
Saat ini Niken sedang berada di depan pintu, gadis muda yang sedang hamil empat bulan itu sejak tadi terlihat mondar-mandir disana, berharap suaminya itu akan segera tiba, Niken melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul dua siang, itu artinya acara akan segera dimulai.
'' Masih belum sampai juga? ini sudah waktunya loh Niken, memangnya suami kamu itu sudah sampai dimana?'' tanya Lidya dengan nada kesalnya.
'' Aku ju--,'' belum sempat Niken melanjutkan ucapannya terdengar suara deru mesin mobil dibarengi suara klakson membuat keduanya langsung mengalihkan pandangannya.
'' Ah itu dia mas Rayen.'' ucap Niken yang langsung keluar untuk menyambut suaminya.
'' Maaf sayang mas terlambat, apa acaranya sudah dimulai?'' tanya Rayen begitu keluar dari dalam mobil, terlihat laki-laki tampan itu sudah rapi dengan pakaiannya yang memakai baju koko berwarna peach senada dengan gaun tertutup yang dikenakan istrinya, untung saja ia tadi membawa pakaian tersebut pikirnya.
'' Suda-sudah jangan kebanyakan ngobrol, cepatan masuk acara sudah mau dimulai itu, tuan rumah kok malah datang telat.'' ucap Lidya sambil berlalu meninggalkan keduanya.
'' Mas minta maaf ya sayang karna telat.'' sesal Rayen
'' Sudah gpp kok mas, yang pentingkan sekarang kamu sudah disini, jadi kita bisa segeta mulai acaranya.
'' Yasudah yuk kita kesana, nanti mama kamu bisa marah lagi kalau kelamaan,' ucap Reyen sambil terkekeh diakhir kalimatnya, sedangkan Niken hanya menggeleng sambil tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
'' Itu dia menantu saya pak ustazd kalau gitu bisa kita mulai acaranya sekarang?'' tanya Frans kepada pak ustazd yang akan memimpin pengajian,doa dan acaranya.
'' Iya baik pak,'' jawab pak ustazd
Saat ini Niken duduk berdampingan dengan suaminya bersama Lidya dan juga Frans, tak jauh dari mereka juga terlihat Windy dan juga Putri yang menggunakan pakaian tertutup, pak ustazd juga sudah akan memulai acara pengajian dan setelahnya akan ditutup dengan serangkaian doa.
SATU JAM KEMUDIAN..
Serangkaian acara telah selesai, semua berjalan dengan lancar dan hikmat, para tetangga komplek lainnya juga sudah banyak yang pulang hanya tinggal beberapa saja.
__ADS_1
'' Niken selamat ya, usia kandungannya sudah memasuki bulan keempat, padahal nikahnya belum ada setahun, hebat juga ya suaminya.'' ucap salah satu ibu-ibu komplek
'' Iya jadi mulut-mulut yang dulu pernah menggunjing anak saya sudah pada tau kan, jika anak kesayangan saya ini tidak hamil diluar nikah.'' sambung Lidya menyindir beberapa ibu-ibu komplek yang dulu sering mencibir putrinya dan mengatakan jika Niken telah hamil makanya menikah secara mendadak. Sebagian ibu-ibu tak menjawab ucapan Lidya karna memang benar adanya mereka dulu pernah menggunjing putrinya.
'' Aah, jeng Lidya ini bisa saja, dulu kan ibu-ibu secara mendadak mendapatkan beritanya jadi pasti sebagian berprasangka jika Niken hamil, benar gk ibu-ibu?'' ucap salah satu tetangga bermulut nyinyir.
'' Iya jeng Lidya, tapi kini kami sudah tau kok kebenarannya.'' sambung ibu yang lainnya. Sedangkan Niken hanya tersenyum kecut mendengar ucapan ibu-ibu tersebut, ia tak ingin ambil pusing, toh mereka juga sudah tau jika hal itu tidak benar.
Niken mencari-cari keberadaan kedua sahabatnya yang tak kelihatan setelah acara selesai.'' Pada kemana tuh anak-anak, kok ngilang? apa mungkin pulang ya?'' saat Niken sibuk mencari keberadaan kedua sahabatnya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Membuat wanita yang tengah hamil muda itu langsung menoleh kebelakang.
