CINTAI AKU OM !!!

CINTAI AKU OM !!!
Saya Bukan Laki-laki Murahan


__ADS_3

Saat ini Imam sudah berada disamping Niken,ia terus memperhatikan wajah sembab gadis yang masih memakai seragam SMA tersebut.


''Kak Imam kenapa ngeliatin aku kayak gitu? gk pernah liat cewek nangis ya sebelumnya?'' pertanyaan yang Niken lontarkan sontak membuat Imam tersenyum.


''Maaf,kalau aku ikut campur, tapi kalau boleh tau kamu kenapa sampai nangis seperti ini?''


''Aku gpp kok kak, makasih sebelumnya udah mengkhawatirkan aku.'' ucap Niken sambil bangkit dari duduknya


''Kamu mau kemana? mau aku temenin?'' entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba Imam menawarkan diri untuk menemani anak dari bosnya tersebut.


Belum lagi Niken menjawab tiba-tiba Niken mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.


''Niken,kita perlu bicara sebentar.'' ucapnya sambil mengatur nafas yang ngos-ngosan akibat berlari.Dan Ya, dia adalah Rayen.


Niken mentap malas pada Rayen, saat ini Niken benar-benar muak dengan Rayen, dirinya sama sekali tak ingin melihat wajah kekasihnya itu saat ini, hatinya benar-benar sangat sakit, padahal tadi sebelum kekantor ia sangat begitu merindukan sosok Rayen namun seketika kerinduannya itu hilang, berganti dengan kemarahan ,dan kekecewaan.


''Maaf aku gk bisa om, aku masih butuh waktu untuk itu,'' jawabnya datar dan terkesan dingin, membuat siapa saja yang mendengarnya tau jika saat ini Niken sedang dalam mode yang tak baik.


Sedangkan Imam merasa aura semangkin mencekam, sedikit banyak ia tau sepertinya asal dari kesedihan Niken ialah karna laki-laki yang ada didepannya saat ini, bos tempat dimana ia bekerja.Imam yang merasa kurang nyaman dengan situasi ini memilih untuk pergi dari sana, mungkin mereka perlu waktu berdua pikirnya.


''Niken maaf, kalau gitu saya permisi dulu, pak saya permisi.'' ucap nya sambil berlalu, namun baru dua langkah Imam berjalan Niken tiba-tiba memanggil namanya.


''Kak Imam,'' serunya, membuat Imam otomatis menghentikan langkah dan berbalik kearahnya.


''Ada apa?'' tanya Imam bingung


Sedangkan Rayen masih berdiri ditempatnya, menyimak apa yang akan disampaikan oleh Niken pada bawahannya tersebut.


''Kak, aku ikut kakak ya kebawah.'' ucap Niken, namun sebelum melangkah Niken sempat melirik pada Rayen.


''Niken kita perlu bicara.'' ucap Rayen saat mrlihat Niken menatap kearahnya.Namun ucapan Rayen sama sekali tak dihiraukan oleh gadis itu.

__ADS_1


''Ayo kak Imam!" ajak nya sambil mensejajarkan tubuhnya.


''Yuk.'' Imam melangkah mendahului gadis cantik itu beberapa langkah.Bukan karna grogi atau apapun, namun karna sebelum ia melangkah tadi Imam sempat melihat kearah Rayen, ia sedikit bergidik kala Rayen menatapnya dengan sorotan yang sangat tajam seolah ingin membelah tubuhnya. Imam melirik gadis yang sedang berjalan disampingnya, gadis cantik yang selalu ia mimpikan hampir setiap malam, namun tak dapat ia gapai karna suatu perbedaan yang sangat jauh, Imam hanya bisa mengaguminya dari jauh, itu sudah cukup baginya.


''Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, dan kenapa kamu menangis sampai sesedih itu, apa semua ini ada hubungannya dengan pak Rayen?


Imam terus membatin, namun tak mungkin juga ia menanyakan lagi hal tersebut, karna sepertinya Niken juga tak ingin membagi kesedihannya, jujur saja hatinya juga merasa nyeri saat melihat gadis yang disukainya ini menangis, namun ia bisa apa, tak ada hak baginya untuk menghapuskan air mata yang menetes diwajah mulusnya itu, Imam hanya bisa berharap semoga masalah yang membelenggunya cepat selesai.


