
Dulu saat Putri mengalami kecelakaan Rangga tidak banyak berinteraksi dengan kedua orangtua Putri, orangtua Putri juga tidak pernah bertanya, mereka hanya menapsir kan saja, dan sekarang keduanya menuntut jawaban tentang kejelasan hubungan antara Rangga dan Putri mereka.
'' Mah, pah, udah dong masa sejak tadi Rangga terus diintrogasi sih, udah kayak tersangka aja.'' Putri sedikit protes karna kedua orangtuanya bertanya-tanya terus sejak tadi, walaupun mereka sudah pernah bertemu dengan pak Haikal selaku orangtua nya Rangga, namun belum puas bagi keduanya jika belum bertanya langsung pada yang bersangkutan.
'' Loh kamu ini kenapa sih? mama dan papa kan tanya sama Rangga, kenapa kamu yang protes.'' Ambar melihat anak gadisnya yang terlihat memanyunkan bibirnya, namun Ambar tak perduli, ia ingin tau dan menilai sendiri apakah pemuda yang ada didepannya saat ini sudah pantas untuk putrinya atau tidak, sebenarnya waktu dirumah sakit kemarin Johan dan Ambar sudah melihat saat Rangga menjaga Putri,dan mereka bisa melihat jika pemuda itu sangat perduli pada putri mereka, namun keduanya hanya ingin kembali memastikan jika Rangga adalah orang yang cocok untuk menjaga putri mereka yang manja ini kelak, walaupun Ambar melihat Rangga masih sangat muda, namun ia menilai jika pemuda itu punya sifat yang baik dan juga pemikiran yang dewasa.
''Baiklah Rangga om dan tante tidak akan melarang hubungan kalian, tapi ingat kalian berdua itu masih sekokah, om tidak mau ada masalah diantara kalian nantinya yang akan mempengaruhi nilai mata pelajaran sekolah kamu mengerti kan maksud om? Putri kamu dengarkan ucapan papa?'' Johan melirik pada putrinya.
'' Iya pah kami mengerti, pokoknya papa dan mama tenang aja, hubungan kami tidak akan berpengaruh buruk pada sekolah mau pun pelajaran.'' jelas Putri
'' Iya om sebisa mungkin hubungan kami tidak akan berpengaruh buruk pada nilai sekolah.'' tambah Rangga meyakinkan
'' Biaklah kami percaya, yasudah papa dan mama mau naik keatas dulu, kalian lanjut saja ngobrol, oh iya nanti kamu jangan pulang dulu ya? kita makan malam bersama.'' tambah Johan, yang diangguki oleh Rangga.
'' Kenapa kamu senyum-seyum gitu?'' tanya Rangga saat melihat kekasihnya senyum sendiri.
'' Tentu aja karna senang, mama dan papa sudah merestui hubungan kita, emang kamu gk senang?'' Putri mulai menatap sinis pada kekasihnya.
'' Ya bukan gitu, tentu saja aku senang, mana mungkin gk senang udah dapat lampu hijau dari papa dan mama kamu.'' ucap Rangga.
'' Itu dari papa dan mama, tapi belum dari abang.'' sambung Regan tiba-tiba, membuat sepasang remaja itu langsung menoleh kearah nya.
'' Loh, bukannya selama ini abang tau ya hubungan kami, dan abang juga biasa-biasa aja gk ngelarang kami.'' tanya Putri heran
__ADS_1
'' Karna abang lihat kalian baik-baik saja saat itu, ingat ya jika sekali lagi abang lihat kalian berantem lagi, khususnya untuk kamu Rangga, jika sekali lagi abang tau kamu nyakiti Putri maka jangan salahkan jika abang akan mencarikan laki-laki lain untuk nya, yang bisa membahagiakan Putri tentunya selain kamu.'' ucap Regan membuat Putri langsung memprotesnya.
'' Apaan sih abang, main jodoh-jodohkan segala, abang pikir aku mau,'' sungutnya, namun Regan tak memperdulikannya
'' Iya bang saya mengerti maksud bang Regan, dan saya berjanji untuk kali ini akan berusaha agar tidak menyakiti hati Putri lagi.'' jawab Rangga
DITEMPAT LAIN..
