
Jam masuk sekolah sudah dimulai dari satu jam yang lalu, tak terasa mata pelajaran pertama juga sudah selesai. Terlihat Rangga sedang melamun sambil menopang dagunya dengan satu tangannya
'' Hey bro, melamun aja mikirin apaan sih?'' tanya seseorang dan dia adalah Niko.
Rangga yang melihat kedatangan sepupunya itu langsung membenarkan posisinya, Rangga menatap malas pada Niko, tiba-tiba saja ia kembali teringat saat Niko mengantarkan kekasihnya tadi malam tanpa meminta ijin dulu padanya bahkan sampai saat ini sepertinya Niko juga tidak ada berniat untuk mengatakannya kepada dirinya, dan itu membuat Rangga semangkin kesal dengan sepupunya tersebut, sebenarnya sih memang tidak ada salahnya, setidaknya ia merasa lega jika kekasihnya itu tidak pulang sindirian, namun tetap saja ada rasa tidak rela dihatinya, ia merasa cemburu dengan kedekatan mereka.
' Gue gpp,'' jawabnya malas, Niko mengerutkan dahi meluhat tingkah sepupunya itu.
Kenapa nih anak? Salah minum obat kali yah.
Batin Niko
Saat ini Niken dan kedua sahabatnya sedang berada di kantin sekolah, ketiga gadis cantik itu sedang menikmati makanan yang saat ini mereka pesan, namun berbeda halnya dengan Niken, terlihat gadis itu sedang memesan seblak dengan extra pedas.
'' Loe yakin mau makan itu Ken? Kayaknya itu pedas banget deh, kuahnya sampai merah gitu.'' ucap Windy
'' Ya ampun Windy, kan kuahnya memang berwarna merah, gimana sih loe.'' ucap Putri sambil menggelengkan kepalanya
'' Iya juga sih, tapi ini merah banget loh Put,'' sambungnya lagi saat melihat seblak milik Niken.
'' Ini enak tau gk Win, lagian kalau gk pedas mana enak.'' jawab Niken sambil melahap makanan miliknya.
Saat ketiga asik menikmati makanan mereka tiba-tiba terlihat Misya dan temannya lewat didepan mereka, dengan santainya kedua gadis itu melangkah dan langsung duduk disalah satu bangku yang tak jauh dari mereka, Putri yang melihatnya tiba-tiba tak berselara makan, padahal tadinya ia sangat lapar, namun saat melihat Misya rasa laparnya tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
'' Ck, si miskin lewat bikin gk nafsu makan aja.'' gumamnya sambil terus menatap pada Misya yang batu saja menduduki kursi miliknya.
'' Kamu kenapa Put? Kok gk dimakan? Tadi katanya laper banget.'' ucap Niken yang melihat Putri tiba-tiba menjauhkan makanan miliknya.
'' Tiba-tiba gue enek liat makanan gue, apa lagi saat melihat ada si miskin disini.'' sindir Putri pedas, ia sengaja membesarkan volume suaranya agar Misya dapat mendengarnya.
'' Maksud kamu apa? Kamu ngatain aku miskin?'' Misya tak terima oleh ucapan Putri
'' Perasaan banget loe, emangnya barusan gue nyebutin nama loe? enggak kan? tapi kalau loe merasa ya lebih bagus, jadi loe bisa menempatkan diri dengan posisi loe." ucap Putri
'' Kamu kenapa sih gk suka banget kayaknya sama aku? kenapa ucapanmu selalu sangat menyakitkan? memangnya salahku apa sama kamu? aku heran kenapa Rangga bisa memilih gadis manja dan bermulut pedas sepertimu menjadi kekasihnya.'' sambungnya lagi, dan tentu saja itu hanyania ucapkan dalam hati.
Mendengar ucapan gadis yang ada didepannya membuat Putri tersenyum sinis.
Munafik banget sih nih cewek, sok muka nya melas gitu, mau ambil simpatik semua orang yang ada disini?
