CINTAI AKU OM !!!

CINTAI AKU OM !!!
Meminta Restu


__ADS_3

Saat ini Niken dan Rayen sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Mahendra, sepanjang perjalanan sepasang kekasih itu terus saling menggenggam, seolah tak ingin terlepas satu sama lain.


''Mas aku kok jadi deg-degan gini ya?'' ucap Niken sambil memegangi dadanya yang terasa berdebar.


''Masa sih sayang, mana? coba mas pengang.'' ucap Rayen sambil mengarahkan tangannya pada dada Niken, namun sebelum Rayen berhasil menyentuhnya, Niken lebih dulu menepis tangan kekasihnya itu.


''Gk usah modus deh mas.'' ucap Niken yang sebenarnya tau jika kekasihnya itu hanya berniat iseng padanya.


''Loh, kok gitu sih yang? siapa juga yang modusin kamu, mas kan hanya ingin tau apakah dada mu itu benar-benar berdebar atau tidak.'' ucap Rayen berdalih.


Namun Niken hanya mendengus sambil menatap sinis pada Rayen, membuat laki-laki itu terkekeh pelan.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah keluarga Niken.


''Kita sudah sampai, ayo turun!'' ajak Rayen sambil membuka pintu mobilnya.


Niken melangkah masuk, disusul Rayen dari belakang, samar-samar Niken mendengar suara orang ngobrol diruang tamu, dan Niken yakin jika itu adalah suara kedua orangtuanya.


''Mah, pah, sapa Niken sambil melangkah mendekati keduanya disusul oleh Rayen yang masih setia mengekor pada Niken dari belakang.


''Loh kalian bersama?'' ucap Lidya


Keduanya hanya tersenyum menanggapi ucapan Lidya.


''Mah, pah, katanya om Rayen ingin mengatakan sesuatu sama kalian.'' ucap Niken membuat kedua orang tuanya menatap penasaran pada Rayen.

__ADS_1


''Om yang semangat ya?! aku keatas dulu mau mandi lagi rasanya masih gerah.'' ucap Niken


''Maksud kamu dengan mandi lagi apa sayang? emangnya tadi kamu sudah mandi?'' tanya Lidya.


''Enggak kok mah, aku hanya bercanda, kalau gitu aku keatas dulu ya.'' ucapnya sambil melangkah dengan cepat menuju tangga.


"Duduk Ray!" ucap Lidya yang diangguki oleh Rayen.


''Oya? memangnya kamu mau ngomong apa Ray? jangan bilang jika kamu ingin meminta ijin untuk menikahi Niken ya, karna saya gk akan mengijinkan Niken menikah saat ini.'' ucap Frans seolah tau isi pikiran adik angkatnya itu.


Rayen sedikit terkejut saat Frans bisa langsung menebak isi pikirannya.


''Sebenarnya saya memang akan meminta itu sama bang Frans dan juga mba Lidya, saya berniat ingin menjadikan Niken istri saya bang,dan kami sudah membicarakannya berdua, Niken juga sudah setuju, jadi saya mohon tolonglah ijin kan saya untuk menikahinya, saya berjanji akan menjaga dan juga membahagiakannya.'' ucap Rayen memohon.


''Rayen abang percaya sama kamu, tapi masalahnya bukan itu, kamu kan tau jika Niken itu belum genap 17 tahun, dia itu masih remaja, dan juga masih sangat labil, ok, jika sekarang dia bilang ingin menikah dengan mu, tapi apa kamu bisa menjamin jika beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian dia masih akan tetap sama? maksud abang bisa saja dia merasa bosan dan juga jenuh dengan pernikahan kalian,apa kau sudah memikirkan hal itu? kau lebih tau itu Ray, abang hanya tidak ingin putri abang satu-satunya menjadi janda diusia yang sangat belia.'' ucap Frans mengutarakan kekhawatirannya.


Semua mata langsung menatap kearah sumber suara.


