
Keempat remaja tersebut masih asik mengobrol, terutama Niken, sampai ia tak menyadari ada seseorang yang sejak tadi telah menunggu dirinya, yang ternyata tak jauh dari parkiran terlihat ada sebuah mobil sedan hitam yang terparkir sejak tadi, dan ya dia adalah Rayen, sejak Niken dan Putri keluar dari sekolah, dan melangkah menuju parkiran, sebenarnya Rayen sudah ingin keluar untuk menemui mereka, namun saat melihat Rangga dan Niko memanggil keduanya, ia mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu mobilnya. Rayen berpikir mungkin sebaiknya ia menunggu saja didalam mobil, hingga istrinya datang.
Namun setelah lima belas menit Rayen menunggu, namun tak ada tanda-tanda istrinya itu akan datang, sebenarnya Rayen memang sengaja tak memberitahu Niken jika dirinya akan menjemput istrinya itu disekolah, saat ini pun Rayen masih menunggu tanpa ingin menghubungi Niken untuk menberitahukan pada istrinya itu jika dirinya sudah menunggu disana, Rayen hanya ingin melihat dan memastikan bagai mana istrinya tersebut jika disekolah dan tanpa pengawasannya.
Mata Rayen sejak tadi tak lepas dari keempat remaja itu, apa lagi pada sosok Niken, matanya terus menatap dengan penuh arti kearah sang istri.
'' Mau sampai kapan kamu berada disana sayang? apa kamu merasa nyaman dengan adanyq pemuda itu disana? dan apa kamu tidak merasakan kehadiranku disini?'' gumam Rayen, dan entah bagai mana disaat itu juga Niken langsung melihat kearah Rayen, tepatnya kearah mobil Rayen yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Mungkin karna memang mereka memiliki ikatan batin, hingga Niken merasa jika Rayen sedang memikirkan nya.
Mas Rayen? itukan mobilnya, sejak kapan dia disana, apa jangan-jangan dia sudah sejak tadi disana?
'' Maaf ya semua, aku udah dijemput, kalau gitu aku duluan ya? bye...'' ucap Niken tanpa menunggu jawaban temannya, setelah itu langsung melangkah dengan sedikit berlari menuju mobil milik suaminya.
'' Loh anak itu main pergi aja.'' gerutu Putri pada sahabatnya tersebut.
'' Mas udah lama??'' tanya Niken setelah masuk kedalam mobil, saat ini ia melihat suaminya tengan memejamkan matanya sambil bersandar disandaran mobil. tiba-tiba saja Niken merasakan suasana yang mencekam didalam ruangan mobil tersebut.
'' Mas,'' panggil Niken lagi saat merasa Rayen masih belum merespon ucapannya.
__ADS_1
'' Sudah selesai ngobrolnya? baiklah kalau begitu kita pulang.'' ucap Rayen dingin, yang langsung menyalakan mesin mobil miliknya.
Sepanjang perjalanan, Rayen sama sekali tak bicara sepatah katapun membuat Niken menduga jika suaminya itu marah padanya.
Sunyi, tak ada pembicaraan yang terdengar didalam mobil, apa lagi Rayen ia lebih memilih fokus dengan kendaraan miliknya
'' Mas, mas marah sama aku? kenapa sejak tadi diam saja?'' ucap Niken yang akhirnya membuka pembicaraan.
'' Marah? buat apa mas marah sama kamu? apa ada alasan yang menurut kamu membuat mas harus marah sama kamu? coba katakan!" tanya Rayen pelan, namun terdengar tegas.
'' Maaf tadi aku gk tau kalau ternyata mas sudah menungguku lama, karna aku tidak tau jika mas Rayen mau menjemputku disekolah, sekali lagi aku minta maaf kalau mas sudah terlalu lama menunggu ku tadi disana.'' ucap Niken, yang menurutnya suaminya marah karna sudah lama menunggu dirinya, sebenarnya sih bukan itu yang membuat Rayen marah pada Niken, mau selama apapun ia menunggu tidak akan jadi masalah, yang menjadi masalahnya sekarang adalah karna kedekatannya terhadap pemuda yang bernama Niko, dan itulah masalah yang sebenarnya, hanya Niken tidak mengerti, sebab yang ia tau, Rayen hanya melarangnya agar tidak berduaan dan juga berdekatan dengan pemuda lain, sedangkan tadi mereka ber empat, jadi menurut Niken tak akan jadi masalah.
