
Niken terbangun dari tidurnya, ia menatap jam yang ada diatas nakas yang ternyata sudah menunjukan hampir pukul delapan malam.
''Ternyata sudah malam, tubuhku rasanya lengket sekali, karna lelah aku tidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.'' gumamnya.
Niken perlahan turun dari ranjang kemudian langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Niken mengguyur tubuhnya dengan air shower saat sedang asik menggosok tubuhnya dengan sabun tiba-tiba ada tangan yang melingkar diperutnya yang rata, awalnya Niken sempat kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum setelah tau siapa yang sedang memeluknya saat ini.
''Kenapa kamu gk bangunin mas sayang hem?'' ucap Rayen sambil membalikan tubuh istrinya tersebut untuk menghadap kearahnya.
'' Mas tidurnya pulas banget, aku gk tega banguninnya.'' jawab Niken
'' Sini biar mas bantu menyabuni tubuhmu.'' ucap Rayen sambil mengambil alih spons yang berada ditangan istrinya kemudian menggosokannya ditubuh Niken. Dan akhirnya mereka saling menggosok tanpa ada embel-embel lainnya. Setelah lima belas menit keduanya pun menyudahi ritual mandinya.
'' Mas ayo, aku udah laper banget nih!'' ucap Niken sambil menunggu suaminya ditepi ranjang, saat ini Rayen sengan berbicara dengan rekannya melalui sambungan telpon.
''Tunggu bentar ya sayang, mas bicara dulu sama klien nya mas.'' ucap Rayen berbisik takut jika orang yang berada diseberang telpon mendengar ucapannya bersama sang istri.
Mas Rayen gk adil banget sih, dia aja menyuruhku agar memprioritaskan dia, tapi dia sendiri malah asik telponan.
Batin Niken merasa kesal
'' Mas aku duluan aja ya? kamu terusin aja nelponnya, nanti kalau udah selesai baru mas susul aku dibawah.'' ucap Niken setelah itu ia langsung keluar dari kamar tersebut.
Melihat istrinya keluar dari kamar sendirian langsung membuat Rayen gelisah.
''Hallo pak, nanti kita bisa lanjut lagi kan bicaranya? soalnya saya ada keperluan mendadak ini.'' ucap Rayen pada klien nya, setelah itu ia langsung menutup sambungan telponnya.
Saat ini Niken sedang berada didalam lift seorang diri, didalam ia terus menggerutu hingga pintu lift tersebut terbuka. Niken keluar dari sana dan langsung melangkah menuju restoran yang ada didalam hotel tersebut.
Saat Niken melangkah tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
Bruuk..
''Aawww,'' pekik nya, saat bokongnya mencium lantai akibat tabrakan dengan seseorang.
'' Maaf-maaf nona saya tidak sengaja, mari biar saya bantu.'' ucap orang tersebut sambil mengukurkan tangannya.
Niken yang masih dalam posisi msnunduk langsung mengangkat kepalanya untuk melihat orang tersebut.
''Tidak perlu, saya bisa sendiri.'' ucap Niken, sambil berusaha untuk bangkit dari lantai tersebut, namun sepertinya tabrakan yang terjadi tadi mengakibatkan kakinya sedikit keseleo hingga membuatnya susah untuk berdiri.
__ADS_1
''Aduuhh, sakit.'' ucapnya pelan sambil meringis menahan rasa sakit dipergelangan kakinya. Niken hampir saja kembali jatuh jika tidak cepat ditangkap oleh orang tersebut.
'' Maaf nona biar saya membantu anda untuk berjalan.'' ucap orang tersebut
Mau tak mau Niken akhirnya Niken menerima bantuan orang tersebut untuk memapahnya sampai restoran yang tak berapa jauh dari tempat mereka berada sekarang, karna jujur saja rasa sakit dibagian kakinya tak mampu membuat Niken berjalan sampai disana, sedangkan ia sama sekali tak membawa handphone untuk mengabari suaminya.
'' Apakah nona tamu dihotel ini?'' tanya orang tersebut
Saat ini keduanya sudah duduk dusalah satu kursi restoran yang ada disana.
''Iya saya menginap dihotel ini.'' jawab Niken tanpa melihat orang tersebut ia masih memperhatikan kakinya yang sedikit membiru mungkin karna keseleo tadi.