''Pah, jika papa merestui pernikahan kami aku akan sangat bahagia sekali,,pah, mah, aku mohon papa dan mama mau ya merestui rencana pernikahan kami? pliss..''ucap Niken memohon.


''Niken sayang, pernikahan itu bukan untuk main-main sayang, kamu itu masih sangat muda perjalanan mu itu masih sangat panjang, memang kamu sudah siap, kalau misalnya nanti kamu punya anak, terus ngurusin suami, kamu tau sayang? jika kamu sudah menikah kamu gk akan bisa lagi sebebas sebelumnya, memang kamu mau kayak gitu?'' kali ini Lidya yang bicara, ia sengaja mengatakan hal seperti itu agar putrinya itu mau berpikir ulang tentang keinginannya untuk menikah muda.


Sedangkan Rayen hanya diam, sambil terus menyimak ibu dan anak itu yang sedikit berdebat, Rayen hanya berharap jika Lidya dan Frans mau merestui niatnya untuk menikahi Niken.


''Aku siap apapun resikonya, ayolah mah, pah, aku mohon restui kami, aku sangat mencintai om Rayen, memangnya kalian tega melihat putri kesayangan kalian ini menderita.'' ucapnya mencoba mencari simpati orangtuanya.

__ADS_1


''Iya mba Lidya bang Frans, tolong ijinkan saya untuk membahagiakan putri kalian Niken kami saling mencintai mba, bang Frans, jadi saya mohon dengan sangat agar kalian berdua bisa merestui hubungan kami.


Kedua pasangan sejoli itu masih saja memohon pada kedua orang tua sang gadis agar mendapat ijin untuk mereka segera menikah.


''Mas bagai mana ini?sepertinya tekat mereka sudah bulat.'' bisik Lidya


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Frans.


''Baiklah papa akan menyetujui keinginan kalian untuk menikah.'' jawab Frans


''Beneran pah? yeess,, makasih banyak pah, aku senang banget dengarnya,'' ucap Niken dengan wajah berbinar.


''Kamu dengar kan sayang? papa dan mama udah setuju kalau kita menikah,'' ucap Niken sambil memeluk Rayen dari samping menempel erat pada tubuh Rayen, membuat laki-laki iti salah tingkah karna diperhatikan oleh kedua orang tua Niken.


''Papa rasa ini adalah keputusan yang tepat mah,'' ucap Frans sambil terus memperhatikan interaksi keduanya, Rayen yang tersenyum canggung karna terus diperhatikan oleh abang dan kakak iparnya yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


''Baiklah, papa akan putuskan kalau kalian akan menikah minggu depan.'' ucapan Frans membuat mereka yang berada disana langsung menatap kearah Frans, tentu saja itu berita yang sangat membahagiakan untuk sepasang dua sejoli tersebut kecuali Lidya, wanita paruh baya itu menatap wajah suaminya dengan dahi berkerut.


''Pah, kenapa secepat itu, bagai mana kita akan mempersiapkan semuanya hanya dalam waktu satu minggu?'' ucap Lidya yang masih tidak terima dengan keputusan suaminya.


''Siapa bilang kita akan butuh persiapan mah? mama pikir papa akan mengadakan pesta?''


''Loh, jadi maksud papa putri kita menikah tanpa pesta, begitu??'' tanya Lidya memastikan.


''Mama benar, kita tidak akan mengadakan pesta mah, emangnya mama mau orang-orang membicarakan buruk tentang putri kita nanti? dan mungkin pasti ada sebagian orang mengira jika kita menikahkan Niken karna dia hamil diluar nikah? ya walaupun itu sama sekali tidak benar, pasti sebagian orang akan punya pikiran seperti itu mah,, lagi pula apa kamu lupa jika Niken belum genap 17 tahun? kamu mau Rayen diadukan kekomnas perlindungan anak karna menikahi gadis dibawah umur?'' jelas Frans yang membuat Lidya terdiam seketika.

__ADS_1


''Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya.'' gumamnya lesu.


NEXT


__ADS_2