
Merasa ada yang sesak dibawah sana, akhirnya Niken turun dari tempat tidur dengan keadaan tubuh yang masih polos, karna merasa tidak tahan untuk menuntaskan hajatnya. Beberapa saat kemudian Niken keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang masih sama.
'Duuh, rasanya kayak ada yang ganjel, gk enak banget, perih lagi kena air.'' gumam Niken sambil melangkah menuju tempat tidur.
''Sayang kamu sengaja ya mau godain aku??'' ucap Rayen dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
''Ck, siapa juga yang mau godain mas, aku hanya kebelet tadi, makanya gk sempat pakai baju mas.'' jelas Niken sambil melankah menuju tempat tidur, entah sengaja atau tidak gadis yang kini sudah tidak pera*wan itu meliuk-liukkan tubuhnya didepan Rayen, membuat dua gundukan yang ada didepannya itu mantul-mantul seperti bola.
''Sayang, kamu sepertinya sengaja banget godain mas.'' ucap Rayen sambil mendekat pada tubuh istrinya yang kini sudah masuk dalam selimut yang sama dengannya.
''Sayang mas pe--''
''Mas untuk malam ini udahan dulu ya?!" intiku masih sakit dan juga perih, besok aja lagi ya sayang? gpp kan mas?'' ucap Niken mencoba memberi pengertian pada suaminya.
''Iya baiklah mas ngerti kok.'' jawab Rayen walau sedikit kecewa namun ia juga tidak boleh egois memaksa kan kehendaknya pada Niken.
...****************...
Saat ini Lidya dan Frans sedang berada dimeja makan untuk sarapan.
''Kok Niken dan Rayen belum turun juga sampai sekarang? emanya dia gk lapar apa ya?.'' ucap Lidya sambil menuangkan segelas teh hangat untuk suami nya.
''Mungkin masih tidur kali mah, dimaklumi aja, mereka kan pengantin baru.'' ucap Frans yang lebih pengertian. Lidya tak menjawab lagi, namun matanya terus melirik keatas berharap anak dan mantunya itu akan segera ikut sarapan bersama mereka.
Apa jangan-jangqn mereka masih melanjutkan yang tadi malam? biasanya kan jiwa anak muda seperti mereka sedang menggebu-gebunya.
Batin Lidya
Sedangkan didalam kamar, saat ini terlihat Rayen baru saja terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, bersamaan itu keluar Niken dengan handuk yang melilit ditubuhnya.
''Mas sudah bangun?'' ucapnya sambil melangkah mendekati suaminya yang sudah duduk diranjang.
''Kok kamu gk bangunin mas sayang? padahal kan mas mau mandi bareng sama kamu.'' protesnya ngambek
__ADS_1
''Habisnya mas Rayen nyenyak baget tidurnya aku gk tega banguninnya.'' jawab Niken, tanpa tau malu ia melepaskan handuknya dilantai dan ia segera mengambil pakaian yang akan ia gunakan, mata Rayen membulat sempurnya jakunnya naik turun melihat pemandangan indah dipagi hari. Rayen yang saat itu memang masih polos, dengan cepat langsung mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang.
''Maas,, pekik Niken saat merasakan anaconda suaminya seperti sedang mencari sesuatu dibawah sana.
Tangan Rayen kini sudah berada dikedua aset kembar miliknya, me*re*masnya dengan pelan dan lembut membuat Niken memejamkan matanya menikmati sentuhan dari suaminya.
Rayen membalikan tubuh Niken, hingga ia dapat melihat keindahan yang terpampang jelas dikedua matanya.Tanpa berkata apapun ia langsung menyambar bibir istrinya, sedangkan Niken yang sudah terpancing langsung membalas setiap sesapan yang diberikan suaminya,
''Sayang, mas ingin melakukannya lagi, kamu mau kan?
Tanpa menunggu lama Rayen langsung kembali melancarkan aksinya, kini ia bisa dengan bebas melakukan apapun dengan tubub istrinya itu, tentunya harus dengan persetujuan sang empu.
