
Kini Rayen dan Niken sudah berada didalam kamar mandi, Niken mulai membuka pakaiannya satu persatu hingga hanya menyisakan pakaian dala*man nya saja,Rayen menelan salivanya susah payah, saat melihat kemolekan tubuh istrinya.
''Mas, kok diam sini biar aku bantu melepaskan pakaiannya.'' ucap Niken sambil mulai membuka satu persatu kancing pakaian yang digunakan oleh Rayen.
''Badan kamu bagus banget mas.'' puji Niken sambil membelai tubuh kotak-kotak sang suami, kemudian mengecupnya lembut, membuat bulu kuduk Rayen meremang.
''Sayang sebaiknya kita mandi dulu yuk, biar mas bantu kamu nanti untuk menggosok tubuhmu.'' ucap Rayen sambil menahan suatu gejolak dalam dirinya, sebenarnya Rayen bisa saja menerkam istrinya sekarang, namun ia tak ingin terburu-buru Rayen ingin menikmati semuanya dengan perlahan, karna baginya waktu masih sangat panjang.
Niken mengguyur tubuhnya dengan pancuran air dari bawah shower, membuat br*a dan celana da*lamnya ikut basah, alhasil tubuh bagian dalam yang tertutup oleh sehelai kain tersebut tercetak jelas dimata Rayen, membuat laki-laki itu berkali- kali menelan salivanya dengan susah payah.
''Mas sini dong kita mandi bareng, katanya mau bantu gosok punggungku.'' ucap Niken menagih janji yang Rayen ucapkan.
Rayen tersenyum kemudian langsung mendekati tubuh istrinya, ia segera melepas sisa kain yag masih menempel ditubuhnya, dan hanya meninggalkan dala*mannya saja.Rayen memutari tubuh Niken lalu berhenti tepat dibelakang tubuh sang istri, perlahan ia mulai melepas pengait br*a yang melekat ditubuh istrinya hingga terlepas, membuat kedua aset kembar milik sang istri terjun dengan bebas karna sudah tak ada penghalang lagi.
Rayen mulai memeluk tubuh istrinya dari bekakang, tangannya mulai bergerilya kebagian payu*da*ra sang istri, dan mulai meremas dengan lembut bagian tumpukan daging kenyal tersebut, membuat Niken berdesis seperti ular. Perlahan Rayen memilin puti*ng berwarna merah muda milik istrinya memutar-mutarnya dengan lembut seperti menyetel saluran radio.
Niken tiba-tiba berbalik menghadap suaminya, lalu tersenyum menggoda, ia sedikit berjinjit sambil mengalungkan tangannya dileher Rayen, dan kemudian Niken langsung menyambar bibir sang suami. Dengan senang hati Rayen membalas serangan dari istrinya memberikan sesuatu yang diinginkan oleh sang istri. Disela-sela ciumannya Rayen kembali mere*mas pa*yu*da*ra Niken, bahkan tangan kirinya mulai me*ra*ba kebagian perut bawah Niken, hingga sampailah di anak gunung milik sang istri.
Rayen mengelus perlahan anak gunung tersebut merasa kurang puas Rayen pun langsung memasukan tangannya kedalam kue apem tembem milik Niken. Tangan Rayen mulai mengelus disana membuat Niken memejamkan matanya karna menahan rasa nikmat, namun tiba-tiba Rayen mencabut tangannya dari bawah sana membuat Niken seketika membuka matanya, ia menatap Rayen kecewa dan juga kesal, karna suaminya itu begitu saja menghilangkan rasa nikmat yang baru saja hendak ia dapatkan.
''Sayang kita mandi saja dulu ya? nanti kita terusin mainnya dikamar, mas hanya gk mau kamu nantinya masuk angin, lagian kita kan juga belum makan malam.'' jelas Rayen
''Baiklah terserah mas Rayen saja.'' ucap Niken sambil menyudahi ritual mandinya dan langsung menyambar handuk kemudian melilitkannya ditubuh nya.
''Sayang, jangan ngambek dong.'' ucap Rayen sambil membilas tubuhnya setelah itu langsung menyusul Niken kekamar.
Niken sudah mengganti bajunya dengan pakaian tidur bermotif keropi, setelah itu la langsung beranjak ingin keluar dari kamar, bertepatan itu Rayen keluar dari kamar mandi.
''Sayang kamu mau kemana?'' tanya Rayen sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
''Aku lapar, mau makan.'' jawabnya datar
''Kamu gk nunggu mas? mas juga laper loh belum makan.'' ucapnya
''Akhirnya mau tak mau Niken kembali menutip puntu kamar tersebut dan melanglah mendekati ranjang lalu mendudukan bokongnya disana.
