
Saat ini Rayen sedang sedang duduk didepan pak penghulu, jantungnya sejak tadi selalu berdetak kencang seperti orang yang baru saja berlari kencang.
Pernikahan mereka hanya dihadiri kerabat dekat dan juga beberapa tetangga dekat yang dipercaya saja, yang tidak suka bergosip tentunya seperti tetangga kebanyakan.
''Itu dia mempelainya wanitanya, waah putri tuan Mahendra benar-benar cantik ya, sayang anak kita sedang kuliah ya pah, kalau tau gadis yang dia suka sudah menikah pasti dia sangat patah hati, padahal mama pengen banget punya menantu seperti Niken, udah cantik, baik lagi.'' ucap salah satu tetangga yang sedikit kecewa karna Niken menikah dsngan orang lain. dan semua itu tak luput dari pendengaran Rayen, sebenarna bukan hanya satu dua orang saja yang mengharapkan Niken jadi menantu para ibu-ibu tersebut, bahkan hampir semua ibu-ibu yang datang mengharapkan yang sama.
Maaf karna telah mrmbuat kalian semua kecewa tante, tapi Niken hanya milik saya saat ini dan sampai kapanpun.
Batin Rayen sambil menatap calon istrinya dengan mata yang tak berkedip sedetikpun, rasanya sangat sayang jika kecantikan calon istrinya itu terlewatkan walau sedetik saja dari pandangannya.
''Berkedip mas!" ucap Niken, yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya, bagai terhipnotis kata-katanya membuat Rayen seketika mengikuti ucapan gadis itu, membuat sebagian orang yang ada disana tersenyum melihatnya.
''Sepertinya calon mantu papa udah bucin akut sama putri kita.'' ucap Lidya
''Iya, mama benar, dan papa sangat berharap Rayen bisa menjaga putri kita.'' jawab Frans penuh harap.
Saat ini kedua mempelai sudah duduk berdampingan, didepan keduanya ada pak penghulu dan juga Frans yang akan menikahkan putri semata wayangnya.
''Baiklah bisa kita mulai sekarang??'' ucap bapak penghulu.
''Mas liat depan dong!!" ucap Niken pelan karna sejak tadi calon suaminya tersebut sesalu menatap kearah nya.
''Rayen, pak penghulunya bukan disamping kamu, tapi didepan.'' ucap Frans yang seketika membuat Rayen tersentak dari lamunannya.
''Ray fokus dong!! lihat saya jika kamu mau Niken menjadi istrimu maka hadapi saya dulu!" ucap Frans tegas, membuat Rayen langsung menganggukan kepalanya.
''Baiklah nak Rayen Pramuja apa anda sudah siap??'' tanya pak penghulu.
''Siap pak,'' jawabnya mantap
''Baiklah silahkan jabat tangan ayah dari mempelai wanita!" ucap pak penghulu memberi arahan. Dan saat ini Rayen sedang menjabat tangan Frans.
''Ray, santai dong, jangan terlalu tegang, ini tangan bukan kayu.'' protes Frans saat tangannya digenggam dengan kuat oleh calon mantunya itu. Semua yang melihatnya langsung tertawa sebelum akhirnya mereka kembali fokus pada acara tersebut.
''Sudah-sudah, sekarang kita kembali fokus ya? silahkan pak Frans dan nak Rayendra!" ucap pak penghulu menginterupsi
__ADS_1
''Baik pak penghulu.'' ucap Frans yang kembali menjabat tangan calon mantunya tersebut.
''BISMILAHIROHMANIROHIM, SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ENGKAU ANANDA RAYENDRA PRAMUJA BIN SUHARDI DENGAN PUTRI KANDUNG SAYA NIKEN ANJANI BINTI FRANS MAHENDRA DENGAN MASKAWIN SATU SET PERHIASAN EMAS DIBAYAR TUNAI!!!
Frans langsung menggoyangkan tangan Rayen agar ia langsung menyambungnya.
''SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA NIKEN ANJANI BINTI FRANS MAHENRA DENGAN MASKAWIN SATU SET PERHIASAN EMAS DIBAYAR TUNAI!!
Jawabnya jelas dan lantang
''Bagai mana para saksi sah??'' tanya penghulu
''SAAAHHHH!!! jawab para saksi.
''Alhamdulillah....
Setelahnya mereka langsung memanjatkan doa kemudian juga menandatangani surat-surat yang diperlukan.
