
Fahri masuk kedalam kamar mereka berdua yang ada di rumah, setelah perjalanan yang cukup jauh Bali-Jakarta. Fahri masih terlihat sebal dengan apa yang dikatakan teman-teman Lita dari Australia. Dia saat ini benar-benar kalau dengan ucapan tersebut.
Lita sendiri tidak bersama dengan Fahri yang menurut Lita terlalu ke kanak-kanakan, dia lebih memilih mengurus anaknya. Menidurkan anaknya dulu yang rewel terus di kamar tamu bersama dengan mbok Jum yang ia suruh untuk menjaga Axel. Karena dia sudah tidak memakai jasa baby sitter lagi. Entah mengapa dia merasa tidak mempercayai jasa itu saja. Jadinya karena mbok Jum memberi usul katanya buar saja yang mengurus Axel mau tidak mau Lita mengijinkannya.
“Mbok, aku titip Axel dulu ya. Bayi besar ku sedang marah, jadi aku tidak mau Axel terganggu” ucap Lita dengan sedikit bercanda dengan menyebut Fahri sebagai bayi besar.
“Iya Lita, Mbok jagain Axel’ jawab Mbok Jum.
Lita yang sudah menidurkan Axel langsung berjalan keluar dari kamar tamu itu yang kemungkinan nantinya menjadi kamar untuk Axel. Karena kamar tersebut belum direnovasi oleh Fahri.
“Fahri sebenarnya kenapa uring-uringan terus sedari dari bali, kenapa bisa dia se cemburu itu. Sungguh tak masuk akal, padahal aku sudah menjelaskan semuanya pada dia” ucap Lita berbicara sendiri sambil berjalan ke kamarnya.
.............................
Lita masuk kedalam kamarnya dia melihat sang suami yang duduk di tempat tidur melihatnya sekilas.
“Kita sudah pulang, masih marah denganku?” pungkas Lita berjalan mendekat pada Fahri.
Fahri hanay diam saja tidak menjawab apa yang diucapkan Lita barusan. Dia malah memalingkan dirinya membelakangi sang istri yang mendekati dirinya.
Lita langsung tertegun, dia diam saja melihat Fahri.
“kamu kayak anak kecil ya, ya udah kalau kamu marah. Aku lebih baik pergi dari rumah ini, untuk apa aku terus bicara pada pria yang cemburuan nggak jelas. Daripada kita teruskan pernikahan ini malah jadinya seperti dulu lebih baik aku pergi” kesal Lita yang terasa capek dengan sikap fahri.
Ini seperti dulu, fahri yang begitu cemburu tidak jelas.
Seketika fahri langsung melihat kearah lita, dia berdiri didepan istrinya.
__ADS_1
“Kamu ngomong apa sih sayang. Kamu mau kita pisah? Kamu mau aku tiada karena kamu” ucap fahri tak habis pikir dengan istrinya yang berbicara menyiratkan sebuah perpisahan.
“ya mau gimana lagi aku capek sama kamu fahri, kamu sedari Bali tadi bersikap begini padaku. Cemburu Mu nggak wajar, daripada hubungan kita seperti ini terus lebih baik ki..” belum sempat lita berbicara lagi Fahri sudah membungkam mulutnya lebih dulu. dia tengah emosi ditambah Fahri malah menciumnya membuat dia memberontak memukul-mukul dada Fahri serta sedikit mendorong suaminya. Karena fahri tak kunjung melepaskan ciumannya membuat dia terpaksa menendang bagian penting fahri langsung saja pria itu kesakitan.
“Aughh, kamu kenapa menendang adik kecilku sayang” ucap fahri sambil menahan sakit.
“Salahmu sendiri kenapa kau mencium ku, aku sedang marah denganmu. Aku capek Fahri kamu seperti ini terus.” Mata Lita mulai berkaca-kaca, dia benar-benar lelah dnegan hal ini.
“Aku minta maaf, aku..aku hanya tidak senang saja. Aku tidak suka te...”
