Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 142 (Season 2)


__ADS_3

Rendi sudah berangkat dinas saat ini, dia berjalan sambil memegang beberapa keatas putih di tangannya. Dia berjalan melewati rekan-rekannya yang menyapanya saat ini. dia hanya membalasnya dengan senyuman saja.


“Ren, ada dua orang yang menunggumu” ucap Andre yang menghampiri Rendi saat ini.


Rendi yang tadinya akan berjalan kemejanya langsung berhenti saat Andre mengatakan hal itu padanya.


“Siapa?” tanya Rendi menatap penasaran rekannya tersebut.


“Entah, mereka tidak bilang siapa mu yang jelas satunya bule satunya lagi kayak blasteran. Tapi agak mirip nyokap lo” jelas Andre mendeskripsikan dua orang tersebut pada Rendi.


Rendi langsung tahu siapa orang tersebut, siapa lagi kalau bukan ayah tirinya dan juga adiknya.


“Dimana mereka?” tanya Rendi.


“Itu,” tunjuk Andre di sudut kantor itu tepat di kursi tunggu. Joe dan Jesy tengah menunggunya saat ini. ini sudah dua hari sejak dia mengancam tapi mereka berdua baru datang, membuat Rendi tersenyum sinis.


“Ya sudah, aku ke sana dulu”


“Iya sob” pungkas Andre dan akan pergi dulu tapi baru melangkah Rendi sudah menghentikannya.


“Kenapa?” tanya Andre yang penasaran akan hal tersebut.


“Ini aku titi tolong kasih ke komandan” ucap Rendi sambil menyerahkan beberapa kertas yang ada tulisan dan juga gambar sebuah lokasi disitu.


“Apa ini?” tanya Andre sambil melihat apa yang diberikan Rendi padanya.


“Oh, Analisa TKP penjambretan” ucap Andre saat melihatnya.


“hemm, tolong berikan pada komandan” perintah Rendi pada sang rekan.


“Oke,”


“Oh iya, itu adik dan bokap tiri lo ya?” tanya Andre penasaran.


“Aku temui mereka dulu” bukannya menjawab Rendi malah langsung pamit pergi meninggalkan Andre yang sepertinya langsung bodo amat. Karena dia paham sikap Rendi, pria itu langsung pergi setelah Rendi berjalan pergi dari hadapannya.


Rendi berjalan perahan menemui dua orang itu yang sebenarnya malas untuk ia temui tapi karena terpaksa dia mau tidak mau harus menemuinya.


“Ternyata kalian datang juga, aku pikir tidak pernah datang dan membuang perempuan itu” ucap Rendi sinis saat sudah berdiri didepan orang tersebut. Dia mengatakan hal itu tentu saja menggunakan bahasa Inggris. Karena adiknya tidak terlalu paham bahasa Indonesia apalagi ayah tirinya yang pria bule tulen.

__ADS_1


“Kak Rendi,” ucap Jessy yang langsung berdiri melihat kakaknya itu.


Begitu juga dengan ayahnya yang ikut berdiri,.


“Kenapa menemui ku? Bukannya kalian aku suruh untuk langsung datang ke lapas?” tukas Rendi mengabaikan Jesy yang memanggilnya antusias.


“Aku sengaja saja ingin menemui mu, aku ingin tahu salah satu anak dari istriku yang tega memenjarakan ibunya sendiri” jawab Joe yang begitu pedas.


“Aku bukan anaknya, tak masalahkan aku memenjarakan perempuan itu” jawab Rendi tak kalah pedas.


Joe hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Rendi saat ini.


“Kakak kenapa tega memenjarakan Mama, kau tidak kasihan dengannya kalau dia dipukuli tahanan lain” ucap Jessy yang melayangkan protes pada Rendi.


“Kau pikir sebuah film” cibir Rendi.


“Sudah tidak ada urusan lagi denganku kan, cepat temu istrimu itu bebaskan dia. kau suaminya kan, tapi sikap apa yang kau tunjukkan. Istri menelpon mu tapi kau bilang sibuk dan memalukan dirimu saja. Ciih,” sinis Rendi menatap Joe.