'' Kakak.'' panggil Niken sambil tersenyum, membuat pria yang dipanggil kakak tersebut ikut tersenyum.
'' Aku gk nyangka ternyata selama ini kamu adalah istrinya pak bos. Sepertinya tidak ada harapan lagi ya bagiku?'' ucapnya dengan wajah dibuat murung.
'' Iih, apaan sih kak Imam, kakak kan tampan pasti banyak cewek diluaran sana yang suka sama kak Imam.'' jawab Niken sambil tersenyum, ya dia adalah Imam, pemuda yang bekerja dikantor papa dan suaminya Rayen, laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Niken.
'' Jangan merendah deh, kak Imam itu kan hidupnya udah mapan, pekerja keras lagi, aku yakin banyak perempuan diluaran sana yang ngantri.
'' Emangnya kakak penjaga kasir pada banyak yang antri.'' mendengar ucapan Imam membuat Niken tergelak karna merasa lucu, tanpa mereka sadari ada sepasang netra dengan tatapan tajam nya yang sejak tadi melihat interaksi keduanya.
***
'' Eh kalian ya, sejak tadi dicariin ternyata disini.'' ucap Niken dengan wajah cemberut, saat ini Niken melihat kedua sahabatnya sedang menikmati cemilan yang ada didepan keduanya.
'' Ini tuh jarang-jarang gue nemuin makanan kayak gini Ken, jadi mumpung masih ada gue embat aja dulu, ya gk Win?'' ucap Putri sambil mengunyah makanannya.
'' Ho'oh,'' jawab Windy sambil menikmati rujak serut.
__ADS_1
'' Ih, mau dong.'' ucap Niken yang tiba-tiba merebut milik Windy membuat gadis itu mendengus.
'' Niken, itu punya gue, nyebelin banget sih, bukannya ambil sendiri juga.'' gerutunya sambil berlalu untuk kembali mengambil rujak tersebut.
'' Woy Windy loe ngidam ya? Sejak tadi itu mulu yang dikunyah.'' ucap Putri dengan suara yang sedikit kuat karna keberadaan Windy yang sedikit jauh dari mereka, untung saja tidak ada yang mendengar karna memang semua tamu sudah pada pulang, hanya tinggal beberapa kerabat dekat saja.
'' Ya kalau gue hamil juga palingan anaknya bang Regan.'' jawab Windy membuat kedua sahabatnya melotot kearahnya, Windy yang baru menyadari ucapannya langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
'' Wa-wah-wah, sepertinya sahabat kita yang satu ini mainnya udah dalam banget Ken, gue aja yang hampir lima bulan belum ada kemajuan, masih sekedar ra*ba-ra*ba doang, nah elu, udah main kuda-kudaan aja sama abang gue, oya gimana punya abang gue, besar gk??'' goda Putri sambil menaik-turunkan alisnya.
'' Gila loe ya Put, ngomong gk pakai filter entar kedengaran orang giman? dipikirnya gue apaan lagi.'' protes Windy
'' Lah kok jadi gue? kan elu, benar gk Ken? Loe napa diam bae?'' tanya Putri pada Niken
'' Aku syok aja dengernya ternyata Windy dalem juga ya permainannya?'' canda Niken sambil terkekeh, Windy hanya mendengus saat jadi bahan olokan kedua sahabatnya.
'' Eh tapi-tapi ini seriusan kamu udah maen sama abang gue??'' Putri kembali bertanya karna masih merasa penasaran.
'' Tadi itu gue becanda Putri, serius amat, mana mungkin gue sama bang Regan melakukan itu.'' jawab Windy terlihat wajahnya sedikit memerah saat bicara mungkin ia kembali teringat adegan demi adegan yang ia lakukan bersama Regan, dan Niken dapat melihat itu.
'' Ah yang benar loe? tapi gue kok gk yakin ya?'' ucap Putri kembali menggoda
'' Coba aja nanti kamu tanya sama bang Regan Put, Niken ikut -ikutan meledek.
'' Iihh, apaan sih kalian kamu juga Ken, kok jadi ikut-ikutan si Putri nyebelinnya.'' Windy memberengut.
'' Ya habisnya loe tinggal jawab iya aja susah banget.'' Putri kembali bicara membuat Windy memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
Next