
Rayen menatap tangannya yang digenggam oleh Viona, lalu pandangannya beralih pada wanita tersebut yang saat ini sedang menampilkan senyum terbaiknya, namun entah kenapa perasaan Rayen biasa saja sekarang pada wanita itu, berbeda dengan Niken, saat berdekatan dengan gadis kecilnya saja membuat jantung Rayen berdegup kencang, apa lagi saat bersentuhan tangan dengan gadis itu membaut darah Rayen langsung berdesir dengan jantung yang berdebar.
Perlahan Rayen menarik tangannya dari genggaman tangan Viona, membuat Viona yang tadinya tersenyum lebar berubah menjadi sedikit murung.
''Maaf Vio, aku tidak ada jawaban atas pertanyaanmu kemarin, maksudku aku tidak tertarik sama sekali dengan penawaranmu itu.'' ucapan Rayen terdengar sangat serius membuat Viona menatapnya dengan sendu, Rayen bisa melihat ada raut wajah kecewa disana, namun Rayen tetap pada pendiriannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Frans dan Lidya.
''Kamu yakin mas? apa keputusanmu itu sudah final?
''Tentu saja, lagi pula aku dan Niken juga memang ada rencana untuk memberitahukan tentang hubungan kami pada kedua orangtua nya, hanya saja waktu nya belum sempat.'' jelas Rayen sesantai mungkin membuat Viona yang melihat menjadi geram.
''Sialan, mas Rayen kenapa bisa sesantai ini, bagai mana ini, apa rencanaku untuk menakutinya tidak berpengaruh apapun, bisa gagal rencanaku kalau begini untuk menjeratnya kembali.
Dalam hati Viona mengumpat kesal, namun ia akan tetap mencari cara agar bisa membuat hubungan Rayen dan Niken hancur.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, jam sudah menunjukan pukul 5 sore, waktunya karyawan satu persatu mulai meninggalkan pekerjaan mereka, keluar dari gedung tempat mereka mencari pundi-pundi, begitu pula dengan Rayen, lelaki itu bergegas menuju parkiran dimana mobilnya berada, ia ingin cepat pulang untuk membersihkan diri karna hari ini ia akan kerumah keluarga Mahendra untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Niken.
SATU JAM KEMUDIAN
Saat ini Rayen sedang dalam perjalanan menuju rumah milik keluarga Frans Mahendra.Rayen sempat menghubungi Niken sebelum dirinya menuju kediaman abangnya Frans, Niken mengatakan bahwa kedua orangtuanya sedang berada dirumah dan tidak ada kegiatan sama sekali.
Kini mobil yang ia tumpangi sudah berada dihalaman rumah Niken.Sedangkan Niken yang saat itu sedang menunggu didepan teras langsung mendekati mobil milik Rayen.
''Mas,'' ucap Niken sambil tersenyum lembut.
''Hai sayang, terus gimana papa sama mama kamu? mereka adakan didalam?'' tanya Rayen lagi memastikan.
''Iya mas, saat ini mereka ada di ruang tamu,yasudah yuk masuk!" ajak Niken sambil merangkul lengan Rayen.
''Mas kok tangannya dingin banget?apa mas sedang tidak enak badan ya?'' Niken sedikit khawatir.
''Tidak, mas tidak sedang sakit, mas hanya nervous aja, jujur aja mas sangat gugup sekarang, kamu tau? mas seperti seorang lelaki yang akan melamar kekasihnya.'' jelas Rayen.membuat wajah Niken seketika merona
Niken dan Rayen melangkah menuju rumah, baru saja Rayen menginjakkan kakinya diteras rumah mewah tersebut jantungnya sudah merasa deg-degan, sungguh ia merasa tak nyaman dalam posisi seperti ini.
Begitu sampai diruang tamu Rayen langsung melihat sepasang suami istri yang sedang duduk bersantai sambil minum teh ditemani dengan cemilan yang terletak diatas meja.
__ADS_1
''Mah, pah, ini ada om Rayen.'' ucap Niken membuat sepasang suami istri tersebut menatap kearah mereka berdua.
''Hai Ray, duduk sini! tumben rapi banget kamu mau kemana? mua ngedate ya?'' goda Lidya, sedangkan Frans hanya menatap datar pada Rayen.
Rayen tidak menjawab, ia hanya tersenyum canggung, jujur saja ia terlalu nervous saat ini.
''Ngapain kalian masih berdiri disana, duduk dong!"
Alih-alih mendengarkan ucapan Lidya, justru keduanya malah terlihat saling pandang satu sama lain.
Mereka kenapa sih,aneh sekali.
Lidya membatin.
Saat ini Niken dan Rayen sudah duduk didepan kedua orang tua Niken dengan berdampingan.
''kalian kenapa sih,kok mukanya tegang banget?'' tanya Lidya
''Ray, kamu kenapa? apa ada masalah?'' cerca Lidya, karna melihat wajah Rayen gelisah.
