
Windy terus mempertanyakan bayinya pada ibunya, Yuna bingung harus mulai memberitahukan dari mana.
'' Mah, cepat katakan bayiku baik-baik saja kan??'' tanya Windy sekali lagi.
Tak lama terdengar suara pintu diketuk, bersamaan itu Putri masuk, Putri yang sempat mendengar suara sahabatnya itu langsung ingin cepat-cepat masuk, apa lagi saat mendengar Windy yang terus mempertanyakan keadaan bayi nya.
'' Windy kamu sudah sadar?'' ucap Putri sambil melangkah kearahnya.
'' Putri, gumamnya lirih, Windy sudah mengingat semuanya, semua yang terjadi sebelum kecelakaan.
Putri mendekati sahabatnya yang masih terbaring lemah tak berdaya, tanpa terasa air matanya menetes begitu saja melihat keadaan sahabatnya yang rapuh.
Kasian banget loe Windy, suami loe mengkhianati pernikahan kalian, kini loe juga harus kehilangan bayi yang ada didalam kandungan loe.
Batin Putri sambil menatap iba pada sahabatnya itu.
'' Put, loe pasti taukan? katakan sama gue, jika bayi yang ada dalam perut gue ini baik-baik saja kan? iya kan Put? jawab gue Putri!" ucapnya dengan suara pelan, bukan tanpa alasan Windy menanyakan hal tersebut, Windy bertanya karna ia merasakan sakit dibagian perut bawahnya, Windy berpikir telah terjadi sesuatu pada bayinya, namun ia tak ingin berprasangka buruk dulu, karna belum mendengar secara langsung dari orang terdekatnya.
'' Windy, sebenarnya...,,'' sebelum menjawab Putri sempat melirik kearah Yuna, ibunya Windy, takut jika salah bicara.
'' Putri kenapa loe malah liatin mama gue? bilang aja, apa sebenarnya yang terjadi! apa anak gue baik-baik saja? atau dia sudah tiada sekarang??'' ucapnya pelan diakhir kalimat, berharap bahwa yang ia karakan tidak benar.
'' Windy, loe yang sabar ya?'' hanya itu yang bisa keluar dari mulut Putri saat ini rasanya ia juga tidak sanggup jika harus mengatakannya langsung.
'' Maksud loe anak gue meninggal? tidak selamat, begitukah?'' ulangnya memastikan. Air matanya sudah mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.
'' Windy sayang, kamu yang sabar ya nak,'' ucap Yuna sambil mengelus rambut putrinya.
'' Gk, ini gk mungkin terjadi! bayiku, kenapa kamu tinggalin mama nak, kalau kamu pergi untuk apa lagi mama ada disini.'' lirihnya sambil mengelus perutnya yang rata, kini air matanya kembali menetes membasahi wajah nya yang masih pucat.
'' Sayang jangan berkata seperti itu nak, masih ada mama dan juga papa, kamu gk boleh bicara begitu.'' ucap Yuna
__ADS_1
'' Benar yang dikatakan mama loe Win, masih ada kami yang sayang sama loe dan kami gk akan pernah ninggalin loe, jagi gue mau dan kita semua mau loe harus kuat ya Win?'' rasanya Putri tak sanggup melihat sahabatnya yang rapuh, tanpa kata lagi ia langsung memeluk sahabatnya tersebut. Tanpa mereka sadari ada Leo yang sejak tadi mendengar semua pembicaraan mereka.
Maafin aku Windy, karna akulah kamu jadi begini, dan karna aku juga kita kehilangan bayi kita, tapi aku janji, setelah ini aku akan menebus semua kesalahan ku, dan aku berharap kamu gk akan menolakku.
Batin Leo.
Perlahan Leo membuka pintu ruangan tsrsebut sambil membawa bubur yang dipesan oleh ibu mertuanya. Begitu pintu terbuka perhatian semua orang langsung tertuju pada asal suara tersebut.
'' Mah ini buburnya, aku beli dua bungkus, sayang kamu sudah bangun? gimana keadaan mu sekarang?'' ucap Leo berpura tak tau apapun tadi.
Namun sepertinya Windy sama sekali tak Menghiraukan ucapan suaminya tersebut, ia memilih untuk memejamkan matanya ketimbang menatap wajah suaminya tersebut.
'' Windy sayang, sebaiknya kamu makan bubur dulu ya sayang, sudah sejak kemarin kamu belum makan apapun.'' ucap Yuna, membuat Windy kembali membuka matanya.
'' Aku gk lapar mah, aku mau istirahat saja.'' jawabnya
'' Sayang, tapi kamu sejak kemarin belum makan sayang isilah walau hanya sedikit.'' ucap Yuna
'' Put, gue mau loe belikan bubur ayam buat gue, bisa?'' ucap Windy, tanpa menghiraukan ucapan Leo.
