
Jam sudah menunjukan pukul dua belas siang, bel jam istirahat juga sudah berbunyi, terlihat siswa-siswi Nusa Bangsa mulai berhamburan keluar untuk mengistirahatkan sejenak otak mereka yang sejak tadi sudah terpakai untuk belajar.
Terlihat Windy dan Putri sedang duduk sambil menikmati makan siang mereka dikantin sekolah.
'' Waah, tumben gk ada ayang embebnya, biasanya nempel mulu kayak perangko.'' ucap salah satu siswi yang duduk hanya berjarak dua meja dari tempat Windy dan Putri duduk.
'' Mungkin cowoknya udah bosen, makanya parasitnya dihempas.'' sambung seseorang yang Putri sangat kenal dengan suaranya tanpa melihat sekali pun orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Misya, akar dari semua masalah dalam hubungannya dengan Rangga.
Windy ingin melabrak dua gadis tak tau malu itu, namun Putri mencoba mencegah nya.'' Tumben loe diem? biasanya gue yang menahan kebar-baran loe.'' ungkap Windy
'' Biarin aja dulu mereka berkoar-koar, asal loe tau, sejak tadi pagi gue udah pengen banget nyumpal tuh mulut pelakor, tapi gue akan coba tahan sebentar, karna setelah ini gue jamin cewek murahan itu gk akan bisa lagi bicara, bahkan untuk sekolah disini lagi pun ia akan berpikir dua kali.'' ucap Putri dengan tatapan yang sulit diartikan.
'' Waah, sepertinya sebentar lagi bakal ada bom waktu yang siap meledak.'' ucap Windy, ia merasa ada rahasia besar yang sedang disembunyikan sahabatnya itu.
'' Eh Sya, kamu merasa aneh gk? kok tumben ya si Putri diem aja saat kita sindirin dia?'' ucap sahabatnya Misya.
'' Aku juga merasa gitu sih, tapi ah biarin aja, yang penting hubungannya sama Rangga udah merenggang, dan aku ada kesempatan buat deketin dia.'' ucap Misya dengan PD nya.
'' Iya aku sih lebih setuju Rangga sama kamu ketimbang sama cewek bar-bar itu.'' sambung teman Misya.
DITEMPAT LAIN..
'' Duuh bosen banget ya dirumah sendirian, apa sebaiknya aku kekantor suamiku saja ya? ah sebaiknya iya, aku akan kesana dan buat kejutan sama dia.'' monolognya siapa lagi kalau bukan Niken, setelah selesai berganti pakaian Niken langsung turun kelantai bawah. Gadis itu sangat cantik dengan balutan dres selutut berwarna hijau tosca yang membalut kulit putihnya.
Setelah sampai digedung yang menjulang tinggi tersebut, Niken langsung naik kelantai atas dimana ruang suaminya berada. Setelah keluar dari lift Niken langsung menuju ruangan sang suami.
'' Kok sepi ya? biasanya ada sekertarisnya diluar? Ah sudahlah sebaiknya aku langsung masuk saja.'' gumamnya yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
Ceklek, perlahan pintu terbuka bersamaan masuknya Niken kedalam ruangan tersebut.'' Kemana mas Rayen ya, kok gk ada, apa dia sedang berada diluar, sebaiknya aku hubungi saja.'' gumam nya sambil merogoh ponsel miliknya yang berada didalam tas slempang milik.
Tut-tut-tut
Tiba-tiba saja Niken mendengar nada dering ponsel yang sangat ia kenali.'' Loh bukannya itu ponselnya mas Rayen, kok ada diatas meja? itu artinya mas Rayen ada didalam kantor dong, tapi dimana dia sekarang, atau jangan-jangan ada diruang istirahat, sebaiknya aku cek kedalam.'' monolognya sambil bangkit dari duduknya dan langsung melangkah kedalam ruang istirahat suaminya.
'' Disini juga tidak ada, mungkin lagi meting kali ya, sebaiknya aku tunggu disini saja lah.'' Niken melangkah menuju tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur tersebut, entah karna merasa nyaman atau karna mengantuk Niken sudah tertidur diatas sana.
