
“masih belum enakan?” tanya Rendi yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi saat melihat Thalia sedang berbaring sambil memegang ponsel.
“belum,” jawab Thalia lirih tanpa melihat kearah Rendi yang berjalan mendekat.
“Kalau belum kenapa sibuk main hp, kemari kan hpmu. Chattan dengan siapa kamu” ucap Rendi mengambil begitu saja ponsel milik Thalia.
“Kamu apa-apaan sih main ambil aja” kesal Thalia dan langsung duduk melihat Rendi.
“ya kamu bilangnya belum enakan badannya sudah main Hp” tukas Rendi.
“Apa ini?” tanyanya kemudian saat melihat apa yang Thalia lakukan tadi dengan ponsel tersebut.
“kamu mencari tanda-tanda orang hamil?” ucapnya lagi memperhatikan sang istri.
“Iya, aku bingung sekarang aku hamil atau cuman sakit biasa. Kamu menuduhku aneh-aneh?” ucap Thalia menatap suaminya itu.
“Aku pikir kamu sedang chattan dengan siapa?” ucap rendi yang malu sendiri dengan apa yang dia lakukan.
“nanti ke rumah sakit, tanya sama dokter. Aku ganti baju dulu” ucap Rendi berjalan kearah lemari memilih pakaian yang akan dia kenakan.
“Aku gendong tapi,” ucap Thalia pada Rendi,
Rendi langsung berbalik melihat istrinya dan dia berjalan mendekat lalu menundukkan kepalanya.
“kenapa jadi manja begini, pengen di gendong sama suaminya. Manja banget sih sekarang,” ucap Rendi mencium leher Thalia.
‘Kalau kamu nggak mau ya sudah,” pungkas Thalia langsung memalingkan wajahnya.
“Maulah, suami mana yang nggak mau gendong istrinya. Apalagi singa betina ku sedang manja begini, aku suka” tukas Rendi lalu mengecup bibir Thalia sebelum dia kembali mengambil bajunya dari dalam lemari.
Thalia sendiri langsung merona sambil tersenyum mal-malu melihat Rendi yang melepas baju di depannya. Pria itu ganti baju tanpa malu di depannya saat ini. baru pertama kali juga Rendi mengganti baju di depannya biasanya juga dia masuk kedalam kamar mandi tapi ini tidak.
..................................
Revan sudah berada di Inggris sedari semalam, dan dia menyewa apartemen selama disitu yang berada di dekat rumah sakit.
Dia saat ini berada di depan kamar rawat Melody, dan dia bisa melihat ayah Melody yang entah dari mana saat ini.
“Om,” ucap Revan pada pria paruh baya tersebut.
“kau? Kenapa kau bisa ada disini. Mau apa kau kesini” tanya ayah melody.
“Saya ingin selalu bersama dengan melody Om, kenapa Om memindahkan dia kesini Om” tukas Revan.
“ya karena untuk apa aku merawatnya di Indonesia. Yang menginginkan dia dirawat disana sudah tidak ada hak lagi” ucap ayah Melody.
Revan hanya bisa diam, saat ayah melody membahas Rendi.
‘Saya mohon Om, maafkan saya. Saya akan menggantikan Rendi Om, dia sudah bahagia. Dan putri anda juga pasti ikut bahagia karena Melody mencintai saya Om bukan rendi. Saya mohon terima saya Om, saya akan mengurus dan membiayai perawatan melody.
“Tidak perlu, sudah ada yang membiayai semua perawatan melody disini. Dan dia menjamin Melody sampai bisa sembuh”
__ADS_1
“Siapa Om,?” ucap Revan cukup terkejut mendengar itu.
“Seseorang yang baik, kau tidak perlu tahu siapa dia.” Pungkas ayah Adiba.
“kalau kamu memang ingin mengurus melody silahkan, karena aku lihat memang kau tulus dengan putriku. Mungkin dia berjodoh denganmu bukan dengan Rendi” ucap ayah meldoy, dia melangkah melewati Revan yang terpaku ditempatnya. Itu artinya ayah Melody menyetujui dirinya menggantikan rendi sebagai pendamping putrinya.
