CINTAI AKU OM !!!

CINTAI AKU OM !!!
Ini Adalah Takdir Yang Tuhan Kasih Buatku Menjadi Seorang Janda


__ADS_3

Lidya masih menatap wajah Rayen yang terlihat sangat kusut.


Ada apa sebenarnya dengan anak ini? bukannya tadi dia bilang gk masalah, tapi kok wajahnya masih kusut begitu?


Batin Lidya


''Kamu kenapa sih Ray? muka mu itu kusut amat?'' Lidya kembali bertanya membuat Niken dan Frans menatap kearah Rayen bersamaan.


'' Ada apa memangnya Ray?'' kali ini Frans yang bertanya, karna sejak tadi ia sibuk melihat layar ponselnya, hingga tak memperhatikan ekpresi wajah adik angkat yang kini susah menjadi menantunya tersebut.


'' Tidak ada apa-apa kok mba, bang, yasudah kalau begitu saya dan Niken pamit kekamar dulu ya?'' pamit Rayen sambil bangkit dari duduknya.


'' Belum bisa Ray, kalau kamu balik kekamar yasudah sana, tapi Niken mama masih perlu sama dia.'' ucap Lidya mencegah Rayen membawa putrinya kekamar, Lidya yang sudah mengerti kenapa sejak tadi Rayen terus menekuk wajahnya ternyata karna saat ia memanggil tadi, anak dan mantunya itu ternyata sedang melakukan pemanasan, kenapa Lidya bisa tau, karna tadi ia sempat mendengar Rayen berbisik pada Niken jika dirinya benar-benar tak bisa menahan lebih lama, Lidya yang sudah sangat pengalaman tentu tau maksud dari ucapan Rayen tersebut, maka itu ia mencegah Rayen saat ingin membawa Niken kekamarnya.


Maafin mba ya Ray, mba hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada calon cucu mama, bagai mana kalau kamu mainnya kasar nanti? Kan itu akan membahayakan bayi yang berada dalam kandungan Niken nantinya, dan mba gk mau jika sampai itu terjadi.


Batin Lidya, terdengar egois memang, namun ia hanya bermaksud untuk melindungi calon cucunya, itu saja.


'' Mama mau ada perlu apa lagi mah? Soalnya aku juga mau istirahat.'' ucap Niken, ia melirik suaminya yang masih berdiri disampingnya, ia tau jika saat ini Rayen sedang menunggu Niken untuk membuat alasan agar mereka bisa kembali meneruskan kegiatan yang sempat tertunda tadi.


'' Mama masih butuh kamu sebentar sayang, biarin saja dulu suamimu kekamar sendiri, kamu tenang saja Ray, mama gk akan membuat istrimu kelelahan jika itu yang kamu takutkan.'' ucap Lidya, memdengar itu Rayen tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa pasrah, dengan langkah gontai Rayen pun langsung kembali kekamarnya tepatnya kamar tamu, sedangkan Frans sudah sejak tadi naik kelantai atas karna ingin segera istirahat.


Sudah setengah jam lebih Niken berada disamping Lidya, namun sampai saat ini mama nya itu masih terlihat santai dengan ponsel miliknya.


Sebenarnya mama mau perlu apa sih sama aku, udah hampir satu jam aku disini tapi mama masih terlihat sibuk dengan ponsel miliknya, setiap ku tanya mama bilang tunggu sebentar , sabar lah, huuff..bette banget rasanya, coba tadi ikut mas Rayen pasti kami sudah berpacu dengan keringat saat ini, duuh membayangkannya saja udah buat punyaku berkedut.


Batin Niken.

__ADS_1


'' Kamu kenapa sayang? Kok wajahmu memerah gitu? Kamu sakit?'' Lidya melihat perubahan wajah Niken, ia mengira jika wajah sang putri yang tiba-tiba memerah karna sakit, ia tidak tau saja jika putri kecilnya itu sedang berpikir mesum.


'' Aku gk apa-apa kok mah, hanya ingin istirahat saja, mama ada yang ingin diomongin lagi gk sama aku? Kalau gk aku balik dulu kekamar ingin istirahat?'' ucap Niken, sebrnarnya Lidya masih ingin Niken berada disana, namun ia sungguh tak punya alasan untuk terus menahan Niken, ia tau putrinya itu juga ingin istirahat, maka mau tak mau ia pun memperbolehkan Niken untuk kembali kekamarnya.


