
Sore menjelang, namun belum ada tanda-tanda Rayen akan membali keapartemennya, bahkan ponselnya juga tidak bisa dihubungi oleh Niken.
''Sebenarnya om Rayen kemana sih? bikin khawatir aja.'' gumam Niken
Karna merasa lapar akhirnya Niken memesan makanan siap saji di cafe yang ada didepan apartemen.
Sudah hampir tiga jam Viona masih belum sadarkan diri, Rayen menatap wajah tak berdaya mantan kekasihnya tersebut.
''Kenapa kau sampai melakukan tindakan bodoh seperti ini Vio? aku berharap kamu dapat melanjutkan hidupmu setelah kita putus,tapi kenyataannya kau malah menyia-nyiakan hidupmu dengan melakukan tindakan seperti ini.'' gumam Rayen
Rayen melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
''Sudah jam 3, oh ya ampun aku lupa menghubungi Niken, pasti dia marah.'' gumamnya sambil merohoh ponsel yang ada disaku celananya.
''Mati lagi,sepertinya batre nya habis.'' saat Rayen melihat ponselnya yang tak menyala.
Terlalu mengawatirkan kondisi Viona Rayen sampai lupa menghubungi Niken, namun Rayen tak mungkin juga meninggalkan Viona sendiri tanpa ada yang menjaga, sedangkan ia tau jika Viona tak punya siapa-siapa lagi disini karna kedua orang tuanya sudah lama meninggal karna kecelakaan.Akhirnya mau tak mau Rayen harus menunggui nya sampai wanita itu sadar.Karna merasa mengantuk akhirnya Rayen tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang ia letakan dipinggir bed tempat dimana Viona berbaring sekarang.
Beberapa saat kemudian..
''Eeuuhh,'' terdengar suara leguhan dibarengi dengan ringisan seseorang.Dan dia adalah Viona, setelah beberapa lama tak sadarkan diri akhirnya ia dapat membuka matanya.
''Dimana aku,'' gumamnya setelah sadarkan diri, matanya menyipit karna terasa silau dengan cahaya lampu yang ada diruangan tersebut,setelah matanya terbuka sempurna barulah ia sadar jika saat ini dirinya sedang berada dirumah sakit apa lagi saat melihat selang infus yang terpasang di tangannya, kemudian matanya menatap pada sosok lelaki yang sedang tertidur disamping ranjangnya.
''Mas Rayen,kamu disini mas.'' gumamnya pelan, tangan nya terangkat untuk mengusap kepala mantan kekasihnya itu.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, akhirnya Rayen pun terbangun dari tidurnya.
''Viona kamu sudah sadar, gimana keadaanmu sekarang? apa yang kamu rasakan? aku akan memanggil dokter dulu untuk memeriksa keadaanmu.'' ucap Rayen yang hendak bangkit, namun Viona menahannya.
''Mas aku gpp, aku gk butuh dokter, yang ku butuhkan hanyalah kamu sekarang.'' ucap Viona
''Sebaiknya biarkan dokter memeriksa kondisimu dulu,'' ucap Rayen sambil melepaskan genggaman tangan Viona padanya setelah itu ia langsung keluar dari ruangan tersebut.
''Mas apa kamu sangat mengawatirkan keadaanku? tapi kenapa aku merasa kamu seperti menjaga jarak dari ku.
Batin Viona
__ADS_1
Tak lama Rayen kembali bersama seorang dokter yang akan memeriksa keadaan Viona.
Baiklah nona Viona kita periksa dulu ya kondisi anda.'' ucap dokter tersebut sambil mengecek beberapa bagian tubuh pasien.
*
*
*
''Om Rayen benar-benar ya,masa sudah sore gini masih gk ada kabarnya, sebaiknya aku pulang saja lah percuma juga nungguin dia yang belum pasti jam berapa pulangnya.'' monolognya setelah itu ia langsung bergegas keluar dari apartemen tersebut.
Namun saat Niken baru keluar dari apartemen milik Rayen tak sengaja ia melihat Regan berjalan sendirian disana
''Itu kan abangnya Putri, sedang apa dia disini?'' gumam Niken entah kenapa ia sangat penasaran, dan tanpa sadar ia mengikuti langkah Regan.
Regan yang merasa ada yang mengikutinya, namun ia masih berpura tak mengetahuinya.