''Tunggu mas bentar ya? mas mau pakai baju dulu.'' ucap Rayen yang langsung melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian miliknya.
Niken terus memperhatikan Rayen, sungguh ia sangat tergoda dengan tubuh suaminya itu, dengan handuk yang melilit dipinggang, serta air yang masih menetes ditubuhnya, sungguh sangat sek*si dimatanya.Niken merasa ada suatu yang berkedut dibawah sana, sebenarnya ingin sekali ia menerkam tubuh tela*jang suaminya, ia yakin dibalik handuk tersebut ada anaconda yang sangat besar yang ingin dimanjakan, namun Niken merasa sangat gengsi, karna tadi Rayen sempat membuatnya kesal6 karna menghentikan tiba'tiba aktivitas mereka, disaat dirinya sedang enak-enaknya. Dan saat ini Niken sedang dalam mode kesal, dia bertekat malam ini dia tidak akan memperdulikan suaminya, biarlah Rayen merasakan apa yang juga telah ia rasakan tadi, pikirnya.
Niken memalingkan wajahnya saat Rayen melepas kan handuk yang ada ditubuhnya, Rayen yang melihat istrinya memalingkah wajah membuat laki-laki itu tersenyum nakal.
Ternyata istri kecilku ini sedang ngambek,baiklah sayang mas ingin lihat, sampai dimana kamu akan menahannya.
Batin Rayen tersenyum smiirk
''Eekkhhm, Rayen sengaja berdehem untuk mengalihkan pandangan Niken yang saat itu tengah membuang wajahnya.
Apaan sih mas Rayen, dia sengaja mau godain aku, pokoknya lihat saja, aku gk akan mau melakukan nya nanti malam.
Batin Niken penuh tekat.
''Ayo sayang kita keluar!" ajak Rayen, membuyarkan lamunan Niken. Tanpa menjawab gadis yang beberapa jam yang lalu sudah berstatus seorang istri tersebut langsung bangkit dan mendahului suaminya, sungguh tubuhnya saat ini merasa sangat gerah, dan ia ingin cepat-cepat keluar dari kamar itu.
Niken sengaja melangkah lebih cepat meninggalkan Rayen jauh dibelakangnya.
''Sayang jangan cepat-cepat dong jalannya, tungguin mas!" ucap Rayen saat melihat istrinya melangkah dengan sangat cepat.
''Astaga anak itu, kalau sudah ngambek bikin gemes aja.'' gumam Rayen sambil mempercepat langkahnya mengikuti sang istri.
__ADS_1
''Loh sayang, mana suami kamu? kok turun sendiri?'' tanya Lidya saat melihat putri kesayangannya hanya sendirian.
''Saya disini mba,'' jawab Rayen sambil terus melangkah mendekati istrinya.
''Sayang kamu mau main-main ya sama mas hem?'' bisik Rayen tepat ditelinga sang istri membuat Niken bergidik saat merasa hembusan nafas suaminya menerpa kulit lehernya.
''Ayo duduk kita makan, mama sudah siapain nih.'' ucap Lidya sambil mendudukan bokongnya diatas kursi.
''Papa mana mah? kok gk ikut makan?''
''Papa sedang keluar sebentar.'' jelas Lidya, Niken mengangguk paham.
...****************...
Saat ini ketiganya sedang duduk bersantai diruang tamu, rumah masih sedikit berantakan karna acara tadi siang yang masih belum sempat dibereskan.
''Rasanya mama lelah sekali hari ini,'' ucap Lidya sambil mengusap lehernya yang terasa sedikit kaku.
'' Yasudah sebaiknya mama istirahat saja dikamar, kalau masalah dekor kan bibik dan yang lainnya bisa beresin.'' ucap Niken.
''Iya sayang, kalau gitu mama keatas dulu ya? kalian juga istirahatlah.'' ucap Lidya
''Iya mah, mama duluan saja, aku dan mas Rayen masih ingin disini dulu.'' jawab Niken.
Tanpa berkata lagi Lidya langsing naik menuju kamarnya meninggalkan anak dan mantunya diruang tamu.
''Sayang kita kekamar juga yuk? mas pengen istirahat juga.''
''Mas duluan aja, aku masih mau disini.'' jawab Niken dengan nada yang masih terdengar ketus.
__ADS_1
Rayen mendekat pada istri kecilnya dan lalu membisikan sesuatu yang membuat wajah Niken seketika memerah.
NEXT