
Niken melirik pada suaminya yang sejak tadi hanya diam, setelah makan malam tadi Rayen terlihat lebih banyak diam.
'' Mas, mas Rayen kenapa? Apa mas kepikiran tentang ucapan mama tadi ya?'' Niken menatap wajah suaminya dengan penuh rasa bersalah
Rayen menoleh pada istrinya'' Sedikit, maaf kan mas ya? mas belum bisa menuruti semua yang anak kita inginkan, mas tidak tau jika anak kita menginginkan makanan sebanyak itu,'' ucap Rayen tersenyum diakhir kalimatnya, meskipun dalam hatinya Rayen bersedih, karna bukan dirinya yang memenuhi kebutuhan istrinya itu, namun ia tak ingin memperlihatkan pada Niken walau bagai mana pun semua yang dikatakn ibu mertuanya itu benar.
'' Sudahlah sebaiknya kita tidur, sudah malam juga kan? sini biar mas peluk!" Rayen menarik tubuh Niken dalam pelukannya.
Maafkan mas sayang, mas belum bisa bahagiain kamu dan calon bayi kita, andai saja mas tidak sakit seperti ini pasti mas akan penuhi semua kebutuhan kalian, apa lagi saat ini kamu sedang hamil, sebagai suami mas merasa sangat tak berguna, tapi mas akan berusaha sembuh, mas ingin bertanggung jawab atas kalian, mas merasa tak nyaman terlalu lama tinggal disini, karna mas juga tak ingin selalu merepotkan orangtua mu.
Rayen membatin, walaupun sebenarnya Lidya tak bermaksud menyinggung perasaan Rayen, namun sebagai suami ia sangat tersinggung harga dirinya, namun ia bisa apa, semua yang dikatakan mertuanya itu benar, sebenarnya Rayen tak ingin tinggal dirumah kedua orangtua Niken, namun jika ia keukeh mengajak Niken pulang keapartemen ia takut tak bisa memenuhi kebutuhan istrinya, tapi jika disini setidaknya istrinya itu bisa meminta sesuatu tanpa sungkan pada ibunya.
__ADS_1
Saat ini di sebuah kamar, terlihat seorang gadis sedang memandangi sebuah poto yang ada dilayar handphone miliknya, sejak tadi ia terus tersenyum, mungkin jika orang lain melihatnya maka dia bisa dikatakan tidak waras oleh mereka.
'' Akhirnya cintaku terbalas kan juga, ku kira aku tidak akan pernah bersatu dengan bang Regan, tapi ternyata kami memiliki perasaan tang sama.'' monolognya siapa lagi kalau bukan Windy, setelah pulang dari kediaman Putri dan kekasihnya Regan,Windy selalu mengembangkan senyumnya, hingga didepan kedua orangtuanya Windy masih tetap tersenyum bahagia.
'' Pah, kira-kira apa yang terjadi pada anak kita ya? Sejak pulang tadi, sampai saat ini kok sepertinya dia bahagia banget, apa papa tau kenapa? kok mama jadi takut ya.'' ucap Yuna ibunya Windy, mereka sejak tadi berada diruang tamu dari Windy pulang hingga terdengar suara nyanyian dikamarnya yang letaknya memang tak jauh dari ruang tamu.
'' Mama ini kok takut sih lihat anaknya bernyanyi, ya bagus dong, memangnya mama mau anak kita yang tinggal satu-satunya ini sedih terus?
