
Saat ini Niken sedang dalam perjalanan menuju kediaman Putri, sebenarnya ia sedikit malas kerumah sahabatnya yang satu ini, bukan karna tak suka, atau pun tak merasa nyaman berada dikediaman sahabatnya itu, namun Niken hanya tak mau dirinya nanti bertemu dengan Regan, karna gadis itu sedang dalam mode sebal pada abang dari sahabatnya itu.
''Mudah-mudahan bang Regan gk ada di rumah, males banget ketemu sama dia.'' gerutu Niken sambil terus melajukan mobilnya membelah jalanan raya.
Tak terasa mobil yang Niken tumpangi sudah sampai didepan gerbang rumah milik sahabatnya Putri,satpam yang memang sudah mengenal Niken langsung membuka gerbang rumah tersebut.
''Akhirnya loe datang juga, lama banget sih loe? udah ditungguin juga sejak tadi.'' gerutu Putri.
''Kan yang penting aku udah datang Putri sayang, oya Windy udah datang belum?'' tanya Niken sambil melangkah masuk.
''Dia gk jadi nginap dirumah gue, dia bilang hari ini calon suaminya mau datang.'' jelas Putri, yang tersengar sedikit kesal.
''Seriusan? aku jadi penasaran deh, kira-kira seperti apa ya tampang tunangan nya Windy,'' ucap Niken.
''Pasti orangnya tua,terus gendut.'' ucap Putri asal.
''Eh kok kamu gitu doanya Put, aku sih berharapnya calon suami Windy bisa cocok dengan sahabat kita itu.'' ucap Niken.
''Ya,, mudah-mudahan aja,, yasudah yuk,kita langsung kekamarku aja aku ada film baru loh, kita lihat bareng ya?.'' ucap Putri yang diangguki oleh Niken.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, namun kedua gadis remaja itu masih saja betah didalam kamar, entah apa yang meraka lakukan disana.
''Ken, turun yuk gue laper nih, lagian kan kita belum makan siang,'' ajak Putri
''Yaudah yuk.'' jawab Niken
Kini keduanya sedang menuruni anak tangga, bertepatan itu Regan baru saja memasuki rumah.
''Bang Regan, kenapa harus ketemu dia sih, ya ampun Niken,tentu aja loe bakal ketemu sama dia, ini kan rumahnya, bego banget sih loe.''
Batin Niken, yang ternyata masih berdiri di atas tangga.
Tiba-tiba Niken tersentak saat tangan seseorang melambai didepan wajahnya.
''Ba-bang Regan,'' gumamnya pelan, dengan raut wajah sedikit terkejut saat melihat Regan tiba-tiba berdiri didepannya.
''Kalau mau melamun jangan ditangga, kalau jatuh gk akan ada yang nolongin.'' ucapnya ketus,membuat Niken mendengus kesal.
''Apaan sih dia, bikin kesel aja.
__ADS_1
Batin Niken sambil menatap sengit pada Regan.
Namun baru akan menjawab ucapan Regan, laki-laki itu sudah lebih dulu melewatinya begitu saja,membuat gadis itu semangkin geram dengannya.
''Iihh, dasar cowok nyebelin.'' ucapnya dengan nada sedikit keras.
Regan sama sekali tidak perduli dengan umpatan sahabat dari adiknya itu, namun tiba-tiba saja bibirnya melengkung keatas membentuk senyum tipis,bahkan sangat tipis.
''Niken, loe ngapain masih berdiri disana? emang loe gak laper apa? udah ayo sini!" panggil Putri yang berdiri tak jauh dari Niken.
*
*
*
Sedangkan ditempat lain, saat ini Windy dan kedua orang tuanya sedang bersiap.
''Sayang Windy, kamu sudah siapa belum?'cepetan Win, nanti kita bisa terlambat loh,'' ucap ibunya Windy dari bawah.
''Iya mah, aku sudah siap kok.'' jawabnya sambil keluar dari kamarnya
Beberapa saat mereka pun akhirnya sampai di sebuah restoran yang cukup mewah, terlihat papa nya Windy sedang bertanya pada seorang pelayan, dan pelayan itu langsung mempersilahkan keluarga Windy untuk masuk kesebuah ruangan yang memang sudah di boking oleh keluarga mereka.