Mas Rayen kenapa sih masih diam aja, apa karna bukan itu alasannya yang membuat dia marah? jadi apa? apa karna aku ngobrol sama Putri dan yang lainnya? atau jangan-jangan dia marah karna....
Batin Niken terus menebak-nebak, apa yang membuat suaminya itu sejak tadi terus mendiaminya, namun ia terpikir sesuatu, apa mungkin suaminya itu merasa cemburu karna tadi ia sedang bersama Niko tapikan mereka tidak hanya berdua saja, namun jika benar dugaannya maka sepertinya Niken harus melakukan sesuatu.
Sementara dirumah kedua orangtua Windy, terlihat Yuna dan Cecep sedang berada diruang tamu, saat ini mereka sedang kedatangan tamu, dan mereka adalah kedua orangtua Leo, sekaligus sahabat mereka semasa kuliah dulu.
__ADS_1
'' Yuna, Cecep, kami mohon, tolonglah bujuk Windy sekali lagi agar ia mau membatalkan niatnya untuk bercerai dengan Leo.'' pinta Wati penuh permohonan.
'' Iya Cep, kita ini kan sahabat, kami tau Leo itu salah, dan dia pantas dihukum, tapi tolonglah jangan menghukuknya dengan membiarkan mereka bercerai, apa kata orang jika nanti mereka berpisah, mereka akan menggunjing anak-anak kita, terlebih Windy, dia masih sangat remaja, dan baru berumur tujuh belas tahun, emangnya kalian siap melihat putri kalian jadi janda diusianya yang masih sangat remaja?.'' ucap Burhan, berharap besannya tersebut mau mempertimbangkan keputusan putri mereka dan membujuknya agar membatalkan niat nya ingin berpisah dengan Leo putra mereka, karna jika itu terjadi pasti banyak yang bertanya-tanya perihal alasan mereka berpisah, dan kedua orangtua Leo tak ingin aib itu sampai tersebar nantinya, karna pasti akan membuat keluarga mereka malu.
'' Maafkan kami Wati, Burhan, semua keputusan ada ditangan Windy, percuma jika kami membujuknya, dia tidak akan mendengarkan ucapan kami, lagi pula memangnya kalian berdua bisa menjamin jika putra kalian itu tidak akan mengulangi kesalahannya dimasa mendatang? tidak bisa kan? sudahlah, sebaiknya kita tidak usah ikut campur, dan kami sebagai orangtua Windy, sangat mendukung keputusan putri kami, jika memang dia ingin bercerai dengan suaminya Leo, masalah status setelah perceraian nanti kami rasa tidak akan mempengaruhi kehidupan Windy, lebih baik dia hidup sebagai janda dari pada harus hidup sebagai seorang istri , namun diselingkuhi oleh suaminya, tentu kami tidak akan rela melihat putri kami diperlakukan seperti itu oleh suaminya.'' jelas Yuna, membuat Wati dan Burhan tak bisa lagi berkata-kata.
Ternyata tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka dari awal, dan siapa lagi kalau bukan Windy, jujur saja ia merasa bersyukur mempunyai kedua orang tua seperti Yuna dan Cecep, karna mereka lebih mementingkan kebahagiaan putrinya ketimbang nama baik keluarga, karna dengan dirinya bercerai, bisa saja kan nantinya orang akan mencemoohkan nya karna statusnya sebagai janda, karna memang kebanyakan status sebagai seorang janda selalu dipandang negatif oleh kebanyakan orang, apa lagi dikalangan kaum ibu-ibu yang selalu gemar bergosif disetiap ada kesempatan. Namun Windy tak akan membiarkan itu terjadi, ia akan membuktikan pada semua orang bahwa tidak semua perempuan yang hidup sebagai seorang janda itu buruk, dan dia akan buktikan jika dirinya adalah janda yang terhormat.
DILAIN TEMPAT..
Saat ini Niken dan Rayen sudah berada diparkiran apartemen, saat Rayen ingin membuka pintu mobil tiba-tiba saja Niken menghentikannya, dengan menarik tangan suaminya itu.
'' Mas katakanlah sesuatu, biar aku tau letak kesalahanku dimana? aku tau kamu bukan marah karna tadi menungguku terlalu lama, iya kan? mas Rayen, apa mas marah karna tadi aku berbicara dengan Niko?'' tanya Niken hati-hati
Rayen menatap kearah Niken saat gadis itu menyebutkan nama pria lain.
'' Oh, jadi namanya Niko??
__ADS_1
NEXT