
Pagi harinya dirumah kediaman keluarga Mahendra terlihat Niken baru saja bangun dari tidurnya, gadis itu meraba sisi tempat tidurnya, matanya terbuka sempurna kala menyadari tidak ada Rayen disampingnya, Niken langsung menatap jam yang ada diatas nakas tempat tidur.
'' Baru jam setengah enam, kemana mas Rayen? apa lagi dikamar mandi? Kenapa gk bangunin aku sih?'' gumamnya yang langsung bangkit dan menuju kamar mandi.
Tok-tok-tok
'' Mas! mas Rayen lagi didalam ya? Mas Rayen?'' berkali-kali Niken mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam, akhirnya Niken pun langsung membuka pintu tersebut yang memang tidak dikunci.
'' Mas! Mas Rayen?'' Niken masuk sambil mengedarkan pandangannya.
'' Kok gk ada ya? Kemana mas Rayen? Apa mungkin lagi diluar?'' akhirnya Niken langsung menutup kembali pintu kamar mandi dan melangkah keluar dari kamar untuk mencari keberadaan suaminya.
Niken melangkah menuju dapur, ia berpikir mungkin Rayen sedang berada disana untuk minum.
'' Bik apa mas Rayen ada disini?'' Niken bertanya pada Art yang sedang memulai aktivitasnya.
'' Tidak non, bibi sejak tadi sendiri disini gk lihat den Rayen.'' jawabnya
'' Oh gitu ya bik,'' setelah tak menemukan suaminya disana Niken pun langsung menuju ruang tengah dan mulai mencari suami ya disana.
'' Masih jam segini kemana sih mas Rayen? dia kan belum bisa jalan.'' Niken menjadi cemas akan keberadaan suaminya yang belum tau dimana, Niken menyusuri semua bagian rumah, hingga saat gadis itu hendak menuju lantai atas tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sejak tadi ia cari keberadaannya.
'' Mas Rayen.'' gumamnya sambil menghela nafas lega, sungguh rasanya ia sudah sangat panik tadi karna tak menemukan keberadaan suaminya tersebut.
__ADS_1
'' Mas kamu ada disini ternyata, sejak tadi aku mencari kamu,'' Niken melangkah kearah Rayen yang saat itu duduk dikursi rodanya sambil menatap dari kaca jendela kearah taman yang ada disamping rumah.
'' Mas sedang apa disini hm?'' Niken memeluk tubuh suaminya dari belakang. Yang ditanya hanya diam membuat Niken kembali melepas pelukannya dan langsung menghadap kearah suaminya itu.
'' Mas! Mas Rayen kenapa? Apa ada masalah?'' Niken menghadap suaminya ia berjongkok didepan suaminya itu. Rayen menatap sekilas pada Niken kemudian pandangannya beralih kearah taman.
'' Kenapa kamu gk bilang saat itu kamu pernah pingsan karna merasa kelelahan saat mengurus mas?'' tanya Rayen dengan pandangan yang masih tertuju kearah yang sama.
Niken sempat terkejut dengan ucapan Rayen, dari mana suaminya itu tau pikirnya
'' Kenapa diam? seberapa banyak hal lagi yang kamu sembunyikan sama mas Niken? Apa kamu sudah tidak menganggap mas sebagai suamimu lagi? iya?'' Rayen menatap tajam kearah Niken, sungguh Rayen merasa kecewa pada istrinya itu, walaupun ia tak bisa apa-apa, setidaknya sebagai seorang suami ia harus tau semua yang terjadi pada sang istri.
'' Mas maksud aku bukan begitu? Aku hanya tidak ingin kalau mas nantinya ke--,, belum sempat Niken menyelesaikan ucapannya Rayen sudah lebih dahulu memotongnya.
'' Repot gitu?? dengar Niken! walau mas belum bisa berjalan, tapi mas masih ada Niken, mas masih hidup, apa kamu sudah tidak menganggap mas lagi ? Mas berhak tau kondisi kamu dan juga bayi kita.'' ucap Rayen dengan nada penuh kecewa
'' Satu lagi, mulai sekarang mas gk perlu dilayani olehmu, selagi mas bisa melakukannya sendiri maka mas akan melakukannya.'' ucap Rayen sambil membuang pandangannya kearah lain.
