CINTAI AKU OM !!!

CINTAI AKU OM !!!
Rencana Syukuran


__ADS_3

Setelah mengatakan itu Regan langsung membawa Windy keluar dari gedung tersebut, mereka batal nonton film, saat ini mereka sedang berada didalam mobil.


'' Kamu kenapa diam saja? apa kamu marah karna saya bilang sama sepupu dari mantan suamimu tadi, kalau kita akan segera meresmikan hubungan kita?''


'' Bukan begitu bang,mana mungkin aku tidak senang, aku hanya merasa bersalah saja.'' ucapnya lirih


'' Kenapa harus merasa bersalah? Lagi pula kamu tidak salah dalam hal apapun, kamu berhak bahagia, jadi saya harap kamu jangan berpikir jika kamu salah dalam hal ini, kamu mengerti kan maksud saya?'' Regan menangkup kedua sisi wajah gadis itu membuat bibirnya otomatis monyong kedepan, Regan tersenyum karna merasa lucu, ia pun langsung mengecup bibir tersebut membuat Windy membulatkan matanya.


'' Kenapa matanya melotot gitu? gk suka dicium?'' tanya Regan yang kini sudah kembali pada posisinya semula.


'' Hah? bukan begitu bang, aku hanya kaget aja tadi, oya sekarang kita kemana? gimana kalau kita makan dulu aku laper.'' ucap Windy mengalihkan pembicaraan, jujur saja Windy sangat takut kalau Regan marah, entar kalau marah Windy sendiri yang bingung membujuknya.


Regan melirik kekasihnya itu dangan ekor matanya, ia lalu menarik sudut bibirnya, Regan tau jika saat ini Windy sedang berusaha membujuknya. Regan melirik jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 5 sore


'' Baiklah kita makan dulu, sebaiknya kita cari cafe yang tak jauh dari sini saja.'' Regan menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan tersebut.


***


Niken baru saja mandi dan baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.

__ADS_1


Ceklek, terdengar suara pintu dibuka bersamaan itu terlihat Rayen yang baru masuk kedalam kamar. Niken berbalik dan menyambutnya dengan senyuman.


'' Dari mana mas?'' tanya Niken sambil kembali mengambil pakaiannya yang ada didalam lemari, Rayen menutup pintu, lalu menguncinya, ia pun langsung melangkah mendekati istrinya yang saat itu hendak menggunakan pakaiannya. Rayen sudah tidak memakai tongkat lagi, namun untuk berjalan normal ia masih membutuhkan sedikit waktu lagi, karna saat ini jalannya masih sedikit pincang.


'' Mas dari ruang kerja papa membahas masalah kantor, sayang mas kangen sama kamu.'' ucapnya sambil memeluk Niken dari belakan lalu mengusap lembut perut buncit sang istri yang masih tertutupi oleh handuk. Niken berbalik menghadap suaminya yang saat itu tengah menatap kearahnya.


'' Aku juga mas, selama aku hamil mas Rayen jarang sekali menyentuh ku, aku jadi merasa hampa,'' rajuk mencebik, kemudian menundukan pandangannya sambil tersenyum malu, karna suaminya itu terus memperhatikan wajahnya yang mulai merona. Memang selama hamil Niken dan Rayen tidak pernah berhubungan, selain karna takut terjadi sesuatu pada janin mereka, karna memang usia kandungannya masih sangat muda, disisi lain karna Rayen merasa nantinya tak mampu memuaskan sang istri seperti sebelum-sebelumnya, sebenarnya sih bisa saja jika Niken yang ambil alih, namun sebagai suami dan seorang laki-laki tentu Rayen malu jika sampai istrinya yang memimpin sementara dirinya masih dalam kondisi terbatas, baru beberapa seminggu terakhir mereka baru sering melakukannya. Rayen mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening istrinya, kedua mata,hidung, dan terakhir bibir ranum sang istri, Rayen sangat menikmati ciuman tersebut, rasa manis dan wangi mint pada mulut sang istri membuat Rayen semangkin bersemangat.


'' Mas,'' lenguh Niken saat suaminya mulai menciumi area lehernya. Rayen menggiring tubuh Niken menuju tempat tidur lalu membaringkannya perlahan, dengan kaki yang masih menjuntai dilantai, Rayen membuka handuk yang masih dikenakan Niken, hingga wanita yang sedang hamil tiga bulan itu kini telah benar-benar polos.


