda sampai kemeja makan, ternyata disana sudah ada kedua orangtua mereka.


'' Mah, pah,'' sapa Niken dan Rayen setelah sampai dimeja makan.


'' Hai nak, sini mama tadi sudah masakin udah asam manis yang kamu mau, sama itu tumis kangkung terasi, dan juga ayam krispy dan jamurnya juga sudah mama siapain sayang, kamu tau Ray, istrimu ini banyak banget permintaannya, semua mau dimakan katanya, tapi mama gk tau perutnya itu muat apa tidak, yang pasti mama harus turuti semua yang dia inginkan jangan sampai cucu mama nanti ileran kalau gk diturutin iya kan pah?''


'' Mah, jangan berkata seperti itu dong, gk enak sama Rayen.'' ucap Frans yang merasa tak enak pada menantunya tersebut, Frans takut jika Rayen akan berkecil hati dan merasa bahwa dirinya sama sekali tak bisa diandalkan sebagai seorang suami.


'' Loh papa ini gimana sih, ya harusnya Rayen bersyukur dong, coba kalau gk ada mama emang bisa dia penuhi semua keinginan calon anaknya itu.'' ucapan yang dilontarkan Lidya membuat hati Rayen mencelos, tapi apa mau dikata, karna memang yang dikatakan nya itu benar, Rayen merasa sebagai suami ia sama sekali tak berguna karna tidak bisa memenuhi tanggung jawab sebagai seorang suami dan juga sebagai seorang ayah.


'' Iya bang, yang dikatakan mba Lidya memang benar, jika tidak siapa yang akan memenuhi keinginan Niken dan bayi kami, bang Frans kan tau sendiri jika saya sama sekali tak bisa apa-apa, selama ini hidup saya selalu bergantung pada orang lain, bahkan hanya untuk berjalan saja saya tidak mampu, entah sampai kapan saya akan terus seperti ini.'' ucap Rayen, yang merasa sangat tidak berguna sebagai suami.


'' Mas kenapa bicara seperti itu??


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2