
Tok-tok-tok
Terdengar suara pintu diketuk, Niken yang mengira kalau itu adalah Art langsung menyuruhnya masuk.
''Siapa? bibik ya? masuk saja bik!" sahut Niken dari dalam.
''Bibik?'' gumam Rayen, namun sedetik kemudian pria itu langsung membuka pintu kamar tersebut.
Ceklek, terdengar suara pintu terbuka, Niken yang saat itu sibuk membaca majalah masih belum menyadari kehadiran Rayen.Ia masih mengira jika itu adalah sang Art
''Ada apa bik?'' ucap Niken tanpa menoleh.
''Memang tampang om udah kayak bibik-bibik ya?'' jawab Rayen yang membuat Niken seketika menurunkan majalahnya.
''Om Rayen?'' gumam nya
''Iya ini om, kenapa kamu tidak angkat telpon dari om tadi? emangnya kamu ngapain saja tadi?'' ucap Rayen sambil melangkah mendekati Niken yang saat itu sedang duduk diatas tempat tidur.
''Kenapa bengong sayang? jawab dong!" seru Rayen yang kini sudah duduk disisi ranjang tepat disamping gadisnya tersebut.
''Maaf om tadi aku lagi dikamar mandi,jadi gk tau kalau om Rayen menelpon.'' jawabnya datar, kemudian kembali melihat majalah miliknya.
''Ada apa dengannya gk seperti biasanya.
Batin Rayen sedikit merasa aneh dengan sikap Niken padanya.
Rayen terus memperhatikan Niken, ia merasa gadisnya itu sedikit berubah padanya, dingin, begitulah kira-kira menurut Rayen.
Niken merasa Rayen sedang memperhatikan dirinya, sebenarnya Niken sendiri sedang bingung apa yang akan dia ucapkan pada om nya tersebut, ingin sekali ia marah karna omnya tersebut tak memberi kabar hampir seharian ini padanya, tapi dia juga tau kalau seharian ini Rayen sibuk mengurus Viona yang sedang sakit, tapi tetap saja kenapa harus mematikan ponsel segala, dan entah lah, rasanya Niken benar-benar bingung.
Rayen menyadari ada yang tidak beres dengan gadis kecilnya ini.
''Sayang kamu dengar aku gk sih? kok aku nya dicuekin?'' ucap Rayen sambil menurunkan majalah yang dipegang oleh Niken.
__ADS_1
''Oya om, gimana kabar tante Viona ? ku dengar dari papa dia mencoba bunuh diri apa itu benar?'' tanya Niken.
Rayen menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
''Iya, itu semua memang benar,'' jawab Rayen
''Terus gimana keadaannya sekarang?'' tanya Niken lagi
''Keadaannya sudah mulai stabil.'' jawab Rayen seadanya.
''Niken kenapa sih, kok dia terus bertanya tentang Viona,
''Niken, bisa gk kita gk usah bahas soal Viona dulu, om kesini itu karna kangen sama kamu, terus gimana tadi ujian nasionalnya berjalan lancarkan?'' jawabnya, sambil meremas tangannya gelisah, dan Rayen menyadari itu.
''Kamu kenapa? apa ada masalah?'' tanya Rayen sedikit cemas.
''Gk ada masalah kok om, ujiannya juga berjalan lancar, hanya saja--''
''Om menurut om bagai mana kalau kita putus saja? kita akhiri hubungan kita ini?'' ucap Niken sambil menunduk, iya tak berani menatap wajah om nya tersebut.
''Apa kamu bilang? mengakhiri hubungan kita?kamu sadar kan dengan apa yang baru saja kamu bilang?Niken lihat om sekarang! kamu sadar dengan ucapanmu itu? memangnya kamu rela kalau om kembali lagi dengan Viona?'' ucap Rayen ada sedikit kemarahan dalam ucapannya.
Sedangkan Niken, entah kenapa hatinya sedikit sakit mendengar ucapan Rayen barusan, sebenarnya ia sama sekali tak ingin mengakhiri hubungan mereka, dirinya terlalu mencintai laki-laki itu, tapi kenapa bibirnya bisa berkata seperti itu, bisa dikatakan lain dibibir lain juga dihati.