Rayen menelan ludahnya kasar saat melihat betapa seksinya tubuh istrinya itu, dengan bu*ah da*da yang bulat dan ke*nyal dengan pu*ti*ng merah muda yang selalu memancing Rayen untuk segera melahapnya. pandangan Rayen turun keperut yang terlihat mulai membuncit, namun itu semangkin membuat Niken berkali-kali lipat terlihat sek*si dimatanya, dan terakhir pandangannya tertuju pada kerang merah Niken yang selalu menggodanya, Niken merasa miliknya berkedut dan mulai basah karna tera*ng*sa*ng, dikarenakan sejak tadi pandangan Rayen terus tertuju pada inti miliknya. Rayen berjongkok tepat dihadapan inti tubuh Niken yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Perlahan ia membuka sedikit lebar kaki Niken hingga ia dapat melihat daging merah, lalu ia mendekatkan hidungnya disana, dan menghirup dalam aroma harum dibagian tersebut. Melihat itu Niken menggigit bibir bawahnya sensual, sungguh rasanya ia sudah tidak sabar dihi*sap oleh suaminya itu, kalau saja ia tidak malu mungkin Niken akan langsung membenamkan wajah suaminya itu didalam kerang kupas miliknya tersebut. Rayen melirik kearah Niken yang saat itu juga melihat kearahnya dengan pandangan sayu, membuat Rayen semangkin berga*irah, ia tau apa yang diinginkan istrinya itu, tanpa menunggu lama Rayen langsung melahap gumpalan daging tembem yang ada dihadapannya, men*jila*ti seluruh permukaan kerang tersebut dengan lidahnya, ia juga bermain dengan daging kecil yang terlihat menonjol ditengah kerang merah tersebut, Rayen pun langsung memainkan lidahnya disana, ia tau itu adalah titik sensitif bagi wanita, Niken yang merasakan lidah kasar suaminya melen*guh nikmat, namun saat has*rat keduanya sedang nenggebu tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang, namun keduanya tidak perduli mereka masih asik melakukan kegiatannya


Tok-tok-tok!!


'' Niken sayang bisa keluar sebentar gak? Mama dan papa ingin bicara sama kamu, sekalian ajak Rayen juga, cepat ya, jangan lama-lama, mama tunggu!! Setelah mengatakan itu Lidya langsung pergi, meninggalkan dua insan yang sedang menggebu.


'' Mas mama suruh kita keluar,'' ucap Niken sambil menatap suaminya yang juga menatapnya.


'' Nanti saja, mas masih ingin melakukannya sayang, mas udah gk tahan.'' ucapnya memelas, sedangkan Niken sudah duduk dihadapannya.

__ADS_1


'' Aku tau, karna aku pun sama, tapi kalau kita ditunggu seperti ini, aku pasti tidak akan tenang dan juga tidak akan bisa menikmatinya nanti.'' tambah Niken


Rayen menghela nafas prustasi, 'baiklah kita akan kesana, tapi setelah itu kita lanjutkan, ok?''


'' Iya mas, yaudah aku pakai baju dulu ya?'' setelah mengatakan itu Niken langsung melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian dan langsung mengenakannya.


Haduuh kenapa sih mba Lidya datang disaat yang tidak tepat, kan jadi nanggung, bikin kepala nyut-nyutan aja.


Batinnya


'' Ada apa mah? pah? sepertinya penting ya?'' tanya Niken, saat ini mereka sedang berada diruang keluarga.


'' Niken, Rayen, begini, sebenarnya mama dan papa ingin meminta pendapat pada kalian, rencananya diusia kandungan kamu yang keempat bulan nanti, mama dan papa berencana mengadakan syukuran kandungan kamu yang ke empat bulan dan kami ingin mengundang beberapa tetangga dekat dan kerabat bagai mana? Apa kalian setuju?'' tanya Lidya


'' Kalau aku sih terserah mas Rayen saja mah, tapi apa gpp kalau kehamilanku diketahui orang banyak, kan kemarin nikahnya hanya ngundang orang terdekat aja.'' ucap Niken


'' Ya ampun sayang, memang kemarin kita ngundang kerabat dekat saja, tapi apa kamu lupa kalau satu komplek ini mama juga undang? lagi pula mama hanya ingin membungkam mulut mereka yang katanya kemarin kamu dibilang hamil diluar nikah, ya walaupun mama gk dengar secara langsung sih, lagian ya mama hanya ingin buktikan pada mereka kalau semua itu tidak benar.'' ucap Lidya, Niken mengangguk paham, Lidya melirik pada Rayen yang terlihat bette dan tidak bersemangat.


'' Kamu kenapa Ray? gk setuju dengan usulan mama?''

__ADS_1


Next


__ADS_2