
Saat ini kedua pasangan muda itu sedang terbaring lemas diatas tempat tidur dengan tubuh polos yang berbalut selimut.
''Makasih ya sayang kamu mau melakukannya untukku aku sangat bahagia.'' ucap gadis tersebut.
''Iya sama-sama, setidaknya aku bisa muasin kamu walau tanpa penyatuan itu.'' jawab pemuda yang tak lain adalah kekasihnya.
''Sayang sebaiknya aku pulang ya? takutnya abang kamu tiba-tiba datang bisa bahaya kan,?'' ucapnya
''Iya kamu benar juga sih, tapi sebaiknya kamu mandi dulu gih, biar aku siapin handuk buat kamu.'' jawab gadis tersebut yang diangguki sang kekasih.
''Put, aku pulang ya?
''Iya Ga,kamu hati-hati ya dijalan?'' ucap gadis tersebut yang ternyata adalah Putri dan kekasihnya Rangga, setelah pulang sekolah tadi Putri mengajak Rangga yang tadi hanya berniat untuk mengantarkan pulang, akhirnya masuk kedalam rumah untuk hanya sekedar minum jus, namun entah bagai mana ceritanya mereka tiba-tiba malah berlanjut dikamar dan melakukan sesuatu yang selalu membuat keduanya ketagihan, untung Rangga masih bisa mengontrol diri saat dihadapkan dengan tubuh indah dan mulus milik kekasihnya itu, walaupun harus beberapa kali ia menelan ludah karna tenggorokannya terasa kering karna melihat kemolekan tubuh Putri.
Sedangkan didalam sebuah apartemen, saat ini Niken sedang menikmati kebersamaannya dengan Rayen.
''Rasanya saat ini aku ingin waktu berhenti sejenak, aku ingin menghabiskan waktu ku bersama kamu mas, karna esok kita tidak tau apa yang akan terjadi.
''Mas, apa keputusan mas Rayen sudah bulat, untuk memberitahu kan tentang hubungan kita pada mama dan papa?'' tanya Niken lagi memastikan.
''Sayang, ini sudah ke tiga kalinya kamu menanyakan hal yang sama, dan jawaban mas juga tetap sama.Besok malam mas akan kerumah kamu untuk memberitahu tentang hubungan kita pada orangtuamu.'' jelas Rayen.
''Baiklah, aku hanya bisa berharap semoga setelah papa dan mama mengetahuinya mereka tidak akan menghalangi hubungan kita, dan jika itu terjadi maka aku akan pergi dari rumah.'' ucap Niken, membuat Rayen langsung melototkan matanya.
''Kamu jangan coba-coba punya rencana konyol seperti itu ya Niken, mas gk akan biarin sampai kamu pergi dari mas, kita kan masih bisa bicara baik-baik pada mereka kalau pun mereka tidak setuju, bukan dengan cara kabur begitu, karna itu tidak akan menyelesaikan masalah, udah ya, mas gk mau dengar kamu mengatakan itu lagi dari mulut kamu.'' ucap Rayen menasehati dengan tegas.
''Iya,iya deh, udah dong jangan cemberut kayak gitu, aku mau hari ini kita itu gk usah bahas itu dulu, aku mau menikmati kebersamaan kita sekarang.
*
*
*
__ADS_1
Pagi ini seperti biasa semua orang melakukan aktivitasnya, ada yang pergi sekolah, dan ada juga yang pergi bekerja, seperti yang dilakukan Rayen saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju kantor karna pekerjaan yang memang lagi menumpuk membuatnya tak bisa mengantar kan Niken kesekolahnya.Tak terasa mobil yang ditumpanginya sudah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi, Rayen menyerahkan kunci mobilnya pada petugas keamanan yang ada dikantor agar bisa diparkirkan.
''Selamat pagi pak.'' ucap sebagian karyawan yang sudah hadir.
''Pagi.'' jawabnya datar sambil terus melangkah kan kakinya menuju lift.
Setelah keluar dari lift, Rayen terus melangkah menuju dimana ruangannya berada, namun saat hendak masuk tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.
''Pagi pak,'' ucap seseorang yang ternyata adalah Leo.
''Kamu Le, tumben bahasamu formal? biasanya juga elo gue.'' ucap Rayen menyindir.
''Ya itukan atas permintaan kamu juga kemarin Ray, tapi kamu tenang aja karna mulai sekarang jika kita sedang bekerja maka gue akan memakai bahasa yang formal, tapi kalau diluar pekerjaan maka gue akan memakai bahasa non formal.'' jelas Leo.
