
Hai para readers yang budiman, terimakasih atas dukungannya dikarya author yang satu ini, tapi otornya sedikit sedih walaupun banyak view nya tapi yang ngelik cuma dikit, bahkan gk lebih dari like pavorit. hiks-hiks
Tapi otornya tetap berterimakasih sama kalian karna masih tetap setia sampai saat ini, itu udah cukup membuat otornya semangat buat lanjutin novel ini 😊
â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§â™§
Sore menjelang, Putri tengah mempersiapkan penampilannya untuk pergi bersama Rangga.Setelah kurang lebih 5 kali berganti pakaian, akhirnya ia menemukan pakaian yang cocok dirasanya untuk pergi dengan pujaan hatinya tersebut, saat ini Putri menggunakan drees lengan panjang dengan bagian leher yang sedikit terbuka hingga menampilkan lehernya yang putih mulus.Setelah dirasa cukup Putri pun langsung keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.
''Bik aku mau keluar bentar ya, nanti kalau bang Regan tanya bilang saja aku pergi sam temanku.'' seru Putri pada Art
''Baik non.'' jawabnya
Tak lama terdengar suara notif dari ponsel Putri yang ternyata dari Rangga
''Putri aku sudah didepan gerbang rumah kamu.
Itulah isi pesan dari Rangga.Putri tak membalasnya namun secepat nya ia berlari menuju gerbang rumahnya tersebur.
''Hai Ga, maaf udah nunggu.'' ucap Putri
''Santai aka aku juga baru nyampe kok.'' ucapnya sambil membukakan pintu mobil dari dalam.
Rangga memperhatikan Putri sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya.
''Kamu kenapa Ga? kok lihatin akunya kayak gitu? aku jelek ya?'' ucap Putri sendu.
''Justru hari ini kamu terlihat sangat cantik, makanya aku liatin kamu sejak tadi.''
perkataan yang diucapkan Rangga sontak membuat Putri tersipu, kini wajahnya terasa memanas.
''Omg Rangga bilang gue cantik, duuhh meleleh deh rasanya di puji sama Rangga.
Batin Putri sambil terus tersenyum, Rangga melirik sekilas kemudian ia juga ikut tersenyum.
''Mau kemana hari ini kita?''tanya Rangga membuat lamunan Putri seketika buyar.
''Mau kemana lagi kalau bukan ke cafe milik kamu.'' jawab Putri
__ADS_1
''Cafe Rangga?'' tanya nya memastikan
''Iya, cafe Rangga.'' sambungnya tersenyum.
Tanpa bertanya lagi Rangga langsung melajukan mobilnya menuju cafe yang dimaksud.
DITEMPAT LAIN..
''Ray tadi mantan loe nyariin.'' ucap Leo sambil mendudukan bokongnya di atas sofa.
''Viona maksud kamu?
''Emang siapa lagi mantan loe? Niken?'' tanya Leo membuat dirinya mendapat lemparan bantal sofa diwajahnya.
''Ngomong sekali lagi, saya jahit tuh mulut.'' ucap Rayen membuat Leo terkekeh pelan.
''Mau apa dia cari saya?
''Mana gue tau, dia gk bilang.'' jawab Leo
''Oyq, jadi ngomong-ngomong Niken belum mutusin loe? gue kira udah, habisnya muka loe itu menderita banget kayak orang yang gk ada gairah hidup aja.'' ucapnya asal
Leo melirik pada Rayen, sebenarnya ia merasa kasihan juga melihat nasip sahabatnya itu tapi mau gimana lagi, dari awal itu kesalahan Rayen sendiri, kenapa dia tak jujur saja dengan Niken.
''Tapi Ray, memangnya loe benar-benar gk tau ya kalau Windy dan Putri itu teman-temannya Niken? bukannya selama ini loe sering jemput dia kesekolah masa gk pernah liat mereka?'' Leo begitu penasaran, pasalnya Windy bilang, setiap kali Rayen datang menjemput Niken selalu ada mereka juga disana, masa iya Rayen sama sekali gk melihat mereka pikirnya bingung.