'' Emang masih ada lagi ya putri kita? Kok papa gk pernah lihat ya?.'' Cecep menyindir istrinya, mereka memang memiliki dua putri kakaknya Windy yang bernama Sesil, hanya saja sejak kecil memang Sesil tinggal bersama dengan adik dari Yuna mama mereka, yang memang tidak memiliki anak, mereka memang kaya raya namun sayang suami dari adik Yuna tersebut tidak bisa memiliki keturunan, maka dari itu mereka meminta Sesil untuk tinggal bersama dengan mereka, sejak saat itu mereka jarang bertemu dengan anak pertama mereka itu, apa lagi semenjak tante dan om yang merawat nya memutuskan untuk pindah keluar negri, otomatis Sesil juga menetap disana. Namun yang Windy tau jika kakak nya itu sedang kuliah diluar negri, dalam dua tahun hanya dua atau tiga kali saja mereka bisa bertemu itupun jika Sesil libur kuliah, maka dari itu Cecep merasa ia tak memiliki anak lain selain Windy. Karna jujur saja suaminya itu merasa sangat keberatan dulu, saat adik iparnya itu ingin meminta putri pertamanya untuk ia rawat, namun Yuna memohon pada sang suami dan akhirnya dengan berat hati Cecep menyetujuinya, sebab Yuna meyakinkan suaminya itu bahwa adiknya yang bernama Rahma akan mengajak Sesil seminggu dua kali untuk bertemu dengan mereka, awalnya sih iya, namun lama kelamaan sudah jarang, bahkan sebulan sekali pun belum tentu, dan yang membuat Cecep murka kala itu ternyata Rahma beserta suaminya membawa Sesil putri mereka pindah keluar negri tanpa memberitahukannya pada mereka, dari situ Yuna juga merasa geram dengan tindakan adiknya tersebut, namun saat dihubungi Rahma mengatakan jika kepindahan mereka mendadak,tidak masuk akal memang, mana ada pindah keluar negri secara mendadak tanpa persiapan terlebih dahulu, namun mereka juga tak bisa berbuat banyak, mereka hanya bisa berharap Rahma dan suaminya memenuhi janji yang mereka buat sendiri, saat dihubungi waktu itu mereka berjanji akan sering datang berkunjung kerumah Yuna dan Cecep, namun lagi-lagi janji hanyalah tinggal janji, ucapan Rahma tak pernah dibuktikan sejak saat ini Yuna dan Cecep hanya bisa berharap semoga putri kecil mereka Sesil yang berusia sembilan tahun tak melupakan mereka sebagai orangtua dan juga adiknya Windy, mereka hanya bisa video call itupun jarang.
Kembali kekeluarga Mahendra, saat ini sepasang suami istri tersebut sedang berada diruang tv, sedangkan didalam kamar Rayen sama sekali tak bisa tidur, ia juga merasa haus, tak ingin mengganggu istirahat istrinya Rayen pun mencoba turun dari tempat tidur, ia menarik kursi roda yang berada tak jauh dari nya, akhirnya dengan susah payah Rayen berhasil duduk diatasnya.Perlahan ia mulai mendorongnya menuju pintu, memang kamar mereka tidak berada dilantai atas mereka menempati kamar tamu yang ada dibawah agar Rayen tidak kesulitan jika ingin keluar sendiri contohnya seperti sekarang ini.
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, saat keluar dan hendak menuju dapur samar-samar Rayen mendengar seperti suara orang berbicara, ia menduga jika itu adalah suara Frans dan juga Lidya, merasa tak bisa tidur Rayen memilih untuk bergabung dengan mereka namun saat sudah dekat dengan mereka Rayen menghentikan niatnya untuk kesana karna mendengar ucapan yang membuat dadanya terasa sesak
" Pah, mama sangat kasian sama putri kita Niken, semenjak Rayen mengalami kecelakaan, suami terus yang diurus, sampai melupakan diri dia dan juga bayi yang ada dalam kandungannya, padahal mama sudah mengusulkan agar Rayen biar dirawat saja oleh seorang perawat tapi Niken keukeh tidak mau, dia bilang dia mau merawat suaminya sendiri, coba deh papa saja yang bicara sama anak itu, siapa tau kalau sama papa dia mau nurut, kalau mama sudah capek rasanya,, papa masih ingatkan kemarin karna kelelahan mengurus Rayen ia sampai jatuh pingsan, untung cepat mama tangkap coba kalau gk, mama gk tau apa yang akan terjadi dengan Niken dan bayi yang ada dalam kandungannya." Lidya kembali teringat saat itu.
Apa? jadi selama ini, itu yang terjadi? Kenapa Niken tak pernah mengatakan ini semua, semenjak aku kecelakaan ternyata istriku jadi semenderita ini. Ya Tuhan kenapa ini harus terjadi, apa yang harus kulakukan sekarang, aku benar- benar merasa tak berguna sama sekali.
Batinnya, setelah itu pergi menjauh dari ruang keluarga tersebut.
" Mah papa tau, tapi mau bagai mana lagi, ini adalah musibah, kita semua tidak menginginkan hal buruk ini terjadi begitu pula Rayen, jadi sebagai orangtua kita tidak boleh menyinggung perasaannya, justru sebaliknya kita harus mensupport nya agar tidak berkecil hati mah, mama harus jaga ucapan mama jika ada Rayen, mama mengertikan maksud papa? Frans mencoba memberi pengertian pada dang istri
" Iya-iya mama ngerti kok pah." jawabnya malas.
__ADS_1
Next