
Saat keduanya sedang asik memadu kasih tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk.
Tok-tok-tok
''Niken! nak apa Rayen ada didalam sayang? itu papa mau bicara sama suami kamu.'' ucap Lidya dari luar.
''M-mas itu pa-pa cari kamu.'' ucap Niken dengan nafas tersengal karna menahan nikmat yang diciptakan oleh suaminya.
''Nanti saja sayang, mas gk mungkin ninggalin kenikmatan ini begitu saja sayang, kamu juga gk akan mau kan jika kesenangan kita keganggu? udahlah yang penting kita tuntaskan saja dulu ga*irah kita ini.'' ucapnya yang terus menikmati tubuh istrinya disetiap incinya tanpa ada yang terlewat satu incipun.
Namun karna Lidya terus mengetuk pintu terpaksa mau tak mau Niken menyuruh suaminya bangkit terlih dahulu. Setelah merapikan pakaian nya yang berantakan karna ulah suaminya, Niken langsung melangkah menuju pintu untuk dibuka.
Ceklek,
Niken menyembulkan kepalanya keluar, namun tubuh bagian bawahnya masih berada didalam kamar.
''Mah, ada apa mama panggil mas Rayen? sekarang dia lagi dikamar mandi.'' jelas Niken memberi alasan.
''Itu papa nyariin suami kamu, katanya mau ngomongi masalah kerjaan, ada yang mau papa kamu tanyakan sama dia penting, jadi suruh suami kamu cepat turun ya? mama mau kebawah lagi nemani papa, cepetan loh Ken, jangan lama!" ucap Lidya setelah itu iya kembali turun melantai bawah. Setelah kepergian mamanya, Niken pun kembali masuk kedalam kamar, baru saja masuk, Rayen langsung memeluknya dari belakang.
''Maas, pekiknya kaget karna Rayen tiba-tiba memeluknya dari belakang.
''Sayang lama baget sih, mas udah gk sabar loh nunggunya, Rayen kembali mere-mas bukit kembar istrinya memilin-milin pu*ti*ng berwarna merah muda tersebut.
Aahh, perlakuan mas Rayen yang nikmat, rasanya gk rela jika harus berakhir, tapi gimana ini papa kan sedang menunggunya.
Batin Niken yang masih punya sedikit pikiran waras.
Niken menghentikan gerakan tangan suaminya, setelah itu Niken menjauh satu langkah.
''Sayang ada apa? kenapa kamu menghentikan aktivitas kita?'' tanya Rayen, ia ingin kembali meraih tubuh istrinya, namun lagi-lagi Niken mundur.
''Maaf mas Rayen, sebaiknya kita tunda dulu kegiatannya, soalnya mas dipanggil papa, dan beliau nungguin mas dibawah, sebaiknya mas cepetan turun.'' jelas Niken.
''Mana bisa mas turun dalam keadaan seperti ini sayang, sebaiknya kita tuntaskan dulu keinginan kita ok, setelah itu baru kita turun bersama.'' pinta Rayen sedikit memaksa.
__ADS_1
''Gk mas, pokoknya kamu harus turun sekarang.'' ucap Niken keukeh
''Niken, kamu ini kok keras kepala banget sih? mas itu lagi pengen, apa kamu gk paham? lagi pula mas tau jika saat ini kamu juga pengen.
''Mas kamu kok jadi bentak aku sih, aku tadinya memang pengen, tapi setelah kamu bentak begini aku udah gk nafsu.'' rajuknya sambil melangkah menuju kamar mandi.
''Niken! buka pintunya dong, mas belum selesai.'' ucapnya sambil menggedor pintu kamar mandi.
Rayen yang merasa tak dihiraukan langsung menendangkan kakinya ke udara.
''Aarrgg,'' erangnya, ia mengusap wajahnya kasar, kepalanya sangat sakit rasanya, apa lagi harus menahan hasrat nya yang masih belum tersalurkan.
Tak lama Niken keluar dengan pakaian yang sudah lengkap didalam kamar mandi tadi Niken memang sempan meletakan satu set pakaian bersih miliknya, sebelum akhirnya ia berubah pikiran untuk mengganti bajunya dengan gaun tidur transparan.
''Niken kenapa kamu mengganti bajumu?'' tanya Rayen dengan nada sedikit geram.
''Mas sebaiknya juga ganti baju, kita temui papa dulu ya? setelah itukan kita masih bisa lanjut.'' setelah mengucapkan itu Niken langsung melangkah menuju pintu kamarnya. Sedangkan Rayen hanya mendengus pada istrinya, bagai mana bisa istrinya itu meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti ini, dengan menara monas yang sudah berdiri tegak,
''Sepertinya aku harus melakukannya sendiri.'' gumamnya sambil melangkah masuk menuju kamar mandi.