''Tapi om, aku gk bisa hidup bahagia diatas penderitaan orang lain, aku gk bisa melihat tante Viona seperti itu om, aku takut kalau nanti dia melakukan hal yang melukai dirinya sendiri lagi,dan pasti aku akan merasa tambah bersalah karna itu,, sebaiknya om kembali saja dengannya dan lanjutkan kembali pertunangan kalian.'' ucap Niken, sambil kembali menatap wajah Rayen hatinya berdebar saat mengatakan itu, jika saja Rayen mengikuti apa yang dikatakannya sekarang mungkin dia yang akan mati karna kehilangan cintanya.
Rayen yang mendengar ucapan Niken mengeraskan rahangnya, ia menatap tajam pada gadis tersebut membuat Niken kembali menundukan wajahnya, entah kenapa ia merasa takut melihat mata Rayen, baru kali ini Niken melihat om nya marah seperti ini.
''Lihat om Niken!" sentak Rayen membuat Niken otomatis kembali menatap kearahnya.
''O-om a-aku-- mmppff
Belum sempat Niken menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba mulutnya dibungkam oleh ciuman Rayen, membuat Niken seketika membulatkan matanya, ciuman yang begitu kasar, ya Rayen meluapkan kemarahannya dengan menciumi bibir Niken dengan sangat rakus, bahkan Rayen juga mere*mas payu*dara Niken dengan sedikit kuat, membuat gadis remaja tersebut terpekik.
__ADS_1
Niken yang mulai kehabisan nafas segera mendorong dada Rayen dengan kuat bahkan sampai memukul dada bidangnya.
''Le-pas om!" ucap Niken yang sesaat setelah ciuman mereka sudah terlepas.Nafasnya terdengar masih memburu dengan dada yang naik turun
''Kenapa om lakukan ini sama aku? kenapa kasar seperti itu? aku gk suka.'' ucapnya marah.
Rayen menatap wajah Niken yang masih memerah, mungkin karna marah, ia juga memperhatikan bibir gadisnya itu yang sedikit membengkak karna ulahnya.
''Maaf kan om sayang, om khilaf, om hanya tidak suka mendengar kamu berkata seperti tadi, om marah denganmu, asal kamu tau, walaupun kamu mau kita putus, om juga tidak akan pernah kembali dengan Viona, karna percuma saja, karna perasaan om dengannya benar-benar sudah tak tersisa.'' ucap Rayen serius
''Dan om gk mau mendengar kamu berkata seperti itu lagi, kamu mengerti! om tau kamu tidak seriuskan dengan ucapanmu barusan? mana bisa kamu hidup tanpa om.'' ucapnya yakin.
''PD banget jadi orang,'' ucap Niken pelan sambil mencebik
Tentu om harus PD dong,'' jawabnya diakhiri dengan senyum simpul.
''Oya tadi siang kamu datang keapartemen om ya?
''Kok om Rayen tau?
''Karna om menemukan pita rambut milikmu diatas sofa.'' jelas Rayen, membuat Niken mengangguk paham.
''Iya sih, tadinya aku mau buat kejutan sama om Rayen, tapi setelah berjam-jam aku nunggu om gk pulang juga, jadi yaudah akhirnya aku pulang, sesampainya dirumah eh ternyata aku nya yang malah terkejut saat mendengar kabar tentang tante Viona.'' ucap Niken.
''Maka dari itu kamu merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya?,karna sudah merasa merebut om dari dia? gitu?'' ucap Rayen memastikan.
''Iya om, aku merasa gara-gara aku merebut om dari tante Viona, dia jadi melakukan hal mengerikan itu, aku hanya tidak ingin melukai perasaan orang lain om, spa lagi sampai membuatnya celaka.'' ucap Niken lirih
Rayen mengerti maksud dari ucapan Niken, ia masih begitu muda, namun sudah harus mengalami hal seperti ini,, jujur saja hati Rayen merasa sakit melihatnya,, sedetik kemudian, ia pun langsung menarik tubuh gadisnya itu kedalam pelukannya, mencoba menenangkan perasaan gadis kecilnya tersebut.Tiba-tiba saja tubuh Niken bergetas naik turun, Rayen tau bahwa gadisnya itu sedang menangis sekarang.
''Tenanglah, lagi pula ini bukan kesalahan mu, apa yang terjadi dengan Viona sama sekali tak ada hubungannya dengan kamu, jadi om harap kamu jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri ok, dan om ingatkan, lain kali om gk mau dengar kamu bicara seperti itu lagi ok.
Next
__ADS_1