
Setelah berpamitan kepada Niken Windy langsung menuju ruangan dimana saat ini sahabatnya Putri dirawat. Setelah sampai di depan ruangan tersebut Windy sempat berdiri beberapa saat didepan kamar inap sahabatnya itu, karna memang pintu ruangan tersebut tidak tertutup. Windy dapat melihat sahabatnya itu sedang memainkan ponselnya. Dan kebetulan juga saat itu gadis tersebut sedang menoleh kearah pintu masuk.
''Windy, ngapain loe berdiri disana? Ayo masuk!" Putri tersenyum kala melihat kedatangan sahabatnya itu. Windy tersenyum, kemudian langsung melangkah menuju ruangan tersebut.
'' Hai Put, gimana kabar loe? maaf baru bisa jenguk sekarang.''
'' Yah seperti yang loe lihat, gue udah lebih baik kok, oya apa loe udah jenguk Niken??'' Putri bertanya balik.
'' Sudah, sekarang dia masih diruangan om Rayen, kasian dia sampai sekarang suaminya masih belum sadarkan diri, gue hanya takut jika kelamaan ia bersedih akan mempengaruhi perkembangan bayi yang ada didalam perutnya.
'' Loe tau Win? awalnya gue sangat marah dengan pengemudi yang melanju kencang kearah mobil kami, bahkan gue sempat mengutuk si pengemudi tersebut, karna waktu itu gue mengira pasti tuh orang nyetir saat mabuk, namun setelah tau penyebab yang sebenarnya, gue juga gk bisa menyalahkan tuh orang, apa lagi setelah mama kasih tau jika itu adalah om Rayen Mahendra suami sahabat kita, gue menasa iba, dan akibat kecelakaan ini juga mengakibatkan kak Leo juga meninggal dunia. Win, gue tau loe pasti sedih atas meninggalnya kak Leo, ya walaupun gue tau kalian sudah bukan suami istri lagi, tapi gue tau loe masih memiliki perasaan walau sedikit, benarkan? Windy hanya diam, tak berniat menjawab ucapan sahabatnya itu, sebenarnya didalam lubuk hati nya Leo memang masih mengisi relung hatinya walaupun sudah tak sebesar dulu, tapi nama nya akan tetap ada dihati Windy.
Putri melihat sahabatnya tiba-tiba melamun, ia berpikir jika saat ini Windy pasti masih memikirkan Leo, namun ia dapat mengerti.
'' Oya Win, loe gk tanyain kabar abang gue? apa loe gk merasa khawatir juga sama abang gue?'' pertanyaan Putri membuat Windy langsung menatap kearah gadis tersebut. Sebenarnya salah satu maksud kedatangannya kekamar Putri juga ingin mempertanyakan kabar Regan, hanya saja ia merasa malu,
'' Iya, gimana kabar nya bang Regan? Mudah-mudahan lukanya tidak parah ya?''
'' Kalau loe mau tau sebaiknya loe kesana aja sekarang, kebetulan gk ada orang disana mama katanya mau pulang sebentar mau mandi sekalian ambil barang-barang kami.'' jelas Putri
''Yasudah yuk kita kesana?'' ajaknya yang tak ingin menemui Regan sendirian saja
''Kepala gue sedikit pusing, sebaiknya loe sendiri aja deh kesana.'' ucap Putri beralasan, Putri yang memang tau jika Windy menyukai abangnya ingin sedikit menghibur hati sahabatnya itu agar tidak berlarut sedih karna kepergian mantan suamunya tersebut.
'' Udah sana, tunggu apa lagi!"
__ADS_1
'' Tapi gue--,
''Gue rasa abang gue saat ini sedang butuh teman ngobrol deh, soalnya dia bilang sama gue jika dia sangat bosan karna tidak ada teman ngobrol.'' ucap Putri dan tentu saja itu hanyalah karangannya saja agar Windy mau menemui abangnya Regan, yang sebenarnya memang merasa sangat bosan berada dikamar terus-terusan.
'' Bagai mana keadaan tangan saya dok?'' tanya Regan, laki-laki itu sedang diperiksa oleh dokter.
