CINTAI AKU OM !!!

CINTAI AKU OM !!!
Pemakaman Leo


__ADS_3

Niken melangkah keluar dengan tertatih, dan tangan selang infus yang ada ditangannya.


'' Mah,'' panggil Niken dengan suara lirih, ia melihat Lidya sedang melihat kondisi Rayen dari luar ruangan, karna selain Rayen, ia juga harus menjaga putrinya yang saat ini masih belum sadarkan diri, beruntung ruangan putri dan menantunya itu masih bersebelahan jadi ia bisa menjaga keduanya secara bersamaan.


Lidya langsung menoleh saat ada yang memanggil dirinya.


'' Sayang kamu sudah sadar nak?'' Lidya bangkit dan langsung membantu Niken yang terlihat masih lemah.


'' Mah dimana mas Rayen mah? Aku tau pasti bukan dia yang meninggalkan mah? dimana dia sekarang aku mau lihat keadaannya.'' desak Niken sambil mencoba melangkah.


'' Sabar sayang suamimu selamat dalam kecelakaan, dan dia baru saja selesai dioprasi akibat patah tulang dibagian tangan dan juga kaki kirinya.'' jelas Lidya, Niken menghembuhkan nafas lega, walaupun mengalami patah tulang, namun Niken masih bersyukur karna Tuhan tidak mengambil nyawa suaminya, ia sungguh tidak tau jika sampai Rayen tiada, mungkin Niken akan ikut bersama suaminya itu.


Saat ini Niken sedang melihat keadaan suaminya dari luar ruangan, karna saat ini sudah jam istirahat pasien, rasanya ingin sekali ia berada didalam sana, namun suster mengatakan bahwa suaminya itu belum bisa dijenguk.


Ditempat lain, tepatnya dirumah kediaman keluarga Leo terlihat mobil ambulan baru saja datang. Bersamaan turunnya Wati dan Burhan dari mobil yang membawa mayat anaknya tersebut, dikediaman mereka sudah banyak keluarga dan para pelayat yang berdatangan. Mayat yang sebelumnya memang sudah dimandikan oleh pihak rumah sakit dan juga sudah dibungkus kain kafan langsung disholatkan dikediamannya.


Saat ini jenazah hendak dibawa kepemakaman keluarga, yang memang tak jauh dari kediaman mereka, bersamaan itu Windy dan kedua orangtuanya juga baru saja sampai dikediaman tersebut.


'' Windy, sepertinya mereka sudah akan membawa jenazahnya.'' ucap Yuna


'' Iya mah, ayo kita turun!" ajaknya setelah itu mereka langsung keluar dari mobil dan langsung ikut menuju pemakaman tersebut, sedang kan Frans yang juga baru datang langsung turun dan ikut serta kepemakaman dimana Leo akan dimakamkan.


...********...


Jenazah Leo baru saja selesai dimakamkan. Windy mendekati ibu dari mantan suaminya itu bermaksud untuk menenagkan, dan juga memberi kekuatan untuk mantan mertuanya itu yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


'' Mama Wati yang sabar ya? Aku yakin kak Leo pasti sudah bahagia didalam sana.'' ucap Windy menguatkan mantan ibu mertuanya tersebut, walaupun mereka sudah berpisah, namun Windy masih memanggil kedua orangtuanya Leo seperti ia masih menjadi istrinya Leo, dan itu adalah permintaan mereka waktu itu, dan Windy juga tidak mempermasalahkan nya karna memang ia sendiri menganggap kedua orangtua Leo seperti orangtuanya sendiri. Wati menatap wajah Windy sinis.


'' Kamu senangkan sekarang? Leo anak saya sudah tidak ada lagi didunia ini, jadi kamu bebas untuk menikah lagi dengan siapapun yang kamu mau, itukan yang kamu mau?.'' ucapan Wati membuat Windy dan orangtuanya terkejut.


'' Mah kenapa mama bicara seperti itu?'' ucap Burhan merasa tidak enak pada keluarga Windy


'' Jadi menurut papa mama harus berkata seperti apa pah? bukannya saat anak kita ingin mengajak rujuk Windy menolaknya mentah-mentah? dan sekarang setelah anak kita meninggal mama yakin pasti gadis ini menjadi semangkin bebas dan tidak merasa sungkan lagi, iyakan??'' entah kenapa Wati merasa kesal dengan Windy, padahal sebelumnya, Wati bersikap sangat baik pada Windy, walaupun gadis itu dan Leo sudah berpisah. Namun entah kenapa setelah Leo meninggal tiba-tiba sikapnya berubah menjadi ketus pada mantan istri dari putranya tersebut.