''Loh, kemana dia? kok cepat sekali ngilangnya.'' gumam Niken, merasa kehilangan jejak akhirnya ia memutuskan untuk pulang, namun saat ia hendak berbalik alangkah terkejutnya Niken saat melihat Regan sedang berdiri dihadapannya dengan tangan yang menyilang didada.
''Bang Regan,'' pekik nya karna merasa kaget melihat Regan yang tiba-tiba berdiri didepannya.
''Maksudnya? siapa juga yang ngikuti abang? kepedean banget.'' ucap Niken berkilah
''Oya, tapi kok saya tidak percaya sama sekali dengan ucapanmu ya?!.'' sambung Regan
''Ya kalau gk percaya yasudah, minggir aku mau pulang!" ucap Niken yang males meladeni ucapan Regan.
''Katakan dulu kenapa kamu mengikuti saya?'' ulang Regan lagi, sambil menghalangi langka Regan.
''Apaan sih abangnya Putri, menyebalkan sekali, sama seperti adiknya yang terkadang suka bikin kesel.'' gerutu Niken
''Kamu bilang apa barusan?
''Hah? emang aku bilang apa? aku kan gk bilang apa-apa.'' jawab Niken bohong.
''Oya klau boleh tau abang ini umurnya berapa sih? kok kayaknya seumuran sama om aku ya? gimana kalau ku panggila om saja?'' ucap Niken asal membuat Regan semangkin geram.
__ADS_1
''Heh bocah, sejak kapan saya nikah sama tante kamu? sembarangan panggil saya dengan sebutan om segala, emang saya setua itu apa?.'' gerutu Regan.
''Awas ya kalau lain kali saya melihatmu mengikuti saya lagi, kamu akan tanggung akibatnya.'' setelah mengatakan itu Regan langsung pergi meninggalkan Niken.
''Bisanya cuma ngancem, om kamu pikir aku takut sama ancamanmu itu? aku tidak takuutt.'' ucap Niken dengan sedikit berteriak karna memang Regan sudah berjalan jauh darinya.
''Iihh, kok abangnya Putri nyebelin banget sih,awas aja kalau ketemu lagi.'' gerutunya setelah itu ia langsung menuju lift.
Sepeninggalan dokter,Rayen kembali duduk dikursi tepat disamping tempat tidur Viona
''Kenapa kau lakukan ini Vio, apa kau tidak memikirkan masa depanmu? kenapa beniat bunuh diri hah? kenapa bisa berpikir sangat pendek?.'' ucap Rayen yang tak habis pikir dengan cara berpikir wanita yang ada dihadapannya saat ini.
''Masa depanku ada pada mu mas, jadi jika kau meninggalkanku aku sudah tidak ada masa depan lagi, karna aku tak bisa hidup tanpamu.'' jelas Viona membuat Rayen menghela nafas berat.
''Vio dengarkan aku baik-baik! kamu itu masih muda, seorang model dan pasti yang mengaggumi kamu juga banyak, aku ingin mulai dari sekarang kamu harusmeneruskan hidupmu tanpa aku didisimu.'' pinta Rayen.
Viona menggeleng cepat, menandakan kalau ia tak ingin melakukannya.
''Bagai mana mungkin kamu tega berkata seperti itu pada ku mas, aku sangat mencintaimu dan aku---aahhh,'' tiba-tiba Viona meringis seperti merasakan sakit dibagian tubuhnya.
''Vio kau kenapa? sebelah mana yang sakit?'' Rayen panik saat melihat kondisi Viona yang tiba-tiba menurun.
Rayen segera menekan tombol yang ada di ruangan tersebut, tak lama dokter dan suster datang dengan sedikit berlari.
''Apa yang terjadi pak? bukankah tadi kondisi nona Viona sudah mulai stabil?'' ucap dokter sambil memeriksa keadaan pasiennya.
Saat ini Viona terlihat memejamkan matanya, setelah tadi sempat diberi suntikan oleh suster.
''Bisa kita bicara sebentar pak Rayen?'' ucap dokter.
''Baik dok.'' jawabnya smbil mengikuti langkah dokter tersebut.
''Saat ini Rayen sudah berada diruangan dokter.
''Sebenarnya apa yang terjadi pada Viona dokter?
''Pak Rayen, sepertinya nona Viona mengalami stres dan juga tekanan, saya harap anda bisa membantu nona Viona agar pikirannya tenang dan tidak mudah stres agar dia bisa cepat puluh sepeeti sedia kala.
__ADS_1
BERSAMBUNG