'' Semuanya masih sama pak Regan, sebenarnya untuk pemulihan sendiri dibutuhkan waktu beberapa bulan, jadi saya sarankan jika anda ingin tangan anda cepat sembuh pak Regan jangan terlalu menggerak-gerakan dulu, karna itu akan memperlambat kesembuhan anda sendiri, saya sarankan jika pak Regan membutuhkan sesuatu anda bisa menekan tombol yang terdapat diatas kepala anda itu pak.
'' Baiklah dokter saya mengerti.'' jawab Regan, setelah dokter tesebut pergi Regan kembali merebahkan tubuhnya, namun baru saja kepalanya menempel diatas bantal tiba-tiba pintu kamar inapnya kembali diketuk seseorang.
'' Siapa lagi sih? bagai mana mau istirahat jika sejak tadi diganggu terus.'' gumamnya , namun ia terapa membuatkan orang yang berada diluar itu untuk masuk kedalam kamar inap nya.
'' Ya masuk saja.'' jawab Regan pelan, mendengar jawaban dari dalam Windy langsung memutar knop pintu, membuat pintu terbuka, dan bersamaan itu munculah sosok Windy, Regan yang saat itu sedang memejamkan matanya sama sekali belum menyadari kedatangan gadis tersebut, karna ia berpikir jika yang datang adalah suster.
Bang Regan memejamkan matanya, apa dia tidur? Lalu siapa yang menyuruhku masuk tadi?
'' Windy??'' ia sedikit terkejut, ternyata benar dugaannya jika parfum tersebut adalah milik gadis itu.
'' Hai bang Regan? Bagai mana keadaan abang? maaf mengganggu istirahat bang, soalnya tadi aku dengar suara abang jawab makanya aku masuk.'' ucap Windy
'' Iya tidak apa-apa kok, malahan saya senang kalau kamu datang, membuat keadaan saya jauh lebih baik.'' ucap Regan
Hah? apa aku gk salah dengar barusan? dia bilang kedatanganku membuatnya lebih baik? apa itu artinya aku berarti untuknya?
Batin Windy
__ADS_1
'' Windy kamu baik-baik saja?'' Regan bertanya karna melihat gadis yang ada didepannya tiba-tiba melamun.
'' Ah i-iya bang aku gpp.'' jawabnya gugup
'' Windy kamu bisa bantu saya untuk duduk? Rasanya terus berbaring sangat melelahkan.'' ucapnya
'' Iya bang bisa kok.'' jawabnya sambil melangkah mendekati tempat tidur laki-laki tersebut.
Windy membantu Regan untuk duduk, otomatis tentu saja membuat tubuh mereka menjadi sangat dekat, jantung Windy berdetak sangat kencang, seperti orang yang baru saja berlari.
Duuh kenapa sih nih jantung kuat amat bunyinya, mudahan bang Regan gk dengar suaranya
Batin nya was-was, takut kalau suara jantungnya yang kencang tedengar oleh Regan.
'' Windy jantung kamu kuat banget bunyinya?'' pertanyaan tiba-tiba Regan membuat Windy terkejut, membuat wajahnya memerah karna malu.
'' Kamu kenapa? Wajahnya merah gitu? saya kan hanya bertanya.'' ucap Regan
'' Gpp kok bang,'' jawabnya
'' Makasih ya?'' ucap Regan setelah Windy selesai membantu Regan untuk duduk.
Windy memperhatikan kondisi Regan, tak jauh berbeda dari Rayen, hanya saja Regan hanya mengalami patah tulang dibagian tangan kanan sedangkan Rayen tangan dan kakinya.
'' Oya Windy gimana keadaan suaminya Niken? apa kamu sudah melihatnya?'' tanya Regan, pandangannya terus tertuju kepada wajah manis Windy, entah kenapa hari ini ia nelihat gadis yang ada didepannya ini sangat cantik, ia merasa terpesona
__ADS_1
'' Sudah bang, tapi sampai saat ini om Rayen masih belum sadarkan diri.'' jelasnya
Next