''Mba, kenapa mba Wati bicara seperti itu? Bukannya mba Wati tau, jika Windy bukan gadis seperti itu, dan saya sebagai orangtua tau jelas jika anak saya seperti apa, jadi saya mohon mba Wati jangan berkata buruk tentang Windy, Yuna mencoba mgatakannya dengan lembut, karna ini masih dipemakaman walau setiap katanya sangat jelas penuh dengan penekanan.


'' Mah sudahlah, mba Wati itu mungkin hanya masih syok aja makanya dia berkata seperti itu.'' bisik Cecep suaminya


'' Iya mama tau pah, tapi tetap saja mama gk terima jika anak kita dikatakan seperti itu,'' ucap Yuna yang masih kesal


Tak lama satu persatu penduduk dan keluarga yang ikut kepemakaman mulai pulang, begitu pula Frans dan Windy dan kedua orangtuanya setelah sebelumnya pamit kepada Wati dan juga Burhan orangtua Leo.


Saat ini Windy dan kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan menuju pulang.


''Mama gk habis pikir kenapa mba Wati bisa berkata seperti itu tentang Windy.'' gerutu Yuna, wanita paruh baya itu masih ingat jelas bagai mana mantan besannya itu berkata hal yang buruk mengenai putrinya.


'' Mah, sudahlah aku gpp kok, mungkin mama Wati berkata seperti itu, secara tidak sadar, dan juga karna masih syok atas meninggalnya kak Leo.'' ucap Windy.


'' Iya mama tau, dan mama juga ngerti kalau dia baru saja kehilangan anaknya, tapi kalau kamu bilang dia bicara karna tidak sadar dengan ucapannya sendiri, itu tidak mungkin, dia itu jelas-jelas tadi menghina kamu Windy, kalau bukan dipemakaman tadi udah mama lawan omongannya.


'' Sudah-sudah jangan bahas itu lagi, mah papa tau mama kesel dengan ucapan mba Wati tapi yang dikatakan Windy ada benarnya, lagi pula mas Burhan juga sudah minta maaf atas ucapan istrinya pada kita dan minta kita untuk tidak mengambil hati atas ucapan istrinya tadi bukan? jadi untuk apa dibahas lagi.'' jelas Cecep mengingatkan.

__ADS_1


Keesokan harinya, terlihat kondisi Niken sudah mulai membaik, saat ini gadis yang sedang hamil muda tersebut sedang berada diruangan suaminya yang masih belum sadarkan diri pasca oprasi.


'' Mas Rayen sadarlah mas, aku sangat merindukan kamu, ada hal yang ingin aku sampaikah kan sama kamu mas, dan aku yakin pasti kamu sangat senang mendengarnya, jadi tolong cepatlah sadar.'' Niken terus menggenggam tangan suaminya dan terus mengajak Rayen bicara, walaupun ia tidak tau apakah suaminya itu mendengarkan ucapannya atau tidak, yang pasti Niken sangat berharap jika suaminya itu akan mendengar ucapannya.


Tiba-tiba Niken merasakan jari tangan suaminya bergerak.


'' M-mas kamu udah sadar mas? apa kamu dapat mendengar ucapanku? tunggu sebentar aku akan panggil dokter dulu.'' Niken melepas tangan Rayen dengan pelan kemudian ia langsung beranjak keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil dokter.


'' Loh itu Niken mau kemana?'' Lidya yang tadinya baru masuk setelah membeli sarapan melihat putrinya keluar dengan tergesa membuatnya sedikit panik, ia berpikir jika kondisi menantunya itu keadaan sedang tidak baik-baik saja.


'' Niken kamu mau kemana sayang? apa ada sesuatu yang terjadi?'' tanya Lidya


'' Mas Rayen mah, tadi aku lihat tangannya bergerak, dia merespon ucapanku, dan sekarang aku mau panggil dokter.'' jelasnya


'' Benarkah? syukurlah kalau begitu, mama pikir telah terjadi sesuatu tadi, kalau gitu biar mama saja yang panggil dokter, dan kamu kembali saja kekamar Rayen.'' ucap Lidya


'' Baiklah mah, kalau gitu aku balik keruangan mas Rayen dulu.'' jawab Niken


'' Iya sayang,'' setelah itu Lidya langsung menuju ruangan dokter.


Didalam sebuah rumah terlihat seorang wanita paruh baya sedang memandang poto seseorang ditangannya, terdengar isakan dari bibir wanita itu,


'' Nak, kenapa kamu begitu cepat meninggalkan mama? rasanya hidup mama sudah tak berati lagi nak, mama sangat merindukanmu, rasanya mama ingin sekali ikut bersama mu nak,'' ucapnya sambil memeluk poto tersebut dan dia adalah Wati ibu dari Leo,


Next

__ADS_1


__ADS_2