''Kaki anda membiru, tunggu sebentar saya akan mencari obat untuk kaki anda nona ucapnya sambil berlalu dari tempat tersebut.
Niken menatap sekilas orang asing yang tadi menabraknya, dia adalah seorang pria berparas tampan dengan pakaian rapi, namun dimata Niken tak ada yang tampannya melebihi suami tercintanya.
Tak lama pemuda tersebut kembali dengan membawa salep ditangannya.
'' Nona ini salep oleskan dikaki anda agar rasa sakitnya sedikit berkurang.'' ucap nya.
'' Terimakasih.'' Niken menerima salep pemberian laki-laki tersebut.
'' Saya Niken kak.'' jawabnya sambil menyambut uluran tangan peria tersebut.
Gadis ini sangat cantik, walaupun hanya memakai kaos kedodoran dan celana diatas lutut namun sama sekali tak mengurangi kecantikannya sedikitpun.
Batin Aldo merasa kagum dengan Niken.
''Kamu kesini mau makan ya? mau saya ambilkan?'' tawarnya.
'' Gak usah kak, saya lagi nunggu seseorang, nanti biar dia aja yang ambil.'' tolak Niken halus
'' Oh gitu ya, apa saya bisa temani kamu sampai teman yang kamu tunggu itu datang? maksud saya, kamu kan terluka karna saya, jadi biarkan saya menjelaskan pada temanmu itu jika nanti dia bertanya.'' ucap Aldo
Aldo melihat Niken sedikit berpikir, namun senyumnya seketika terbit saat melihat gadis itu mengnggukan kepalanya.
''Kamu butuh sesuatu?'' Aldo kembali bertanya saat dirasa keadaan berubah canggung.
'' Tidak kak, saya gk butuh apa-apa, oya kak Al kesini dalam rangka apa? bulan madu ya?'' tanya Niken so akrab
__ADS_1
'' Al??'' Aldo mengulang panggilan Niken.
'' Iya Al, gpp kan jika saya panggilnya kak Al aja?
'' Iya, tentu gk apa-apa, sebenarnya saya disini itu dalam rangka mengurus kerjaan.'' jawabnya
''Enak banget dong, kerja nya sekalian liburan kalau ditempat kayak gini, kak Al sama siapa? sama istri ya?
'' Memangnya kelihatan ya kalau saya sudah punya istri?'' tanya balik Aldo
'' Gk juga sih memangnya kak Al belum menikah ya?
'' Sayang nya belum,'' jawab Al lagi
'' Sayang sekali ya? padahal tempat ini sangat cocok bagi pasangan jika mau liburan.'' ucap Niken, saat ini mereka terlihat sangat akrab seperti dua orang yang sudah kenal lama.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi sudah menatap keduanya dengan tajam, sorotan matanya tertuju pada sosok pria yang mencoba mencari perhatian pada wanitanya. Dan ya, dia adalah Rayen, dengan tangan terkepal lelaki itu melangkah mendekati keduanya yang saat itu masih terlihat asik berbicara, entah apa yang mereka bahas Rayen pun tak tau, tapi yang jelas saat ini ia tak ingin seseorang mendekati miliknya.
'' Sayang apa yang terjadi??'' suara bariton seseorang langsung mengalihkan pandangan keduanya.
'' Mas Rayen.'' ucap Niken sambil tersenyum, sedangkan yang disapa hanya diam, tatapannya penuh intimidasi pada dirinya.
Mas Rayen kenapa ya? kok ngelihatinnya gitu amat.
Batinnya
Sedangkan pria yang bernama Aldo tersebut menatap Rayen dengan tatapan menyipit seperti mengingat-ingat sesuatu.
'' Kamu Rayendra kan? masih ingat saya?'' ucapnya.
Sedangkan Rayen yang tadinya memang tidak terlalu memperhatikan wajah laki-laki tersebut langsung menatap nya.
'' Aldo Wijaya, kau disini?'' ucap Rayen yang memang juga mengenalnya.
Sedangkan Niken menatap keduanya bergantian. ''kalian saling kenal??'' tanya Niken penasaran.
Rayen mengalihkan pandangannya kembali pada sang istri.
'' Tentu saja, bahkan mas sangat mengenalnya.'' ucap Rayen sambil menatap Aldo dengan tatapan datar.
__ADS_1
Next