
Saat ini Niken sedang duduk disudut ruangan yang berada di antara sebelah kamarnya dan juga kamar milik Rayen dulu sewaktu mereka masih tinggal dirumah yang sama sebelum akhirnya Rayen memutuskan untuk tinggal diapartemen miliknya.
''Mas, rasanya aku sangat bahagia sekali, akhirnya sebentar lagi impianku menikah dengan mas akan menjadi kenyataan.'' ungkap Niken sambil menyandarkan kepalanya dibahu Rayen.
''Mas juga sangat bahagia sayang, karna sebentar lagi kamu akan menjadi milik mas seutuhnya.'' sambung Rayen sambil membelai surai hitam milik Niken.
''Oya sayang, kamu gpp kan jika pernikahan kita ini misalkan hanya ijab kabul saja tanpa resepsi?'' tanya Rayen
''Mas, aku sama sekali gk mempermasalahkan itu, mau pesta atau tidak bagiku sama aja, asalkan itu sama kamu itu sudah membuatku sangat bahagia.'' jelas Niken
Rayen tersenyum mendengar ucapan Niken, ia sangat bersyukur memiliki calon istri yang sangat pengertian meskipun usianya masih sangat remaja,namun sifat dan pemikiran kekasihnya itu sangat dewasa.
''Mas, gimana kalau mulai malam ini mas Rayen tinggal disini? lagi pula kan pernikahan kita tinggal seminggu lagi, aku gk mau jauh dari kamu mas.'' rengek nya manja.
''Baiklah malam ini mas akan tidur disini, tapi jika besok malam mas gk janji ya?'' ucap Rayen.
''Loh, emangnya kenapa? apa mas merasa tidak bebas jika berada disini? takut jika aku tau sesuatu? iya?'' tanya Niken menyelidik.
''Bukan gitu sayang, masalahnya semua barang berharga nya mas masih ada diapartemen,'' jelas Rayen
''Hanya itu masalahnya? kan tinggal diambil aja, gitu aja kok repot.'' ucapnya seperti emak-emak.
Sebenarnya Rayen hanya mencari alasan saja, yang sebenarnya adalah ia merasa tak enak pada Frans dan juga Lidya jika dirinya tinggal disana sebelum mereka resmi, padahal bagi Frans dan Lidya itu bukan masalah, namun hanya saja Rayen merasa tak enak hati, selain itu Rayen juga takut khilaf dan juga tidak bisa menahannya jika terus berdekatan dengan Niken.
'Gini aja, gimana kalau mas usahakan tiap hari datang kesini? tapi gk nginap bisa kan?'' rayu nya.
''Terserah mas ajalah, yang penting ketemu.'' jawab Niken namun dengan wajah yang cemberut.
''Katanya terserah, tapi kok cemberut gitu wajahnya?" goda Rayen.
" Habisnya mas gk mau sih?''
__ADS_1
''Gk mau apa Niken??'' ucap Lidya yang entah sejak kapan tiba-tiba saja sudah berada diantara mereka.
Rayen yang ingin mrnjawab kembali dipotong oleh Niken.
''Ini mah om Rayen, tadinya aku ngusulin buat dia untuk tinggal disini bersama kita, tapi dianya gk mau.'' jawab Niken lesu, sebenarnya Niken hanya ingin Lidya membantunya untuk membujuk Rayen agar mau menuruti kemauannya.
''Terus alasannya apa? kenapa kamu gk mau Ray? apa kamu merasa nantinya kamu gk bebas jika tinggal disini?'' tanya Lidya menyelidik.
''Bu-bukan begitu mba,''
Ada apa dengan ibu dan anak ini? kenapa pikiran mereka bisa sama, yaitu sama-sama seuzhon.
Batin Rayen.
''Lah terus, apa alasannya?? ''Lidya terus menekan Rayen untuk mengatakan alasan yang sebenarnya
''Baiklah saya akan tinggal disini sampai hari pernikahan kita.'' jawabnya pasrah, Rayen terpaksa mengikuti kemauan Niken, karna ia juga tak ingin jika Lidya berpikiran yang bukan-bukan.
