
Setelah mendapat penjelasan dari Regan Putri langsung kembali namun dengan wajah yang masih terlihat masam.
'' Masksud bang Regan apa coba bicara seperti itu? apa dia suka sama Windy, memangnya gk ada perempuan lain apa? kenapa harus dia? ya walaupun dia sahabat aku, tetap aja aku gk mau, tapi kalau bang Regannya suka gimana dong? apa aku harus terima itu semua? tapi masa aku harus punya kakak ipar sahabat aku sendiri sih, janda lagi.'' Putri masih berperang dengan pikirannya, tak pernah terpikirkan oleh Putri jika abangnya harus menjalin hubungan dengan sahabatnya. Entahlah tidak ada yang tau apa yang ada dipikiran saat ini, seharusnya sebagai sahabat ia harus mendukungnya bukan?, tapi sepertinya semua ini tak berlaku bagi Putri.
'' Sayang kamu kenapa sih kok mukanya cemberut gitu?'' tanya Rangga
'' Gk ada apa-apa kok, yaudah yuk kita kesana gabung sama teman-teman.'' ajak Putri sambil menarik tangan kekasihnya.
''Mas kamu kenapa sih, kok kayaknya bette banget?'' tanya Niken saat ini sepasang suami istri tersebut sedang duduk disalah satu kursi cafe.
'' Mas hanya sedikit bosan, disini anak muda semua mas merasa gk cocok.'' ucap Rayen yang seketika membuat Niken tersenyum.
'' Oh, jadi akhirnya mas mengakui juga jika mas itu sudah tua iya?'' ucap Niken sambil terkekeh pelan.
'' Iya-iya mas memang sudah tua,puas kamu.''
'' Uluh-uluh gitu aja ngambek, gpp tua yang penting masih hot, lagi pula itu bukan tua sayang tapi matang, dan aku suka dengan pria matang, karna itu sangat menggairahkan.'' bisik Niken sambil tersenyum menggoda.
'' Kalau soal yang itu jangan ditanya, jika nanti usianya mas udah 60 tahun mas juga masih bisa bikin kamu puas dan merintih keenakan sayang.'' jawabnya membalas godaan sang istri.
'' Uh, jadi pengen akunya mas, dengar kamu ngomong gitu aja udah buat punya ku basah.'' ucapnya tanpa malu.
'' Mana sini biar mas pegang.
'' Ih, apaan sih mas, ya gk disini juga kali.'' ucapnya sewot membuat Rayen terkekeh mendengar nya.
'' Sayang kita pulang aja yuk?'' ajak Rayen
'' Kok pulang mas kan belum selesai, nanti Putri marah lagi loh sama aku.''
'' Habisnya mas gk tahan dengar ucapan kamu, mas pengen sayang, coba pegang nih punya mas udah mulai keras.'' ucap Rayen, yang seketika membuat istrinya menggelengkan kepala.
'' Tunggu bentar lagi ya mas,setidaknya sampai jam sepuluh deh.'' bujuk Niken
'' Heem,'' Rayen hanya berdehem sebagai jawaban pasrahnya.
'' Ngomong-ngomong bau tubuh kamu udah beda mas, aku suka.''
'' Iya mas ganti, kan kamu gk suka padahal itu parfum pavorit nya mas loh, tapi karna istrinya mas gk suka baunya jadi yaudah mas gk akan pakai lagi, lagian mas sedikit heran deh, padahal dulu kamu suka banget loh sama wanginya tapi sekarang kok enggak.
'' Dulu itu wanginya gk seperti itu mas, sekarang baunya kayak minyak nyong-nyong buat aku mual.'' jawabnya
Rayen merasa sedikit aneh dengan sikap istrinya belakangan ini, namun ia tak terlalu mempermasalahkannya.
Terlihat saat ini Windy sedang duduk bersama dengan teman sekelasnya, entah apa yang mereka bahas saat ini yang pasti Windy terlihat serius menanggapi ucapan lawan bicaranya tersebut, saat ia memperhatikan sekitar tak sengaja matanya bertemu pandang dengan Regan, pria itu terlihat mengangkat sebuah gelas yang berisikan minuman pada Windy, gadis itu hanya tersenyum menanggapi abang dari sahabatnya itu.
Diam-diam Windy kembali melirik kearah Regan, yang membuatnya membulatkan matanya, kala ternyata pria itu juga menatap kearahnya.
Astaga, malu banget rasanya, ternyata dia juga menatap kearahku.
__ADS_1
Batin Windy merasa malu karna ketahuan.
...****************...
'' Put gue pulang ya? udah malam banget ternyata.
'' Loe bawa mobil kan?'' tanya Putri nemastikan
'' Bawa kok, yaudah gue pulang dulu.'' setelah itu ia langsung melangkah menuju luar cafe.
Putri menatap punggung sahabatnya yang kian menjauh, ada rasa tidak tega dalam hatinya.
Putri melihat Regan melangkah menuju kearah nya.
