
Jam sudah menunjukan pukul tiga sore, Niken dan Windy masih asik menonton drakor kesukaan mereka, tentunya sambil menikmati cemilan yang sempat mereka beli tadi.
'' Loe gk mau coba tuh test pack?'' tanya Windy disela-sela tontonannya.
Niken melirik kearah sahabatnya itu, lalu menggeleng pelan.
'' Gk ah Win, nanti aja dirumah.'' jawabnya sambil matanya kembali fokus di layar laptop, saat mereka asik nonton terdengar suara orang berbicara dari depan.
'' Itu sepertinya mamah dan papa kamu deh Win,'' ucap Niken
'' Iya, sepertinya memanga mereka.'' jawab nya
'' Loh, ada Niken toh.'' ucap Yuna sambil melangkah mendekati keduanya yang saat itu duduk diruang keluarga, tepatnya diatas karpet berbulu dengan laptop yang berada diatas meja.
'' Iya tante, tadi habis pulang sekolah langsung ikut Windy kesini.'' jelas nya, Yuna mengangguk paham
'' Kalian beli kue?'' Yuna kembali bersuara saat matanya melihat ada dua kotak kue diatas meja makan,
'' Iya mah, Niken yang beliin.'' jelas Windy
'' Duuh Niken gk usah repot-repot segala nak, tante jadi gk enak.''
'' Gpp kok tan, lagian sekalian tadi beli kue kering juga untuk cemilan.
'' Oya, tapi aku dengar suara papa mah, dimana dia?'' sambung Windy
'' Didepan lagi angkat telpon dari bos tempat papa kamu kerja.'' jelas Yuna, sambil melangkah menuju dapur.
Beberapa saat kemudian terlihat Yuna membawa manisan mangga dengan irisan mentimun dan juga nenas.
''Apa itu tan?'' tanya Niken tiba-tiba tertarik dengan yang dibawa ibu dari sahabatnya itu.
'' Ini manisan sayang tapi yang diserut, rasanya segar banget loh, kamu cobain deh pasti enak.'' ucapnya
'' Iya tan liat itu aku tiba-tiba ngiler, aku cobain ya tan.'' ucapnya sambil mengambil mangkuk kecil beserta sendoknya
__ADS_1
'' Kamu gk mau Win?'' tawar Niken sambil menuangkan manisan tersebut didalam mangkuk miliknya.
'' Gk ah, loe aja, liatnya aja lidahku udah terasa asem.'' tolak Windy seolah sudah merasakannya.
'' Windy gk pernah mau cobain setiap kali tante tawarin, padahal ini sama sekali gk terasa asem kok kalau menurut mamah ini tuh seger banget loh.'' jawab Yuna sambil menikmati manisan miliknya.
'' Hhmm,, ini seger banget tan, Windy beneran kamu gk mau? ini manis kok gk terlalu asem.'' jelas Niken sambil menghirup kuah manisan tersebut, membuat Windy menelan ludahnya meresa asem sendiri, padahal ia sama sekali belum merasakannya.
'' Loe makan aja Ken, liat loe makan itu aja gue udah berasa ngilu, apa lagi makannya.'' jawab Windy
'' Udah sayang kamu makan saja jangan perduliin Windy,'' ucap Yuna, sedangkan Niken hanya tersenyum menanggapi ucapan mama dari sahabatnya itu.
...----------------...
Tepat pukul lima sore Rayen baru saja pulang dari kantor, begitu masuk apartemen ia langsung menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang sejak tadi ia rindukan, namun hingga ia masuk kedalam kamar Rayen masih belum bisa menemukan istri tercintanya.
'' Kemana dia?kok gk ada.'' gumam Rayen sambil melangkah menuju kamar mandi, dan ternyata ia juga tak menemukannya disana,dengan perasaan sedikit khawatir Rayen kembali lagi keruang tamu, sambil memanggil-manggil nama istrinya.
'' Niken kamu dimana sayang? Niken?'' Rayen terus memanggil hingga mekangkah menuju dapur namun masih tidak menemukan sang istri.
'' Kemana dia? apa belum pulang dari sekolah?'' Rayen kemudian langsung merogoh ponsel miliknya disaku celana untuk mengecek apakah ada panggilan dari istrinya atau tidak.
Memang saat Niken menghubungi Rayen tadi handphonenya sudah lobet, saat itu pun dalam mode silet hingga Rayen tak tau jika Niken menghubunginya bermaksud meminta ijin.
