
“Kamu tunggu disini saja, aku cuman sebentar” ucap rendi berpesan pada Thalia didalam mobil. Mereka berdua saat ini sudah sampai di depan kantor polisi.
“Iya, aku tunggu disini. Tapi jangan lama-lama, dan jangan salahkan aku kalau langsung masuk kedalam menyusul mu” pungkas Thalia memperingatkan suaminya.
“Nggak, aku cuman sebentar. Aku keluar dulu” ucap Rendi dan langsung membuka pintu mobilnya.
“Jendelanya dibuka saja, biar ada angin yang masuk” ucap Rendi sebelum berjalan pergi meninggalkan istrinya sendiri di dalam mobil.
“hemmm” thalia hanya berdehem menjawab ucapan Rendi barusan.
Rendi langsung berjalan pergi menuju pintu masuk kantor tempatnya bekerja, dia sesekali menyapa Rekan dan junior yang lain yang ia lewati.
“Sebenarnya kenapa dia disuruh ke kantor di saat dirinya tengah cuti, kenapa aneh sekali” ucap Thalia menaruh curiga dengan apa yang terjadi pada Rendi sekarang.
Ponsel Rendi yang tertinggal di dalam mobil berbunyi membuat Thalia langsung melihat kearah ponsel itu. dia melihat nomor yang tidak di beri nama oleh rendi tanpa menunggu lama dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
Tetapi dia hanya diam dulu tanpa bicara, karena dia ingin tahu siapa yang menelpon suaminya itu.
“Bagaimana pak polisi, kau sudah mendapat balasan dari apa yang ku lakukan padamu.?” Terdengar ucapan penuh kemenangan diseberang sana. Dan itu suara seorang pria.
Thalia yang mengangkat panggilan tersebut terdiam mendengarnya, dia sedikit mencerna ucapan itu dan suara itu begitu familiar di telinganya saat ini.
“Halo, kau mendengar ku. Bagaimana hukuman dari komandan mu, kau dipecat atau di penjara?” tukas suara merendahkan diseberang sana.
Mendengar suara itu seketika Thalia geram, dia hapal betul itu suara siapa. Itu suara Nicholas kenapa pria itu menghubungi suaminya dan berbicara begitu. Apa luka yang ada pada wajah Rendi berhubungan dengan Nicholas.
Thalia langsung melihat kearah kantor polisi, dan dia tanpa bicara mematikan panggilannya begitu saja.
“Aku tidak salah dengar, ini memang Nicholas. Apa yang dia lakukan pada Rendi sebenarnya, pria brengsek ini ternyata ingin macam-macam dengan suamiku” gumam Thalia dan mengembalikan lagi ponsel Rendi ketempat nya.
..............................
“lapor komandan, ada apa anda menyuruh saya datang kesini sekarang?” tanya Rendi yang sudah berdiri di depan sang atasan.
Disitu juga bukan hanya ada Rendi tetapi juga ada Andre dan Hardi yang berdiri sedikit jauh dari Rendi.
“Kamu tanya kenapa saya panggil ke sini inspektur Rendi?” ucap sang atasan.
Rendi yang bingung melihat kearah Andre dan juga hardi, jujur dia tidak tahu apa maksud atasannya tersebut.
“Maaf Ndan, saya benar-benar tidak tahu apa salah saya” ucap Rendi berkata jujur.
“Kau serius tadi tahu, wajahmu saja menunjukkan kalau kau membuat masalah inspektur Rendi” ucap sang atasan.
Rendi baru saja sadar kalau wajahnya masih terlihat lebam dan sedikit luka di sudut bibirnya, tetapi dia hanya diam pura-pura masih belum tahu apa salahnya.
__ADS_1
“Kau seorang penegak hukum dan pengayom rakyat kenapa kau malah bersikap tidak sepantasnya pada warga asing”
“Maaf Ndan, saya akui saya salah. Tapi pria itu yang lebih dulu mengganggu rumah tangga saya Ndan. Lebih tepatnya mengganggu istri saya” ucap rendi pada akhirnya.
“Saya tidak perduli dia mau mengganggu istrimu atau apa, tapi kau seharusnya tidak melakukan hal yang tidak benar seperti itu. kau tahu apa yang akibat yang bisa kau terima karena ulah tidak terpuji seperti yang kamu lakukan. Kau bisa di skor bahkan di pecat dari kesatuan mengerti” tegas sang atasan.
“Siap mengerti Ndan” ucap rendi
“Dengan dirimu ayng bersikap begini berarti kau siap menerima hukuman dan konsekuensi yang akan saya berikan padamu sekarang”
Rendi hanya diam saja tidak menjawab ucapan atasannya itu, dibilang siap tentu saja dia tidak siap. Dia ingin membantah tetapi tidak mungkin disini jelas-jelas dia yang salah. Kalau dia membantah bisa-bisa hukumannya malah semakin berat.
“Sebetulnya saya tidak ingin mengeluarkan keputusan ini padamu inspektur Rendi, tapi itulah hukuman yang harus kau terima” ucap komandan Rendi sambil menghela nafas panjang.
“Brigadir Andre, bawa inspektur Rendi ke sel khusus, tahan dia sampai besok sampai kita bisa memberi kesepakatan pada korban pemukulan inspektur Rendi” perintah sang atasan pada Andre.
Seketika Andre dan Hardi yang berada disitu saling lihat satu sama lain mereka terkejut dengan keputusan itu
Bukan hanya mereka berdua saja yang terkejut tetapi endi juga, dia terkejut mendengar kalau dia di tahan semalam saat ini.
“maaf Ndan, bukannya saya mau protes kenapa saya harus ditahan sekarang” ucap rendi berusaha untuk membela diri.
