Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
24


__ADS_3

"Mas kamu bisa menurunkan aku, aku bisa jalan sendiri" pungkas Lita saat Fahri menggendongnya masuk kedalam rumah.


Fahri hanya diam saja tidak menjawab ucapan Lita, dengan langkah ringan berjalan masuk kedalam menuju tangga rumah mereka.


"Loh mas kamarku kan di sana, kenapa kau malah naik tangga?" ucap Lita heran dengan Fahri yang malah menggendongnya menaiki tangga.


"Kau bisa diam tidak, jadi orang cerewet sekali" ketus Fahri melihat sekilas Lita yang ada di gendongannya.


"Apa ini, kenapa mas Fahri mengajakku naik keatas" batin Lita menerka-nerka.


Fahri membuka pintu kamarnya perlahan, dan membawa Lita masuk kedalam kamar saat ini.


"Istirahatlah, sudah malam" ucap Fahri dingin menaruh Lita di tempat tidurnya.


"Mas inikan kamarmu bukan kamarku" ucap Lita menatap Fahri yang melepas tuxedo nya.


"Mulai saat ini kau tidur disini,"


"Kenapa mas, bukannya kamu tidak mau tidur denganku?"


"Kau cerewet ya, kalau bukan karena kedua orang tuaku yang akan menginap disini aku tidak akan mau tidur denganmu mengerti"


"Jadi ini alasan dia menyuruhku tidur disini, karena orang tuanya yang akan datang untuk menginap" batin Lita.


"Kau jangan banyak bicara didepan orang tuaku mengerti, terutama di depan Mamaku. Dia sedang sakit awas kalau sampai mamaku banyak pikiran gara-gara dirimu" pungkas Fahri dengan nada mengancam.


"Apa karena ini kau baik denganku hari ini?Jika karena itu lebih baik kamu bersikap biasa saja mas. Tidak perlu lembut padaku dan membuatku semakin berharap" ucap Lita langsung menatap wajah Fahri.


"Ciih, hilangkan harapanmu itu. Kau dengar sampai kapanpun aku tidak akan mencintai seorang pembunuh sepertimu" ucap Fahri.


"Kau mengira ku pembunuh, bagaimana kalau aku bukan pembunuh. Apa kau bisa mencintaiku?"


Fahri berjalan mendekat dan mencengkram leher Lita.


"Kau bilang kau bukan pembunuh, sayangnya aku tidak percaya" sinis Fahri dan mendorong Lita hingga tubuh perempuan itu terdorong ke kasur.


"Tolong percayalah aku mas, aku bu.."


"Sudahlah, istirahat sana. Aku mau mandi, rasanya badanku kotor karena dirimu" sinis Fahri dan langsung pergi ke kamar mandi.


………………


Lita terbangun dari tidurnya saat ini waktu saat ini masih begitu pagi. Dia menjatuhkan tangannya ke kanan dan perlahan membuka matanya tidak ada Fahri di sebelahnya saat ini lalu kemana pria itu.


Semalam saat dia tidur Fahri masih sibuk dengan pekerjaannya di meja kerja pria itu.


Lita melihat meja kerja Fahri yang kosong, lalu matanya beralih ke Sofa. Benar Seperti dugaannya semalam kalau Fahri tidak akan mau tidur satu ranjang dengannya, pria itu lebih memilih tidur di sofa yang tidak nyaman.


Perlahan Lita turun dari tempat tidur, dia membawa selimutnya saat ini. Sungguh tidak tega rasanya ia melihat orang yang ia cintai kedinginan meringkuk di sofa.


"Aku tidak membunuh Dira mas, asal kamu tahu Dira itu o'" ucap Lita sedih dia melipat kakinya dilantai mengusap lembut rambut Fahri.


Setelah mengatakan itu Lita berdiri dan akan pergi tapi langkahnya terhenti saat tangan Fahri menariknya saat ini membuat dirinya terduduk kembali di samping Fahri.

__ADS_1


"Dira jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku mohon Dira" ucap Fahri dalam tidurnya dan kembali menarik tangan Lita membuat Lita tertarik semakin kuat dan jatuh di dada Fahri.


"Kau sungguh mencintai Dira mas, dalam tidurmu saja kau memanggil dirinya. Sepertinya memang tidak ada cinta di hatimu untukku, aku siap mundur mas" perlahan Lita melepaskan tangan Fahri yang memegang kuat tangannya saat ini.


°°°°°


Fahri bangun dari tidurnya saat ini, dia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena bangun tidur. Badannya juga merasa sakit tidur di sofa, terpaksa dia tidur di sofa daripada tidur dengan perempuan itu.


Oh iya Apakah Lita sudah bangun saat ini, Fahri langsung melihat kearah tempat tidur.


"Dimana dia? sudah bangun saja jam segini" ucapnya saat melihat tempat tidur yang kosong.


"Ah apa perduli ku," ucap Fahri lagi dan langsung berdiri dari duduknya saat ini, dia langsung menuju ke kamar mandinya.


Baru beberapa langkah menuju kamar mandi dia melihat sebuah kertas di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Kertas apa itu," ucapnya heran dan berjalan mendekati.


Fahri mengambil kertas tersebut dan melihatnya.


Jedarrr


Tertulis jelas kalau itu surat perceraian yang sudah di tandatangani oleh Lita.


"Apa? dia ingin menceraikan ku?" gumam Fahri menatap terkejut kertas tersebut.