''Terserah kamu.'' jawab Rayen yang tak mau ambil pusing.
''Oya gimana keputusan loe mengenai Viona?'' tanya Leo membuat Rayen mengerutkan dahi, bukan karna pertanyaan yang ditujukan Leo, namun karna bahasa yang ia pakai.
''Iyaya, sepertinya kalau sudah kebiasaan emang susah Ray,, tapi ini kan diluar pekerjaan jadi gk masalh dong,,jawabnya tak mau kalah.
''Jadi saya yang salah gitu?'' tanya Rayen sinis
''Ya sepertinya memang begitu.'' jawab Leo santai, membuat Rayen mendelik tajam, namun tak berpengaruh apapun pada Leo, karna ia tau jika bosnya itu hanya bercanda.
''Eeh, terus apa jawaban loe jika nanti Viona datang? penasaran nih gue.'' sambung Leo antusias seolah tak terjadi apapun.
Tiba-tiba mood Rayen berubah buruk, saat mengingat kembali permasalahan yang terjadi.
''Saya tidak akan memberikan jawaban apapun pada nya, karna hari ini saya berencana ingin mengatakan semuanya sama bang Frans dan juga mba Lidya, tentang hubungan saya dan juga Niken, semoga saja mereka mau mengerti.'' ucap Rayen penuh harap.
Siang harinya, seorang wanita berjalan anggun penuh percaya diri, ya dia adalah Viona, saat ini wanita cantik itu sedang berjalan menuju ruangan wakil CEO untuk menemui mantan kekasihnya siapa lagi kalau bukan Rayen, kini ia sudah berada didepan pintu ruangan tersebut dan ia langsung mengetuk pintu yang bertulikan ruangan CEO.
Sedangkan didalam Rayen dan Leo masih membahas tentang masalah pekerjaan.
__ADS_1
Tok-tok-tok
Terdengar suara ketukan dari luar.
''Masuk!" seru Rayen
Tak lama terdengar suara pintu terbuka, bersamaan itu muncul seorang wanita dengan berpenampilan lumayan terbuka membuat siapa saja yang melihatnya pasti menelan ludah.
''Hai mas Rayen.'' sapa wanita tersebut.
''Viona'' ucapnya pelan, Leo yang saat itu sedang membalas email lewat ponselnya langsung ikut melihat sosok yang diucapkan namanya oleh Rayen.
''Wooww,,seksi sekali mantanmu itu Ray, dikira ini club malam kali ya?.'' ucap Leo yang masih terdengar oleh Viona.
''Iri bilang bos...'' sindir Viona membuat Leo mendengus.
''Iri dia bilang, mana mungkin lebih menang banyak Windy kemana-mana kali.'' gumamnya pelan.
''Rayen, ini kan sudah masuk jam makan siang, kenapa belum istirahat.'' Viona bicara, namun matanya melirik kearah Leo.
''Yayaya,, gue paham, baiklah pak bos saya kekantin dulu mau isi stamina agar lebih fokus kerjanya.'' ucap Leo sambil menyusun beberapa berkas dan meletakannya diatas meja, setelah itu ia langsung keluar dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Leo, Viona berjalan kearah Rayen, kini jarak diantara keduanya hanya terhalang meja kerja yang ada dihadapan mereka.
''Mas, gimana udah kamu pikirkan tawaranku kemarin?'' Viona bertanya sambil mendudukan bokongnya diatas kursi depan meja kerja Rayen.
Rayen menatap pada wanita itu, Rayen akui memang, jika tubuh Viona sangat seksi dan menggoda iman bagi siapa saja kaum adam yang memandangnya.Sejenak Rayen sempat terpesona namun sedetik kemudian ia langsung menggeleng kuat membuang jauh-jauh pikiran kotor dikepalanya.
Viona tersenyum miring, ia sangat tau kalau Rayen saat ini sangat tergoda oleh penampilannya, seperti biasa, karna dulu sewaktu mereka masih bersama Rayen sering sekali menyuruh Viona berpenampilan seksi.
''Sayang, jadi gimana apa sudah kamu pikirkan jawabannya? aku tau kamu pasti akan menerima tawaranku kan?'' Viona berkata dengan yakin, bahkan jemarinya dengan berani menggenggam tangan Rayen.
Next
__ADS_1