Setelah sampai dilantai bawah Niken langsung memisahkan diri dari Imam.


''Kak, makasih ya?''


''Makasih untuk apa? perasaan aku gk melakukan apa-apa untuk mu.'' ucapnya bingung.


''Ya pokoknya makasih aja,yaudah kalai gitu aku pergi dulu ya.'' namun sebelum pergi Imam menghentikan langkahnya dengan cara menggenggam tangan Niken, membuat Niken menatap kearah tangan mereka.


''Maaf,'' ucapnya sambil melepaskan pegangan tangannya pada Niken.


''Niken, aku tidak tau masalah yang sedang kamu hadapi, tapi aku hanya bisa berdoa sebesar apa masalahmu semoga bisa cepat selesai.'' ucapnya tulus.


''Terimakasih kak atas doanya.'' ucap Niken sambil memaksakan senyum.


''Yasudah aku pergi dulu.'' setelah mengatakan itu Niken langsung menuju luar gedung, rasanya ia ingin cepat-cepat pulang saja, kepalanya benar-benar berdenyut, apa lagi bayangan Rayen dengan wanita itu dikepalanya yang seolah-olah tak mau pergi, semangkin membuat kepalanya ingin pecah, namun sebelum itu ia sudah memberi kabar pada Windy, bahwa dia harus pulang duluan dengan alasan tak enak badan.


Ting..terdengar suara notifikasi masuk diponsel Windy.


''Dari Niken kak, dia bilang dia pulang duluan karna merasa gk enak badan.'' ucap Windy memberitahukan pada Leo.


''Kak, apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan Niken, gk biasanya dia kayak gini, apa lagi sampai ninggalin aku, atau mungkin jangan-jangan Niken udah melihat om Rayen dengan model itu dan dia salah paham?'' Windy berasumsi.


''Aku juga tidak tau, sebaiknya kamu aku antar dulu ya, nanti aku akan tanyakan semuanya pada Rayen.'' ucap Leo yang diangguki oleh Windy.

__ADS_1


Sementara diruangannya, Rayen terus merasa gelisah, ingin sekali dirinya mengejar Niken saat ini, namun rasanya percuma pasti saat ini kekasihnya itu tak akan mau untuk mendengar penjelasan dari nya.


''Aarrrgggg....'' braaaakkk..


Rayen menggeram dan menghempaskan semua yang ada diatas meja, Leo yang baru datang langsung menganga melihat ruangan yang berserakan, kemudian pandangan Leo beralih pada Rayen yang saat itu sedang terduduk diatas sofa sambil menyandarkan tubuhnya, matanya terpejam dengan wajah yang masih memerah.


''Ray, loe gpp kan?'' tanya Leo hati-hati.


Mata Rayen seketika terbuka saat mendengar suara Leo, matanya menatap tajam pada asisten pribadinya itu, membuat Leo menelan ludahnya susah payah.


''Semua ini gara-gara kau Leo!" sentak Rayen sambil menunjuk tangannya diwajah Leo.


''Gue? memangnya apa salah gue?'' Leo bertanya dengan wajah tanpa dosa, membuat Rayen semangkin muak.


''Asal kau tau Le, tadi Niken melihat saat model itu sedang duduk dipangkuan saya.


''Loh kok bisa? apa loe---''


''Jangan mikir yang macam-macam kamu, saya bukan lelaki murahan.'' ucap Rayen sewot


''Apa dia bilang, bukan laki-laki murahan? kalau memang benar terus kenapa setiap ketemuan sama Viona dulu kalian sering melakukannya? dasar munafik.


Dalam hati Leo tersenyum sinis, bukan senyuman jahat, lebih tepatnya senyuman mengejek.


''Terus gimana? lagian kok bisa tu model duduk dipangkuan elo sih?


''Ya mana saya tau, saat kami membicarakan tentang kerja sama itu, tiba-tiba dia berjalan memutari kursi saya setelah itu duduk begitu saja diatas pangkuan saya, saya juga sempat kaget, namun sebelum akhirnya saya menyuruhnya berdiri, tiba-tiba disaat yang bersamaan Niken masuk dan terjadilah kesalah pahaman ini.'' jelasnya


''Pokoknya saya gk mau tau Le, kamu harus bantuin saya untuk menjelaskan semuanya pada Niken!


NEXT

__ADS_1


__ADS_2