
Saat ini dikediamannya, Windy sedang menunggu kedatangan kekasihnya, karna sore ini ia ada janji dengan Regan, rencananya mereka akan pergi nonton.
'' Sayang kamu mau kemana? Yuna melihat putrinya dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik
' Aku mau pergi sama bang Regan mah,'' jawabnya
'' Jadi benar kamu punya hubungan dengan laki-laki itu?'' Yuna memastikan.
'' Maksud mama?'' Windy bertanya dengan dahi berkerut.
'' Kemarin mama gk sengaja ketemu mba Wati saat belanja dipasar, dia bilang sama mama kalau dia liat kamu sedang makan bersama dengan seorang laki-laki dicafe, ciri-ciri nya sama dengan Regan, apa itu benar?
'' Iya mah, aku dan bang Regan memang menjalin suatu hubungan.
'' Windy apa kamu tidak takut kembali sakit hati?
'' Maksud mama apa?'' Windy merasa heran dengan pikiran mamanya, karna biasanya Yuna tidak akan terlalu perduli jika ia berhubungan dengan lelaki mana pun asal kan ia bisa menjaga dirinya, tapi kenapa dengan Regan sepertinya mama nya seperti tidak suka.
'' Ya maksud mama dia itu laki-laki dewasa sama seperti Leo, apa tidak sebaiknya kamu pikir ulang hubungan kalian itu?
'' Mah ak--,
Tin-tin
'' Sepertinya bang Regan sudah datang, aku kedepan dulu mah.'' ucap Windy yang tak jadi menjawab ucapan Yuna, melihat anak nya menuju pintu keluar Yuna pun langsung mengikutinya.
Blam..
Terdengar suara pintu mobil ditutup, setelah itu sang pemilik mobil langsung melangkah mendekati gadis yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
'' Hai,'' sapa Regan, yang dibalas senyuman oleh Windy.
Regan melihat Yuna yang baru keluar dari dalam rumah dan melangkah menuju kearah mereka. Ia pun langsung berinisiatif melangkah menuju ibu dari kekasihnya tersebut.
__ADS_1
'' Tante,'' sapa Regan sambil salim pada orangtua Windy, sedangkan Yuna hanya tersenyum membalas sapaan Regan.
'' Kalian mau kemana?'' tanya Yuna sambil menatap keduanya secara bergantian
'' Saya bermaksud ingin mengajak Windy nonton tante, itu pun jika tante tidak keberatan.'' ucap Regan meminta ijin
Yuna melirik pada putrinya, yang juga menatap kearah nya dengan tatapan memohon.
'' Baiklah, tapi jangan terlalu malam pulangnya!" ucap Yuna
'' Baik tante, kalau begitu kami jalan sekarang ya tante?
'' Mah aku dan bang Regan pergi dulu.''
'' Hem, hati-hati!'' jawabnya datar
***
'' Masa sih bang? kalau menurutku sih biasa saja kok, mungkin hanya perasaan bang Regan aja kali.'' ucap Windy, sebenarnya dalam hati gadis itu juga memikirkan hal yang sama dengan Regan, sepertinya memang ibunya itu tidak terlalu menyukai Regan, terbukti dari sikapnya yang sedikit tidak senang akan kedatangan Regan. Mungkin setelah pulang nanti Windy akan kembali mempertanyakannya pada Yuna ibunya.
Regan tak menjawab, ia hanya menanggapi ucapan Windy dengan senyum simpul.
Sementara itu dikediaman keluarga Mahendra saat ini Frans sedang berbincang dengan Rayen masalah pekerjaan.
'' Sejak kalian tidak ada dikantor abang sangat kewalahan, apa lagi sekarang Leo sudah tidak ada, sepertinya abang harus mencari asisten baru untuk membantu pekerjaanmu Ray.'' jelas Frans
'' Abang benar, tapi saya tidak tau apakah nantinya dia bisa bekerja profesional seperti Leo atau tidak.'' ucap Rayen.
'' Leo tidak bisa tergantikan, tapi mudah-mudahan saja asisten barumu nanti bisa bekerja dengan baik.''
'' Iya bang, semoga saja.'' jawab Rayen
'' Oya Ray, mengenai perkembangan kasusmu sepertinya sudah menemukan titik terang, polisi bilang mereka sudah mengantongi bukti, dan tersangka juga sudah diketahui, hanya tinggal pengejaran saja, karna sepertinya penjahat itu tau jika saat ini dia dalam pencarian polisi.'' jelas Frans.