“Itu hanya masa lalu, cukup biarkan saja kenapa.” Ucap Lita dengan meninggikan suaranya.
“kalau kamu begini terus aku tidak sanggup fahri, kamu terlalu berlebihan. Aku takut kau akan keras lagi padaku seperti dulu jika kau terus cemburu padaku” ucap Lita yang begitu emosional, dia menahan air matanya yang sepertinya sebentar lagi akan menetes.
Fahri mengetahui itu, seketika dia langsung berlutut didepan sang istri.
Lita hanya melihatnya saja, dia menghela nafas berat.
“kau akan janji padaku tidak akan melakukan seperti ini lagi.” Ucap Lita melihat fahri yang berlutut didepannya.
“Iya aku janji, aku janji tidak akan begitu. Aku akan berusaha mengontrol emosiku” lirih fahri memegang tangan Lita.
“Kau bilang selalu janji tapi apa buktinya, kau seperti ini lagi kan” ucap Lita seakan tidak percaya.
“Sayang aku mohon percaya padaku. Kali ini ku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong jangan pergi” ucap fahri memelas pada sang istri.
“Baiklah aku tidak akan pergi, aku pegang janjimu” pungkas Lita dan dia langsung meninggalkan Fahri, dia akan pergi ke kamar mandi saat ini tapi fahri mencegahnya.
__ADS_1
Fahri yang melihat istrinya akan pergi ke kamar mandi langsung sigap berdiri memegang tangan istrinya.
“kamu mau kemana sayang? Kamu mau mandi? Mau mandi bersamaku” ucapnya dnegan antusias. Matanya berbinar menata sang istri.
“Nggak, aku nggak mau mandi” tukas Lita masih dengan wajah datarnya. Dia masih sedikit kesal dengan fahri.
“lalu kenapa kamu pergi ke kamar mandi kalau tidak mandi?” heran fahri pada sang istri.
“kenapa kamu kepo sekali sih, jangan bicara denganku dulu. aku capek” ketus Lita yang kesal dengan suaminya. Tidak mungkin dia bilang kalau akan mengecek sesuatu didalam kamar mandi.
Fahri langsung tertegun mendengar istrinya yang berbicara ketus padanya. Lita seakan tidak senang saat dia bicara. Apa mungkin Lita masih marah padanya soal barusan.
“ya sudah kalau kamu tidak ingin aku tahu,” akhirnya fahri melepaskan tangan Lita membiarkan istrinya pergi ke kamar mandi. Dia lebih baik membiarkannya saja ketimbang sang istri malah semakin marah padanya.
Lit langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi, dia melihat Fahri sekilas sebelum menutup pintu kamar mandi tersebut.
...............................
Lita mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya dan sesuatu itu adalah alat tes kehamilan, dia melihatnya was-was.
“kan benar, aku hamil” ucapnya lirih sambil waspada melihat kebelakang tepatnya kearah pintu kamarnya takut fahri akan masuk kedalam.
Dia hanya menghela nafas berat saat melihat alat tes kehamilan yang dia sembunyikan dari tadi menunggu suaminya keluar dari kamar. Dia memang curiga kalau dia tengah hamil sekarang, ia curiga gara-gara Fahri bilang saat mereka tengah melakukan hubungan suami istri. Pria itu mengatakan kalau sebelum-sebelumnya tidak pernah mengenakan pengaman dan dari situ dia sadar kalau dia sudah telah datang bulan. Dia memang biasanya telat saat datang bulan jadi dia biasa saja tapi setelah mendengar apa yang dikatakan fahri kemarin dirinya jadi curiga kalau dia hamil. Karena berat badannya juga naik, ditambah sikap Fahri yang sedikit uring-uringan. Kemungkinan Fahri seperti itu karena pria itulah yang mengalami ngidamnya.
“terus aku harus bagaimana ini? apa aku bilang pada fahri kalau aku hamil” gumam Lita sambil melihat alat tes kehamilan dirinya
°°°
__ADS_1
T.B.C