''Menyampaikan sesuatu? memangnya mau menyampaikan apa Ray?'' Lidya tampak penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Rayen.
''Mba, bang Frans sebenarnya aku ingin mengatakan kalau--''
Entah kenapa rasanya Rayen sangat gugup saat ingin untuk mengatakan hal yang sebenarnya, ada ketakutan tersendiri didalam hatinya, ia takut menerima kenyataan yang mungkin akan membuat hatinya dan Niken terluka.
Melihat Rayen diam Niken memberanikan diri untuk menggenggam tangan nya untuk memberikan kekuatan.
Lidya menatap heran pada anak perempuannya, dalam hati ia bertanya-tanya krnapa Niken memegang tangan Rayen seolah ingin memberikannya kekuatan.
''Sebenarnya ada apa, kenapa mereka berdua? kenapa tiba-tiba persaanku jadi gk enak gini ya.
Lidya terus memperhatikan anak dan juga adik iparnya itu kelakuan keduanya benar-benar mencurigakan baginya.
Sedangkan Frans yang sejak tadi sibuk membalas email lewat ponsel melirik pada sepasang sejoli yang ada didepannya, kemudian ia segera mematikan layar ponselnya dan menatap serius pada keduanya.
__ADS_1
Kenapa rasanya sulit sekali mengatakan hal yang sebenarnya, aku sudah berniat untuk ini, dan tidak akan mundur lagi, direstui atau tidak urusan belakangan yang penting aku harus mengatakan semuanya.
Batin Rayen yakin.
''Rayen, sebenarnya apa niatanmu datang kerumah ini?'' ucap Frans membuat Lidya menatap kearah suaminya.
''Pah, kenapa papa berkata seperti itu? papa berkatanya seolah Rayen memiliki niat terselubung.'' protes nya, walaupun dalam hati Lidya juga sependapat dengan ucapan suaminya, namun sebisa mungkin ia mencoba untuk menepiskan semua pikiran buruk itu.
Sedangkan Niken dan Rayen saling pandang satu sama lain.Rayen bisa melihat raut wajah cemas dari Niken, Namun Rayen mengangguk pelan untuk menberi isyarat pada kekasihnya itu agar tetap tenang.Rayen menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
''Bang Frans, mba Lidya, maksud kedatangan aku kesini ingin mengatakan---'' Rayen kembali menjeda ucapannya
''Mengatakan apa Rayen, kamu kalau ingin bicara yang jelas dan tegas! bukannya kamu itu seorang wakil CEO? jika begini cara kamu menyampaikan sesuatu didepan klien, maka bisa dipastikan mereka akan membatalkan kerjasama nya.'' ucap Frans tegas.
''Pah, papa jangan bilang gitu dong, kan om Rayen jadi gugup.'' protes Niken,membuat kedua orangtuanya langsung menatap kearah putrinya.
''Sayang, maksud ksmu apa? kenapa om mu ini harus gugup hanya mendengar ucapan papa? yang dikatakan papa ada benarnya loh, om kamu ini sejak tadi selalu menunda ucapannya, hingga membuat kami gemas.'' jelas Lidya
''Mba baiklah aku akan mengatakannya, sebenarnya maksud kedatangan ku kesini untuk meminta restu pada kalian.'' ucap Rayen,membuat Lidya yang saat itu meminum teh miliknya langsung tersedak.
Uhuk-uhuk..
''Mah, mama gpp kan?'' ucap Frans, dan dijawab gelengan kepala oleh sang istri.
''Apa maksud kamu? minta restu?? maksud kamu apa Ray tolong jelaskan?''Lidya menatap Rayen dengan tatapan intimidasi
''Mba,bang, sebenarnya aku dan Niken saling mencintai, dan saat ini kami juga sedang menjalin hubungan.'' jawab Rayen mencoba setenang mungkin, namun sebenarnya dalam hati ia sangat diliputi perasaan cemas dan juga takut, takut akan hubungan yang tidak mendapatkan restu.
''Iya mah, pah aku dan om Rayen memang saling cinta, sebenarnya aku sudah lama menyukai om Rayen, tapi bukan sebagai om, melainkan sebagai seorang pria dewasa.'' pengakuan yang keluar dari mulut Niken membuat Lidya benar-benar syok.bagai mana mungkin ini bisa terjadi, dalam hatinya ia sama sekali tidak bisa menerima semua ini.
''Rayen, Niken, kalian ini bicara apa?? bagai mana mungkin kalian bisa punya pikiran seperti ini? kalian itu saudara, dan kau Rayen,, kamu tau kan? Niken ini adalah keponakan kamu, dan itu tidak akan bisa berubah, selamanya Niken akan tetap menjadi keponakanmu.'' jelas Lidya dengan dada yang naik turun menahan emosi.
''Tapi mah---''
''Tidak ada tapi-tapi Niken, mama menolak keras hubungan terlarang kalian ini.'' ucapnya tegas
__ADS_1
NEXT