'' Tapi aku udah belikan untuk kamu dan juga mama loh sayang.'' ucap Leo
'' Putri bisa??'' tanya Windy lagi, tanpa menghiraukan ucapan Leo sedikitpun
Putri mengangguk, setelah itu ia langsung keluar dari ruangan tersebut ia tau, pasti sahabatnya itu masih sangat marah pada suaminya, jangan kan bicara menatap wajah Leo saja Windy tak mau.
'' Putri ayo biar tante temani kamu, sayang mama keluar dulu ya sama Putri sekalian mama mau cari kopi untuk mama.'' ucap Yuna yang memang sengaja meninggalkan keduanya.
Kini Putri dan Yuna susah berada diluar kamar Windy, sambil terus berjalan menuju kantin rumah sakit.
'' Tante apa tidak apa-apa kalau Windy ditinggalkan berdua dengan kak Leo? saya takut nanti Windy kembali emosi.'' ucap Putri.
__ADS_1
'' Kamu tenang, tante yakin Windy bisa menahan emosinya, tante tau bagai mana Windy, dia tidak akan membuang tenaganya untuk melakukan tindakan yang merugikannya.'' jelas Yuna, Putri hanya mengangguk paham.
Setelah kepergian ibu mertuanya dan sahabat dari istrinya itu, Leo langsung melangkah mendekati istrinya yang saat itu sudah kembali memejamkan matanya.
'' Windy, aku tau kamu marah sama aku dan juga benci melihatku, tapi aku benar-benar mau minta maaf sama kamu sayang, aku menyesal, tapi asal kamu tau, ini kejadiannya gk seperti yang kamu pikirkan, aku--''
'' Sudahlah kak, kamu gk usah menjelaskan apapun sama aku,'' ucap Windy yang akhirnya membuka matanya sepertinya ia berniat untuk berbicara dengan suaminya dan mencari jalan keluar tentang masalah mereka.
'' Karna apa yang aku lihat, itu yang aku percayai, dan aku melihat kalian sedang berciuman diparkiran kemarin dan itu cukup membuktikan semuanya.'' sambung Windy, ia mencoba setenang mungkin saat bicara pada suaminya, namun nyatanya hatinya sangat kacau dan juga rapuh,Windy hanya mencoba tegar didepan suaminya, walaupun ia sangat terluka.
'' Tapi sayang itu sama sekali gk benar, aku gk ada hubungan sama Viona, asal kamu tau, aku hanya mencintai kamu Windy, hanya kamu yang ada dihatiku bukan orang lain apa lagi dia.'' ucap Leo sambil menatap wajah istrinya yang masih terlihat sangat pucat, Leo berusaha untuk menyakinkan istrinya bahwa hanya dialah satu-satunya wanita yang ada didalam hatinya saat ini.
Windy tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya tersebut.
'' Jangan pernah bicara cinta, jika kamu sendiri gk pernah setia kak, sekarang aku tanya, dan aku mau kamu jawab dengan jujur.'' ucap Windy sambil kenatap wajah suaminya.
'' Kamu mau tanya apa sama aku?'' ucap Leo, sedikit ragu, Leo takut apa yang ia pikirkan ternyata benar.
'' Apa sebelumnya kalian pernah melakukannya? maksudku apa kak Leo dan tante Viona pernah berhubungan layaknya suami istri?'' tanya Windy, entah kenapa ia sangat penasaran akan hal tersebut.
Katakan sekali saja kak Leo, jika kakak tidak pernah melakukannya mungkin aku akan berpikir ulang tentang pernikahan kita, tapi jika jawabanmu seperti yang aku takutkan maka maaf aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita ini.
Batin Windy
Ternyata dugaan Leo benar, ini lah yang ia takutkan saat ini , tidak mungkin juga ia kembali berbohong pada istrinya, karna sudah pasti Windy tidak akan percaya.
'' I-iya aku pernah melakukannya dengan Viona, maafkan aku sayang, waktu itu aku khilaf, maaf karna aku telah berbuat salah sama kamu, aku sudah mengkhianati pernikahan kita, tapi aku mohon beri aku satu kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya, aku janji aku akan setia sama kamu sayang, kumohon Windy.'' ucap Leo penuh harap, ia menggenggam tangan istrinya.
Mendengar pengakuan suaminya hati Windy benar-benar hancur bisa-bisanya Leo berselingkuh disaat dirinya sedang mengandung bayinya, sungguh Windy tidak akan pernah memaafkan perbuatan suaminya tersebut, dengan cepat ia langsung menarik tangannya yang digenggam Leo.
'' Maaf kak aku gk bisa!
__ADS_1
Next