''Masih diatas mah, bentar lagi juga turun.'' ucapnya sambil mengambil posisi duduk disamping Lidya.
Tak lama terlihat Rayen turun dari lantai atas, wajahnya terlihat sedikit kusut
''Ken, ada apa dengan suami kamu? kenapa wajahnya kusut begitu, kayak cucian gk disetrika.'' ucap Lidya sambil bercanda.
Niken hanya mengedikan hahunya menanggapi ucapan Lidya.
Setelah sampai diruang keluarga Rayen langsung duduk disofa sigle tak jauh dari Niken, tadinya Niken berharap suaminya itu akan duduk disebelahnya, namun ternyata tidak, padahal sofa disampingnya masih sangat lebar namun Niken tak mempermasalahkannya, mungkin karna suaminya itu terburu-buru makanya duduk jauh darinya.
''Abang manggil saya ada apa bang??'' tanya Rayen begitu duduk.
''Begini Ray, untuk tiga hari ini abang mau tugasin kamu untuk berangkat kekota B bersama Leo, tolong kalian cek perkembangan disana, karna ada beberapa laporan yang tidak sesuai dengan fakta dilapangan, abang curiga ada beberapa oknum yang tidak bertamggung jawab, dan abang ingin kalian menyelidikinya, oya satu lagi abang mau dalam waktu tiga hari semuanya masalah sudah selesai dan kalian harus tau siapa yang bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut.'' ucap Frans panjang lebar.
''Maksud papa, papa mau mas Rayen keluar kota selama tiga hari tanpa aku? begitu?'' tanya Niken sedikit panik ia tak sabar mendengar jawaban Frans
__ADS_1
''Iya sayang, dan Rayen tidak bisa menolak tugas yang akan papa berikan padanya, jadi papa harap kamu tidak keberatan.'' jelas Frans lagi
''Tapi pah, masa papa tega sih misahin aku sama suami aku, kami kan baru aja menikah, bahkan baru satu minggu, masa iya aku udah ditinggalin.'' protes Niken.
''Atau kalau gk, aku ikut juga sama mas Rayen, boleh ya pah?'' rengeknya
Lidya yang mendengar putrinya yang protes hanya menggelengkan kepala.
''Sayangnya mama, dengar ya! Rayen gk akan lama disana, hanya tiga hari kok, mama yakin kamu pasti bisa melewatinya, lagi pula Leo juga ikut otomatis Windy juga ditinggal kan sama suaminya? sayang kamu gk sendiri masih ada mama yang akan temani kamu, udah dong jangan cemberut gitu.'' ucap Lidya sambil membelai rambut sebahu Niken, ia juga memberi pengertian pada sang putri bahwa suaminya itu pergi untuk urusan kerja bukan bersenang-senang.
''Ck, papa sama mama gk asik nih.'' ucapnya mencebik, sedangkan Rayen sejak tadi hanya diam, sebenarnya ia tak ingin meninggalkan Niken, namun ia juga tidak mungkin menolak pekerjaan yang diberikan oleh abangnya.
''Gimana Ray, kamu maukan abang tugaskan disana?'' tanya Frans memastikan.
''Kapan saya harus kesana?'' tanya Ray tanpa menoleh pada Niken
Jadi mas Rayen setuju dengan keputusan papa.
Batin Niken kecewa.
''Kalau bisa sih malam ini kamu berangkat, papa udah beli tiketnya, dan Leo juga udah papa kasih tau.'' jekas Frans
''Apa pah, malam ini? emangnya gk bisa besok aja? Niken kembali melayangkan protesnya.
''Gk bisa sayang, Rayen dan Leo akan pergi malam ini jam sebelas malam.'' ucap Frans
''Ck, kenapa mendadak sih? nyebelin banget semuanya.'' setelah mengatakan itu Niken langsung pergi kekamarnya meninggalkan suami dan orangtuanya, Rayen hanya bisa memandang punggung istrinya yang kian menjauh.
''Anak itu, selalu saja seperti itu, sudah menjadi seorang istri pun masih kayak anak kecil.'' ucap Frans
''Iih, papa, putri kita itu kan memang masih kecil, badannya aja yang gede, Ray sebaiknya kamu beri pengertian sama istri kamu pelan-pelan, agar dia mau ngerti ya?!" pinta Lidya
''Iya mba, kalau gitu saya kembali kekamar dulu.'' ucap Rayen sambil bangkit dari duduknya
Next
__ADS_1