Niken mencium tangan Rayen yang kini sudah sah menjadi suaminya, begitu juga Rayen ia segera membalas dengan mencium kening sang istri.
''Iya mah, sku berjanji akan sesalu ingat nasehat mama dan juga papa.'' jawab Niken.
''Ray, tolong jaga dan lindungi putri kami ya? kami percaya padamu, kami yakin kau bisa mencintai dan menjaga nya dengan baik, dia masih kecil, kami berharap kau bisa memakluminya jika sifatnya yang masih kekanak-kanakan.'' ucap Frans memberikan wejangan.
''Iya bang saya berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan Niken.'' jawabnya tanpa ragu.
''Selamat ya Niken, sekarang kamu sudah sah menjadi nyonya Rayendra, nanti jangan lupa ya kasih tau rasanya setelah belah duren.'' bisik Putri sambil menaik turunkan alisnya.
''Enak aja, cari tau sendiri dong.'' ucap Niken yang kembali menggoda Putri membuat gadis itu langsung mencebik.Sedangkan Windy hanya tersenyum mendengar candaan kedua sahabatnya.
Tak terasa hari sudah mulai sore, para tamu dan juga kerabat sudah mulai pulang satu persatu, hanya tinggal beberapa kerabat dekat saja yang terlihat sedang berbincang dengan tuan rumah.
Niken dan Windy masih asik mengobrol sedangkan Putri sudah pamit lebih dulu karna ada janji dengan Rangga.
Sementara Rayen dan Leo juga sedang berbincang disudut ruangan.
__ADS_1
''Udaah sabar kenapa sih, malam masih panjang.'' ucap Leo saat melihat Rayen ysng sejak tadi selalu menatap kearah istrinya.
''Ya maklumlah Le, saya kan baru dan belum pernah merasakan.'' ucap Rayen yang masih terus mencuri pandang pada Niken.
''Yaelah loe bilang apa tadi?? belum pernah merasakan?? jadi selama ini dengan Viona itu apaan??'' ucap Leo membuat Rayen seketika membekap mulut lemes sahabatnya itu.
''Sialan kamu Le, untung gk ada yang dengar.'' garutu Rayen
*
Tepat jam enam sore akhirnya Niken dan Rayen bisa masuk kedalam kamar untuk istirahat, mereka masuk kekamar milik Rayen, karna malam ini mereka akan menghabiskan malam panjang disana atas kemauan Niken.
Setelah keduanya masuk Rayen langsung mengunci pintu kamarnya. Melihat itu Niken tersenyum ia langsung mendekat kearah suaminya dan langsung menghambur kepelukan Rayen.
''Mas aku kangen banget sama kamu sayang.'' ucap Niken sambil membenamkan wajahnya didada bidang suaminya, ia menghirup dalam aroma tubuh Rayen yang selalau membuatnya nyaman dan rilex.
''Sebaiknya kamu mandi sayang, mas akan siapkan air hangat untukmu.''
''Nanti saja mas, aku mau kita seperti ini dulu.'' ucap Niken yang semangkin erat memeluk tubuh suaminya.
''Baiklah, nanti saja kita mandinya barengan ya?'' ucap Rayen yang sengaja menggoda sang istri, Niken hanya mengangguk pasrah.
''Hampir sepuluh menit mereka saling peluk, namun tak sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya, mereka mencurahkan rasa hanya cukup dengan cara bahasa tubuh masing-masing.
''Mas aku merasa sangat bahagia karna impianku selama ini sudah menjadi kenyataan, rasanya ini seperti mimpi, akhirnya aku bisa memiliki mas Rayen sepenuhnya.'' ucap Niken yang masih dalam pelukan Rayen.
''Mas juga gk percaya jika mas bisa menikah dan jatuh cinta dengan keponakan mas sendiri.'' ucap Rayen yang masih mendekap tubuh Niken.
Mendengar ucapan Rayen Niken segera melerai pelukan mereka.
''Apa mas menyesal karna memiliki rasa itu padaku??'' tanya Niken sambil mrnatap mata suaminya.
''Tentu saja tidak, malah mas merasa sangat bersyukur bisa menjadikan kamu sebagai istrinya mas sayang.'' jelas Rayen
''Makasih ya mas, karna mas sudah mau menerimaku sebagai istri nya mas Rayen, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung didunia ini karna bisa menikah dengan mas.''
__ADS_1
Next