
Windy baru saja keluar dari dapur, dan langsung melangkah menuju kedua sahabatnya yang saat itu masih duduk manis didepan layar laptop, untuk menonton drakor pavorit mereka.
'' Lama banget loe, berak dulu ya?'' ucap Putri asal.
'' Huus, ngomong apaan sih kamu Put, sini Win duduk!" ucap Niken sambil menepuk karpet bulu yang ada disampingnya.
Windy mengangguk setelah itu ia langsung mengambil posisi tersebut.
'' Kamu pasti tadi lagi ngobrolkan sama bang Regan makanya lama?'' tanya Putri to the point
'' Iya gue lagi ngobrol, ya kebetulan kan gue juga ambil minum masa gue gk sapa dia, kan gk enak.'' jelas Windy
'' Bisa aja ngeles loe,'' gumam Putri pelan, namun masih bisa didengar kedua sahabatnya.
Windy yang tak ingin ribut hanya diam, tak membalas ucapan Putri.
Walaupun Putri selalu berkata pedas dan selalu seenak jidat nya itu sebenarnya sangat menyayangi kedua sahabatnya. Namun dia bukan orang yang bisa memendam rasa terlalu lama, semisal dia tidak suka ataupun sebaliknya pasti ia utarankan langsung, tanpa memikirkan perasaan orang disekitarnya, berbeda dengan kedua sahabatnya yang lebih memilih mengalah agar tidak terjadi selisih paham.
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, saat ini Niken sedang menunggu kedatangan suaminya untuk menjemputnya yang masih dirumah Putri.
'' Kamu jadikan ikut aku Win?'' tanya Niken sambil membereskan buku-bukunya karna mereka tadi juga sempat belajar bersama.
'' Boleh deh kalau gk ngerepoti.'' jawabnya
Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti dihalaman kediaman Putri.
'' Tuh laki loe kayaknya yang datang.'' ucap Putri, sambil melihat dari jendela kaca rumahnya.
__ADS_1
'' Yasudah kalau gitu aku pulang dulu ya Put.
'' Iya Put, gue juga.'' sambung Windy
'' Ya hati-hati kalian!" jawab Putri sambil melambaikan tangannya.
Niken keluar dari rumah mewah milik Putri disusul oleh Windy dibelakangnya.
Melihat Rayen keluar dari mobil Niken langsung melambaikan tangannya.
'' Mas, aku kangen banget.'' ucap Niken manja, tanpa memperdulikan Windy ia langsung memeluk erat suaminya dan menghujani pria tampan tersebut dengan ciuman diseluruh wajahnya.
'' Ekhem, yaelah kasian banget sih nasip jomblo kayak gue.'' sindir Windy yang berdiri tak jauh dari keduanya.
'' Hehe, habisnya aku kangen banget sama suami tercinta, jadinya kelepasan deh.'' jawab Niken tanpa tanpa dosa.
'' Yaudah lanjutnya nanti aja ya mas dirumah, sekarang kita antarkan dulu cewek cantik yang satu ini tapi sayangnya jomblo.'' ucap Niken terkekeh sendiri diakhir kalimatnya, sedangkan Windy hanya mendengus mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
'' Makasih ya Ken atas tumpangannya, om Rayen makasih ya?'' ucapnya setelah keluar dari mobil.
'' Iya, sama-sama.'' jawab keduanya, setelah itu mobil mereka langsung keluar menuju jalanan raya.
Sepanjang perjalanan Niken terus mengendus aroma tubuh suaminya, terutama bagian ketiak Rayen membuat laki-laki tersebut sedikit kesusahan mengendalikan kemudinya.
'' Sayang kamu jangan cium-cium ketiak nya mas dong, mas kan lagi nyetir.'' ucap Rayen.
'' Habisnya aromanya aku suka banget mas sangat memabukan, dan membuat aku sangat bergairah.'' jawabnya sambil kembali melakukan aksinya
__ADS_1
'' Ya tapi tunggu setidaknya sampai kita dirumah sayang, ini lagi dijalan loh, lagi pula mas kan lagi nyetir bahaya kan?'' Rayen kembali memperingati istrinya.
'' Lagian kamu aneh banget deh, ngapain sih pakai acara cium ketiak segala? Mas ini belum mandi dan juga bau keringat loh, masa suka? Aneh kamu ini.'' Rayen mengegelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah lalu istrinya belakangan ini.