Diluar ruangan, terlihat Rayen baru saja masuk kedalam ruangannya bersama sang asisten.'' Baiklah Jo jangan lupa segera kamu siapkan semuanya, karna besok lusa kita sudah harus menyelesaikan project tersebut.
'' Baik pak.'' jawabnya, tak sengaja matanya melirik tas yang berada diatas sofa.
'' Maaf pak sepertinya tadi diruangan bapak ada tamu,'' jelas Jo
'' Tamu? siapa? Rayen balik tanya
'' Itu ada tas milik seorang wanita sepertinya.'' Jo menunjuk tas yang ada diatas sofa tersebut, pandangan Rayen pun langsung tertuju kearah yang ditunjuk oleh Jo alias Jodi.
'' Baik pak, kalau begitu saya permisi.'' ucap Jo sambil melangkah keluar dari ruangan Rayen. Setelah kepergian Jo, Rayen melangkah menuju pintu lalu menguncinya, setelah itu ia langsung menuju kamar pribadinya.
'' Kenapa aku tidak menyadari nya ya,'' gumamnya sambil tersenyum, ia melihat istrinya tertidur dengan nyenyaknya dengan dres bagian bawah yang tersingkap hingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
'' Kamu mau menggodaku sayang jangan salahkan aku jika sore ini kamu sedikit kelelahan.'' gumamnya sambil melepas jas dan juga sepatunya, Rayen langsung naik ikut bergabung dengan sang istri.
Niken tersentak saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh perutnya, namun seketika wanita itu tersenyum kala menyadari siapa pemilik tangan hangat itu.
'' Mas.'' panggilnya sambil membalikan tubuhnya, ia tersenyum melihat suaminya yang berada dihadapannya.
__ADS_1
'' Mas dari mana saja? sejak tadi aku mencarimu tapi gk ketemu.'' adunya, sambil jari tangan nya mendusel dada bidang sang suami.
'' Mas tadi ada meting dilantai atas,kamu kok gk bilang kalau mau kekantornya mas? Kan tadi bisa dijemput sama supir papa, oya tadi naik apa kesini?
'' Naik taksi online mas, aku sengaja gk bilang solanya mau buat kejutan, eh ternyata malah aku yang terkejut karna tak ada satupun orang diruangan ini.'' jelasnya sambil terkekeh.
Rayen tersenyum mendengar ucapan istrinya,'' Sayang mas kangen sama Rayen junior boleh gk mas jenguk dia?'' tanya Rayen sambil menaik-turunkan alisnya.
'' Iya boleh, kebetulan dia juga kangen sama papa nya.'' ucap Niken menjawab godaan sang suami.
'' Emang anak kita saja yang kangen? mama nya enggak?'' Rayen kembali menggoda sang istri
'' Ya tentu saja mama nya yang paling kangen mas.'' sambung Niken sambil tersenyum malu, membuat Rayen mencubit gemas pipi Niken.
'' Maas iihh, kok dicubit sih, sakit tau!" ucapnya mendengus
'' Habisnya kamu bikin gemas sayang, apa lagi yang ini.'' ucap Rayen sambil menyentuh area pribadi milik Niken.
'' Basah sayang,'' bisik Rayen dengan nafas yang mulai memburu.
'' Lakukan sekarang mas!'' Niken menatap sayu pada suaminya meminta agar Rayen segera mengeksekusinya.
***
Dikamarnya Putri sedang uring-uringan, sejak tadi ia terus menatap layar ponselnya, begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk dari Rangga, namun Putri enggan membukanya, ia takut akan mudah luluh jika sampai ia membaca pesan tersebut, sedangkan Putri berencana ingin memberikan sedikit pelajaran untuk kekasihnya itu.
'' Maaf kan aku Rangga, untuk saat ini aku gk bisa.'' gumamnya lirih.
__ADS_1
Malam harinya Putri sedang makan malam dengan Regan, saat keduanya asik menikmati makan malam terdengar suara bel rumah berbunyi, membuat Putri dan Regan saling pandang.
Bersambung