Sedangkan dikamar Rayen terus gelisah, ia sudah mandi air dingin tadi, untuk meredam sedikit has*rat nya namun sia-sia saja.


'' Sebenarnya kenapa sih mba Lidya menahan Niken untuk kembali kekamar? Apa yang ingin ia omongin dangannya? gk tau apa, kalau si joni lagi rindu dengan rumahnya.'' gerutu Rayen.


Ceklek, terdengar suara pintu kamar terbuka bersamaan itu terlihat Niken yang baru masuk.


'' Sayang.'' panggil Rayen semangat, ia langsung bangun dari tidurnya sambil menatap sang istri yang melangkah kearahnya setelah menuntup dan mengunci pintu kamar tersebut.


'' Mas belum tidur?'' tanya Niken yang duduk diujung tempat tidur.


'' Ya belum lah sayang, mana mungkin mas bisa tidur dengan keadaan seperti ini, kamu tau? si joni terus meronta ingin masuk kedalam sarangnya yang sudah jarang ditempatinya, ia sangat merindukan sarangnya itu.'' ucap Rayen, membuat Niken menggelengkan kepala, menurutnya suaminya itu, usia saja yang tua, tapi sifat kekanakan juga, pikirnya.


'' Oh itu hanya mau tanya soal makanan apa saja yang nanti akan disajikan untuk menu syukuran anak kita.'' jawabnya bohong


Maafin aku mas, aku sudah bohongin kamu, aku sendiri juga tidak tau sebenarnya mama mau omongin apa tadi.


Batinnya


'' Yasudah lah, sebaiknya kamu naik keatas, mas masih ingin ngelanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi, kamu masih pengenkan sayang?'' goda Rayen,


'' Iya mas, aku juga sebenarnya tadi naggung banget sih.'' jawabnya sambil tersenyum malu


*

__ADS_1


*


*


Saat ini Regan dan Windy baru saja sampai didepan rumah orangtua Windy.


'' Mau mampir dulu yuk bang?'' ajak Windy, setelah keluar dari mobil sang kekasih.


'' Lain kali saja gpp kan? lagi pula ini sudah larut.'' tolak Regan halus karna memang jam sudah menunjukan pukul sembulan malam.


' Oya salam juga buat kedua orangtua kamu.'' sambungnya


'' Iya, yasudah bang Regan hati-hati ya, dan jangan ngebut!"


'' Asiiaap! jawab Regan sambil memberi hormat bendera, Windy hanya tersenyum melihatnya. Setelah berpamitan Regan langsung pulang, sedangkan Windy juga langsung melangkahkan kakinya menuju rumahnya.


''Baru pulang Win?'' tanya Yuna begitu putrinya masuk. Saat ini wanita paruh baya itu sedang duduk sambil menikmati acara televisi.


'' Eh iya mah, oya bang Regan titip salam buat mama.'' ucap Windy yang hanya dibalas dengan deheman saja oleh Yuna, setelah itu pandangannya beralih kearah televisi, melihat itu Windy langsung melangkah mendekati sang mama yang kala itu terlihat sedang menonton sinetron pelakor yang belakangan ini sering ditonton oleh ibu-ibu.


'' Mah, kenapa sih mama kayaknya gk suka banget sama bang Regan? dia itu baik loh mah orangnya.'' ucap Windy, saat ini gadis tersebut sudah duduk disebelah mama nya.


'' Ya mungkin dia memang baik nak, tapi dia itu orang kaya, penerus satu-satunya dikeluarganya, mama hanya tidak ingin kamu nantinya terluka lagi seperti sebelumnya, apa lagi statusmu itu adalah seorang janda.'' ucap Yuna lirih, ia menatap putrinya dengan sendu, sebenarnya ia tak tega menyebut status anaknya tersebut, tapi itulah kenyataan yang tidak mungkin bisa ditutupi, dimata sang mama Windy bisa melihat kekhawatiran disana.


'' Mah, aku ngerti maksud mama, tapi yakinlah bang Regan tidak seperti itu, dari awal bahkan aku sudah bilang padanya tentang statusku yang seorang janda, tapi itu sama sekali tidak masalah baginya mah, percayalah padaku! Aku juga tidak mau menjadi seorang janda mah, tapi apalah dayaku, ini adalah takdir yang Tuhan kasih buatku menjadi seorang janda.


Next

__ADS_1


__ADS_2