
Pagi ini seperti biasa Niken berangkat diantar oleh suaminya, setelah turun ia langsung menuju gerbang sekolah namun baru saja masuk, dia dikejutkan dengan suara klakson mobil, dan ternyata itu adalah mobil milik Putri.
'' Sia*lan kamu Put, bikin aku jantungan aja.'' geram Niken
'' sory-sory sayang, tunggu gue ya, gue mau parkir mobil dulu.'' ucapnya sambil meninggalkan Niken untuk memarkir mobil.
'' Windy belum datang ya kayaknya?'' tanya Putri sambil celingukan mencari sosok sahabatnya itu.
'' Sepertinya belum.'' jawab Niken
'' Tumben, biasanya itu anak yang paling cepat datang,, eh itu dia nongol orangnya panjang umur.'' ucap Putri sambil melambai pada Windy yang baru turun dari taksi online.
Windy terswnyum,sambil melanglah mendekati kedua sahabatnya.
'' Tumben gk bawa mobil, loe hari ini Win?''
'' Lagi males nyetir gue, yaudah yuk masuk kelas!" ajaknya yang diangguki oleh kedua temannya.
'' Oya kalian udah bilang kan sama orang rumah, kalau hari ini kita ada tugas kelompok dirumah gue?'' tanya Putri pada kedua sahabatnya.
'' Udah itu salah satunya gue gk bawa mobil.'' jawab Putri
'' Aku belum, tapi nanti aja setelah pulang baru aku kabarin mas Rayen lagi.'' jawab Niken. Sepuluh menit kemudian terdengar suara bel sekolah berbunyi.
DITEMPAT LAIN..
Rayen sedang berada didalam apartemen milik asisten, sekaligus sahabat nya Leo, sejak perpisahannya dengan Windy, jarang sekali masuk kantor.
'' Dengar! disini kau itu bukan hanya sahabat saya Le, tapi juga asisten saya, jika kau terus larut dalam kesedihan seperti ini bagai mana dengan pekerjaanmu? emang kau tidak memikirkan itu? emangnya kau tidak memikirkan perusahaan? jika saya bisa menyelesaikannya sendiri, saya tidak akan kesini, lagi pula sebagian pekerjaan selama ini kau yang handle, tidak mungkin tiba-tiba saya serahkan pada orang lain, bisa terbengkalai semuanya, pikirkan itu! kau harus profesional Leo! lagi pula percuma jika kau terus meratapi nasipmu itu, kau pikir dengan begitu Windy akan kembali padamu hah?'' bentak Rayen, seperti seorang ibu-ibu yang memarahi anaknya,, laki-laki tampan itu sangat geram dengan kelakuan temannya tersebut.
'' Mudah bagi mu bicara seperti itu Ray, karna kau tidak mengalaminya sendiri, coba jika Niken meninggalkanmu, apa masih bisa kau berbicara seperti itu padaku hah??'' ucap Leo menaikan nada bicaranya. Leo sangat muak mendengar ucapan Rayen, Leo merasa Rayen sama sekali tak memikirkan perasaannya, namun berbeda dengan Rayen, sebenarnya ia hanya ingin sahabatnya itu tidak terus larut dalam kesedihan, Rayen mau sahabatnya itu bangkit dan jika memang dia masih mencintai Windy, Rayen ingin Leo terus berjuang untuk kembali mendapatkan cinta dari mantan istrnya itu, bukannya malah meratapi nasip dengan cara mengurung diri seperti itu berhari-hari.
__ADS_1
'' Kau tau? itu semua konsekuensi yang harus kau tanggung, seharusnya sebelum melakukan sesuatu kau harus berikir Leo! jika sudah begini siapa yang harus kau salahkan?'' Rayen terus menyudutkan Leo, membuat lelaki tersebut semangkin merasa kesal pada Rayen.
'' Kau ini cuma bisa nyudutkan gue Ray, gue tau gue salah, tapi jangan gini juga sikap loe sama gue, semua ini gara-gara wanita ja*lang itu, kalau dia gk godain gue, mana mungkin ini semua terjadi.'' gerutunya.
'' Ini bukan kesalahan dia sepenuhnya Le, asal kau tau, saat ini Viona sedang mengalami depresi.'' kata-kata Rayen membuat Leo menatapnya dengan dahi berkerut.
'' Maksud loe apa? Viona depresi?'' Leo masih bingung
Rayen pun menceritakan semua kejadian yang menimpa Viona terhadap Leo, saat itu Leo nampak berpikir.
Apa sepulang dari apartemen kejadiannya?
Leo bertanya-tanya dalam hati.
'' Pokoknya saya tidak mau tau ya Leo, mulai besok kau harus kembali bekerja, atau kau harus keluar dari apartemen ini, dan kembali kerumah orangtuamu.'' ancam Rayen, yang benar-benar tidak ada cara lain lagi.