' Ck, kemana sih dia? bikin khawatir aja, apa sebaiknya aku menghubungi mba Lidya ya? tapi kalau gk ada disana, kan semangkin tambah masalah, bisa-bisa mba Lidya marah karna aku gk bisa menjaga anaknya dengan baik, sebaiknya ku tunggu sampai batre ponselku terisi dulu nanti baru cari tau keberadaannya.'' monolognya sambil melangkah menuju kamarnya bermaksud ingin membersihkan diri, ia merasa badannya sudah sangat lengket.
Lima belas kemudian Rayen keluar dari kamar dengan tubuh yang sudah lebih segar dari sebelumnya. Rayen mencabut ponselnya dari sambungan carger kemudian langsung menyalakan nya, tak lama banyak notif yang masuk kedalam ponselnya dari Leo, dari rekan kerjanya, dan juga dari sang istri, tentu saja ia langsung membuka pesan istrinya terlebih dahulu. Rayen membaca pesan istrinya yang bertuliskan jika saat ini istrinya itu pamit untuk main kerumah Windy, bahkan Niken juga menulis minta jemput saat Rayen pulang dari kantornya, Rayen terjengkit ia langsung melirik jam yang ada dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan hampir pukul enam sore.
'' Sebaiknya aku kerumah Windy sekarang.'' gumamnya sambil menyambar kunci mobil miliknya diatas meja.
***
Sedangkan dikediaman Windy Niken sudah terlihat bette, ia bolak-balik menapat layar ponselnya berharap suami tercintanya menghubunginya, namun sampai saat ini jangankan menghibunginya mengirimi pesan saja tidak.
'' Gimana? Masih belum ada kabar dari om Rayen?'' tanya Windy sambil duduk disamping sahabatnya itu, terlihat Windy sedang memakan keripik pedas, Niken meliriknya dan langsung merampas cemilan tersebut membuat Windy mendengus kesal, melihat kelakuan sahabatnya itu.
__ADS_1
'' Kebiasaan,'' hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Tin-tin-tin
'' Nah suara mobil tuh Ken, mungkin laki loe kali yang datang, liat sana!" perintah Windy sambil merampas kembali keripik miliknya dari tangan Niken.
Tanpa bicara Niken langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.Karna pintu rumah Windy terbuat dari kaca, jadi Niken dapat melihat dari dalam siapa yang datang, saat Niken melangkah keluar bersamaan itu Rayen juga keluar dari dalam mobilnya.
'' Lama banget sih mas?'' tanya Niken sambil memasang wajah cemberut
'' Maaf sayang, tadi ponsel mas mati, jadi mas gk tau jika kamu menghubungi mas, begitu mas lihat pesan kamu mas langsung buru-buru kesini.'' jelas Rayen
'' Kita pulang sekarang?'' sambung Rayen
''Sebentar aku ambil tas dulu, sekalian pamit pada Windy dan mama nya.'' setelah mengatakan itu Niken kembali masuk kedalam rumah untuk berpamitan.
'' Windy aku pulang ya? Mas Rayen udah jemput soalnya.
'' He'em, hati-hati! oya jangan lupa tes kehamilannya!" ucap Windy.
'' Iya, yaudah aku balik dulu, sampaikan ya sama tante Yuna!" ucap Niken yang diangguki oleh Windy.
Setelah berpamitan Niken kembali keluar dan langsung melankah menuju suaminya yang saat itu terlihat sibuk dengan ponsel miliknya.
'' Udah?'' tanya Rayen sambil memasukan ponselnya kedalam saku celana
'' Iya,
'' Yaudah yuk masuk!" ajak Rayen yang diangguki oleh Niken
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju apartemen.
Sebaiknya setelah sampai dirumah aku langsung tes aja kali ya? tapi aku kok rasanya kurang yakin, kalau aku beneran memang hamil kan pasti mual-mual seperti Windy dulu, tapi aku kok enggak ya? atau memang mungkin aku memang gk hamil? Mungkin perubahan selera makanku karna pengaruh sudah menikah kali ya?
Niken berperang dengan batinnya, Niken memang tidak mengerti apa pun tentang kehamilan, yang ia tau jika seseorang mengandung pasti lah merasa mual dan juga muntah-muntah, padahal tidak semua ibu hamil mengalami muntah atau pun mual.
__ADS_1
'' Kamu kenapa melamun sayang? Lagi mikirin sesuatu??
Next