'' Putri udah dong malu diliatin anak-anak yang lain.'' Niken berusaha meredakan emosi sahabatnya itu.
'' Iya Put, sebaiknya kita pergi saja yuk?'' sambung Windy.
'' Iihh, kalian apaan sih, ngapain kita yang harus pergi, harusnya kan orang kampung ini yang harus angkat kaki dari kantin ini, kalau perlu dari sekolah kita ini sekalian.'' ucap Putri pedas.
'' Putri, udaah! lagian kamu gk boleh menghina dia, kasian.'' Niken berucap sambil menatap wajah Misya yang terlihat sedih dan malu karna dihina oleh Putri.
__ADS_1
''Biarin aja, toh kenyataannya memang seperti itu, dia memang miskin jadi mau diapain lagi.'' Putri masih saja menghina gadis tersebut, terlihat Misya mengepalkan tangannya, sungguh ia merasa sangat terhina oleh ucapan yang keluar dari mulut Putri.
Niken melirik kearah Windy, Windy yang paham langsung menganggukan kepalanya, sedetik kemudian keduanya langsung menarik tangan Putri dan mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.
'' Eehh kalian ngapain seret gue kesini? gue belum siap ngomong sama si calon pelakor itu.'' ucap Putri kesal.
'' Udah deh Put, gk usah buat malu, bukannya kamu dan Rangga saat ini juga masih belum baikan, coba kamu pikir kalau dia tau kamu kembali melabrak Misya pasti dia bakalan tambah marah lagi sama kamu.'' ucap Niken mengingatkan
'' Tau nih anak, jadi cewek itu yang kaleman dikit napa, jangan terlalu bar-bar, bisa-bisa Rangga ilfil lagi sama loe.'' sambung Windy membuat Putri hanya bisa mendengus sebal.
*
*
*
Setelah kepergian Putri dan kedua sahabatnya Misya juga langsung keluar dari kantin tersebut.
'' Gila ya tuh orang, mentang-mentang anak orang kaya seenaknya menghina orang lain, kayaknya kamu harus kasih tau Rangga Sya, jika pacarnya itu telah menghina kamu didepan banyak orang, tadi jika aku jadi kamu udah ku kasih sambel mulutnya itu.'' ucap teman Misya yang bernama Desi, ia sangat geram saat melihat perbuatan Putri tadi kepada Misya.
'' Sudahlah, kurasa tidak perlu memberitahu Rangga, lagi pula dia kan kekasihnya, mana mungkin Rangga akan percaya begitu saja dengan cerita kita, Putri gk salah kok, lagian bukannya yang dikatakannya itu benar? aku kan memang orang miskin Des.'' ucapnya sendu
'' Walau sekalipun yang dia ucapkan benar, tapi gk pantas dia sampai menghina kamu seperti itu, si Rangga kok bego banget ya jadi cowok, kayak gk ada perempuan lain aja, ngapain cewek bar-bar dan gk bisa menghargaian orang lain kayak Putri dipacarin, mendingan kamu kemana-mana, walaupun bukan orang kaya, setidaknya kamu gk akan menghina orang sembarangan seperti perempuan itu, aku benar- benar salut sama kamu, kamu tau gk Sya, kamu tuh sabar banget ngadapin Putri, walaupun sudah dihina didepan orang banyak tapi kamu bisa sabar menghadapinya.'' ucap Desi sedangkan Misya hanya tersenyum kecut mendengar ucapan temannya tersebut. Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang sejak tadi mendengarkan ucapan mereka dan dia adalah Rangga. Dengan tangan terkepal Rangga pun langsung meninggalkan tempat tersebut untuk mencari keberadaan Putri. Setelah kepergian Rangga ada yang tersenyum, terlihat ia menarik sudut bibirnya sambil terus menatap punggung Rangga yang kian menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Next
Happy weekend para readers sekalian, ingat ya selalu budayakan like setelah membaca🤗😘