“terima kasih om, terima kasih” ucap Revan saat ayah Melody akan masuk kedalam kamar rawat Melody.
Revan lalu terdiam saat mengingat apa yang di katakan ayah Melody tadi soal ada yang membiayai perawatan melody di Inggris. Siapa yang membiayai Melody dengan fasilitas terbaik di rumah sakit ini, pantas dia tadi sempat heran kenapa Melody di rawat di ruangan super VVIP di rumah sakit berkelas seperti tempat ini. Kalau orang tua melody sendiri pasti tidak mungkin merawat anak mereka di rumah sakit ini. dan ruangan yang elit. Tapi siapa yang membiayainya batin Revan bertanya-tanya.
........................................
Rendi sedang berada di dapur untuk mengambilkan apel untuk Thalia, perempuan itu tidak bisa makan nasi setiap dia menyuapkan nasi pasti muntah. Jadi lebih baik dia memberi Thalia apel pikir Rendi.
Mereka sendiri belum sempat ke rumah sakit, tadi saat dia sudah ganti baju dan akan mengajak Thalia keluar perempuan itu muntah-muntah kembali dan membuat mereka menundanya nanti setelah makan tapi saat Thalia akan makan dia muntah lagi dan malah ingin makan apel.
Alhasil saat ini dia mengambil apel itu dari dalam kulkas, dan akan membawakannya untuk Thalia.
Baru saja Rendi mengangkat piring yang berisi Apel dan juga pisau ponsel miliknya yang berada di dalam saku berbunyi membuat Rendi kembali menaruh piring tersebut di atas meja bar. Dia melihat siapa yang menelpon dirinya saat ini tertera nama Revan disitu.
“kenapa dia meneleponku, aku tidak mau tahu lagi soal Melody. Dia pasti akan memberitahu soal Melody?” gumamnya ragu untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa? Kalau soal melody lebih baik jangan kau beritahukan padaku lagi. Aku sudah tidak ingin mendengar soal dirinya,” ucap rendi.
“langsung berubah begitu dirimu” tukas Revan.
“Tidak usah banyak bicara, ada apa?” tanya rendi
“oh iya satu lagi, tadi aku diberitahu oleh ayah Melody kalau biaya rumah sakit Melody dibiayai semua oleh orang lain yang baik katanya. Dan dia tidak ingin memberitahuku, kau bisa bantu aku untuk mencari tahu siapa orang yang telah membiayai perawatan melody ke Inggris aku ingin menggantinya” ucap Revan pada rendi.
“Ada orang yang membiayai rumah sakitnya?” tanya Rendi penasaran.
“Iya, aku dengar dari ayahnya sih begitu. Kau mau kan mencari tahu siapa orang itu, aku akan menebus kebaikannya” tukas Revan dari sana.
“Aku tidak mau, aku tidak ingin membuat istriku salah paham denganku lagi. Tolong jangan paksa aku, aku takut istriku tidak mempercayaiku kalau aku sudah tidak mencintai Melody, diriku juga tidak ingin membuat istriku banyak pikiran karena kemungkinan saat ini dia sedang hamil” ucap rendi.
“kau serius tidak mau menolongku?”
“Bukannya aku tidak mau tapi aku lebih memilih menjaga perasaan istriku. Aku minta maaf, sudah aku matikan”
“Ya sudah kalau kau tidak mau membantuku, aku cari sendiri siapa orang itu. semoga kau selalu bahagia dengan istrimu, selama jika memang istrimu sedang hamil” ucap revan dan langsung mematikan sepihak panggilannya.
Rendi melihat sekilas panggilannya yang telah selesai, dia lalu memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku celana dan kembali mengambil piring apel itu untuk ia bawa ke kamar. Thalia pasti sedang menunggu dirinya sekarang.