__ADS_1
'' Semoga saja polisi bisa cepat menangkap tersangkanya.'' ucap Rayen
'' Ya, semoga saja.'' sambung Frans
Saat ini Niken dan Lidya baru sampai dirumah, mereka baru saja pulang dari berbelanja keperluan Niken, seperti baju, karna perut nya yang mulai membesar jadi Niken dan Lidya membeli baju yang sedikit longgar mereka juga membeli stok baju dengan ukuran jumbo untuk persediaan kala kehamilan Niken memasuki bulan-bulan berikutnya.
Frans dan Rayen menoleh kearah sumber suara yang berada dipintu masuk, terlihat dua wanita kesayangan mereka sedang menuju kearah mereka sambil membawa beberapa barang belanjaan ditangannya.
'' Kalian baru pulang?'' tanya Frans
'' Iya pah, habis belanja buat persediaan Niken, biar nanti kan gk repot lagi beli baju kalau kandungannya bertambah besar.'' jelas Lidya
Niken melirik suaminya yang saat itu terlihat biasa saja, Rayen juga tidak bertanya apapun padanya.
Mas Rayen kenapa ya? Sepertinya tidak suka jika aku pergi belanja dengan mama?
Batin Niken sambil melirik suaminya yang saat itu sibuk memeriksa ponsel miliknya. Tiba-tiba Rayen berdiri.
'' Mas mau kemana?'' tanya Niken saat Rayen mulai mengambil tongkatnya dan mulai menyangga tubuhnya.
'' Mas mau kekamar dulu ingin istirahat.'' ucap Rayen setelah itu ia langsung melangkah perlahan menuju kamar.
'' Mah, pah, aku juga kekamar dulu.'' sambung Niken sambil membawa barang milik nya menuju kamar.
'' Mas, aku mau bicara sama kamu.'' Niken meletakan barang yang tadi dibelinya. Rayen yang saat itu duduk disisi ranjang langsung menoleh kearahnya.
'' Ada apa?'' Rayen menatap istrinya yang saat itu sedang melangkah menuju tempat tidur. Niken naik keatas tempat tidur dan duduk disamping suaminya.
'' Mas tolong kamu jujur sama aku! dua bulan belakangan ini aku merasa mas Rayen mulai berubah, tidak seperti dulu, aku merasa mas Rayen sudah tidak sayang lagi pada ku, bahkan mas jarang mengelus perutku padahal didalam sini ada anakmu mas.'' ucap Niken yang akhirnya mengungkapkan isi hatinya, selama dua bulan ia selalu memendamnya, Niken tak berani bertanya takut suaminya itu akan tersinggung.
'' Kamu mau tau kenapa mas bersikap seperti ini? itu karna mas cemburu, mas cemburu pada semuanya,mas ingin sebagai suami bisa membahagiakan istri mas, mas ingin seperti mama yang selalu bisa memenuhi semua keinginan kamu, selalu mengabulkan semua yang kamu butuhkan, dan mas mau kamu meminta semua itu sama mas bukan sama mama sayang, tapi seprtinya kamu sama sekali tidak mau melibatkan mas dalam semua itu, sepertinya kamu menganggap mas ini tidak bagian dari dirimu dan juga bayi yang ada dalam kandunganmu itu.'' Rayen akhirnya juga mengungkapkan isi hatinya selama beberapa bulan ini selalu ia pendam, meskipun ia belum bisa berjalan, namun sebagai suami ia ingin ikut serta dalam perkembang tumbuhan bayinya, ia juga ingin direpotkan, namun sepertinya istrinya itu tak mengerti itu, Rayen berpendapat mungkin jika istrinya itu berpikir jika dirinya tak mampu memenuhi semua yang ia inginkan, karna kondisinya yang saat ini sangat terbatas makanya Niken lebih memilih memintanya pada Lidya, padahal maksud Niken bukan seperti itu, Niken hanya tak ingin suaminya itu terlalu lelah makanya ia lebih memilih Lidya yang sslalu menemaninya termasuk memberitahu semua keinginannya jika ingin memakan sesuatu seperti rujak, manisan dan lainnya, namun sepertinya suaminya itu salah paham akan semua niat nya tersebut.
Tbc.
__ADS_1