Terlihat seorang lelaki sedan mengelus perut buncit istrinya.'' Perut kamu sudah mulai membesar, mas gemas melihatnya.'' ucap nya dan dia adalah Rayen lelaki itu sedang mengelus perut buncit Niken dari balik lingerie yang ia kenakan, saat ini posisi Niken sedang bersandar dikepala ranjang, sedangkan Rayen dengan posisi miring menghadap kearahnya.
'' Iya mas, aku juga sudah bisa merasakan kedutannya dari bawah sini,'' ucap Niken sambil menuntun tangan suaminya menuju perut bagian bawahnya.
'' Kalau yang ini berkedut juga gk?'' tanya Rayen, kini tangan nakalnya sedang mengelus lembut milik sang istri, membuat Niken menggigit bibir nya merasakan sentuhan nikmat tersebut, memang selama hamil, Niken begitu mudah tera*ng*sa*ng, setiap sentuhan tangan Rayen ditubuhnya menimbulkan suatu sengatan listrik baginya.
'' Ada apa hem?'' tanya Rayen seolah tak mengerti.
'' Sepertinya dedek bayinya pengen diliati sama papa nya deh.'' ucap Niken
'' Benar cuma mau itu? gk mau yang lain?'' tawar Rayen, memang selama hamil Niken gk pernah ngidam yang aneh-aneh, atau pun sampai membuat suaminya kerepotan membelikan ini dan itu untuk memenuhi kebutuhan ngidam sang istri, seperti kebanyakan wanita ngidam pada umumnya.
'' Beneran anak nya papa cuma mau dilihatin aja, atau mau papa jenguk juga hem.'' Rayen seolah mengajak sang anak berdiskusi, membuat Niken terkekeh mendengarnya.
'' Tentu anak kita maunya dijenguk juga dong mas, masa dilihatin doang, memangnya mas gk kangen apa sama goyangan istrimu ini.'' ucap Niken membalas godaan suaminya.
__ADS_1
'' Selalu sayang, bahkan mas tak pernah merasa puas, mas selalu ketagihan sama kerang merahmu ini sayang.'' Rayen kembali mengelus milik Niken, kali ini ia sudah menyelipkan tangannya diantara kain tipis yang Niken gunakan.
*
*
*
'' Besok lusa mas dan Jo akan melakukan perjalanan bisnis keluar kota selama tiga hari, apa papa sudah memberitahukannya sama kamu?'' tanya Rayen, saat ini keduanya sedang berada didalam selimut yang sama dengan keadaan polos, setelah beberapa saat yang lalu mereka melakukan olah raga bersama untuk mengeluarkan keringat .
'' Iya sudah, tapi itu kan seminggu yang lalu, dan aku pikir mas gk jadi perginya.'' ucap Niken, wanita itu sedang meraba dada bidang polos suaminya dengan jari telunjuknya, membuat Rayen mengeliat gelisah.
'' Jadi, makanya mas kasih tau kamu sekarang, nanti kalau mas pergi kamu nginap aja dirumah mama ya? mas gk mau kamu tinggal sendirian disini.'' pinta Rayen.
'' Iya, baiklah.'' jawabnya singkat
'' Tumben, gk ada drama quen seperti biasa?'' Rayen heran melihat sikap istrinya, karna biasanya jika ia bilang mau keluar kota pasti istrinya itu akan merengek meminta agar dirinya tidak pergi, namun sekarang terlihat Niken biasa saja seolah tak terlalu mempermasalahkannya.
'' Percuma jika aku merengek pun, pasti mas akan tetap pergi juga kan? jadi buat apa aku melakukan itu, karna toh pasti mas juga akan tetap pergi.'' jawabnya membuat Rayen tersenyum
'' Mas kan kerja sayang, bukannya main-main, tapi mas usahakan akan pulang lebih awal jika urusan disana cepat selesai.
'' Iya, yang penting mas harus jaga diri baik-baik, dan jangan terlalu mikirin aku, karna aku kan ada mama yang jagain nanti.'' ucap Niken memperingati, karna memang selama hamil ini sudah kali ketiga Rayen pergi keluar kota untuk mengurus pekerjaannya yang memang tidak bisa diwakilkan dengan orang lain. Dan selama disana Rayen selalu menghubungi istrinya setiap satu jam sekali untuk menanyakan kabar istri tercintanya itu.
__ADS_1
Next