Joe sendiri hanay bisa mengepalkan tangannya dengan ucapan anak tirinya itu.


“Oh, iya. Ingat kata-kataku, kalau kau tak bersikap baik dengan istrimu setelah bebas. Karirmu yang katanya sebagai pengusaha itu akan hancur. Kau tahu siapa mertua ku kan?” ucap rendi setengah mengancam sang ayah tiri.


“Kau baru tahu? oh iya kau memang tak pernah tahu diriku.” Ucap rendi menatap Joe.


“Aku padahal ingin sekali bertemu denganmu, dan ingin hubungan kita baik-baik saja. Dan saat kau meneleponku waktu itu aku pikir dirimu sudah menganggap ku adik” ucap Jessy yang merasa tak melihat perubahan dalam diri kakaknya.


“Mimpi, aku tidak pernah punya adik dan Mama seperti mamamu” sinis Rendi


“Ayo Jessy pergi dari sini” ajak Joe langsung mengajak Jessy pergi saat mereka tak mendapat sambutan hangat dari Rendi.


“Ya sudah sana, lagi pula aku juga sibuk.” Usir Rendi dengan tegas, dia tak mau berlama-lama menanggapi dua orang asing baginya.


Joe dan Jessy langsung pergi dari hadapan Rendi saat ini. mereka akan pergi menemui Monariya yang dipenjara.


Rendi hanya melihat saja kepergian dua orang itu yang sudah berjalan pergi menuju pintu keluar saat ini.


Setelah dua orang itu pergi Rendi langsung berjalan kembali menuju mejanya, dia tidak perduli lagi soal urusan mamanya. Ia tak akan mencabut laporannya itu tapi dia juga tidak akan memperberat nya saat ada yang menangguhkan apabila sang Mama akan dibebaskan.


....................................................

__ADS_1


“Wiih tumben, ada apa ini?” tanya Thalia pada Lita yang baru saja datang membawakannya beberapa paper bag belanjaan dengan berbagai merek.


“Ya untuk anakmu, tahu sendiri aku dari luar kota. Itu oleh-oleh buat Relia, sebagai tanda maaf tantenya tidak pernah datang”


“Oh iya itu ada yang buat kamu juga, buka aja nanti ya. Nggak enak nanti takut ada yang lihat” tambah Lita sambil menunjuk kearah barang-barang yang dia bawah.


“Ya,”


“Ya sudah sana, kalau nggak taruh di kamarmu dulu. nggak enak sama mertuamu, aku nggak bawa-bawa apa-apa buat mereka. Kamu sih nggak bilang kalau ada mertuamu disini” ucap Lita yang merasa tak enak apabila mertua Thalia melihat dia membawa barang-barang.


“Ya aku nggak tahu kalau kau mau kesini, aneh” tukas Thalia sambil berdiri dari duduknya dan membawa barang-barang yang dibawa Lita tadi.


“Hemm..” pungkas Lita.


“Oh iya Relia dan Mertua mu dimana?” tanya Lita pada sang adik.


“tadi Relia sama bunda, nggak tahu sekarang dimana?” jawab Thalia.


“Oh,”


“Fahri dimana?” tanya Thalia menanyakan kakak iparnya.


“Tadi sama ayah mertuamu di depan” jawab Lita.


“Aku keatas dulu, aku ikut tidak atau mau disini saja”


“Aku disini saja,”


“Ya sudah kalau begitu, aku keatas dulu” ucap Thalia dan langsung pergi dari depan Lita.


Lita sendiri langsung membuka hpnya untuk mengurangi rasa jenuhnya karena harus sendiri diruang tamu yang luas di rumah adiknya itu.


“Ngapain ya bosen aku, ke depan ajalah” ucap Lita dan mulai berdiri dari duduknya. Karena Thalia pasti lama naik ke kamarnya. Jadi lebih baik dia duduk di luar bersama dengan suami dan juga mertua adiknya. Daripada dia harus bosan disini.


Tanpa menunggu lama, Lita langsung berdiri dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruang tengah saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2