''Sebenarnya setiap kali saya menjemputnya disekolah, saya tidak pernah memperhatikan teman-temannya,karna mata saya hanya fokus pada wajah Niken saja, makanya saya tidak tau kalau Windy dan Putri itu adalah temannya Niken.'' jawab Rayen
''Waah, parah loe, kayaknya udah cinta mati nih sama Niken, sampai perempuan lainpun udah gk dipandang lagi.'' ejek Leo membuat Rayen memutar bola mata malas.
''Saya bingung harus apa sekarang, sejak pagi saya sudah kirim pesan namun sama sekali tak dibalas cuma di baca doang, bahkan saya telpon pun dia gk mau angkat.'' keluh Rayen.
''Namanya juga ABG labil, bisa saja besok-besok loe udah diputusin sama dia,'' goda Leo membuat Rayen mrnatapnya horor.
''Itu gk akan pernah terjadi, Niken hanya milik saya sampai kapanpun.'' ucapnya serius.
Namun tiba-tiba Rayen membereskan semua barang miliknya, membuat Leo menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
''Eh mau kemana loe Ray? kita masih ada meeting ini satu jam lagi.'' ucap Leo saat melihat Rayen mengambil jas dan memasuka laptopnya kedalas tas.
''Pulang. kamu aja yang handle semuanya saya percaya sama kamu.'' jawab Rayen sambil melangkah keluar dari ruangan tersebut.
''Kebiasaan tuh anak, selalu gue yang ditumbalin.'' gerutu Leo
Sedangkan Rayen saat ini sudah berada didalam mobilnya, ia berniat akan langsung ke kediaman keluarga Mahendra.Mengingat ia tau bahwa abang dan kakak iparnya sedang ada diluar kota jadi Rayen merasa sedikit bebas untuk menghadapi kekasihnya yang sedang marah itu.
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya mobil yang ditumpanginya sampai dikediaman yang ia tuju.
''Bik, Niken ada?'' tanya Rayen begitu melihat Art baru saja keluar dari rumah tersebut.
''Ada den, mungkin lagi dikamar, bibik mau kepasar dulu sebentar ada yang ingin dibeli.'' ucap Art tersebut.
''Iya bik.'' setelah mengucapkan itu Rayen langsung masuk kedalam rumah, tujuan utamanya adalah kamar sang kekasih.
Didalam kamar saat ini Niken sedang menonton film draktor kesukaannya, ia hanya memakai tanktop dan hotpans yang sangat pendek bahkan nyaris bisa dibilang seperti dala*man.
Diluar kamar Rayen sudah berdiri dan bersiap untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok-tok-tok
''Iya bik masuk aja!" ucap Niken dari dalam karna berpikir jika itu adalah asisten rumah tangganya.
Ceklek, terdengar suara pintu terbuka tak lama tertutup kembali. Niken yang memang tak melihat siapa yang masuk karna masih asik menatap layar laptopnya tiba-tiba mengerenyitkan dahi saat mencium aroma yang tak asing dihidungnya. Karna aroma itu berasal dari parfum yang biasa digunakan Rayen, walaupun sudah seharian wanginya tak akan hilang.Dengan cepat Niken langsung menatap kearah pintu kamar yang ternyata ada Rayen yang memperhatikan nya sejak tadi saat ini lelaki tersebut sedang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya dibalik pintu.
''Om Rayen.'' ucapnya pelan
Rayen melangkah mendekati tempat tidur dimana saat ini Niken berada, lalu duduk diujung tempat tidur.
Melihat itu Niken langsung mematikan layar laptopnya dan menaruhnya diatas tempat tidur.
''Om mau apa kesini?'' tanya Niken sedikit ketus.
''Kamu masih marah sama om? om kan sudah minta maaf, apa kamu gk mau maafin om Sayang?'' ucap Rayen dengan tatapan sendu.Niken kangsung membuang pandangannya kesembarang arah, karna jujur saja ia tak tega melihat wajah memelas Rayen, namun disisi lain ia masih sangat marah dengan lelaki itu karna sudah membohonginya.
''Aku ingin lihat seberapa keras usaha om untuk meluluhkan hatiku.
__ADS_1
NEXT