'' Bang, abang mau pulang?'' tanya Putri
'' Iya, bareng kamu kan?'' tanya Regan memastikan.
'' Aku boleh minta tolong gk?
'' Apa? tumben banget.
'' Aku minta tolong abang mau ya antarin Windy pulang kerumahnya, aku khawatir sama dia, mau ya bang? saat ini dia sudah berada diparkiran, kalau aku gampang nanti pulangnya bisa diantar sama Rangga.'' jelas Putri
Regan hanya mengangguk, setelah itu ia langsung melangkah keluar cafe dan menuju parkiran.
'' Windy!'' panggil Regan saat gadis tersebut hendak masuk kedalam mobil miliknya.
'' Iya bang, ada apa?
'' Kamu mau pulang?
'' Iya, udah malam juga.'' jawabnya sambil tersenyum.
'' Biar saya yang antar kamu pulang kerumah.!'
'' Gk perlu repot bang, aku bisa pulang sendiri.'' tolak nya halus.
'' Perempuan gk baik pulang sendirian, udah biar saya saja yang antar.'' ucap Regan sedikit memaksa
'' Tapi mobil ku?
' Udah biar aja disana nanti biar saya yang suruh orang antar kerumah kamu.''
'' Baiklah.'' ucapnya pasrah, namun dalam hati Windy merasa sangat senang karna diperhatikan oleh Regan, lelaki yang belakangan ini selalu membuat jantungnya berdegup kencang.
Didalam mobil keduanya hanya saling diam, sungguh membuat Windy merasa tidak nyaman karna merasa canggung, sungguh berdekatan dengan Regan membuat kesehatan jantungnya memburuk.
Duuh aku merasa nervous banget duduk berdekatan dengan bang Regan, seharusnya aku gk terima ajakannya tadi, aku merasa grogi banget sekarang.
__ADS_1
Batinnya yang merasa menyesal telah menerima tawaran lelaki tersebut, bukan karna tidak suka, melainkan karna terlalu senang hingga membuatnya merasa bingung harus berbuat apa, Windy merasa ia seperti orang bodoh sekarang.
'' Kamu kenapa diam aja? lagi sakit gigi?'' tanya Regan dengan candaan, namun terdengar garing.
'' Gk kok bang, aku hanya bingung mau ngomong apa sama abang.'' jawabnya polos
Regan tertawa mendengar jawaban gadis yang ada disampingnya saat ini terlalu jujur pikirnya
Tak terasa mobil yang keduanya tumpangi sudah berada di depan rumah kedua orangtuanya Windy,
'' Makasih ya bang, udah mau nganterin aku pulang.'' ucap Windy
'' Iya sama-sama, mungkin besok pagi mobil kamu udah diantar oleh orang suruhan saya.'' jelas nya
'' Iya sekali lagi terimakasih maaf merepotkan.'' ucapnya sambil membuka pintu mobil tersebut.
'' Tunggu Windy!" tiba-tiba saja Regan memegang tangan gadis itu membuat jantungnya kembali berdegup.
Deg-deg-deg
Aduuh, mam*pus, kenapa nih jantung kambuh lagi sih, ini juga bang Regan, ngapain pakai acara pegang tanganku segala, kalau seperti ini pasti dia bisa mendengar suara jantungku.
Protesnya dalam hati
'' Windy, kamu kenapa melamun?'' ucap Regan sambil menggoyang sedikit tangannya untuk mengembalikan kesadaran gadis itu.
'' Eh, iya bang, ada apa?'' tanya nya bingung
'' Saya hanya mau bilang kalau mau keluar seatbeltnya dibuka dulu, gimana kamu keluar kalau gk dilepas ininya.'' ucap Regan sambil menyentuh seatbelt yang masih terpasang ditubuh Windy.
Tiba-tiba tubuh Regan mendekat, membuat Windy replek memejamkan matanya.
'' Kenapa kamu memejamkan mata?
'' Hah?'' ucapnya seperti orang bodoh, membuat Regan terkikik geli dalam hati, menurutnya gadis didepannya saat ini sangatlah polos, mungkin ini yang membaut mantan suaminya dulu bisa mengkhianatinya. Begitulah kira-kira yang ada dipikiran Regan saat ini.
'' Memang yang kau pikir tadi apasih hem?'' Regan kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Windy membuat gadis tersebut menahan nafasnya untuk beberapa detik. Bahkan sekarang Windy bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu menampar wajahnya, membuat bulu kuduknya meremang.
Tiba-tiba..
Tek! terdengar suara sesuatu dan itu adalah suara seatbelt yang dibuka oleh Regan.
'' Masuklah, sudah malam.'' ucapnya yang kini sudah menjauhkan wajahnya dari Windy.
Astaga rasanya aku mau pingsan saja, malam ini benar-benar mendebarkan bagiku.
Batinnya.
Terlihat Windy menghela nafas lega. Setelah itu ia langsung keluar dari mobil Regan tanpa berkata apapun lagi, Regan hanya menggelengkan kepalanya merasa lucu.
__ADS_1
NEXT