
Dikediaman keluarga pak Cecep dan bu Yuna terlihat saat ini keluarga itu sedang menikmati makan malam mereka.'' Sesil mana mah, apa malam ini dia tidur diapartemen lagi?'' tanya sang suami disela-sela makannya.
'' Sepertinya begitu pah, soalnya tadi dia telpon mama kalau jam delapan tidak pulang kemungkinan dia tidur diapartemen.'' jawab Yuna, sedangkan Windy hanya diam tanpa berniat ikut terlibat dalam pembicaraan kedua orangtuanya.
'' Oya Win, giman hubungan kamu dengan Regan?'' tanya Yuna tiba-tiba membuat Windy langsung menatap sang ibu.
'' Baik mah, besok rencananya papa dan mamanya bang Regan ingin bertemu dengan ku.'' ucap Windy membuat kedua orangtuanya saling pandang.
'' Kamu serius?'' tanya Cecep dan Yuna kompak, pasalnya selama Sesil jadi pacar Regan selama dua tahun putri sulungnya itu mengatakan tidak pernah bertemu dengan kedua orangtuanya, karna Regan bilang keduanya selalu sibuk namun saat dengan Windy mereka seperti mempunyai banyak waktu.
'' Papa dan mama kenapa seperti kaget gitu?'' tanya Windy heran.
'' Oh gpp, bagus lah kalau merek ingin bertemu dengan mu, itu berarti Regan memang serius sama kamu.'' ucap Yuna, ia lupa jika Windy adalah sahabat Putri dan tentu Windy sudah pernah bertemu dengan kedua orangtua Regan beberapa kali,
KEESOKAN HARINYA..
Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang, saat ini Windy sedang berdiri didepan cermin sambil memperhatikan penampilannya, karna sebentar lagi ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya Regan dan ia tak ingin terlihat buruk dimata mereka.
'' Kok aku deg-degan ya? padahal ini bukan pertama kali aku bertemu dengan mereka.'' gumamnya pelan.
'' Cantik amat mau kemana kamu?'' tanya Sesil, entah sejak kapan wanita itu sudah berada dikamar sang adik.
'' Aku mau kerumahnya bang Regan kak, keluarganya mengundangku makan siang disana.'' jelas Windy sambil merapikan rambutnya.
'' Benarkah? maksudmu kedua orangtua Regan? '' Sesil seolah kurang yakin bagai mana mungkin Windy yang baru beberapa bulan menjalin hubungan dengan Regan, kedua orangtuanya bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengannya, sementara dirinya yang selama dua tahun sangat sulit untuk bertemu dengan kedua orangtua Regan, hanya Putri saja sebagai keluarga Regan yang pernah makan bersama dengannya.
__ADS_1
'' Iya kak, yasudah aku berangkat dulu ya, sepertinya bang Regan sudah sampai.'' setelah itu ia langsung keluar dari kamanya meninggalkan Sesil sendiri, walau pun Sesil mencoba merebut Regan darinya, namun Windy tak pernah merasa benci pada kakak nya itu, walaupun terkadang merasa kesal dengan sifat sang kakak, namun itu hanya sesaat, dan ia tidak terlalu mempermasalahkannya, toh ia berpikir jika memang Regan tulus padanya pasti lelaki itu tidak akan berpaling darinya.
Apa aku harus benar-benar melepaskan Regan untuk Windy, tapi aku masih tidak rela rasanya melihat mereka bersama.
Batin Sesil yang masih menatap kepergian Windy dan Regan dari jendela kamar Windy
***
'' Kamu kenapa tegang sekali?'' tanya Regan saat ini mereka baru saja sampai dirumah Regan
'' Bagai mana aku gk tegang bang, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan kedua orangtua abang sebagai kekasihmu dan aku takut mereka gk suka sama aku, apa lagi abangkan tau jika aku ini seorang janda.'' ucapnya sendu, tiba-tiba saja Windy menjadi tak percaya diri, ia takut jika kedua orangtua Regan tak menyukainya.
'' Bukan ya sebelumnya kamu sudah pernah bertemu dengan mereka, ya walaupun waktu itu hanya sebagai sahabat Putri tapi kan gk ada bedanya.'' jelas Regan, sambil menjeda ucapannya.
'' Sayang dengerin aku, kamu itu jangan berpikir yang macam-macam dulu, dan satu lagi, bukan aku pernah bilang jangan pernah menyebutkan status lagi, kamu lupa ya?