“karena kita perlu keterangan dua belah pihak, korban mu tidak bisa kesini hari ini dan terpaksa kau harus ditahan semalam hingga besok” jelas sang atasan.
“Brigadir Rendi tunggu apa lagi, cepat bawa Inspektur Rendi keruangan” perintah sang atasan.
“Maaf sebelumnya inspektur Rendi, tidak bisa. Kau harus mematuhi peraturan agar kita tidak di cap menomor satukan pihak yang berwenang. Brigadir Hardi kau saja yang ke depan bilang pada istri dari Inspektur Rendi kalau suaminya di tahan hari ini” ucap sang atasan memerintahkan Hardi.
Mendengar itu membuat Rendi kesal, bagaimana bisa komandannya bersikap begini dengannya. padahal dia hanay ijin sebentar untuk bilang pada Thalia tapi kenapa tidak diijinkan.
Komandannya seakan tidak memihak dirinya sekarang, seperti ada yang direncanakan. Apa ini termasuk dari rencana Nicholas untuknya.
“Brigadir Andre, cepat bawa Inspektur Rendi” perintah sang atasan.
“Siap Ndan” jawab Andre dan melangkah kan kakinya dengan berat.
“Tolong bilang pada istriku kalau aku hari ini tidak bisa pulang, dan tolong antar kan dia pulang ke apartemen” ucap rendi apda Hardi sebelum dia di bawa oleh Andre.
“Iya, sabar ya bro. Lo nggak usah khawatir istri lo bakal gue anterin pulang” ucap Hardi menepuk bahu Rendi saat pria itu melewatinya bersama dnegan Andre.
.....................................
“Mana sih Rendi, kenapa lama banget” ucap Thalia yang mulai gelisah menunggu kedatangan rendi dia sesekali melihat kearah pintu keluar kantor polisi.
Bukannya yang terlihat Rendi tetapi malah rekan suaminya yang terlihat berlari kearah mobil milik suaminya yang dia naiki saat ini.
__ADS_1
“Boleh saya masuk?” tanya Hardi dari luar mobil.
“Untuk apa nggak usah, kau tahu dimana suamiku. Kenapa lama sekali dia keluar dari kantor” pungkas Thalia tidak mempersilahkan Hardi masuk.
“Ijinkan saya masuk dulu, aku ceritakan kenapa Rendi belum keluar juga” ucap Hardi.
“Ya sudah masuk” thalia akhirnya mempersilahkan hardi untuk masuk kedalam mobil.
“cepat bilang suamiku dimana?” tanya Thalia langsung pada rekan suaminya itu.
“Begini, kau jangan cemas saat aku mengatakan dimana Rendi.”
“Apa sih lebay banget, memang suamiku kenapa cepat bilang”
“Rendi di tahan hari ini sampai besok” jawab Hardi akhirnya.
“Apa? bagaimana bisa dia ditahan. memang dia salah apa?” Thalia begitu terkejut mendengar ucapan tersebut.
“Aku tidak tahu jelasnya kenapa suamimu ditahan tetapi dari yang aku dengar langsung dari atasan dia memukuli warga negara asing di sebuah apartemen. Dan orang itu melaporkan Rendi “ jelas Hardi.
“Sekarang kau pulang aku anatar kan sampai rumah, Rendi yang menyuruhku mengantarmu” ucap hardi lagi.
“Tidak masuk akal, bagaimana bisa suamiku ditahan. Nicholas brengsek dia berani-beraninya melakukan ini pada suamiku. Dan komandan kalian yang tidak tahu malu menangkap orang sembarangan” kesal Thalia dan dia langsung membuka pintu mobil dia tidak terima jika suaminya di tahan begitu.
“Kau mau kemana?” tanya Hardi yang langsung panik melihat Thalia yang langsung keluar dari mobil.
“Hey, tunggu sebentar. Ayo kita pulang saja. Kau mau kemana” ucap hardi yang sudah keluar dari mobil langsung menahan tangan Thalia yang akan berjalan masuk ke kantor polisi.
“Aku mau bertemu komandan mu, beraninya dia menahan suamiku” ucap Thalia dan berusaha melepaskan tangan Hardi.
“Aduh jangan deh, nanti Rendi malah dapat masalah. udah biarin sampai besok saja. Ayo pulang aku antar” ucap Hardi berusaha menarik Thalia untuk masuk kedalam mobil lagi. Tapi Thalia melepaskannya dan dia berjalan cepat untuk ke arah pintu masuk kantor polisi tetapi baru beberapa langkah perutnya terasa sakit membuatnya berhenti dan memegangi perutnya sendiri.
“Arkkhh,” rintih nya sambil memegangi perut, dia menahan sakit di perutnya yang tiba-tiba terasa keram sekarang.
“kau kenapa?” tanya Hardi yang sudah menghampiri Thalia.
“Perutku sakit” jawab Thalia menahan sakit.
“Ayo pulang saja, atau nggak aku antar ke rumah sakit. Soal Rendi besok saja kau temui, kalau anak mu kenapa-kenapa nanti Rendi malah marah denganku. Ayo ke rumah sakit” ucap Hardi memegang kembali lengan Thalia dan menuntunnya kembali menuju mobil.
Thalia menurut saja, karena perutnya saat ini begitu sakit bahkan dia jalan saja terasa nyeri saat ini.
“Bisa cepat, perutku sakit” keluh Thalia meminta Hardi lebih cepat berjalan.
Hardi segera mempercepat jalannya sambil terus menuntun Thalia, dia akan membawa perempuan itu ke rumah sakit kalau sampai kenapa-kenapa dnegan kandungan dari istri temannya itu bisa-bisa dia yang mendapat masalah karena Rendi jelas mengamuk padanya
__ADS_1
°°°
T.B.C