
Rayen dan Niken masih terdiam di tempatnya, mereka sengaja membiarkan Lidya untuk bisa menjernihkan pikirannya dulu, karna mungkin ia masih terlalu syok dengan pernyataan Niken dan juga Rayen.
''Mah, tapi aku sangat mencintai om Rayen mah, aku gk bisa kalau tanpa om Rayen, aku mohon mama restui ya hubungan aku dengan om Rayen?'' Niken terus memohon pada Lidya yang sepertinya masih keukeh dengan pendiriannya.
''Tau apa kamu soal cinta Niken, kamu itu masih kecil, belum juga 17 tahun, udah sok-soan main cinta-cintaan segala, pokoknya mama gk akan mengijinkan kamu pacaran apa lagi sama Rayen, kamu taukan dia itu om kamu, tidak sepantasnya kamu menaruh perasaan pada nya.'' jelas Lidya berapi-api.
''Tapi tetap saja dia bukan om kandungku mah, apa mama lupa?.'' balas Niken tak kalah emosi.
''Niken! berani sekali kamu teriak sama mama? jangan kurang ajar kamu ya! dan kamu Rayen mba gk habis pikir sama kamu, emangnya udah gk ada lagi ya perempuan dimuka bumi ini hingga keponakanmu sendiri kamu embat juga?.'' Lidya merasa sangat marah dengan apa yang yang terjadi hingga perkataan kasarpun terlontar dari mulutnya, bahkan Lidya sama sekali tak memberika kesempatan bagi Rayen untuk menjelaskan semua.
Sedangkan Niken terus menangis mendengar ucapan Lidya yang mengatakan tidak akan merestui hubungan mereka.
Rayen sama sekalintidak tersinggung dengan ucapan Lidya, karna kenyataannya itu semua memang benar,,, Rayen menatap iba pada Niken ia sama sekali tidak tega melihat Niken terus menangis dan juga memohon pada ibunya,hatinya terasa sakit melihatnya.
Tatapan Rayen beralih pada Frans yang saat itu duduk sambil memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
''Rayen sebaiknya kau ikut saya keruangan kerja sekarang kita bicara disana!" Frans bangkit dari duduk nya dan langsung melangkah menuju ruang kerjanya.
Tal lama Rayen pun bangkit dari duduknya untuk menyusul abangnya Frans.
''Papa mau bicara apa pada Rayen? apa papa ingin menyuruh Rayen untuk menjauhi Niken.
Batin Lidya
Sedangkan Niken menatap nanar pada Rayen dan juga Frans, dalam hati ia berharap semoga papa nya mau merestui hubungan mereka, walau pun ia juga tidak tau akhirnya akan seperti apa.
''Niken mama mau sekarang kamu masuk kamar!" ucap Lidya
__ADS_1
''Tapi mah, aku masih ingin menunggu om Rayen.
''Masuk mama bilang!'' Lidya kembali berteriak.
Melihat Lidya berteriak pada nya membuat nyali Niken sedikit menciut, dan akhirnya ia pun langsung berlari menuju dimana kamarnya berada.
''Mama jahat, gk pernah mau ngerti persaan aku.'' Niken berlari menuju lantai dua kamarnya.
Braakk!! terdengar suara pintu kamar ditutup dengan kuat, membuat Lidya terjengkit kaget.
''Ya Tuhan, anak itu kenapa jadi pembangkang begitu?? dan kenapa semuanya jadi seperti ini, ternyata selama ini anak ku sendiri mencintai omnya, huufff...'' Lidya merasa pening dipangkal hidungnya.
Hiks-hiks
Kenapa mama gk mau ngerti perasaan aku sih, aku gk pernah minta apapun sebelumnya, aku juga selalu nurut apa kata mereka tapi kenapa mereka tidak mau ngerti perasaan ku kali ini aja.'' monolognya sambil terus menangis sesegukan.
''Katakan, sejak kapan kalian berdua menjalin hubungan ini?'' Frans terus menatapnya dengan tatapan intimidasi membuat Rayen menelan ludahnya kasar.