'' Sudah jangan tegang, yuk masuk!" ajak Regan, namun sepertinya Windy masih sedikit ragu
'' Penampilanku gimana?'' tanya Windy sambil memperbaiki penampilannya
'' Udah cantik banget sayang, udah yuk!" Rangga kembali mengajak Windy sambil mengulurkan tangannya yang lansung disambut oleh wanita tersebut.
Saat masuk Windy dan Rangga mendengar suara dari ruangan keluarga, ternyata disana sudah ada Rangga dan juga Putri, tentunya bersama kedua orangtua gadis itu.
'' Hai semua,'' ucap Regan begitu berada dihadapan mereka. Tiba-tiba jantung Windy berdetak dua kali lipat kencangnya, saat semua mata tertuju pada dirinya, terlebih dua orang paruh baya yang melihat dengan intens padanya.
__ADS_1
'' Ini calon yang sering kamu bilang itu Regan??'' tanya Ambar sambil terus memperhatikan Windy dari atas hingga kebawah. Windy mengikuti arah pandang wanita paruh baya tersebut, meneliti apa ada yang salah dalam cara ia berpakaian pikirnya.
''Kenapa berdiri saja, kemarilah!" ucap Johan memecah suasana ketegangan disana.
'' Ayo sayang.'' ajak Regan yang diangguki oleh Windy, gadis itu melangkah menuju kedua orangtua Regan untuk berkenalan secara resmi.
'' Om, tante,'' ucapnya salim pada keduanya secara bergantian.
'' Jadi kamu wanita yang selalu Regan banggakan itu??'' Ambar kembali menatap kekasih dari putranya itu, dalam hati Windy merasa sangat khawatir kalau-kalau orangtua dari Regan tak menyukainya, ia hanya bisa merapalkan doa dalam hati semoga saja kedua orangtua Regan merestui hubungan mereka.
'' I-iya tante saya Windy, kekasihnya bang Regan, sekaligus sahabatnya Putri.'' jawabnya, membuat Ambar menatap pada anak gadisnya seolah meminta penjelasan.
'' Iya mah, dia Windy sahabat aku yang biasa main kesini bersama Niken.'' Putri menjelaskan membuat Ambar langsung merubah ekpresi wajahnya, yang tadinya sedikit serius kini terlihat biasa, membuat Windy sedikit menghela nafasnya, namun tetap saja ia masih merasa tegang karna seperti nya calon ibu mertuanya itu masih terlihat belum ada menunjukan tanda-tanda perdamaian.
Ambar masih menatap Putri, lalu melirik pada Windy, membuat gadis itu tersenyum canggung.
'' Benarkah itu, berarti dia janda dong?'' jawab Ambar, membuat jantung Windy kembali berdegup kencang, ia berpikir setelah ini pasti orangtua Regan akan mengusirnya, seperti sinetron yang sering ditonton oleh ibunya dirumah.
Ia tak tau apa yang diceritakan Putri tentang dirinya pada Ambar, apapun itu Windy pasrah menerimanya, namun jika boleh meminta, Windy berharap semoga saja tidak berpengaruh buruk pada hubungannya bersama Regan,
'' Iya mah, tapi janda terhormat, kan tadi malam aku udah ceritakan tentang sahabat aku itu, dan yang ku maksud ya Windy yang ini.'' jelas Putri, membuat Windy menatap kearahnya dengan kening bertaut seolah meminta penjelasan, namun sahabatnya itu hanya mengangkuk seolah mengatakan jika semuanya baik-baik saja.
'' Sudahlah jangan dibahas lagi sebaiknya kita makan saja dulu, papa sudah sangat lapar ini.'' ucap Johan membuat suasana sedikit mencair. Sedangkan Rangga sejak tadi hanya menyimak saja tanpa ingin ikut terlibat pembicaraan.
Saat ini semuanya sedang menikmati makanan yang ada diatas meja, terlihat Windy dengan sigap mengambilkan nasi beserta teman-temannya lalu meletakkan nya didepan Regan, membuat laki-laki tersebut tersenyum sambil mengucapkan terimakasih, adegan itu sempat membuat orangtua Regan saling pandang, lalu tersenyum samar. Setelah itu pandangan keduanya berpindah pada anak gadis mereka yang terlihat juga sedang melakukan hal yang sama.
__ADS_1
'' Pah, sepertinya kita sudah terlalu lama melewatkan waktu bersama dengan mereka, sekarang mereka ternyata sudah sangat dewasa.'' ucap Ambar pelan, karna meja yang mereka tempati lumayan besar hingga jika saat ada yang bicara dengan pelan tidak akan ada yang mendengar, apa lagi terlihat mereka sibuk dengan pasangan masing-masing.
Next