
Rangga membawa Putri kesalah satu rostoran yang ada dikota tersebut, Rangga mengatakan jika dirinya sangat lapar dan belum memakan apapun sejak tadi sore, dan saat ini Rangga memesan meja yang berada didalam ruangan dan hanya ada mereka saja yang ada disana, dan itu adalah ruangan Vip yang khusus dipesan oleh Rangga. Putri menatap sekeliling dimana hanya ada mereka saja, padahal ruangannya cukup luas jika hanya mereka tempati berdua.
'' Rangga apa gk terlalu berlebihan kamu pesan tempat ini, menurutku terlalu luas dan hanya ada kita berdua, aku jadi takut.'' ucap Putri membuat Rangga yang tadinya sibuk berbalas pesan dengan Niko menatap kearahnya.
'' Takut apa sayang? kan ada aku disini, udah tenang aja, aku sengaja pesan tempat ini hanya untuk kita berdua, tunggu bentar ya aku balas pesan Niko dulu, katanya ada barang yang mau masuk, jadi dia laporan sama aku.'' jelas Rangga, setelah membalas pesan Rangga pun langsung menyimpan ponsel miliknya.
Rangga memandang lekat wajah Putri yang ada tepat dihadapannya, membuat gadis itu salah tingkah.'' Kamu kenapa sih liatin aku terus, memangnya ada yang salah dengan wajah aku?'' ta ya Putri sambil menyentuh wajahnya sendiri
'' Gk ada yang salah kok, aku hanya kagum aja, ternyata pacar aku ini cantik banget ya?'' ucap Rangga membuat Putri tersipu karna pujian Rangga.
Saat ini gadis itu memakai gaun panjang tanpa lengan, dengan belahan diatas paha hingga memperlihatkan kaki jenjangnya.
'' Baru tau kalau aku cantik?'' ucap Putri, Rangga hanya tersenyum mendengarnya, tak lama terlihat makanan yang mereka pesan tiba.
Sedangkan dikediaman keluarga Mahendra, Niken sedang berada didalam kamar yang ada dilantai dua kediaman orangtuanya, wanita yang sedang hamil empat bulan itu baru saja selesai video call dengan suaminya, Niken sengaja tidak memberitahukan masalah tadi siang pada Rayen agar suaminya itu tidak cemas, lagi pula keadaannya sudah lebih baik pikirnya.
'' Sayang mama boleh masuk?'' terdengar suara Lidya dari balik pintu.
'' Iya mah masuk saja.'' jawabnya dari dalam, setelahnya terlihat pintu kamar dibuka oleh Lidya, terlihat wanita paruh baya itu sedang membawa nampan dengan segelas susu diatasnya.
'' Sayang ini mama buatin susu untuk kamu,'' ucapnya sambil memberikan susu tersebut pada Niken agar gadis itu langsung meminumnya.
'' Gimana keadaan kamu, perutnya sudah tidak sakit lagi kan?'' tanya Lidya, ternyata setelah pulang dari rumah Putri Niken merasakan sakit dibagian perut, padahal saat diperiksa oleh dokter ia tidak merasakan nya.
'' Sudah enggak sih mah, mungkin hanya kram aja tadi.'' jawab Niken
__ADS_1
'' Yasudah kalu gitu habisin susunya setelah itu istirahat ya? mama juga mau tidur rasanya udah ngantuk banget mama.'' ucap Lidya, setelah memastikan susu Niken habis, Lidya pun langsung keluar dari kamar tersebut, agar putrinya bisa istirahat.
Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, tiba-tiba Niken terbangun karna merasakan sakit dibagian perutnya.'' Aw, kenapa rasanya perutku sakit lagi ya? sebenarnya aku kenapa? semoga saja bayiku tidak kenapa-kenapa.'' gumamnya sambil sesekali meringis menahan sakit. Satu jam sudah Niken menahan rasa sakit, terkadang sakitnya hilang, terkadang kembali timbul, dan itu membuatnya sedikit khawatir dengan keadaan bayinya, untuk sedikit mengurangi rasa dakitnya Niken mencoba mengelus dan mengompres perutnya yang terasa sakit dengan air hangat, lalu mencoba berganti posisi, namun ia masih merasakan nyeri daibagian perutnya, mungkin karna tidak tau apa yang harus ia lakukan Niken pun akhirnya mencoba mengetuk pintu kamar orangtuanya karna memang sudah tidak bisa menahannya lagi.