''Baru satu bulan terakhir ini bang, saya mohon, tolong restui hubungan kami bang Frans, saya sangat mencintai Niken, sebelumnya saya minta maaf,mungkin menurut abang perasaan saya ini tidak pantas, tapi saya memang benar- benar mencintai Niken dan saya tidak main-main dalam hal ini.'' Rayen berusaha meyakinkan Frans jika dia memang serius dengan Niken.
''Rayen, kau taukan kalau Niken itu masih anak-anak, dia itu masih labil, dan mungkin saja besok perasaannya pada mu sudah berubah, memangnya kau tidak takut itu terjadi?'' ucap Frans
Rayen menghela nafas dalam, sebelum kembali melanjutkan ucspannya.
''Sebenarnya awalnya saya juga mengira seperti itu, jujur bang, Niken sudah lama menyatakan persaannya pada saya bahkan sudah hampir satu tahun yang lalu.'' ungkap Rayen.Tentu saja pernyataan yang diberikan Rayen membuat Frans sangat terkejut, bangai mana bisa dirinya tidak tau sama sekali jika putri semata wayangnya menyukai om nya sendiri.Rayen sempat melihat raut wajah terkejut dari abang angkatnya tersebut, namun beberapa saat setelahnya Rayen melihat ekpresi biasa lagi yang ditunjukan oleh Frans, mungkin untuk menutupi rasa keterkejutannya.
''Lalu?'' tanya Frans lebih lanjut
__ADS_1
''Saat itu saya coba jelaskan pada Niken, jika itu bukanlah persaan cinta melainkan rasa sayang keponakan kepada pamannya, namun Niken keukeh mengatakan jika dia jahuh cinta pada saya, bahkan setiap kali saya bersama Viona dulu, dia selalu menunjukan ketidak sukaannya terhadap Viona.'' jelas Rayen.
''Rayen, yang saya tau kamu sangat mencintai Viona, kenapa tiba-tiba kalian bisa putus? apa karna ini ada hubungannya dengan Niken?'' tebak Frans.
''Bang Frans, sebenarnya saya memutuskan hubungan dengan Viona bukan karna Niken, jauh sebelum itu saya memang sudah tidak mencintai Viona lagi,bahkan sebelum saya memiliki perasaan pada Niken, saya juga tidak tau kenapa lambat laun persaan ini mulai memudar.'' jelas Rayen.
''Jadi saya mohon bang, berikan saya kesempatan, saya berjanji akan menjaga dan mencintai Niken dengan segenap hati saya.'' ucap Rayen memelas, ia berusaha untuk menyakinkan Frans jika persaannya pada Niken bukan hanya sekedar pelarian, namun itu adalah benar-benar rasa cinta.
*
*
*
Pagi ini seperti biasa, Niken dan kedua orangtuanya sedang berada dimeja makan untuk menikmati sarapan pagi, ketiganya tak ada yang bicara hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.Frans melirik pada istrinya dan memberi isyarat agar mau mengajak putrinya itu bicara.
Lidya memperhatikan wajah sembab dangan mata yang sedikit membengkak pada putrinya, mungkin karna efek habis menangis semalaman, Lidya berdecak melihat kelakuan putrinya ini, dan benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa jatuh cinta dengan omnya sendiri.
''Mama gk habis pikir sama kamu ya, apa sih istimewanya Rayen dimata kamu? hanya karna dia saja kamu menagis semalaman hingga membuat wajah dan mata kamu bengkak seperti itu.'' ucap Lidya pedas membuat Niken menatap malas pada ibunya tersebut, namun ia hanya diam, tak ingin lagi rasanya berdebat, karna Niken merasa tubuh dan pikirannya sangat lelah
Sedangkan Frans yang mendengar ocehan sang istri hanya menggeleng pelan, tanpa mau ikut campur.
''Aku sudah selesai.'' ucap Niken sambil.bangkit dari duduknya setelah itu berlalu begitu saja.
''Pah, coba lihat anak kamu, mama benar-benar gk habis pikir, kenapa coba harus Rayen yang dia suka, kenapa harus omnya sendiri bagai mana mungkin, coba papa pikir Viona itu sangat mencintai Rayen, bahkan sampai sekarang, gimana kalau dia tau bahwa Rayen menjalin hubungan dengan Niken bisa-bisa anak kita dalam bahaya, karna mama tau Viona itu seperti apa.'' jelas Lidya
NEXT
__ADS_1