Niken melebarkan sedikit kakinya agar Rayen lebih mudah melakukan kegiatannya dibawah sana.
*T*ernyata punya suami sangat enak, aku bisa dengan mudah meminta apapun dengan nya, aku mau ini selalu terjadi setiap hari, bahkan setiap saat aku menginginkannya.
Batin Niken sambil terus menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh suaminya, Niken memang memiliki has*rat yang tinggi, ia juga sangat mudah terpancing, Dan akhirnya sekali lagi mereka melakukannya dipagi hari ini, untuk menambah mood booster bagi keduanya.
''Kok ngambek sih? mas lihat kamu juga menikmatinya gitu sampai merem melek.'' ucap Rayen yang seketika membuat wajah sang istri memerah karna malu, jujur saja saat itu dia juga sangat menginginkannya.
''Udah mas jangan godain aku seperti itu, udah yuk turun nanti mama dan papa nungguin lagi dimeja makan.'' ucap Niken sambil beranjak menuju nakas untuk meletakan haydryer kedalam laci.
Kini keduanya sudah berada diluar kamar.
''Sayang emang masih sakit ya? kok jalannya gitu?'' bisik Rayen saat melihat Niken dengan jalan yang sedikit mengangkang.
''Sedikit mas, tapi bukan sakitnya yang buat aku jalan kayak gini tapi karna aku merasa ada yang mengganjal mas gk enak banget.'' ucapnya jujur.
Saat Rayen hendak menjawab tiba-tiba suara seseorang membuat keduanya langsung menoleh kearah sumber suara.
''Mama,'' ucap Niken saat melihat Lidya baru saja menaiki anak tangga.
''Kalian baru keluar jam segini?'' tanya Lidya sambul menatap putrinya dengan intens, entah kenapa ia sangat penasaran dengan gerak tubuh Niken.
__ADS_1
''Iya mah, nungguin mas Rayen dulu, yakan mas?'' ucap Niken mencari pembelaan.
''Iya mba,'' jawab Rayen.
''Mas kok masih panggil mama mba sih? panggil mama juga dong seperti aku, iya kan mah?.'' ucap Niken sambil bertanya pada Lidya.
''Kalau mama sih terserah suami kamu aja sayang mau panggil mama juga boleh.'' jawab Lidya sambil melirik kearah Rayen.
''Mas panggilnya mba aja gpp kan sayang? mas merasa sudah terbiasa soalnya, susah untuk dirubah lagi.'' ucap Rayen mencoba bernegosiasi dengan istrinya
''Tapi mas--''
''Sayang udah biarin aja, sebenarnya mama juga merasa sudah terbiasa dengan panggilan sebelumnya, nanti jika dipaksakan suami kamu malah jadinya gk nyaman.'' ucap Lidya lagi.
''Yasudah lah terserah mas Rayen aja gimana baiknya.'' akhirnya Niken pasrah dan tak mempermasalahkan nya lagi.
''Yasudah kalian sarapan gih? mama mau kekamar dulu.'' ucap Lidya yang mulai melangkah menuju kamarnya.
''Loh, emang mama sudah sarapan?
''Udah sama papa kamu tadi, kalian saja yang turunnya kelamaan, papa juga sudah berangkat kerja.'' jelas Lidya
''Oh, yasudah kalau gitu kami turun dulu ya mah?'' ucap Niken yang diangguki oleh Lidya.
Akhirnya Niken dan Rayen pun langsung menuruni anak tangga.
''Pelan-pelan saja sayang jalannya kalau memang masih sakit.'' upan Rayen dengan pelan, namun ternyata cukup terdengar ditelinga Lidya, ia yang tadinya sudah melangkah menuju pintu langsung menoleh kearah Niken, ia memperhatikan cara berjalan Niken yang sedikit mengangkang.
Oh ternyata yang ku dengar tadi malam itu benar,mereka sudah melakukannya sekarang putriku bukan seorang gadis lagi.
Batin Lidya, entah kenapa ada rasa tidak rela dalam hatinya.
NEXT
__ADS_1