Tok-tok-tok
'' Mah, mama!'' Niken memanggil dan kembali mengetuk pintu kamar Lidya dan juga Frans.
'' Niken ada apa sayang?'' tanya Lidya cemas saat melihat wajah pucat sang anak, keringat juga terlihat bercucuran di dahi gadis itu.
'' Pah, papa bangun pah!'' Lidya memanggil Frans yang masih terlelap.
'' Ada apa mah,'' Frans yang masih setengah sadar duduk sambil memandang kearah istrinya.
'' Hah? sakit perut? Kenapa bisa? yasudah ayo.'' ucap Frans yang langsung bangkit dari tempat tidur.
***
Bagai mana keadaan kandungan anak saya dok?'' tanya Lidya setelah dokter memeriksakan kandungan Niken.
'' Putri ibu hanya mengalami kram dibagian perut, dan itu biasa untuk diawal kehamilan, tapi jika terus terusan terjadi kemungkinan itu akan membahayakan janin yang ada dalam kandungannya, saran saya istirahat yang cukup, lalu konsumsi banyak air putih, jika perlu lakukan olah raga yang ringan, untuk memperlancar peredaran darah, saya akan berikan obat untuk penguatkan janin nya, semoga saja bisa membantu,sekarang bagai mana apakah masih sakit?'' tanya dokter tersebut
'' Sudah tidak lagi dok.'' jawab Niken
KEESOKAN HARINYA
__ADS_1
Sudah tiga hari berlalu semenjak insiden jatuhnya Niken dikolam renang, untung saja kram di perutnya sudah tidak kambuh lagi, jadi ia bisa menjemput kepulangan suaminya dari bandara, padahal Lidya sudah mencoba melarang putrinya itu untuk tidak menjemputnya dibandara, namun Niken keukeh ingin pergi, mungkin karna memang ia sangat merindukan suaminya tersebut.
'' Yasudah kamu biar diantar mang Diman ya?'' ucap Lidya
'' Iya mah, aku siap-siap dulu.'' setelah itu Niken langsumg menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tepat pukul enam sore Niken bersama supir keluarganya sudah sampai dibandara. Setelah menunggu sekitar lima belas menit akhirnya terlihat Rayen dan Jodi melangkah menuju kearahnya sambil menenteng tas, yang mungkin berisi baju-baju lelaki tersebut.
'' Mas,'' panggilnya begitu melihat Rayen menuju kearahnya.
'' Sayang,'' panggil Rayen sedikit mempercepat langkahnya.
'' Mas aku kangen banget sama kamu.'' ucap Niken sambil menghambur kepelukan suaminya.
'' Mas juga kangen bangat sayang.'' jawabnya setelah melerai pelukan mereka.
'' Ekhem, bos bisa gk jika bermesraannya ditunda dulu? emang gk kasian apa liat saya yang jomblo ini.'' ucapnya dengan wajah yang dibuat sedih
'' Makanya cari pasangan, percuma ganteng kalau jomblo untuk apa.'' ledek Rayen membuat Jodi hanya bisa mendengus kesal, sedangkan Niken terkekeh pelan melihatnya.
Saat ini sepasang suami istri tersebut sudah berada didalam mobil, sepanjang perjalanan, Niken terus memeluk suaminya, rasa rindu yang teramat sangat membuat gadis itu tak ingin menjauh walau sedetikpun, Rayen juga tidak mempermasalahkannya, ia malahan senang jika istrinya itu selalu menempel seperti itu padanya karna ia pun juga sangat merindukan pelukan sang istri.
'' Sayang selama mas pergi kamu ngapain aja dirumah mama?'' tanya Rayen tangannya terangkat untuk membelai lembut rambut hitam istrinya
'' Gk ada sih mas, palingan bantu mama buat kue, nonton tv, itu aja sih, paling main bareng Windy dan Putri aja.'' jelasnya, ia tak ingin mengatakan tentang kejadian dikolam renang, karna Niken tak ingin membuat suaminya itu menjadi khawatir.
Next
__ADS_1