
Kini sepasang suami istri tersebut sudah berada didalam sebuah restoran, keduanya masuk beriringan menuju suatu meja yang berada disudut ruangan, Rayen sengaja memilih rumah makan yang bernuansa lesehan, agar ia dan Niken bisa lebih santai dalam menikmati makanan.
'' Tempatnya lumayan juga, mas tau dari mana ada tempat seperti ini?'' tanya Niken sambil memperhatikan sekeliling tempat tersebut.
''Kemarin waktu mas sedang ada meeting diluar dengan klien, mereka mengajak ketempat ini, makanan disini juga lumayan enak kok sayang, mas yakin kamu pasti nagih.'' ucap Rayen
DITEMPAT LAIN..
Saat ini disebuah apartemen, terlihat seorang laki-laki sedang tertidur diatas sofa yang ada diruang tamu, dan dia adalah Leo, semenjak disuruh pulang dari kantor oleh Rayen, Leo memutuskan untuk pulang keapartemen, ia takut jika dirinya pulang kerumah pasti istrinya akan khawatir dengan keadaannya tersebut, yaang terlihat sedikit agak kacau.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Leo melirik benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang sedang mengirimkan pesan untuknya.
'' Windy,'' gumamnya kemudian langsung meraih benda tersebut, dengan cepat Leo membuka pesan yang dikirimkan oleh istri kecilnya itu.
''Kak, nanti kalau pulang dari kantor, tolong belikan aku mie ayam yang ada dipersimpangan jalan itu ya? entah kenapa rasanya aku kepingin banget makan itu, aku mohon kabulkan ya kak? pliiss.'' begitulah kira-kira isi pesan dari Windy, sebenarnya ini bukan kali pertama istrinya itu meminta dibelikan mie ayam tersebut, kemarin dia juga memintanya, namun Leo melarangnya dengan alasan makanannya kurang sehat, karna letaknya dipinggir jalan, padahal jika dilihat tempat nya lumayan bersih, lagi pula tidak terlalu dipinggir jalan, namun mungkin sebagai seorang suami Leo tidak ingin istri dan anaknya makan makanan sembarangan, namun kali ini mungkin dirinya harus melakukan pengecualian, walau bagai mana pun saat ini istrinya itu sedang hamil, ia tak ingin nantinya anaknya akan ileran saat lahir, seperti yang sering dikatakan banyak orang, maka itu Leo kali ini akan menuruti permintaan istrinya, mungkin jika makan sedikit tidak apa-apa pikirnya.
''Iya, nanti aku belikan.'' setelah membalas pesan istrinya Leo kembali merebahkan tubuhnya, mungin dirinya akan beristirahat sebentar lagi, sebelum akhirnya dirinya pulang kerumah dengan keadaan yang lebih baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini terlihat sepasang suami istri sedang menikmati makan siang, dan mereka adalah Niken dan Rayen, sebenarnya Niken sudah makan tadi saat dikantin namun melihat menu yang dihidangkan oleh pelayan untuk suaminya membuat nya tergugah untuk mencicipinya.
''Mas, lagi dong sayang.'' ucap Niken minta disuapi oleh Rayen, dan dengan senang hati suaminya itu mengikuti kemauan sang istri.
''Enakkan?'' tanya Rayen sambil menyuap makanan kemulutnya sendiri.
''Iya mas,'' jawab Niken kemudian menyeruput minuman miliknya.
__ADS_1
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul tiga sore, Rayen dan Niken langsung memutuskan untuk pulang kerumah mereka.
Saat ini sepasang suami istri tesebut sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga Mahendra.
'' Mas gk terasa ya sudah hampir sebulan kita menikah?, aku berpikir gimana kalau kita tinggal diapartemen mas Rayen saja?'' tanya Niken sambil menatap suaminya yang saat ini sedang fokus menyetir.
''Kamu serius sayang?'' tanya Rayen sambil menatap sekilas kearah Niken.
'' Iya, tentu saja aku serius, aku kan sudah menikah sama mas Rayen, aku gk mau tergantung terus sama mama dan papa, lagi pula aku tau kalau mas Rayen kurang nyaman jika kita tinggal bersama dengan mama dan papa iya kan mas??'' tanya Niken memastikan.'' Ada raut wajah sedih yang dapat Rayen tangkap dari kata-kata istrinya itu, mungkin Niken berpikir jika dirinya merasa tidak suka tinggal dirumah kedua orangtuanya, padahal Rayen hanya merasa sungkan jika harus terus tinggal disana, padahal sekarang dirinya sudah menikah dengan Niken, Rayen hanya tak ingin bergantung pada kedua orang tua dari istrinya tersebut, dirinya juga tidak ingin orang lain berpikiran jika ia memanfaatkan statusnya sebagai seorang menantu dikeluarga Mahendra, Rayen tidak mau orang menilainya sebelah mata, apa yang tidak ia miliki? sebagai wakil CEO Rayen juga tergolong lelaki yang kaya dan juga mapan, apapun sanggup ia berikan pada istrinya tanpa harus bergantung pada keluarga Mahendra.