'' Apa mas Rayen bilang? Aku aneh? Kok mas jahat banget sih, masa bilangin istri sendiri aneh, ya kalau mas gk mau yaudah, tinggal bilang aja baik-baik gk usah pakai acara bilang aku aneh, memangnya nyium ketiak suami sendiri itu aneh ya? Yang aneh itu kalau aku nyium ketek orang lain.'' ketus Niken, gadis muda itu sangat kesal melihat suaminya saat ini, toh hanya nyium ketek doang masa jadi masalah pikirnya.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah sampai diparkiran apartemen, baru saja Rayen mematikan mesin mobilnya Niken langsung keluar dari dalam mobil, bahkan panggilan Rayen pun tak ia hiraukan, gadis itu melangkah dengan cepat meninggalkan suaminya yang saat itu berada jauh dibelakangnya, bahkah saat sampai di dalam lift Niken langsung menekan tombol apartemen mereka dan meninggalkan Rayen begitu saja, membuat suaminya itu terpelongo melihat tingkah sang istri.
'' Kenapa dia sampai semarah itu? hanya gara-gara aroma ketek, itukan hanya masalah sepele.'' gumamnya, akhirnya terpaksa Rayen menunggu lift hingga turun kembali.
Niken baru saja keluar dari lift, ia langsung melangkah kan kakinya menuju apartemen dimana saat ini ia tinggal bersama suami, sejak tadi mulut gadis itu terus mengerutu mengatai suaminya.
'' Awas aja nanti malam aku gk akan mau jika dia minta layani sama aku, enak aja, pokoknya aku kesel banget sama dia.'' setelah masuk dan menaruh tas dan sepatu Niken langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rayen baru saja masuk kedalam apartemen, matanya menyapu seluruh ruangan mencari sosok sang istri disana namun ia sama sekali tak menemukannya.
'' Kemana dia? mungkin didalam kamar.'' gumamnya sambil melangkah menuju kamar utama.
Cekleek, terdengar suara pintu kamar dibuka oleh Rayen, matanya menatap ruangan tersebut, namun ia masih belum melihat sosok istrinya itu, Rayen melangkah masuk setelah sebelumnya ia menutup pintu terlebih dahulu, samar-samar telinganya mendengar suara gemercik air dari kamar mandi.
'' Ternyata dia sedang mandi.'' gumamnya sambil duduk dipinggir sisi tempat tidur.
Tak lama terlihat pintu kamar mandi dibuka, dan keluarlah Niken dengan balutan handuk ditubuhnya, ia melirik sekilas pada suaminya, setelah itu langsung melangkah menuju lemari pakaian untuk mengambil gaun tidur yang akan dipakainya malam ini, walaupun saat ini Niken dalam mode ngambek pada suaminya, namun ia akan tetap memakai pakaian yang dipilihkan sebelumnya oleh suaminya tersebut.
'' Sayang mas mandi dulu ya?'' namun Niken tak menjawab, ia malah melepaskan handuk yang dikenakannya didepan mata Rayen membuat mata laki-laki itu langsumg membulat sempurnya, apa lagi saat melihat bagian inti sang istri yang sudah mulus tanpa ada sehelai rambut pun disana, melihat itu Rayen menelan ludahnya berkali-kali, tenggorokannya seketika terasa sangat kering, ia menatap Niken yang dengan santainya mengenakan gaun tersebut didepan suaminya.
'' Sayang, tunggu mas mandi dulu ya? Setelah itu kita akan menghabiskan sore ini dengan kembali bermandikan keringat.'' ucap Rayen setelah itu ia langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sudah sangat lengket, sedangkan Niken hanya mendengus kesal saat melihat suaminya itu malah masuk kamar mandi dari pada menyentuh tubuhnya, padahal sejak tadi Niken sangat bergairah dengan aroma tubuh suaminya aroma parfum ditambah bau keringatnya seolah memabukan bagi Niken, tapi sekarang harapannya pupus sudah unntuk bercinta dengan aroma tubuh suami nya yang memabukan tersebut.
__ADS_1
''Mas Rayen nyebelin banget sih, aku maunya kan sekarang, ngapain mesti mandi dulu.'' Niken menggerutu sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
Next