Dia langsung menaruhnya begitu saja di meja dan mengurungkan niatnya saat ini untuk ke kamar mandi. Fahri langsung berjalan keluar kamar mandi,


"Mbok Jum, Mbok Jum" teriaknya memanggil-manggil Mbok Jum.


"Kamu kenapa teriak-teriak di dalam rumah Fahri" bukannya mbok Jum yang muncul tetapi malah Mamanya yang ada di situ.


Tentu saja itu membuatnya cukup terkejut, sepagi ini Mamanya sudah ada di sini.


"Ma..mama, kenapa bisa Mama ada disini?" ucap Fahri gugup.


"Mama kan sudah bilang sama kamu kalau kesini"


"Iya, tapi kenapa pagi begini"


"Kamu kenapa sih, kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama. Kalian belum baikan dan kamu belum merubah perasaanmu pada Lita" kata penuh pertanyaan keluar dari mulut Wulan.


"Sudah, aku sudah baik-baik saja dengan dia. Aku sudah mencintainya Mama tidak perlu khawatir mama pikirkan saja kesehatan Mama" pungkas Fahri berbohong mendekati sang Mama sambil matanya tak lepas mencari dimana Lita. Apa perempuan itu pergi dari sini setelah meninggalkan surat cerainya.


"Kamu tadi teriak-teriak manggil mbok Jum begitu kenapa?" ucap Wulan saat Fahri merengkuh dirinya dan menuntunnya untuk duduk.


"I..itu, aku mau tanya tahu Lita tidak. Soalnya aku baru bangun tidur dia tidak ada Ma" lagi-lagi Fahri berbohong soal itu.


"Oh mau tanya soal istri kamu, Lita ada kok di dapur sama Mama tadi" jelas Wulan membuat Fahri menatap Mamanya.


"Apa? dia di dapur"


"Iya, tadi Mama datang dia yang membukakan pintu, tapi sepertinya tadi dia akan pergi pagi-pagi sekali. Tapi karena mama datang dia tidak jadi pergi" tutur Wulan.

__ADS_1


"Aku ketemu Lita dulu Ma, Mama duduk saja disini. Papa kemana?"


"Papamu sedang di kamar mandi"


"Oh, kalau begitu aku ke dapur dulu" Fahri langsung pergi ke dapur dia harus memberi pelajaran pada Lita karena telah berani melayangkan surat cerai untuknya.


"Tidak akan bisa lepas begitu saja dariku sebelum kamu menderita Lita" gumam Fahri sambil mengepalkan tangannya berjalan tegap menuju dapur untuk menemui istrinya itu.


………………


"Ikut Aku" Fahri menarik Lita begitu saja yang sedang mengupas bawang.


"Sakit mas," rintihnya karena Fahri terlalu kuat mencengkram tangannya saat ini.


Fahri tidak mengindahkan hal tersebut, dia terus menarik Lita ke kamar mandi yang agak jauh dan juga kedap udara.


Dia mendorong kuat Lita masuk kedalam, membuat Lita membentur tembok.


"Kamu apa-apaan sih mas?" ucap Lita tidak mengerti.


"Kamu yang apa-apan hah"


"Berani ya kamu mau menceraikan ku, bukannya kau bilang tidak akan pergi dari hidupku sampai aku jatuh cinta padamu dan berhasil membuatmu menderita"


"Aku nyerah, aku tidak sanggup lagi mas. Kalau kamu memang ingin membunuhku bunuh saja aku sekarang"


"Tidak semuda itu mengerti,"


"Kenapa? bukannya kau ingin membunuhku untuk balas dendam karena kematian Dira. Bunuh saja aku" Lita menarik tangan Fahri menaruhnya dilehernya saat ini.


"Bunuh mas, jika memang membuatmu tenang. Singkirkan aku dari dunia ini, buat aku menghilang dari hidupmu. Kau tidak suka kan aku ceraikan maka bunuh aku sekarang. Dengan membunuhku kau puas kan"


"Kau memang cerewet ya, baiklah jika memang itu keinginanmu" Fahri mencengkram kuat leher Lita mendorongnya ke tembok dengan amarah dia menatap wajah Lita yang justru tersenyum.


"Se..semoga, ka..kamu bahagia mas" ucap Lita terbata dan memejamkan matanya sambil menitihkan air mata.


Melihat itu pandangan Fahri nanar, dia langsung melepaskannya.


"Aku tidak akan mengotori tanganku yang bersih ini mengerti." ucap Fahri menatap Lita yang terbatuk-batuk sambil menatapnya heran.


"Kenapa kau tidak jadi membunuhku, bunuh aku mas" ucap Lita mulai terisak.


"Kau Tuli, aku tidak akan mengotori tanganku yang suci ini. Aku akan menghabisi mu dengan elegan mengerti. Ayo keluar singkirkan surat cerai itu sebelum mamaku mengetahuinya. Hapus air matamu juga," Fahri mengusap kasar air mata Lita, bukannya berhenti Lita semakin menitihkan air matanya melihat Fahri.


"Aku sudah menderita di tanganmu, kau belum puas.?" ucapnya menatap Fahri dengan air mata yang menetes.


"Bisa tutup mulutmu, ayo keluar" Fahri menyeret paksa Lita keluar dari kamar mandi, rasanya entahlah perasaannya gundah gulana saat ini.


Tadi dia memang sempat emosi dan mengingat bagaimana Dira tiada dan rasanya ingin membunuh Lita tapi saat melihat wanita yang ingin ia bunuh memejamkan matanya dan menitihkan air mata membuat dirinya merasa tertusuk hatinya entah kenapa dia merasakan hal itu.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2