''Mah, Windy, ayo sebelah sini!" ucap sang papa sambil mengikuti seorang pelayan memasuki sebuah ruangan.
''Silahkan pak, buk, ini mejanya.'' ucap pelayan tersebut sambil mempersilahkan.
''Iya mba terimakasih,
''Sama-sama pak, kalau gitu saya permisi dulu,'' ucap pelayan tersebut sambil berlalu.
''Sepertinya mereka belum datang ya pah?'' tanya mama Windy yang bernama Yuna.
Mungkin masih dijalan mah, sabar aja,sebentar lagi pasti datang.'' ucap pak Cecep,papa nya Windy.
Sedangkan Windy hanya diam tanpa ingin berkomentar, sebenarnya dia merasa sedikit deg-degan, dan juga penasaran dengan calon yang akan ditemuinya hari ini, namun sebisa mungkin ia mencoba menetralkan persaannya.
''Mah,pah aku ketoilet sebentar ya?'' ucap Windy.
__ADS_1
''Iya nak,'' jawab mama Yuna.
Beberapa saat kemudian setelah selesai, Windy langsung kembali ketempat dimana mama dan papa nya berada, namun langkahnya terhenti saat dari kejauhan Windy melihat meja yang kedua orang tuanya duduki bertambah tiga orang asing, dua orang paruh baya dan seorang lelaki yang tak dapat Windy lihat wajahnya karna memang duduk nya membelakangi Windy,, dan yang Windy yakini bahwa itu adalah calon mertua dan juga calon suami Windy.
''Itu, apa mereka adalah keluarga yang dimaksud papa dan juga mama.
Windy terus mengamati mereka dari kejauhan, bahkan matanya kini beralih pada sosok lelaki yang memakai kemeja lengan panjang yang dilipat hingga kesiku, terlihat keren sih dari belakang, membuat nya sedikit penasaran.Namun tetap saja membuat perasaan nya tidak karuan saat ini
Dengan langkah yang sedikit gemetar disertai jantung yang berdebar tak karuan, Windy terus berjalan kearah mereka semua.
''Mah, pah, panggil Windy, membuat semua orang menatap kearahnya termasuk seorang lelaki membuat Windy yang melihatnya membulatkan matanya.
''Apakah ini dia?? laki-laki yang kemarin mobilnya gue tabrak,apa dia calon suami gue?oh ini gk mungkin,apa jadinya jika gue sampai menikah sama dia,
Batin Windy sambil terus menatap lelaki tersebut,, ia menelan salivanya kasar, saat lelaki itu mengerlingkan sebelah matanya pada Windy.
''Apaan sih mesum amat.
''Sayang duduk nak, kenalin ini tante Wati dan om Burhan,yang sebentar lagi akan jadi mertua kamu, dan yang disebelah adalah calon suamimu.
''Tuhkan bener, ya Tuhan kenapa harus lelaki menyebalkan ini yang harus menjadi calon suami gue.
Windy terus membatin, mengumpat lelaki yang ada didepannya saat ini, namun ada yang aneh dalam pandangan Windy mengenai lelaki yang ada didepannya saat ini, gadis itu merasa heran, kenapa dia seolah tidak terkejut, bahkan terlihat begitu santai,apa sebenarnya dia sudah tau kalau mereka akan dijodohkan, pikiran Windy terus berkecamuk.
''Sayang kenapa melamun?'' tanya Wati membuar semua mata mengarah pada Windy.Namun sspertinya gadis itu masih belum sadar akan hal tersebut.
''Windy? windy!'' panggil Yuna sambil menyikut pelan tangan putrinya membuat Windy langsung tersadar.
''Iya mah ada apa?
''Sayang tadi tante Wati tanya, kamu kenapa melamun?'' ucap Yuna.
''Hah? oh itu,, gk kok mah, aku hanya--,, Windy terlihat seperti orang kebingungan.
''Sudahlah mungkin nak Windy masih sedikit gugup, benarkan begitu nak?'' sambung pak Burhan.
''Iya om, jawabnya sambil menampilkan senyum canggung.
Bersambung..
__ADS_1