'' Tapi mas, mas adalah suamiku, bagai mana mungkin aku gk melayanimu,
'' Mas hanya tidak ingin kamu merasa kelelahan saat melayani mas Niken, dan itu pasti akan nempengaruhi kesehatan kamu bayi yang kamu kandung.
'' Tapi mas ak--,
__ADS_1
'' Mas tidak suka jika kamu membantah ucapan mas Niken!" setelah mengatakan itu Rayen langsung meninggalkan Niken sendiri diruangan tersebut, ia melihat suaminya itu dengan susah payah mendorong kursi rodanya dengan satu tangannya, karna tangan yang satu masih belum boleh terlalu banyak bergerak.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Rayen, kenapa dia bisa berpikir jika aku merasa terbebani karna dia, lalu bagai mana mas Rayen bisa tau kalau aku masuk rumah sakit karna kelelahan? apa mama yang bilang pada mas Rayen jika kemarin aku jatuh pingsan?
Batin Niken, berperang dengan pikirannya.
Maafin mas Niken, mas terpaksa melakukan ini, mas tidak mau dianggap suami yang tak berguna, mulai sekarang mas akan melakukannya sendiri tanpa bantuan dari kamu, mas akan buktikan jika mas bukan laki-laki yang lemah dan tidak berguna, mas akan sembuh sebelum waktu yang ditentukan.
Batin Rayen penuh tekat.
Hari berganti hari minggu berganti bulan, sudah dua bulan semenjak Rayen memutuskan untuk tidak meminta bantuan dalam bentuk apapun pada istrinya, walaupun awalnya Rayen sangat kesulitan namun seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa, sebenarnya Rayen tau jika istrinya itu selalu memperhatikan setiap apa yang akan ia lakukan dan juga ia butuhkan, namun Rayen berpura tak melihat, pernah watu itu Rayen kesulitan untuk memakai pakaiannya, namun saat Niken hendak membantunya Rayen menolaknya secara halus. Setelah dua bulan berlalu Rayen sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, namun ia masih harus menggunakan kayu untuk menopang kaki nya kala berjalan, sedangkan tangannya sudah mulai bisa beraktivitas walau masih perlahan.
'' Sayang kamu kenapa sedih?'' tanya Lidya, saat ini ia dan Niken sedang duduk dikursi meja makan, usia kandungan Niken sudah memasuki bulan ketiga, maka itu sejak dua bulan lalu Niken memutuskan untuk homescholing sebenarnya sejak Rayen mengalami kecelakaan Niken jarang sekolah, ia juga banyak ketinggalan pelajaran, ditambah sekarang perut putri mereka juga mulai membesar, maka itu Lidya dan Frans memutuskan agar Niken tetap mengikuti pelajaran dari rumah, karna mereka tak ingin terjadi sesuatu dengan putri mereka.
'' Gk apa-apa kok mah,'' jawabnya
'' Sayang kalau kamu ada masalah cerita sama mama, jangan dipendam sendiri, apa Rayen menyakitimu?'' tanya Lidya
'' Enggak kok mah, mas Rayen gk ada nyakiti aku, yasudah aku ke kamar dulu ya mah.'' setelah nengatakan itu Niken langsung menuju kamar. Lidya masih menatap punggung putrinya ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh putrinya tersebut. Namun ia tak ingin terlalu ikut campur, Lidya lebih menunggu sampai Niken sendirilah yang bercerita.
Niken membuka pintu kamar dan mendapati suaminya sedang memainkan ponsel nya.
'' Mas sedang apa??'' Niken menutup pintu setelah nya naik keatas tempat tidur.
__ADS_1
'' Mas sedang mengecek email yang masuk, mas sudah lama gk kekantor jadi kerjaan pasti banyak yang terbengkalai, apa lagi Leo sudah tidak ada lagi sekarang, mas benar-benar merasa kehilangan.'' ucap Rayen sambil mengingat sahabatnya itu, Rayen sungguh merasa sangat kehilangan, ia tak menyangka Leo akan meninggalkannya secepat ini.
Bersambung