Selain itu, ia ingin hidup mandiri bersama istrinya, maka dari itu Rayen sangat ingin mengajak Niken pindah keapartemen untuk sementara sebelum mereka membeli rumah baru, namun Rayen juga tidak berani menyuarakan keinginannya akan hal tersebut, takut istri kecilnya itu tersinggung
'' Sayang sebenarnya mas hanya merasa tidak enak jika kita terus merepotkan orangtua kamu, ya walaupun mereka tidak keberatan sama sekali, tapi kan sekarang kamu itu tanggung jawabnya mas, dan mas tidak mau dianggap suami yang gk bertanggung jawab ataupun suami yang tidak mampu memberikan pasilitas pada kamu.'' jelas Rayen
DITEMPAT LAIN..
Baru saja Leo hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintunya sudah dibuka dari dalam oleh seseorang.
''Kak Leo,'' ucap seorang wanita yang tak lain adalah Windy istrinya.
''Sayang, ini pesanan yang kamu inginkan.'' ucap Leo sambil memberikan bungkusan tersebut pada Windy.
'' Makasih ya kak, sudah mau membelikannya untuku, kirain kak Leo gk akan mengabulkan permintaanku ini.'' ucapnya sambil tersenyum saat melihat bungkusan yang berisikan mie ayam tersebut.
'' Kamu jangan terlalu senang sayang, aku hanya membelikannya untuk kali ini saja, besok-besok aku gk akan beli lagi buat kamu, kamu mengertikan?.'' ucap Leo yang sebenarnya berat memberikan makanan seperti itu untuk sang istri, karna takut terjadi sesuatu dengan bayi mereka.
Windy tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, ia tau jika Leo sangat tidak suka melihat dirinya makan makanan seperti ini, suaminya itu bilang tidak baik untuk kesehatan dirinya dan juga bayi mereka.
__ADS_1
''Udah dong kak, jangan cemberut gitu wajahnya jelek tau, aku janji deh hanya sekali ini aja kok, yaudah yuk kita kedalam.'' ajak Windy sambil menggandeng tangan suaminya.
'' Kok sepi, pada kemana semuanya?'' ucap Leo karna melihat tidak ada saru orangpun dirumah.
'' Papa dan mama kerumah sakit jenguk teman mereka yang lagi sakit katanya, mungkin sebentar lagi juga pulang.'' jawab Windy, Leo menjawab hanya dengan ber oh ria.
Saat ini Windy dan Leo sedang berada dimeja makan.
''Kamu gk mau ini kak? enak banget loh.'' ucap Windy sambil melahap mie ayam tersebut.
Leo hanya menjawab dengan gelengan kepala, bertanda ia tak menginginkannya.
'' Yasudah kalau gitu aku habisin aja.'' ucapnya sambil melahap hingga mie ayam tersebut tandas.
'' Aahh,, ini nikmat banget kak, sekali lagi makasih ya kak, karna sudah mengijinkanku memakannya.'' ucap Windy.
Setelah selesai dengan makanannya, Windy langsung mengajak suaminya itu masuk kekamar.
'' Sayang aku mandi dulu ya?.'' ucap Leo, sambil meletakan ponsel miliknya diatas nakas tempat tidur.
Sedangkan Windy terlihat sedang memainkan ponselnya sambil menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur.
Windy yang tadinya asik berbalas pesan dengan kedua sahabatnya dari grub Wa tiba-tiba merasa terusik dengan suara getaran diponsel suaminya. Windy melirik ponsel tersebut tanpa berminat untuk mengambilnya.
'' Kok bunyi terus ya? jangan-jang penting lagi.'' gumamnya yang kembali mendengar ponsel tersebut berdering. Karna penasan Windy pun akhirnya mengambil ponsel tersebut berniat untuk menjawabnya, namun keningnya berkerut saat melihat nama sipenelpon yang tertera dilayar benda pipih tersebut.
''Tante Viona, mau apa dia menghubungi kak Leo???
__ADS_1
Next