Rayen memperhatikan seisi kamar yang dulu pernah ia tempati, tak ada yang berubah semua masih tetap sama,bahkan beberapa baju miliknya pun masih tersimpan dilemari.
Rayen menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, matanya menatap langit-langit rumah, pikirannya kembali menerawang saat makan malam tadi.
Flasback..
''Ray abang memang memutuskan untuk merestui kalian menikah minggu depan, tapi abang mau pernikahan ini menjadi rahasia ya? setidaknya sampai Niken menyelesaikan sekolahnya.
''Maksud papa kalau diluar rumah kami seperti orang asing gitu?'' sambung Niken terdengar nada tak suka.
''Ya gk gitu juga sayang, kalau diluar hubungan kalian tetap om dan juga keponakan.'' kali ini Lidya yang menjawab.
''Mana bisa gitu dong mah, gk ah, aku gk mau.'' protes Niken tak terima.
__ADS_1
''Sayang maksud mama dan papa bukan begitu, kamu kan masih sekolah, mana ada seorang pelajar memiliki suami, pasti semua guru yang ada disana tidak akan setuju, kecuali itu sekolah milik papa kamu.'' ucap Lidya mencoba memberi pengertian pada putrinya.
''Niken sudah gpp, yang penting kita bisa bersama, sebaiknya kamu jangan banyak protes, memang kamu mau mereka berubah pikiran?'' ucap Rayen dengan nada sedikit berbisik, namun masih bisa terdengar oleh sepasang suami istri yang ada didepan mereka.
Lidya menautkan alisnya menatap kearah sang putri.
''Jadi gimana sayang?kamu mau gk? kalau gk, mungkin bisa dipastikan kamu menikah setelah lulus sekolah.'' ucap Lidya serius.
''Loh-loh-loh,, gk bisa gitu dong mah, yaudah deh aku mau, gpp kalau nikah sembunyi-sembunyi, udah kayak orang mau kawin aja.'' gerutunya pelan.
''Apa yang barusan kamu bilang??'' tanya Lidya sambil melototkan matanya, ternyata mamanya itu sempat mendengar ucapan nya.
''Gk kok mah, gk apa-apa.'' jawabnya sambil nyengir.
''Awas ya kamu, jangan macam-macam kalian.'' ancam Lidya yang mulai waspada, ia menatap satu persatu wajah yang ada didepannya saat ini.
''Mama apaan sih,gk jelas banget.'' ucap Niken berlagak tak mengerti.Sedangkan Lidya masih menatap putrinya dengan tatapan penuh curiga, takut-takut jika putri semata wayangnya ini sudah mulai nakal.
...----------------...
''Huuhhff, sspertinya aku harus bersabar dan memang harus menerima keputusan ini, resiko menikahi anak dibawah umur.'' gumamnya, setelah itu Rayen segera bangkit dari tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dikamar Frans dan Lidya sedang berbincang ringan, mereka terlihat sedang membahas masalah putri semata wayang mereka.
''Pah, apa keputusan kita ini sudah benar untuk menikahkan Niken dengan Rayen? ya maksud mama bukannya karna mama ragu dengan Rayen, hanya saja Niken itukan masih remaja, bisa dikatakan anak kecillah, mama hanya khawatir nantinya dia belum siap untuk menjadi seorang istri, mungkin saat ini ok, dia menyetujuinya karna dia belum merasakannya, tapi nanti, setelah beberapa bulan, satu atau dua tahun kemudian dia mulai jenuh, bagai mana?'' Lidya mengungkapkan kembali kekhawatirannya pada suaminya.
''Mah, udah dong, papa yakin semua akan baik-baik saja, percayakan semua pada Rayen ok.'' ucap Frans
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, saat ini dikamarnya Niken terlihat sangat gelisah,sejak tadi gadis itu terus membolak balikan tubuhnya diatas tempat tidur.
''Duuh, kok aku jadi gk tenang gini ya, walau bagai mana pun sekarang mas Rayen sedang berada dikamar sebelah, rasanya sayang banget jika aku sampai nyia-nyiain kesempatan ini ,apa sebaiknya aku kekamarnya saja ya?''
__ADS_1
Bersambung