...............................
“Terima kasih mantan yang menyebalkan,” ucap Thalia di sambungan telponnya
“oke aku tutup,” ucap Thalia dan langsung mematikan panggilan tersebut bertepatan dengan itu Rendi masuk kedalam membawakan buah apel untuknya.
“datang juga, darimana saja? Kenapa lama sekali” ucap Thalia menatap rendi yang berjalan mendekat pada dirinya.
__ADS_1
“kamu baru saja menelpon siapa?” tanya rendi curiga karena istrinya memegang ponsel dan langsung menaruhnya di nakas meja saat dia masuk kedalam.
“Tidak menelpon siapa-siapa? Kenapa kamu curiga aku menelpon orang lain” tanya Tahlia.
“Tidak,.”
“Ini makan apel, baru kita ke rumah sakit nanti. Kita periksa kamu hamil atau tidak” ucap rendi meminta Thalia untuk memakan apel tersebut. Dia mengupas kan apel itu untuk thalia.
“ke rumah sakit sekarang saja, aku sudah tidak mual” ajak Thalia dan membuat rendi menghentikan kegiatannya yang sedang mengupas apel.
“kamu bagaimana sih, katanya mau makan apel. Ini aku sudah ambilkan”
“Taruh saja, ayo. Katanya mau periksa,” ucap Thalia langsung berdiri dari duduknya dan menarik Rendi untuk diajak memeriksakan kandungan.
Rendi hanya bisa menghela nafas saja, dia menaruh apel tersebut di tempatnya dan berdiri didepan Thalia. Tanpa bicara dia menggendong sang istri ala bridal style
“kenapa menggendongku?” tanya Thalia.
“Bukannya tadi kamu yang minta di gendong, sudah jangan bicara ayo ke rumah sakit” tukas Rendi dan menggendang Thalia keluar dari kamar.
Thalia sendiri hanya diam tetapi semburat senyum tipis tampak di wajahnya.
..................................
“Selamat ya pak, istri anda sedang mengandung empat minggu. Tolong di jaga ya, karena masih awal kehamilan jadi masa rawan kerap terjadi di awal kehamilan” jelas sang dokter yang baru saja memeriksa Thalia, dia memberi selamat pada Rendi yang duduk disebelah istrinya yang baru diperiksa.
Dia refleks membalas menjabat tangan sang dokter dan beralih melihat Thalia yang berada di sebelahnya, matanya melebar tak percaya dengan itu begitu juga Thalia yang tidak mempercayai kalau dia hamil, dia seperti orang linglung menatap suaminya yang juga sama seperti dia terkejut mendengar hal itu.
“Serius dok, saya hamil?” tanya Thalia masih tidak habis pikir kalau dia hamil sekarang.
“Iya bu, anda hamil”
“aku hamil,” ucap Thalia bertanya polos pada Rendi yang menatapnya dengan wajah terlihat gembira.
“Iya, kamu hamil. Aku bahagia sayang,..kamu hamil. Akhirnya akan ada versi dari kita” ucap rendi dengan begitu senang, dia memeluk erat sang istri
Thalia sendiri masih belum percaya soal itu, dia yan bar-bar dan seenak sendiri sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
“terimakasih dok,” ucap rendi melepaskan pelukan dari sang istri.
“Iya sama-sama pak rendi, sekali lagi selamat ya” ucap sang dokter perempuan tersebut.
“kalau begitu saya permisi dulu dok, ayo sayang” ucap Rendi dan langsung mengajak keluar sang istri dari ruangan dokter kandungan itu.
“Serius aku hamil?” tanya Thalia saat mereka sudah berada di luar ruangan, dia masih tidka menyangka.
“Iya sayang, terimakasih. Terimakasih,” ucap Rendi dia memeluk istrinya dan menciumi sang istri tak lupa juga dia mengecup bibir manis istrinya tersebut sebagai ungkapan citanya pada Thalia.
°°°
T.B.C
__ADS_1