'' Heeii kau mengancamku Ray? sahabat macam apa kau ini? mengusirku dari apartemenku sendiri.'' Leo menatap sinis pada Rayen, ia benar-benar tak terima.
'' Kau lupa? sebelumnya apartemen ini adalah milik saya, makanya kau kembali bekerja, agar kau bisa terus berada ditempat ini.'' setelah mengatakan itu Rayen pergi begitu saja dari apartemen Leo membuat lelaki itu mengutuk berkali-kali pada Rayen karna sudah bertindak semena-mena padanya.
*
*
*
'' Sampai didalam kelas Niken membuka switer yang ia gunakan, yang seketika menjadi perhatian kedua sahabatnya karna meliaht sesuatu yang aneh pada tangan sahabatnya itu.
'' Tangan loe kenapa Ken? ini seperti cakaran deh, iya kan Putri?'' tanya Windy pada sahabatnya.
'' Iya benar, siapa yang ngelakuin ini sama loe? biar kita buat perhitungan sama dia, oh my god, jangan bilang jika cakaran ini disebabkan oleh lakik loe Ken?'' tebak Putri asal.
__ADS_1
'' Huuss, sembarangan kamu Put, mana mungkin mas Rayen melakukan ini sama aku, lagi pula mana ada cowok kukunya panjang.'' dengus Niken.
'' Iya nih Putri, asal saja.'' sambung Windy
'' Hehehe,, ya maaf,habisnya tangan loe itu bikin gue emosi, emang siapa sih yang ngelakuinnya Ken? penasaran gue.'' ucap Putri yang diangguki oleh Windy.
'' Sebenarnya ada yang ingin aku ceritain sama kalian berdua, tapi nanti ya kalau pas jam istirahat aja, ini juga ada hubungannya dengan luka cakaran ditangan aku ini.'' ucap Niken, membuat kedua sahabatnya semangkin penasaran.
'' Yaelah Ken kenapa harus nunggu istirahat sih? kan gue pe--,,'' tiba-tiba Putri menghentikan ucapannya saat tiba-tiba wali kelas mereka datang.
'' Tuh ini salah satu alasanku gk mau cerita sekarang.'' bisik Niken pelan, sedangkan Putri hanya bisa mencebikan bibirnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan jam istirahat, Putri yang sudah tidak sabar mendengar cerita Niken tadi, langsung menggeret sahabatnya itu untuk kekantin, karna selain ia ingin mendengar cerita sahabatnya, ia juga ingin mengisi perutnya karna cacing yang berada didalam perutnya sudah saling mendemo.
'' Tunggu dong Put, aku belum pakai sweter ini,'' gerutu Niken karna melihat tingkah sahabatnya yang tak sabaran itu, sedangkah Windy hanya menghela nafas panjang melihat dua sahabatnya itu yang selalu ribut disetiap kali kesempatan, walaupun itu hanya candaan semata, namun Windy merasa senang, walaupun selalu ribut masalah kecil, namun mereka selalu kompak satu sama lain.
'' Haii gadis-gadis cantik.'' sapa Rangga dan Niko, membuat ketiga gadis tersebut menoleh kearah mereka.
Niken yang saat itu belum menggunakan sweternya, buru-buru memakainya, namun sepertinya kedua pemuda tersebut sudah melihat nya terlebih dahulu.
'' Loh Ken, itu tangan kamu kenapa?'' tanya Niko,
'' Iya, sepertinya bekas cakaran.'' sambung Rangga.
'' Itu bukan apa-apa kok, yaudah yuk Win, Put, jadi gk?'' ucap Niken berusahan menghindar dari Rangga dan Niko.
'' Jadi lah, yuk! sayang kami kesana dulu ya? mau bahas urusan perempuan, bye sayang.'' ucap Putri meninggalkan Rangga dan Niko.
'' Kok gue merasa mereka lagi nyembunyiin sesuatu ya?'' gumam Rangga.
'' Sepertinya memang begitu, bukannya tadi pacarmu sendiri yang bilang jika ini urusan perempuan, jadi sebaiknya kita tidak usah mencaritahunya.
__ADS_1
'' Tapi gue masih penasaran sama, luka yang ada ditangan Niken, bukankah menurutmu itu luka bekas cakaran? mungkinkah yang melakulannya kucing?'' ucap Rangga membuat Niko menggeleng sambil terkekeh karna merasa lucu. Sebenarnya Niko juga merasa sangat penasaran dengan itu, namun menurutnya sepertinya Niken bukan lah tipe cewek yang mau membagi masalahnya dengan sembarang orang, apa lagi dirinya yang hanya teman biasa bagi Niken.
Next